Chapter 84
Hal inilah yang menyebabkan setiap manusia memiliki pengertian hidup yang berbeda. Ada yang sadar dan ada pula yang tidak menyadari apa sebenarnya arti dari sebuah kehidupan yang sesungguhnya. Tidak ada yang bisa menyangkal jika seseorang belum mengetahui arti kehidupan yang sesungguhnya. Tentu semuanya memerlukan proses. Dalam proses inilah manusia mencari arti dari sebuah kehidupan.
Saat manusia menemukan arti kehidupannya, ia akan berpikir, "Untuk apa arti kehidupan ini?" Begitu manusia menemukan jawaban untuk apa arti kehidupan tersebut, berarti ia telah menemukan jati diri yang sesungguhnya.
"Untuk apa arti kehidupannya?" Gardapati bertanya-tanya. Ia sendiri tidak pernah menyadarinya.
"Enggh... Emmmh..." Astadewi menggeliat liar di atas tubuh Gardapati, menuntaskan segala rasa kangennya. Wajah Gardapati sama sekali tak terlihat sebab terjepit erat di antara paha Dyah Krusina. Hawa yang dingin terasa begitu panas menyengat dalam perasaan mereka. Seluruh tubuh bermandi peluh, gemericik air terjun menjadi penutup desahan dan jeritan mereka.
Di lain tempat, Antari tampak bermain kejar-kejaran mesra dengan Si Gila dari Neraka Hitam tanpa mengenakan sehelai benang pun. Suara tawa mereka terdengar begitu merdu, membuat Anudhari yang sedang bermain kuda-kudaan terlena dalam arena benturannya. Ratih dan Arya tertawa melihat semua kejadian itu sambil saling merengkuh di bawah sinar purnama. Meski terlihat tidak melakukan apa-apa, kenyataannya Ratih sedikit menaik-turunkan tubuhnya, entah karena melihat yang sedang main kejar-kejaran tertutup batu cadas atau alasan lain. Dada polos Ratih ditutupi dengan sukarela oleh tangan Arya. Entah supaya ia tak malu dilihat yang di bawah atau bagaimana, penulis tak mau tahu. Yang jelas, mereka tampak asyik sekali malam itu.
Purnama penuh di langit seakan menjadi irama lain dalam permainan itu. Dari kejauhan, serigala melolong melantunkan lagu malam, yang ditimpal balik oleh suara burung hantu.
"Arrrgghhhh..." Itulah suatu jeritan yang entah karena sakit atau apa, terdengar melengking keras. Burung-burung terbang karena kaget. Namun, lain halnya dengan orang yang mengalaminya. Mereka tersenyum penuh kepuasan. Malam semakin gelap, entah sudah berapa puluh kali jeritan itu kerap terdengar. Ketika pagi menjelang, tampak bulan masih ada meski hari mulai terang.
Di sungai yang tak begitu dalam dan berair jernih, tampak beberapa pemuda-pemudi mandi dengan riang gembira. Percikan air terkadang menciprat ketika tubuh mereka menghantam air.
"Kakang Gardapati, apa rencana kita sekarang?" Aryani bertanya.
"Hmm, menunggu kucing-kucing itu datang ke sarang harimau," sahut Gardapati seraya tersenyum.
"Apa maksudnya, Kakang?" bisik Ratih di telinga Arya.
Arya tersenyum, Gardapati juga tersenyum. Sungguh lucu; meski berbisik di telinga, mana mungkin luput dari pendengaran Gardapati yang tajam, meski tahu Ratih tetap melakukannya.
"Mbakyu Ratih, mengapa harus bisik-bisik? Kenapa tidak langsung saja bilang ingin memegang 'itunya' Kakang Arya sekaligus menempelkan dadamu! Haha!" Astadewi berkata ceplas-ceplos.
Ratih tersipu malu, ia menepuk air membuat air itu menciprati wajah Astadewi. Astadewi semakin tertawa. Ia berenang ke sana kemari sambil dikejar Ratih, kadang ke Si Gila dari Neraka, Iblis Kembar Bumi, Arya, dan juga yang lainnya. Ratih menyerah; dalam soal berenang ia memang kalah setingkat. Sementara itu, Astadewi berada di dalam pelukan Arya. Dengan cemberut, Ratih memeluk tubuh Gardapati.
"Haha, maksudnya adalah menunggu mereka yang tidak puas datang kemari. Pasti mereka menyangka bahwa di sinilah markas kita," jelas Gardapati.
"Terima kasih, Kakang!" katanya sambil mengecup bibir Gardapati.
"Mbakyu, ia punyaku!" teriak Astadewi sambil melepaskan pelukan Arya.
Dyah Krusina tersenyum, tak sedikit pun ia menyangka akan mengalami hal ini. Dulu ia adalah seorang gadis yang bermartabat; tak seorang pun dibiarkan menjamah tubuhnya. Namun kini, asal lawan dan dirinya mau, maka permainan itu bisa dilakukan kapan dan di mana saja. Melihat wajah lugu Astadewi, Dyah Krusina menghela napas panjang. Memanglah Astadewi lebih liar dan binal daripada dirinya. Namun, melihat wajah polosnya, ia kembali menghela napas panjang. Bagai langit dan bumi, dalam batinnya ia menggumam, "Nimas Dewi memang pantas mendapat gelar Dewi Asmara berwajah lugu."
"Tap, tap!" Sebuah langkah kaki mengusik lamunannya. Ia berpaling, dan bukan hanya dia saja, tapi semua orang telah berpaling. Dilihatnya dua orang datang mendekati tempat itu.
"Kakang Danenra, Kakang Adi Praja!" Astadewi berpekik nyaring dan melompat ke darat; tubuh polosnya terpampang begitu saja. Tubuh yang masih basah dengan air. Danenra dan Adipraja tercengang, tapi tak begitu lama; segera mereka menenangkan debaran jantung dan berahi ketika melihat tubuh yang sangat indah itu. Apalagi ketika tubuh itu berada di depan mereka, Astadewi mengapit keduanya dan membawanya ke tepi sungai. Sigap sekali, ia melucuti pakaian keduanya hingga tak sehelai benang pun menempel; sungguh sangat lihai kepandaiannya yang itu. Dengan sebuah bantingan yang kuat, Astadewi melemparkan keduanya ke sungai.
"Byurrr!" Air muncrat ke udara.
"Ah... uhh... Gklek!" Keduanya gelagapan, tak sedikit air sungai yang tertelan oleh keduanya. Gardapati tertawa saja melihat itu.
"Ada apa kalian seperti terburu-buru?" tanya Gardapati.
"Dewa Gagang Pedang, Dewa Pedang Kelana, dan Iblis Puncak Lawu datang kemari. Saat ini mereka berada di Desa Pacuraka."
"Hmm, masih jauh. Selagi sempat, lebih baik kita bersenang-senang dahulu," katanya seraya menarik Aryani ke pelukannya. Sekali lagi pesta itu berjalan, hanya kali ini bertambah pemainnya.
Di bawah Air Terjun Balumbang, di antara cadas yang menonjol, Gardapati dan yang lain duduk bercengkerama. Sedangkan di seberang sungai sana, tiga sosok berwajah keruh memandang mereka dengan dendam yang membara. Perlahan sekali, Gardapati bangkit dan berjalan normal. Saat ini ia hanya memakai celana saja; badan kekar dan kokohnya dengan sengaja dibiarkan terbakar matahari. Rambutnya diikat ekor kuda ke belakang, langkahnya benar-benar santai.
"Kecipak, kecipak!" Dia berjalan di atas air yang hanya sedalam sebetis. Seraya tersenyum, ia bertanya, "Apakah yang lain enggan datang kemari?" tanyanya sambil melipat dada.
"Benar. Kau puas?" jawab Dewa Gagang Pedang membesi.
"Lalu mengapa kalian datang kemari?"
"Mencabut nyawamu!"
"Lebih baik kalian ikut bergabung dengan kami saja! Bukankah kalian juga bisa datang kemari bersama-sama? Bukankah rasanya menyenangkan dapat bersanding tanpa beban?"
"Apa maksudmu?" Iblis Puncak Lawu bertanya tak mengerti.
"Haha, kalian dedengkot hitam dan dedengkot putih bersanding bersama-sama kemari. Bukankah secara diam-diam kalian mengakui bahwa apa yang kucita-citakan telah terjadi?"
"Brengsek! Sebelum salah seorang di antara kita berdua mampus, pertarungan ini takkan diakhiri." Begitu selesai membentak, Iblis Puncak Lawu menggetarkan keras pedangnya. Pedang yang dipegang tangan kanan dengan sebat berputar menyabet dada Gardapati.
Gardapati tertawa lucu; dia berkata dengan santai sambil menggeser tubuhnya ke kanan, "Kau saja yang mati duluan, aku masih betah di dunia ini."
Tangannya memukul memutar dari arah luar, kecepatannya benar-benar mengagumkan. Tapi sebagai dedengkot golongan hitam, Iblis Puncak Lawu yang melihat pedang tak mencapai sasarannya, segera menarik tangan kirinya ke depan dada, dilanjutkan dengan melakukan tangkisan atas dengan tangan kiri, sementara pedangnya menusuk leher dengan memutar menekuk siku. Jurus serangan demi jurus serangan dilancarkan bertubi-tubi mengancam Gardapati.
Sekulum senyuman sinis tersungging di ujung bibir Gardapati. Katanya ringan, "Kalian kedua makhluk putih merupakan jago lihai kelas satu dalam dunia persilatan, mengapa cuma melongo diam seperti patung saja? Apa kalian masih menunggu kawan kalian yang satu ini mati di tanganku?"
Belum habis ucapan tersebut, cahaya pedang yang dingin menggidikkan sudah menyambar tiba. Rupanya Dewa Pedang Kelana enggan dihina lagi; meski mengeroyok adalah perbuatan tabu, namun itu tak dihiraukannya lagi.
Gardapati segera membentak keras, telapak tangannya diayunkan ke depan menyongsong datangnya tubuh Dewa Pedang Kelana. Betapa kagetnya Dewa Pedang Kelana menjumpai ancaman tersebut. Untuk menarik kembali serangannya jelas tak sempat; terpaksa pergelangan tangannya diputar. Cahaya pedang menyambar-nyambar dengan menciptakan serentetan cahaya tajam, senjatanya langsung menyambar ke atas telapak tangan lawan.
Gardapati mendesis ejek, telapak tangannya ditarik kemudian memukul keluar. Telapak tangannya yang gagah dan kuat segera memancarkan cahaya merah yang segar dan menyala. Makin lama cahaya tajam itu makin membara dan amat menyilaukan mata.
"Sreeet!"
Dari belakang Gardapati, Iblis Puncak Lawu membokong dengan menusukkan pedangnya. Sebelum ujung pedang itu menusuk tubuh Gardapati, Gardapati yang menyadari ada desiran tajam dari belakang tubuhnya, siap sedia.
"Sreeet!"
Depan belakang Gardapati diserang, hanya Dewa Gagang Pedang yang masih ragu untuk masuk ke gelanggang. Gardapati menarik serangan dan menyimpan kedua telapak tangannya di samping pinggang. Tubuhnya memutar.
"Sreeenngh... Crasshh... crasshh... Agh... ugh!"
Terdengar suara bergeseknya suatu benda keras. Rupanya Gardapati menempelkan kedua telapak tangannya di badan pedang dan mendorongnya ke sisi luar, jadi kedua pedang itu lewat melalui sisi pinggangnya dan melukai kedua penyerangnya. Pedang Dewa Pedang Kelana menusuk sisi pinggang Iblis Puncak Lawu, dan begitu pula sebaliknya.
"Aaah, mengapa kalian saling melukai?" tanya Gardapati penuh sesal. Dengan memanfaatkan batang pedang, ia melompat ke udara dan hinggap di sisi lain. Dewa Pedang Kelana adalah salah satu dedengkot silat yang terkenal akan kemampuan pedangnya yang beragam.