Chapter 82
Adat dibuang karena sebuah adat lain yang memengaruhinya. Padahal, putih atau hitamnya ia tak tahu.
Iblis Dunia Persilatan berdiri tenang laksana patung yang terbuat dari permata. Semua mata memandang kepadanya, semua perhatian difokuskan kepadanya. Maharaja Dunia Persilatan, yang pada saat itu berada di samping Dewa Pedang Kelana, tampak merenung. Ia memasukkan tangannya ke balik baju dan mengeluarkan sebatang belati berwarna biru.
"Adimas..." katanya.
"Ya, Kang?"
"Ini untukmu. Gunakan ini hanya untuk melindungi dirimu, kau paham? Gunakan hanya saat terdesak saja!"
"Baik, tapi mengapa? Mengapa Kakang memberikan belati darah biru padaku?"
"Aku sudah berencana tidak akan turun panggung dengan membawa nyawa lagi!"
"Kita akan bertempur, kan? Baiklah, ayo kita bunuh mereka!" Dewa Pedang Kelana bersemangat.
"Jangan mengatakan bunuh dengan begitu mudah," jawab Maharaja Dunia Persilatan sambil memegang gagang pedang yang berada di punggungnya.
"Eh..."
"Drap..."
Belum sempat Dewa Pedang Kelana berkata, Maharaja Dunia Persilatan sudah melesat maju ke depan. Ia jejakan kaki dan melompat ke udara. Di udara, ia bersalto empat hingga lima kali berbarengan dengan mencabut pedang sampai akhirnya menapak di air menggunakan ujung pedang yang dijadikan sebuah pijakan baru untuk naik ke atas panggung.
Keduanya berhadapan, berdiri saling menatap.
"Akhirnya kau berani maju juga!" Iblis Dunia Persilatan mendengus.
Maharaja Dunia Persilatan diam saja. Tak sepatah kata pun keluar dari bibirnya.
"Drak... drak... drak..." Iblis Dunia Persilatan melangkahkan kakinya ke depan tanpa terlihat sama sekali ia melakukan persiapan. Maharaja Dunia Persilatan mengangkat pedangnya dengan tangan kanan, sementara hatinya membatin, "Dia mengambil jarak mendekat dengan mudah, sungguh besar sekali nyalinya."
"Set!" Maharaja Dunia Persilatan melangkahkan kaki kanannya berbarengan dengan membungkuk, pedangnya tersimpan di bawah menggurat lantai. "Bet!" Secepat kilat ia menyabetkannya ke dada. Mudah saja Iblis Dunia Persilatan berkelit mundur.
Saat ini posisi Maharaja Dunia Persilatan sedang membuka kuda-kuda dan kaki kanannya sudah masuk ke dalam daerah musuh. Kedua tangannya menyilang lurus di muka selangkangan. Begitu Iblis Dunia Persilatan berkelit, ia menyusulinya dengan sabetan dari bawah ke atas.
"Crasshh!" Pundak kiri Iblis Dunia Persilatan tersabet pedang. Darah mengucur dari pundaknya. Jika para penonton menganggap bahwa Maharaja Dunia Persilatan yang menekan, maka sebaliknya, ia justru terkejut. "Apa, kurang telak?" pikir Maharaja Dunia Persilatan.
Belum sempat ia mendapatkan pikiran kedua, ia terkaget lagi melihat sebuah sapuan kaki menyerang datang padanya. "Bwutss... wukk!" Suara sapuan kaki itu menerbitkan suara nyaring.
"Uwah!" Maharaja Dunia Persilatan terkejut, ia melenting menghindari tendangan sekaligus menghindari serangan.
"Maharaja memang hebat, tak salah ia menjadi penopang dunia persilatan saat ini," berbagai macam seruan dan pujian terlontar dari para hadirin.
"Kakang!" Ratih menggumam kalut.
Iblis Dunia Persilatan memejamkan matanya. Hawa kematian dan pembunuhan merebak secara mendadak, sampai-sampai ia berkeringat dingin karenanya.
"Maafkan aku, namun dendam harus dibalas."
"Tidak apa-apa, aku paham dengan posisimu saat ini," sahut Maharaja Dunia Persilatan.
Iblis Dunia Persilatan menjejalkan kaki. "Duk... bwutss!" Ia sapukan pedangnya dari bawah ke atas yang ditangkis dengan hebat oleh lawan, namun tak membuatnya menyerah. Ia melakukan delapan buah serangan sehingga terdengar bunyi "trang... trang... tring..." yang nyaring.
Mencapai puncaknya, ia mengangkat pedangnya dan melakukan sabetan atas-bawah. "Uarrgh!" Maharaja Dunia Persilatan terdorong mundur menghadapi serangan pedang yang begitu dahsyat, meski ia sudah menahan pedangnya dengan pergelangan tangan kiri. Penderitaannya tak berakhir begitu saja; ia kembali dikejutkan oleh serangan dahsyat yang membuatnya terpelanting jatuh.
"Plak!" Tangannya menampar lantai arena.
"Drukk... drukk!" Ia melakukan guling belakang dan kembali memasang kuda-kuda bawah. Namun, sebelum mantap, ia kembali berguling ke samping sebab lawan menyabetkan pedangnya di tempat ia tadi berjongkok.
"Druaakk!" Lantai arena terpotong rapi.
Maharaja Dunia Persilatan benar-benar terpojok, bahkan ia harus mengadukan batang pedangnya dengan pedang lawan guna melindungi kepalanya yang hendak dibelah. "Trangg!"
"Jangan merasa sudah menang, terimalah serangan balasanku ini!" Maharaja Dunia Persilatan berteriak nyaring. Pedangnya dilemparkan dengan diiringi hawa tenaga dalam menderu-deru bagaikan badai di tengah samudra.
Iblis Dunia Persilatan tidak berani bergerak secara gegabah. Diiringi suara bentakan keras, jurus serangannya berubah. Dari sepasang matanya memancarkan cahaya hijau menyala. Pedangnya diputar dan disabetkan ke muka, berpuluh-puluh rentetan cahaya hijau berubah membentuk laksana pusaran topan membentur serangan lawan.
"Bleggarr!"
Di tengah suara ledakan keras yang menggetarkan seluruh permukaan bumi itu, kayu-kayu dan balok-balok penyangga di atas panggung rontok dan terputus-putus menjadi beberapa bagian. Arena itu sudah hancur, tertinggal balok-balok kayu yang mengapung. Maharaja Dunia Persilatan benar-benar berada di bawah angin, bahkan ia harus berguling sana-sini, loncat sana-sini untuk menyelamatkan diri, namun lawan tak memberinya ampun.
Ketika Iblis Dunia Persilatan memberinya peluang bernapas, Maharaja melihat pedangnya yang sudah gumpil sana-sini. Kelengahannya itu benar-benar gawat, sebab lawan sudah menyabetkan pedang ke arah pinggangnya. Untungnya, ia sempat menggunakan ajian ilmu kebal untuk melindungi pinggangnya.
"Trang... Prak!" Pedang Iblis Dunia Persilatan patah berkeping-keping.
Maharaja Dunia Persilatan tersenyum lega, segera ia melakukan ayunan lebar untuk menghabisi nyawa musuhnya. Namun, tak nyana itu adalah suatu kesalahan fatal. Iblis Dunia Persilatan memajukan kaki kanan, tubuhnya membungkuk, gagang pedangnya yang tersisa ia lepaskan sembari memukulkan kepalan tangannya pada pergelangan tangan lawan.
"Bukk... Breet!"
"Apa!" Maharaja Dunia Persilatan benar-benar terperanjat, tangannya terasa bergetar kesemutan begitu pergelangan tangannya dipukul bawah oleh lawan. Pedangnya terlepas dari cekalan.
"Tuk!" Iblis Dunia Persilatan menendangkan kaki kirinya pada batang pedang lawan sehingga pedang itu mencelat dan dipegang oleh tangannya, langsung saja ia letakkan di leher lawan.
"Kenapa? Ayo, bunuh!"
"Itu tak perlu, katakan saja kau menyerah!"
