Chapter 83
Entah apakah ini namanya, sihir atau apalah, tidak ada yang tahu, tetapi itulah kenyataannya.
"Wuuungggg!" Terdengar dengungan nyaring dari arah barat. "Kaum persilatan, mundurlah dan berlindung di belakangku!" Maharaja Dunia Persilatan berteriak.
Kaum persilatan berebutan melarikan diri dan berlindung di belakang Maharaja. Sungguh aneh, seakan ada benteng hawa yang sangat tinggi di sekeliling Astadewi dan kawan-kawan. Orang awam yang sedang berdagang pun sama sekali tidak terpengaruh oleh bencana alam yang dahsyat itu. Mereka tetap tenang, bertanya-tanya dalam hati perihal apa yang sebenarnya terjadi.
Ternyata, suara gaungan itu adalah suara angin ribut yang menghancurkan segalanya di sekeliling tempat tersebut. Orang awam seolah tidak mengerti keadaan itu; mereka hanya berdiri atau duduk menonton pertunjukan tersebut. Dedaunan bergoyang, bahkan pepohonan tercabut dan berputar-putar di atas kepala Gardapati. Gardapati menudingkan tangannya ke arah danau, seketika pepohonan itu serabutan terlempar ke arah yang ditunjuk Gardapati.
"Ceeessssssss!" Ketika pohon itu masuk ke air, seperti mengukus sayur, pepohonan tersebut menjadi layu seperti bayam yang sudah dikukus.
Gardapati berdiri tenang, perlahan awan pun kembali tenang. "Pakuan, kuharap kau bersedia menjadi tumbal atas penobatanku sebagai pemimpin dari seluruh tanah Jawa ini." Merah padam wajah para Dewan Dunia Persilatan. Mereka hendak bicara, namun Gardapati kembali bersuara, "Atas nama Mustika Lima Perguruan Putih dan mustika perguruan lainnya, aku harap kalian patuh padaku!"
Dewan Dunia terperanjat. Gardapati melemparkan berbagai macam benda kepada Iblis Kembar Bumi, Aryani, Astadewi, Ratih, Dyah Krusina, dan Iblis Dunia Persilatan hasil penyamaran Arya. Benda itu adalah pedang yang pada ujung gagangnya terdapat bulatan bola—mustika dari Perguruan Pedang Bumi. Iblis Kembar Bumi mengacungkannya tinggi-tinggi. Ketua Perguruan Pedang Bumi, Dewa Pedang Sambar Nyawa, Niwada Prasetia, pucat pasi. Ia tidak bisa berkata apa-apa. Sadar bahwa di perguruannya terjadi sesuatu, namun mana mungkin ia tidak menghormati mustika perguruannya sendiri? Terpaksa ia dan para murid Perguruan Pedang Bumi berlutut.
Sebuah golok dengan batang bergambar harimau yang sedang menerkam dan sarungnya yang terbuat dari kulit harimau diberikan kepada Aryani. Begitu diacungkan, dengan terpaksa Ketua Perguruan Golok Harimau, Harimau Pencari Mangsa, Luwar Mada, bersama para muridnya berlutut.
Sebuah cakra berbentuk bintang berwarna putih dan berbalut intan merah membuat Ketua Perguruan Bintang Kemukus, Gajahsora, yang juga merupakan wakil dari Maharaja Dunia Persilatan, berlutut tanpa sanggup berbuat apa-apa.
Pedang unsur kapas beserta sebuah tongkat dengan kepala bunga teratai kuncup, gagangnya dibelit dengan akar dan daun teratai yang terbuat dari batu pualam, serta bagian bawahnya berbentuk bola dengan beraneka warna, adalah tongkat pusaka Perguruan Teratai Kuncup Membelah Langit. Keadaan itu membuat Ketua Perguruan Teratai Putih, Pendekar Pedang Teratai, tak sanggup melakukan apa-apa dan mengikuti yang lain untuk berlutut.
Mau tidak mau, Ketua Perguruan Rajawali Emas, yaitu Pendekar Rajawali Berhati Emas, beserta muridnya ikut berlutut ketika sebuah tongkat emas dengan kepala berbentuk rajawali yang sedang hinggap diacungkan. Wajah Dewa Pedang Kelana, Dewa Batang Pedang, dan Maharaja Dunia Persilatan membeku. Kaum persilatan lainnya merasa ketakutan; bayangkan jika kelima pilar dunia persilatan dapat bertekuk lutut, apalagi mereka.
"Dengarlah, bagi kalian yang merasa telah kehilangan benda mustika dalam empat sampai lima tahun ke belakang, segeralah berlutut, atau kami akan menggunakan mustika itu untuk membunuh kalian." Kini total ada lebih dari setengah hadirin yang berlutut. Bagaimana yang lain tidak gentar? Hakikatnya, meski mereka berlutut dengan terpaksa, tindakan itu sudah menunjukkan bahwa mereka menyerah.
"Dengan cara apa kau mengikat kami?" Si Jangkar Naga Laut berteriak lantang.
"Huahahaha! Kau boleh tidak berlutut, hanya saja jangan salahkan aku bila aku menyuruh mereka yang berlutut untuk menghabisi nyawa kalian yang tidak menyerah dan tunduk padaku!" Pucatlah seluruh kalangan di tempat itu, hanya pihak Gardapati yang tertawa dan tersenyum bahagia.
Maharaja Dunia Persilatan maju ke depan dan berkata dengan lantang, "Ponakan, Gardapati, Paman minta maaf padamu, tapi mereka tidak bersalah padamu. Untuk apa kau..."
"Diam!" Gardapati membentak menyela. "Kau telah memisahkan aku dengan orang tuaku, kau yang menghancurkan kasih sayang keduanya. Kau lah yang menyebabkan aku dihina oleh mereka!"
"Paman memang bersalah, tapi Paman mohon jangan campurkan urusan pribadi dengan dunia persilatan!"
"Jangan campurkan dengan dunia persilatan? Kau lah yang memulai mencampurkannya! Kau membabi buta membunuh orang. Lihatlah para pemuda yang berdiri di sampingku. Mereka adalah orang-orang yang kau pisahkan paksa dengan orang tua mereka. Lalu apa salah mereka hingga kau hancurkan begitu saja?"
"Aku memang terlalu banyak berdosa!" katanya seraya mengangkat tangan hendak bunuh diri.
Namun, entah bagaimana caranya, tiba-tiba Astadewi sudah berada di belakangnya. "Tuk!" Ia menotoknya, lalu melakukan dorongan keras. Tidak lazim bagi seorang gadis memiliki tenaga sedemikian besar, namun itulah yang terjadi. Tubuh Maharaja terlempar ke tengah danau dan disambut oleh Ratih dengan sebuah pukulan yang membuat semua mata teringat akan jurus dari Setan Purnama.
Maharaja yang terlempar seketika melihat bayangan Setan Purnama hendak menghantamnya. Belum juga pukulan itu mengenai dirinya, dari berbagai sisi ia seakan melihat ketujuh utusan dunia persilatan menghantamnya bersamaan. Air matanya menetes di udara, terbang terbawa angin. Tanpa diduga, dari belakang, Astadewi membuka jurus Asmara Dewi Surga sambil menitikkan air mata. Air mata Maharaja Dunia Persilatan membasahi mata jeli Astadewi, bercampur dengan air matanya sendiri, dan jatuh bersamaan ke atas air danau.
"Heeaaaaa! Purnama Serigala melolong!" Ratih berteriak mengguntur.
"Buk!" Pukulan itu membuat tubuh Maharaja Dunia Persilatan kembali terbalik, dan Astadewi berteriak sambil menghantamnya dari belakang, "Asmara Kematian Puncak Berahi!"
"Tuk!" Astadewi menotok tulang ekornya. "Prassh! Uarrghh!" Sesuatu di balik celana Maharaja Dunia Persilatan terdengar meledak. Darah mengucur membasahi celananya.
"Telapak Neraka Hitam!"
"Hati Emas Telapak Beracun!"
"Jeratan Akar Bumi!"
"Api Hijau Membakar Langit!"
"Bukk, bukk, bukk, teep, breess, uaarrggghhhhh!" Begitulah bunyi ketika secara bersamaan pukulan itu bersarang di tubuh Maharaja Dunia Persilatan. Tubuhnya jatuh telentang hendak menghantam air. Siapa duga itu belum berakhir?
"Guci Peremuk Jantung!" Gardapati berteriak dengan gerakan mabuk, meski sempoyongan namun gerakannya begitu cepat. Belum sempat tubuh Maharaja jatuh menghempas air, dari bawah Gardapati menghajarnya sehingga tubuh Maharaja mencelat ke langit. Gardapati terbang mendahului tubuh Maharaja dan menjadikannya pijakan untuk meloncat ke tempat yang lebih tinggi.
Di udara, ia berbalik dan memutar tubuhnya. "Tapak Dewa Dunia Persilatan!" Seketika Gardapati memukulkan tinjunya ke arah tubuh Maharaja. Begitu dekat, telapak tangannya dibuka dan hawa putih membentuk telapak tangan mengembang.
"Bleegarr! Drukk, drakk, byurr, drak, Arghhaaa!" Begitu hawa itu menyentuh tubuh Maharaja dan terus membawanya hingga menghantam danau, bumi pun bergetar. Tempat itu meledak tanpa ampun, air muncrat setinggi langit. Bayangkan bila Anda memukulkan tangan ke dalam baskom; begitulah yang terjadi pada saat itu.
Semua mata memandang tanpa sanggup berkedip, melotot seperti orang yang dihantam pundaknya dengan gada besi. Dewa Pedang Kelana dan Dewa Gagang Pedang melongo; belum sempat mereka melakukan pertolongan, tragedi itu telah terjadi. "Brukk! Klontrang!" Pada saat ini, kesombongan mereka hilang; mereka menangis menunduk. Tubuh yang basah oleh muncratan air bercampur darah saudara mereka memercik ke tubuh mereka sendiri. Inilah kejadian yang sangat hebat, hening, sepi laksana kuburan.
"Dengarlah, kalian pulanglah ke perguruan masing-masing dan jangan pernah keluar dari sana. Aku melarang siapa saja kaum persilatan melakukan perjalanan. Barang siapa yang melanggar akan mati mengenaskan! Dan baru boleh keluar bila sudah sepuluh tahun berlalu!"
"Argh, ughhr, was wes wos!" Para hadirin bergumam dan berbisik dengan kawan-kawan mereka. Bagi mereka, ini adalah sebuah penghinaan. Di tengah suara yang gaduh itu, terdengarlah tetabuhan musik. Mereka memandang rombongan Gardapati dengan sejuta perasaan.
"Nang, neng, nong!" Semakin rombongan itu menjauh, semakin pedih hati mereka. Tak seorang pun meninggalkan tempat itu. Apakah dunia sudah berakhir? Entahlah. Ketika suatu kehendak dipaksakan, maka terciptalah bibit perasaan memberontak yang suatu saat nanti akan berubah menjadi pohon.
"Kakang, apa kau sudah bahagia sekarang?" tanya Astadewi pada Gardapati yang saat itu berkumpul di atas tandu.
"Entahlah, aku merasa hambar saja!" jawab Gardapati sedih.
"Benar Kakang, aku pun demikian, bahkan kadang terlintas di pikiranku, apa sebenarnya arti kehidupan ini sesungguhnya?"
Gardapati merangkul Astadewi ke dalam pelukannya dan melamun, memikirkan pertanyaan sederhana yang menggelitik relung jiwanya yang haus akan kasih sayang. Memanglah setiap manusia tentunya memiliki kehidupannya masing-masing. Semuanya memiliki arti kehidupan yang berbeda; seperti kamu dan aku yang tentu berbeda tentang pengertian hidup. Berbeda manusia, berbeda pula arti kehidupan seseorang, dan setiap manusia juga mempunyai jalan masing-masing untuk hidup.