Halo!

Iblis Dunia Persilatan - Chapter 87

Memuat...
Iblis Dunia Persilatan

Chapter 87

Seketika Gardapati memukulkan tinjunya ke arah tubuh Maharaja. Begitu dekat, telapak tangannya dibuka dan hawa putih membentuk telapak tangan yang mengembang.

"Celaka, Tapak Dewa Dunia Persilatan!" pekik Dewa Gagang Pedang bersamaan dengan Iblis Puncak Lawu.

Iblis Puncak Lawu mengebas tangannya, mengirimkan segulung angin dahsyat berbau busuk. "Blegar! Druk, drak, byur! Drak! Argh!" Tiga kekuatan raksasa bertemu.

Berpuluh-puluh tombak Dewa Gagang Pedang terpental, sedangkan Iblis Puncak Lawu menerima akibat yang lebih parah. Tubuhnya terhempas dan membentur dinding cadas. Darah menyembur dari sekujur tubuhnya. Batok kepalanya hancur, otak dan jeroannya jatuh ke air, dan tubuhnya terpanggang di atas cadas batu karang. Di ujung karang tampak jeroan perut Iblis Puncak Lawu membelit karang.

Sebaliknya, Gardapati hanya terlempar sejauh lima tombak saja; di sudut bibirnya tampak darah mengucur. Perlahan, Gardapati menyusut darah tersebut.

"Hihi, aku memang suka jeroan itu, seperti cacing!" Astadewi menunjuk usus yang membelit di atas karang. Sementara yang lain bergidik ngeri.

Dewa Gagang Pedang yang masih dalam keadaan sempoyongan mengetahui orang yang menolongnya mati mengenaskan, meski berasal dari golongan hitam. Ia bercucuran air mata dan tanpa daya segera memburunya.

"Ai, meski masa lalumu sungguh kelam, aku mendoakanmu agar diterima di sisi-Nya!" Dewa Gagang Pedang berdoa.

"Uhuk, uhuk!" Ia terbatuk, darah segar berwarna kehitam-hitaman kembali menyembur.

"Terimalah jurus terakhirku!" bentak Dewa Gagang Pedang nyaring.

Sambil menggeser kaki kiri maju ke depan, tangan kiri bergerak menyikut, sementara tangan kanan melepaskan pedang dan melindungi dada. Dewa Gagang Pedang terkenal karena jurus pamungkasnya yang bernama Gagang Pedang Dewa, yaitu sebuah jurus penghancuran dengan gagang pedang. Tentu saja ini berkebalikan dengan dasar pedang pada umumnya, namun itulah yang terjadi.

"Hiaaa! Gagang Pedang Dewa!" teriaknya mengguntur.

Laksana panah yang terlepas dari busurnya, ia melesat terbang dengan posisi memegang pedang secara terbalik, yaitu menghadap pada dirinya sendiri seakan hendak bunuh diri. Melihat jurus aneh lawan, Gardapati meletakkan kaki kanan ke samping kanan agak depan, kedua tangan melakukan silangan cakar di depan dada dalam posisi tangan kanan di bawah.

Sejengkal lagi di depan Gardapati, Dewa Gagang Pedang memutar tubuh dan menyodokkan gagang Belati Darah Biru pada ulu hati Gardapati. Gardapati memutar tangan membelit tangan lawan, namun tak nyana tangannya begitu licin. Tanpa ampun, gagang itu terus hendak menyodok ulu hati. Gardapati sungguh tak rela mati konyol, tangan lainnya disimpan di ulu hati.

"Buk!" Gardapati ikut terbawa dorongan lawan. Tubuhnya terjengkang membungkuk. Namun entah mengapa, Gardapati merasakan lawan mendadak mengendur. Ia segera memanfaatkan keadaan itu; tangan yang terkena sodokan gagang belati darah biru diputar berbarengan disertai tenaga mendorong, sedang tangan lainnya menepuk jidat lawan sehingga terjengkang. Dalam keadaan itulah, tangan yang terkena sodokan didorong menempel.

"Jreb! Bruk!" Keduanya terguling. Gardapati bergulingan di atas air dan kerikil tajam. Untunglah sebelumnya ia mengerahkan ajian kekebalan sehingga tubuhnya tidak terluka, berbeda dengan pakaiannya yang sobek sana-sini.