"Aku ini seorang pemimpin dunia persilatan, mana boleh mengatakan itu. Kau bermaksud menghina kami? Bahkan itu di depan para jago dunia persilatan. Kenapa? Ayo, bunuh! Bukankah bila kau membunuhku, urusan bisa selesai?"
"Haha!" Baiklah kalau begitu."
Maharaja Dunia Persilatan memejamkan matanya, sementara pedang itu hendak memotong lehernya. Mendadak...
"Kita tak usah melihat aturan persilatan lagi, ayo kita keroyok mereka!" Dewa Pedang Kelana berteriak nyaring.
"Ouuuu!" "Heaaa!"
Laksana air bah, para hadirin mencabut senjata dan menyerang rombongan yang baru datang, sementara para dewan dunia persilatan berloncatan menyelamatkan junjungan mereka. Para gadis yang memakai pakaian transparan berpencaran membentuk barisan yang dikenal dengan nama Barisan Asmara Rembulan. Para pemuda yang memegang senjata tak mau kalah; mereka pun berloncatan dan membuka serangan.
Suasana benar-benar kacau, darah mengalir di mana-mana. Sementara itu, para pelayan yang membawa bunga menjadikan bunga itu sebagai senjata rahasia. Satu bunga, satu nyawa. Dyah Krusina dengan digandeng Astadewi dan Ratih terbang ke arah di mana Iblis Dunia Persilatan dikeroyok oleh dewan dunia persilatan, tak ketinggalan pula Iblis Kembar Bumi, Antari, Aryani, Anudhari beserta Si Gila Dari Neraka Hitam.
"Huaaa!" "Trang... Tereng... Arrhggg!"
"Berhentiiii!"
Di tengah suasana yang sangat kacau balau, sebuah bentakan menggelegar membuat kuping siapa saja bergetar karenanya. Jika Iblis Dunia Persilatan, Maharaja Dunia Persilatan, dan yang lain tampak menyeringai menahan sakit, kecuali Astadewi yang sepertinya sudah siap sedia. Di atas telaga bening bercampur darah, sesosok kelabu bercaping lebar membawa buntalan berdiri angker. Dialah Iblis Dunia Persilatan. Semua orang terheran-heran, siapakah di antara keduanya yang asli dan mana yang palsu?
Para gadis dan jejaka rombongan terakhir berloncatan dan berkumpul di sebelah barat daya yang kosong, serempak mereka berlutut. Yang mengherankan, Iblis Dunia Persilatan yang ada di atas panggung juga ikut memberi hormat. Maharaja Dunia Persilatan mundur, hatinya galau dengan segala perubahan di atas pertemuan itu.
"Raden Pakuan Wijoyo, atas nama ayahku Raden Gardasakti Wijoyo, tariklah seluruh pasukanmu di sebuah tempat!" teriaknya nyaring menyebut nama asli Maharaja Dunia Persilatan. Jelaslah bahwa ia adalah Gardapati adanya.
"Atas dasar apa kami harus menuruti perintahmu!" Pendekar Rajawali Berhati Emas bertanya lembut.
"Atas dasar pusaka perguruan kalian masing-masing!"
"Apa maksudmu!"
"Mundurlah, sebelum aku yang memundurkan kalian."
"Baik..." Belum selesai Pendekar Rajawali Berhati Emas berkata, Dewa Pedang Kelana menyela, "Silakan mundurkan kami jika kau memang memiliki kemampuan!" tantangnya.
"Baik, jika itu keputusan kalian!" desis Gardapati. Meski mendesis, hakikatnya desisan itu laksana ribuan bahkan mungkin jutaan desisan ular, membuat siapa saja yang mendengarnya mundur setindak dengan kuduk berdiri.
Gardapati membuka kedua jarinya, yaitu jari telunjuk dan jari tengah dari kepalannya, perlahan diangkat ke atas. Entah dengan cara bagaimana, tiba-tiba air danau memanas dan mengepulkan asap. Para dewan dunia persilatan yang saat itu berada di atas danau terperanjat, mereka berloncatan mundur. Begitu kaki menginjak bumi, air danau berubah menggolak.