Chapter 85
Meski pinggangnya terluka, bukan berarti ia kalah. Pedang yang menusuk pinggang kiri Iblis Puncak Lawu ditarik dan dibabatkan ke arah Gardapati yang saat itu berada di sisi kiri.
Gardapati mengempiskan perut untuk menghindari serangan tersebut. Jika hanya menghindar, itu bukanlah sifat Gardapati. Sekaligus ia menyarangkan jari-jari tangannya melalui tusukan yang dibarengi dengan cengkeraman maut. "Traaang!" pedang lawan patah menjadi dua bagian terkena cengkeraman dan rontok ke tanah. Bukan hanya itu saja, tangan kiri yang masih bebas nyelonong dan mencengkeram pundak kanan lawannya.
"Arrgghh!" Dewa Pedang Kelana mendengus tertahan. Kakinya menjejak, membuat tubuhnya dengan cepat berkelebat mundur sejauh tujuh depa dari posisi semula. Walaupun ia berhasil menyelamatkan tulang pundaknya dari Cengkeraman Iblis Neraka milik Gardapati, pundaknya terasa ngilu dan tidak dapat digerakkan akibat cengkeraman tersebut. Seketika itu juga paras mukanya berubah menjadi pucat pasi seperti mayat. Dengan sempoyongan, badannya mundur beberapa langkah ke belakang, telapak tangan kirinya menekan pundak kencang-kencang, hampir saja tubuhnya terjengkang ke tanah.
"Ra... racun!" desisnya.
Dewa Gagang Pedang yang melihat adiknya terluka parah menyilangkan pedang di depan dada. Mendadak ia menyerobot maju ke muka, kemudian membentak nyaring, "Iblis Puncak Lawu, mengapa kau hanya mematung? Mari kita binasakan dia!" Sembari berkata, pedangnya digetarkan dan diayunkan ke depan, melepaskan sebuah serangan dahsyat yang segera mengurung sekujur badan Gardapati. Belum lagi angin tajam dan cahaya pedang yang menyertainya, segulung hawa dingin yang menggidikkan hati telah menggulung tiba secara berlapis-lapis.
"Aum... Nimas, apa Kakang dapat mengatasinya?" Dyah Krusina yang melihat serangan lawan begitu menggidikkan bertanya pada Astadewi.
"Jangankan Kakang Gardapati, aku pun dapat memecahkannya dengan mudah. Itu adalah jurus gubahan dari Pukulan Sembilan Salju. Jurus yang mengutamakan kecepatan yang didasari pada penyaluran tenaga dalam yang tinggi. Dari kelebatan sinarnya, aku tebak ilmu itu juga didasari Aji Karang."
Dewa Gagang Pedang cukup mengerti akan kehebatan lawan. Dengan cepat dia melejit ke samping untuk menghentikan rangsakannya sebab kala itu Iblis Puncak Lawu sedang merangsek Gardapati. Ia memeriksa sejenak keadaan Dewa Pedang Kelana. Tiba-tiba paras mukanya berubah menjadi amat serius; rasa kaget dan takut segera mencekam seluruh benaknya.
"Racun Ulat Darah!" Kemudian ia menatap wajah adiknya dengan sedih.
"Saya tahu, Kakang. Nyawaku tinggallah sekejap saja. Siapakah yang bisa lepas dari racun keji ini? Biarlah aku mempertaruhkan jiwaku ini," katanya terbata-bata menahan sakit, ia berusaha berdiri. Pilu hati Dewa Gagang Pedang melihat adiknya dalam keadaan yang begitu mengenaskan; ia hanya bisa berdoa.
Waktu itu Iblis Puncak Lawu kehabisan kesabaran. Senjatanya ditancapkan di batu cadas, kedua telapak tangannya disilangkan di depan dada sambil membaca mantra. Telapak tangan Iblis Puncak Lawu yang berubah menjadi hijau dilontarkan ke depan mengikuti gerakan badannya. Segulung tenaga pukulan yang mahadahsyat segera meluncur ke arah lawannya.
"Buta Ijo Memeluk Mangsa!"
Gardapati tertawa terbahak-bahak. Ia membentuk kuda-kuda silang dengan menarik kaki kiri ke belakang, kedua tangan ditarik di sisi kiri, dan dihentakkan ke muka dengan mengirimkan segulung angin panas yang dahsyat pula. "Telapak Dewa Angin Api!"
"Blaaammm!" Ketika sepasang telapak tangan saling berjumpa, segera terjadilah suatu ledakan keras yang memekikkan telinga. Gardapati tertawa terbahak-bahak, tubuhnya hanya sempat bergetar sedikit. Sebaliknya, Iblis Puncak Lawu terdesak sehingga mundur sejauh tujuh delapan langkah dari posisi semula. Dalam sakitnya, Iblis Puncak Lawu keheranan melihat lawan berubah sifat; ia tercengang.
Dewa Gagang Pedang segera berteriak penuh kegusaran, "Saudara, mari kita keroyok berbarengan!" Secepat kilat tubuhnya meluncur ke depan dan menyerang punggung Gardapati.
"Hahahaha!" Gardapati tertawa terbahak-bahak. Gelak tawa yang amat keras, nyaring, dan menjalar hingga menembusi lapisan awan. Siapapun orang yang ada di sana refleks menutup telinga. Sepasang matanya segera berubah menjadi merah membara seperti semburan api yang menyala-nyala. Sambil memutar tubuhnya, ia berteriak keras-keras, "Jangan salahkan aku bila aku menggunakan jurus keji untuk membantai kalian semua!"
"Haah, haah, haah... kau terlalu takabur, bocah!" Iblis Puncak Lawu menjawab sambil menerjang Gardapati.
Sifat dan sikap Gardapati sungguh berbeda dari yang tadi. Jika sebelumnya melayani lawan dengan santai, kini ia tidak bertindak sungkan-sungkan lagi. Dengan cepat tubuhnya mencelat ke tengah udara kemudian melesat ke depan dengan kecepatan luar biasa. Tangan kanannya segera diputar kencang, menciptakan serentetan cahaya merah yang dengan cepat menyebar ke angkasa dan menyambut datangnya tubuh lawan secara ganas dan buas.
Cahaya tajam yang dihasilkan oleh serangan Gardapati tadi meluncur ke depan dan menerkam tubuh Iblis Puncak Lawu. Serangan ini benar-benar dahsyat dan mengerikan; apabila sampai terkena pada sasarannya, sudah dapat dipastikan musuh tentu akan mampus dengan tubuh yang hancur berantakan. Dewa Gagang Pedang dan Dewa Pedang Kelana yang belum sempat melancarkan serangan sama sekali tidak menyangka kalau musuh yang berada di hadapannya ini bisa turun tangan dengan kecepatan yang begitu hebat, keji, ganas, dan mengerikan.
Jika kedua orang yang melihat saja sudah sedemikian kaget, apalagi Iblis Puncak Lawu yang menghadapinya secara langsung. Tak terlukiskan rasa kaget, ngeri, dan seramnya setelah menghadapi kejadian tersebut. Buru-buru tubuhnya melejit ke tengah udara. Setelah bersalto satu, dua, tiga kali di udara, telapak tangan kanannya dibacokkan miring ke samping, melepaskan sebuah pukulan kilat yang benar-benar luar biasa. Angin pukulan yang menderu-deru dan menggulung ke depan laksana ombak laut ketika sedang terjadi badai.
Gardapati sungguh aneh. Sangat lazim bila ketika melepaskan pukulan ia akan menunggu pukulan itu beradu, tapi kini hukum itu tak berlaku baginya. Dalam hatinya, ia sudah merasa yakin angin pukulannya saja sudah cukup melukai lawan. Tiba-tiba saja Gardapati menyelinap lewat, tangannya digetarkan keras-keras dan mengirim angin pukulan lain kepada Dewa Gagang Pedang yang sedang melamun. Setelah merangkapkan kedua tangannya, ia mendorong ke muka, langsung menghantam dada lawan.
Tindakan ini sama sekali di luar dugaan setiap orang yang hadir dalam dan luar arena. Semuanya melongo hingga melupakan pertarungan.
"Bllaaarrrr! Dukk! Ugh! Arrrgggg!"
Iblis Puncak Lawu yang sedikit lengah membayar mahal; tubuhnya terlempar hingga empat tombak. Untung pengalamannya bicara, sudut bibirnya tampak mengeluarkan darah. Kedua tangan Dewa Gagang Pedang ditarik dan melakukan tangkisan dari dalam, ia menjerit lirih dan terlempar hingga lima tombak. Dewa Gagang Pedang pun bukan orang sembarangan; pedangnya digoreskan pada batu cadas sisi sungai sehingga dapat berdiri sempoyongan.
Gardapati mundur selangkah ke belakang dan tertawa terbahak-bahak melihat Iblis Puncak Lawu mengambil langkah seribu. "Kau takkan bisa lari dari kematianmu!" bentak Gardapati sambil mengerahkan Ilmu Ngambang Anginnya. Secara luar biasa, ia terbang melesat menuju mega dan berdiri di hadapan Iblis Puncak Lawu. Ia menyeringai seram. "Sudah terlambat untuk melarikan diri, lihatlah nyawamu sudah meronta-ronta hendak keluar dari tubuhmu!"
"Kau terlalu... aku akan adu jiwa denganmu!" Iblis Puncak Lawu benar-benar marah. Ia maju menerjang Gardapati.
Gardapati membuka jari telunjuk dan jari tengahnya dari kepalan, ditarik ke depan dada, dan disentakkan ke depan. "Wussss!" Angin topan panas menggulung-gulung hendak menerkam Iblis Puncak Lawu.
"Celaka!" kata Dewa Pedang Kelana sambil melemparkan pedangnya. Rupanya Dewa Gagang Pedang pun tahu keadaan tersebut; ia pun bersamaan melemparkan pedangnya. Pedang itu tampak menimbulkan lelatu api ketika bergesekan di udara. Iblis Puncak Lawu yang tak tahu kehebatan jurus lawan sama sekali tidak memandang sebelah mata, berbeda dengan Dewa Pedang Kelana dan Dewa Gagang Pedang yang mengetahui jurus itu ketika di Perguruan Rajawali Emas.
"Duuuaaarrrrrrrr!"
Laksana meteor jatuh ke bumi, angin ribut memporak-porandakan tempat itu. Pepohonan menyibak tercabut hingga akar-akarnya. Air dan cadas batu muncrat ke udara. Melihat itu, Astadewi meloncat ke air dan memutar tubuh menari. Sungguh luar biasa, air di sana naik ke udara dan membentuk benteng melindungi kawan-kawannya. Seperminum teh kemudian, baru ia menghentikan tariannya. "Byurrr!" airnya jatuh menghempas sungai seperti disentakkan.
Ratih dan kawan-kawan melongo melihat keadaan sekitarnya. Tampak Iblis Puncak Lawu telentang di antara sungai. Pakaiannya robek sana-sini, sekujur tubuhnya dipenuhi darah. Perlahan ia bangkit berdiri dan kagetnya tak terbayangkan. Batu cadas mengapung di udara, di salah satu batu tampak Gardapati berdiri dengan angker. Ketika sudut matanya melirik dua orang yang menolongnya, ia melihat Dewa Gagang Pedang sedang menangisi Dewa Pedang Kelana yang terkulai lemah di pangkuannya.
"Ai, tak kusangka gara-gara keteledoranku akan berakhir seperti ini, maafkan aku!" Iblis Puncak Lawu berkata penuh sesal. Seingatnya, ini adalah penyesalan yang pertama baginya.
Dewa Gagang Pedang mengangguk. Ia meletakkan jenazah adiknya dan berdiri memasang kuda-kuda tanpa menggunakan pedang. Haru sekali perasaan Iblis Puncak Lawu; seingatnya, Dewa Gagang Pedang adalah pendekar yang biasa menggunakan pedang, bukan tangan kosong. Dilihatnya pedang miliknya menggeletak tak jauh dari sisinya. Perlahan ia mengambil dan melemparkan pedang itu seraya berkata.