Gardapati memperhatikan keadaan lawan; tampak ia menelungkup dengan belati biru menonjol di atas punggung. Ia menendang tubuh itu sehingga terlentang, lalu belati itu dicabut dari dada Dewa Gagang Pedang. Diperhatikannya belati itu; benar-benar belati mustika, terbukti dengan tak setetes darah pun menempel di badan pedang.

Dari belakang, Arya menepuk pundaknya. Gardapati berpaling dan tersenyum kepada sahabat-sahabatnya. Iblis Kembar Bumi, Si Gila dari Neraka, Aryani, Antari, Astadewi, Anhudari, Dyah Krusina, Ratih, Drajasengkala, dan Adi Praja berpegangan pundak. Ia berpaling ke atas awan yang berarak dan mengacungkan belati biru itu, belati yang semakin menampakkan sinarnya kala disaluri tenaga dalam dan tertempa sinar matahari.

"Woaaaah!" serempak mereka berteriak nyaring mengalahkan deburan air terjun dan salakan langit.

***

"Dijadikan penghinaan. Meski tak secara langsung, tapi saya sering menguping para prajurit membicarakan kami. Saya sangat sedih, awalnya sayapun ingin membungkam semua mulut itu, tapi kini saya hanya bisa senyum saja menanggapinya. Saya ingin menjadi yang kakang saya inginkan," kata Garwati curhat sambil berlinangan air mata.

Sagara Angkara terharu dengan kisah gadis itu; gurat rasa kasihnya semakin kuat melihat keluguan gadis di hadapannya. Dia membulatkan tekad bahwa ia akan menjaga gadis itu jika gadis itu mempercayainya sedemikian rupa. Masakah ia akan mengecewakannya? Diam-diam ia mengkhawatirkan bila gadis itu mempercayai seorang penjahat wanita. Mungkin jika yang lewat bukan dirinya, gadis ini akan menceritakan kehidupannya begitu saja kepada orang lain.

"Memang apa yang kakangmu inginkan kepada dirimu?" tanya Sagara Angkara kepada gadis itu. Dia berpaling dan melengong. Cahaya mentari yang menerpa sungai mengenai wajahnya.

"Gardapati!" batin Sagara Angkara menjerit.

Sebelum gadis itu menjawab, ia berpaling menatap Sagara Angkara yang melengong. "Ada apa Kakang? Mengapa melamun?"

"Akh, tidak apa-apa!" Sagara Angkara tergagap sambil kembali menuntun kudanya.

Gadis itu berkata menjawab pertanyaan Sagara Angkara, "Dia berpesan melalui sebuah surat!" kata gadis itu seraya menyerahkan sepucuk surat kepada Sagara Angkara.

Sagara Angkara mengambil surat itu dengan tangan gemetar, dia mencium bau harum pada kertas itu, lalu perlahan dibuka. Adapun isi surat itu adalah:

"Adikku yang cantik, bila kau membaca surat ini, berarti Kakang sedang berjuang dalam lumpur kegelapan. Bukan maksud Kakang untuk menjadi iblis, bukan. Maksud Kakang untuk tega membiarkanmu sendiri tanpa perlindungan seorang lelaki. Tapi, Kakang tak ingin dikatakan sebagai anak yang durhaka; almarhum Ayah telah memberikan surat wasiat kepada Kakang. Kakang tak ingin engkau menjadi bagian ini, cukuplah Kakang yang menerima dan menanggung semuanya.

Jika kau memang mencintai Kakang, jadilah engkau gadis sesuci dan seputih kapas. Jangan kau nodai dirimu dengan nafsu, amarah, dan dendam. Bila ada yang mencela dirimu, tersenyumlah. Bila ada yang menghina kita, tersenyumlah, besarkan hatimu. Kakang percaya engkau mampu. Jadilah gadis yang Kakang harapkan. Jangan risaukan kematian Ayah, Kakang yang akan mengurusnya.

Bila suatu saat nanti Kakang masih hidup dan kehilangan arah, jadilah pembimbing Kakang, arahkanlah Kakang ke jalan yang diridai. Kakang tak tahu kapan Kakang akan mengingat keluarga dan kebenaran, karena mulai detik ini, napas ini, hidup ini, jiwa ini, tubuh ini, akan Kakang cuci dengan dendam amarah. Jangan pernah ikuti jalan Kakang. Jadilah gadis yang seperti Kakang inginkan.

Kakang bersumpah, meski jiwa ini lebur, tak sudi bila engkau ternoda atau dinodai. Bila engkau merasa kebahagiaanmu ada yang merenggut, carilah Kakang atau kirimkanlah orang untuk menyampaikan pesanmu. Kakang bersumpah, siapa saja yang berani mengganggu seujung rambut dirimu, bukan hanya keluarga orang itu yang akan mati, tapi seluruh dunia akan Kakang bantai sampai banjir darah. Mungkin tak banyak yang ingin Kakang pesankan kepadamu. Kakang mohon engkau sudi menjadi apa yang Kakang inginkan, demi kebaikanmu, demi Kakang, demi Ibu, dan demi Ayah."

Surat ini ditulis dengan darah Kakang, sebagai tanda bahwa surat ini bukanlah surat main-main. Yang selalu menyayangi dan mencintaimu, Gardapati.

Sagara Angkara terhenyak; ternyata apa yang dipikirkannya benar, gadis ini memang adik Gardapati. Membaca surat itu, Sagara Angkara seakan memahami jalan pikiran serta sebab-musabab sahabat sekaligus musuhnya itu.

"Ai, bukan hanya Kakangmu, sayapun menyetujui apa yang diinginkan Kakangmu."

"Benarkah?!" Mata Garwati bersinar-sinar seperti anak kecil dikasih permen.

Sagara Angkara mengulum senyum melihatnya. "Simpanlah, jangan berikan ini kepada siapapun. Ini adalah surat berharga dirimu!"

"Mengapa begitu, Kakang?" tanya Garwati kekanak-kanakan.

Sagara Angkara menghela napas atas kepolosan gadis di sampingnya. "Jika surat ini diambil orang, apa yang akan Kakangmu pikirkan kepada dirimu?" Sagara Angkara balik bertanya.

"Kakang, Wita mohon jangan disebarkan bahwa Kakang pernah membaca surat ini, ya... ya... ya!" Garwati merajuk.

"Hahaha!" Tak tahan lagi Sagara Angkara tertawa lepas. Meski tak mengerti mengapa Sagara Angkara tertawa, Garwati memilih ikut tertawa.

"Mengapa kamu tertawa?" tanya Sagara Angkara.

"Habisnya Kakang tertawa sendiri, bagaimana jika ada orang lewat dan menganggap Kakang orang yang sedikit itu?"

"Itu apa?"

"Itu, ya itu!" Sagara Angkara menahan tawa, benar-benar polos gadis ini pikirnya.

"Lihatlah, itu kedai. Kamu lapar?"

"Ehehe!" Garwati tertawa kecil. Keduanya masuk ke kedai. Kedai nasi itu cukup besar, tapi saat itu pengunjungnya cuma beberapa orang. Keduanya duduk di satu sudut. Kursi-kursi dan meja terlihat bersih dan rapi. Sagara keheranan, sebab yang ia lihat yang makan hanya para petani, pedagang, dan pelajar saja. Ke manakah para kaum persilatan?

Seorang laki-laki tua beruban datang mendekatinya. Tampaknya dia adalah pemilik kedai. "Makan, Nak...?" tegurnya.

Sagara Angkara mengangguk. "Kamu ingin makan apa, Nimas Wita?" kata Sagara Angkara.

"Nasi putih dan bebek panggang kecap," jawab Garwati polos.

Mendengarnya, pemilik warung itu mengerutkan kening. Selama dia membuka kedai di Pala Langon itu, baru hari ini ada seorang tamu yang datang ke kedainya dan memesan itu. Matanya meneliti gadis itu, dari rambutnya yang digelung dan dihias bunga sampai ke kakinya yang rapi. Sagara Angkara yang memakai pakaian pelajar sama sekali tak terlihat mencolok, seorang pelajar dan putri keraton.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment