Halo!

Iblis Dunia Persilatan - Chapter 86

Memuat...
Iblis Dunia Persilatan

Chapter 86

"Saudara, pakailah pedangku ini, meski tak sehebat pedang milikmu, tapi setidaknya bisa dipakai untuk kondisi seperti ini." Dewa Gagang Pedang menangkap pedang itu dan menatap mata Iblis Puncak Lawu yang penuh ketulusan. Ia mengangguk lemah, lalu menatap Gardapati dengan buas.

"Hati-hati, Kisanak. Dia merapal Ajian Sembilan Puluh Sembilan Dewa Berkehendak. Setiap perubahannya tergantung titisan dewa mana yang ia gunakan. Kekuatan maupun sifatnya adalah apa yang ia panggil sendiri, oleh karenanya jangan heran bila dalam suatu pertarungan ia berubah baik atau jahat, tenang atau ganas."

"Oh, kiranya demikian. Dari mana Kisanak tahu?"

"Aku pernah menyaksikannya sendiri ketika ia bertarung dengan Dewa Dunia Persilatan, Sagara Angkara."

"Ai, sebenarnya lawan kita ini apa?"

"Iblis, Dewa Iblis, atau Iblis Dewa, entahlah. Yang jelas, kita harus membinasakannya demi ketenteraman dunia persilatan!"

"Hiaaaa!" Serempak keduanya menerjang ke depan.

Gardapati tersenyum tipis. Ia menarik tangan kiri dan kanan ke sisi pinggang, lalu dengan mengerahkan tujuh bagian tenaganya, ia menghentakkannya ke muka bawah. "Duaaaarrrr!"

Sayang sekali, Dewa Gagang Pedang dan Iblis Puncak Lawu meloncat ke atas dan menjadikan cadas yang terapung sebagai pijakan.

"Sungguh kalian pintar!" puji Gardapati sambil melepaskan batu itu dari libatan tenaga dalamnya yang disalurkan melalui angin.

Keduanya menjejak, melompat, dan membuka jurus serangan andalan masing-masing dengan sasaran tunggal: Gardapati.

Gardapati memutar kedua tangannya, kakinya mundur selangkah. Kedua tangannya dilintangkan di depan dada, bersiap menyambut serangan lawan. Di udara, Dewa Gagang Pedang menegakkan tubuh dan mencondongkannya ke arah Gardapati dengan menekuk kaki kiri, sementara kaki kanan dihadapkan pada lawan. Seketika pedangnya menyabet, mengirimkan cahaya tajam keperakan. Di sampingnya, Iblis Puncak Lawu mencakarkan kukunya yang hitam pekat, mengirimkan cahaya hitam berbau busuk.

Bukan Gardapati bila kewalahan menghadapi jurus seperti itu. Ia menjongkokkan tubuhnya dan menghempaskan tangan ke depan untuk menyambut serangan, namun kali ini dibarengi dengan sebuah siasat.

"Duaarrrrr!"

Ketika hawa itu beradu, Iblis Puncak Lawu dan Dewa Gagang Pedang terpental ke belakang dan menginjak tanah dengan selamat. Napas mereka memburu. Betapa terkejutnya mereka ketika melihat sosok Gardapati menghilang. Panas dingin dirasakan Dewa Gagang Pedang saat sebuah telapak tangan menempel di punggungnya.

"Jurus Peremuk Tulang!" pekiknya ketakutan.

Iblis Puncak Lawu memutar tubuh dan menyarangkan tendangan memutar pada pergelangan tangan Gardapati yang berada di punggung Dewa Gagang Pedang. Kini, Gardapati dihadapkan pada dua pilihan: meneruskan serangan untuk membunuh Dewa Gagang Pedang dengan risiko tangannya patah atau remuk, atau menarik tangannya dengan risiko harus mencari waktu yang tepat lagi untuk membinasakan lawan.

Orang pintar pasti akan memilih yang kedua, sedangkan orang bodoh dan berangasan akan memilih yang pertama. Namun, Gardapati bukan tipe keduanya. Ia tetap meneruskan serangan sembari melayangkan tendangan dari bawah ke atas.

"Duk! Darr!"

Kedua kaki beradu menimbulkan gelombang angin kencang. Tubuh Dewa Gagang Pedang tersungkur ke depan, namun anehnya ia tak merasa kesakitan. Gardapati pun terkejut, ia melompat mundur dan memperhatikan bekas telapak tangannya di punggung lawan. Ia tersenyum aneh.

Dengan heran, Dewa Gagang Pedang bangkit dan menarik benda yang menyelamatkan nyawanya. Dilihatnya itu adalah belati berwarna biru.

"Ah, Adimas, kau menyelamatkanku. Ternyata belati ini memiliki daya sehebat ini! Seandainya sebelum kau meninggal tak memberiku ini, entahlah apa yang terjadi."

"Belati Darah Biru!" desis Iblis Puncak Lawu.

"Wah, wah, ternyata kau memiliki simpanan!" ucap Gardapati kagum.

"Sebenarnya ini adalah simpanan Adimas Dewa Pedang Kelana, dan akan kugunakan untuk membalas kematiannya."

"Baiklah, mari!" jawab Gardapati sambil tersenyum lembut.

"Sikap, pembawaan, maupun auranya telah berubah lagi!" bisik Iblis Puncak Lawu.

"Apapun perubahannya, yang terpenting kewaspadaan kita yang utama!" jawab Dewa Gagang Pedang sambil meletakkan pedang di dahi.

Sementara itu, Belati Darah Biru menyilang di depan wajah, bersilang dengan pedangnya sendiri. Gardapati menyilangkan sepasang tinju di depan dada dan menyentakkannya ke bawah sembari membuka kedua jarinya.

"Seeerrrr." Segulung hawa keperakan membentuk sebuah pedang.

"Ai, Jari Pedang tingkat tiga!" pekik Iblis Puncak Lawu.

Kaki kanannya menggeser sedikit ke arah kanan dan menarik mundur kaki kiri, tangan kanan di sisi pinggang dinaikkan hingga telapak tangannya menghadap wajah, dan tangan lainnya dikepalkan di sisi pinggang.

"Heaaa! Heaaa! Heaaaa!" Ketiganya berteriak mengguntur, menerjang maju.

Arya dan yang lain merasa mendapat tontonan menarik dan mereka menonton dengan asyiknya. Dewa Gagang Pedang segera menggerakkan pedang dan Belati Darah Birunya, melancarkan serangan dengan gencar. Walaupun Gardapati adalah pemuda yang pemberani dan tinggi ilmunya, tak urung ia dipaksa mundur. Bukan pedang panjang yang ia khawatirkan, melainkan belatinya. Apalagi harus melawan serangan Iblis Puncak Lawu yang tak kalah dahsyat.

Dalam waktu singkat, sepuluh jurus sudah lewat, kemudian lima puluh jurus berlalu. Ketika pertarungan sudah meningkat sampai seratus jurus, pemenang masih sukar ditentukan. Para penonton dadakan segera memusatkan perhatiannya ke seluruh arena pertarungan.

Dalam pada itu, semakin bertarung, Dewa Gagang Pedang tampak semakin kosen. Angin pukulannya menderu-deru sampai ke seluruh arena, pedang dan belati yang berada di tangannya menyambar ke sana kemari tanpa ampun. Seratus gebrakan kembali lewat ketika Gardapati mencoba mengamati pihak lawan; tampak butiran keringat bercampur darah membasahi baju mereka.

Cuma belati dan semangat yang dimiliki lawannya untuk mempertahankan perlawanan, dan hal itu sukar untuk ditaklukkan. Tak takut mati—itulah kunci utamanya. Ketika ajal mendekat, seseorang bisa bangkit menyala-nyala, tapi sampai kapankah bisa bertahan?

Mendadak, Gardapati mengerahkan tenaganya sambil secara beruntun melancarkan beberapa bacokan dan menangkis serangan lawan. "Trang, treng, trang, duk, dak!"

"Awas!" Gardapati berteriak nyaring. Secepat kilat menyambar, ia mengangkat kaki kanan ke atas kiri, tangan kanan bergerak menyabet leher Iblis Puncak Lawu yang saat itu sedang menarik serangan.

"Bukk! Ugh! Byurr!" Tubuhnya tersungkur jatuh ke air.

Gardapati tak berhenti begitu saja. Sambil mendoyongkan tubuh ke kanan, tangan kanan bergerak menangkis serangan belati Dewa Gagang Pedang, lalu memutar tubuh ke arah kiri sambil mengangkat kaki kanan menjejak paha lawan, berbareng menusukkan jari yang berisi hawa pedang.

"Sreeenggg!" Hawa jari itu menggesek keluar. Dewa Gagang Pedang menangkis dengan menempel, meski merasa pergelangan tangannya remuk, ia tak menyerah. Pedang di tangan kanan berputar menusuk, sedangkan belati dilintangkan ke belakang membelit leher. Gardapati menghindari serangan balasan itu dengan memiringkan tubuh ke kiri, berbareng menangkis serangan dengan jari tangan kanan.

"Trang!"

Selanjutnya, dengan gerakan cepat dan mantap, Gardapati melontarkan tendangan dengan kaki kanan. Dewa Gagang Pedang memundurkan kaki kanan ke belakang sambil menyilangkan kedua tangan, dengan pedang dan belati menghadap tendangan Gardapati. Tampak Gardapati menarik serangan; bagaimanapun, bila kaki dan pedang diadukan, itu bukan suatu keuntungan yang tanpa risiko. Sambil memiringkan tubuh ke arah kiri, ia melakukan tendangan menyamping atas. Gardapati merendahkan tubuh dan menangkis kaki itu dari bawah, berbareng meninjukan kepalan tangannya pada betis.

"Duk! Gjebuurrr! Dakk!"

Dewa Gagang Pedang tercebur ke air. Gardapati membatalkan serangan susulan karena ia merasa suatu desiran angin dari belakang. Gardapati berbalik dan memasang tangan melindungi muka. Ia terjengkang, namun dengan sebuah saltoan ringan, ia kembali berdiri dan memasang kuda-kuda lebar; badannya bertumpu pada kaki kiri sehingga kaki kanan agak lurus. Tangan kanan menyilang di depan ulu hati, tangan kiri ditekuk di atas.

"Haha, sayang sekali!" kata Gardapati ringan.

"Ya, sayang sekali nyawamu tak melayang!" jawab Iblis Puncak Lawu geram sebab serangan bokongannya gagal. Kembali ia menerjang mengirimkan tendangan memutar. Entah tendangan atau cakaran, sebab cakarnya pun terlihat merah membara siap dicakarkan.

Gardapati melayani setiap serangan keduanya dengan tenang, penuh perhitungan, dan hati-hati. Dewa Gagang Pedang pun kembali ke gelanggang. Serangan-serangan yang sangat dahsyat segera ia lancarkan, setiap jurus pasti mengisyaratkan kematian.

"Mana kesombonganmu yang tadi, bocah keparat!" bentak Iblis Puncak Lawu.

"Aku simpan dalam saku dahulu, sebab saat ini aku sedang menghadapi lawan yang cuma bisa main cakar kucing saja!" jawabnya sambil mengimbangi serangan-serangan yang dilancarkan oleh keduanya.

Kali ini tangan Dewa Gagang Pedang disilangkan di depan dada, tampak di kedua tangannya ada dua buah kerikil. Ia merapal ajian, "Jagad gede jagad cilik mendak tumungkul onongarepaningsun, ojo maneh siro jalmo manungso asal banyu bali dadi banyu, asal geni bali dadi geni, asal angin bali dadi angin, asal bumi bali dadi bumi, asal cahyo bali marang alaming kidratiro, ketaman ilmuku pengabaran jati yo ja tining pangabaran soko kersane Allah."

"Kau cari mati!" bentak Gardapati marah. Rupanya mantra yang dibisikkan Dewa Gagang Pedang terdengar oleh telinga tajamnya. Gardapati marah sebab lawan hendak menghilangkan ilmu yang dimilikinya. Ia tahu lawan menggunakan Ajian Pangabaran, yaitu ajian yang dapat mencabut ilmu lawan karena ilmunya akan berbalik dan meninggalkan tubuhnya. Jadi, bisa dibayangkan betapa marahnya Gardapati.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment