Halo!

Iblis Dunia Persilatan - Chapter 88

Memuat...
Iblis Dunia Persilatan

Chapter 88

Itulah yang jamak. Namun, yang tidak jamak adalah bagaimana ada putri keraton di sebuah kampung.

"Kalian tentu dari keraton," katanya.

"Betul, Paman," jawab Garwita dengan senyuman lugu.

"Tolong lekas nasinya, Pak, perut saya sudah lapar sekali!"

"Nimas, nasi putih hanya untuk kalangan keraton saja. Di kedai tak mungkin ada. Selain itu, bebek panggang kecap jelas tak mungkin ada, yang ada paling hanya memakai kecap."

Garwita melongo. Ia menggaruk-garuk punggung yang tidak gatal dan menyengir, "Kalau begitu, Kakang saja yang memesan."

Sagara Angkara tersenyum lalu memesan makanan. Setelah dipesan, orang kedai itu segera mengambilkan dua piring nasi merah, lauk-pauknya, dan dua gelas air, lalu meletakkannya di atas meja di hadapan Garwita dan Sagara Angkara. Karena lapar, keduanya makan dengan lahap, meski terasa janggal, Garwita tetap memakannya.

"Nimas, lihatlah, apakah itu rombonganmu?" Sagara Angkara menunjuk ke luar.

"Ai, benar-benar!" Garwita tersenyum bahagia, matanya berbinar.

"Begini saja, kehidupan di luar itu sangatlah keras. Engkau pulanglah dan bujuk ibumu agar menolak pernikahanmu. Mengenai kakangmu, biarlah saya yang mencari dan menyampaikannya."

"Ekh, Kakang mengenalnya?"

"Ia sangat mirip denganmu!" kata Sagara Angkara sambil tersenyum.

"Terima kasih, Kakang! Wita beruntung mengenal Kakang. Entah mengapa Wita merasa sangat sedih bila mengingat kita akan berpisah," ujar Garwita tulus dan jujur.

Sagara Angkara yang merasakan hal sama tidak berani mengucapkannya, tetapi gadis ini benar-benar tulus dan jujur. Tidak ada yang ditutupi.

"Sungguh gadis ini jujur sekali, wajahnya begitu polos. Mudah-mudahan ia akan selalu tetap seperti ini," batinnya.

Sagara Angkara melambaikan tangan memanggil pemilik kedai. "Berapa?" tanyanya.

Orang kedai itu menyebutkan jumlah uang yang harus dibayar. Sagara Angkara mengeluarkan uangnya, memberikannya kepada orang itu, lalu beranjak keluar bersama Garwita.

"Tri!" panggil Garwita kepada seorang gadis pelayan yang saat itu tampak putus asa.

Yang dipanggil Tri berbalik, wajahnya melengak, lalu tertawa gembira dan langsung berlari. Setelah mendekat, dia memberi hormat. "Tuan Putri, ke manakah saja Anda? Kami semua mengkhawatirkanmu."

Garwita hanya tertawa, dia berbalik kepada Sagara Angkara. "Kakang, kapan kita akan berjumpa kembali?"

"Selama gunung masih hijau dan sungai mengalir ke laut, selama itulah kita akan bersua kembali," jawab Sagara Angkara.

"Sampai jumpa, Kakang!" Garwita berjalan mengikuti Tri, gadis pelayannya. Sesekali ia menoleh ke belakang; semakin lama semakin jauh. Sagara Angkara hanya bisa melihat ia masuk ke tandu dan menghilang di persimpangan jalan. Ada yang hilang dalam jiwa, ada yang hilang dalam hati bersama perginya gadis itu.

"Ai, Eyang benar. Senjata pembunuh terbaik adalah perempuan," gumamnya.

Di bawah pohon beringin yang rindang, Gardapati bersama Astadewi tampak bermain-main. Cubit dan colek dilakukan guna menghibur hati. Kala Gardapati mengambil tuak, mendadak Arya bersama Ratih mendatangi mereka. Dari raut wajahnya, tampak mereka memendam suatu masalah.

"Saudaraku!" Arya menyapa.

"Ada apa, Saudaraku?" Gardapati menyahut.

"Di daerah Kalawisa ada sekelompok kaum persilatan yang menentang perintah kita."

"Lalu?"

"Aku hendak meminjam wajahmu untuk membereskannya."

Kala mendengar itu, mendadak gelas permata yang dipegang Gardapati melayang jatuh, tampak bersinar tertempa mentari. Apalagi ketika tuaknya meluber keluar. "Prakkk!" Gelas hancur berantakan, tuaknya menggenangi lantai.

"Kakang?" Astadewi terkejut, begitu pula dengan Ratih dan Arya. Sungguh mereka tidak mengerti apa yang sedang terjadi.

Gardapati melengong tak sadar. Mendadak bayangannya teringat kepada sosok misterius serba hijau. Ia ingat dengan perkataannya. Inikah suatu pertanda?

"Brukk!" Gardapati jatuh berlutut di antara pecahan gelas. Darah merembes dari betis dan lututnya.

"Firasatku tak enak, Arya. Kumohon, dalam jarak satu purnama ini engkau tak memakai wajahku untuk berkeliaran di dunia persilatan," Gardapati berkata kepada Arya sambil menutupi wajahnya.

Meski tak mengerti apa sebabnya, Arya dapat melihat keseriusan Gardapati. Ia terdiam.

"Kakang, ayo bangun!" Astadewi berusaha membujuk dan membangunkan Gardapati. Setelah berdiri, Astadewi berjongkok dan mencabuti pecahan yang menempel di tubuh Gardapati.

"Sebenarnya ada apakah ini, Kakang?" Ratih memecah keheningan.

"Bencana besar, bencana besar!" gumamnya sambil berjalan tertatih-tatih dan duduk melamun di bawah pohon beringin.

Seperminum teh kemudian, Gardapati bangkit dan berkata, "Biarlah, biar aku bersama Nimas Dewi yang berangkat ke sana. Jagalah perkumpulan kita. Seandainya aku tak kembali, pimpinlah perkumpulan ini dengan baik." Ada kesedihan di balik setiap ucapannya.

"Saudaraku, mengapa engkau berkata seperti itu? Kita sudah berjanji untuk sehidup semati. Meski ada bencana yang tak sudah, kita lampaui bersama-sama. Berat sepikul, ringan sejinjing. Itulah prinsip kita. Kita harus sedencing bagai besi, seciap bagai ayam."

"Besar kapal, besar gelombang. Saat ini kita sudah memiliki sebuah kerajaan persilatan, tidaklah baik bila kita harus pergi bersama. Bukan maksudku tak mempercayaimu, namun ada sesuatu hal yang sangat aku takutkan, sesuatu yang di luar rencana. Sesuatu yang besar yang mampu menghancurkan kita semudah menjinjing kapas di luar sana."

"Apa itu?"

"Aku tak bisa mengatakannya sekarang, sebab aku juga tak mengetahui. Berkata soal ilmu silat, satu orang prajuritnya bahkan mungkin setara denganku!"

"Apa? Bila pula biawak duduk?" Arya membelalakkan matanya lebar-lebar.

"Musuh atau kawan, aku sama sekali tak mengetahui. Berjaga-jaga bukanlah sesuatu yang buruk."

"Baiklah, aku tahu kau melakukan ini semua demi kebaikanku. Hanya satu pintaku, kembalilah dengan tak kurang suatu apa!"

"Itu pasti!" kata Gardapati menepuk pundak Arya. "Mari, Nimas Dewi." Gardapati menggandeng tangan Astadewi. Astadewi memberengut dan berkata, "Apa tak sebaiknya Kakang mengganti pakaian dahulu?"

"Haha!" Gardapati terbahak-bahak. Suasana nan sejuk itu dikagetkan dengan suara tawa menggelegar yang mengandung kesedihan yang tak begitu kentara.

Dusun Kalawisa adalah sebuah dusun di perbatasan Jawa bagian tengah dan Jawa bagian barat. Oleh karenanya, dusun ini ramai dengan segala aktivitas para pedagang. Sebuah bangunan megah berdiri di tengah dusun, pagar tinggi mengelilingi bangunan itu.

Masuk ke dalam bangunan, tampak beberapa orang berpakaian kaum kelana saling mengobrol dengan bisik-bisik penuh dendam.

"Argono, kau terkenal dengan senjata rahasiamu yang dinamakan Haur Kuning Perengut Nyawa, masakah begitu ketakutannya sampai-sampai menolak untuk memberontak? Aku, Si Jelita Berbau Harum, merasa sangat sedih untukmu. Tak nyana nyalimu hanyalah nyali kertas," seorang perempuan berusia tiga puluhan mencibir sinis kepada seorang lelaki berusia tiga puluhan yang duduk menyendiri dengan bambu kuning menggantung di punggungnya.

Wajah lelaki itu berkerut penuh amarah, dengan marah dia berkata, "Asiri, jika kau memang merasa sangat jago melebihi Dewa Gagang Pedang, Maharaja, Iblis Puncak Lawu, dan yang lain, pergilah ke sana. Jangan membawa-bawa aku si tuan rumah ini."

Si Jelita Berbau Harum yang disebut nama aslinya terdiam. Siapakah di antara mereka yang sanggup melebihi para tokoh dunia persilatan itu?

Di pertemuan itu, kiranya ada sekitar dua puluh empat orang yang duduk mengobrol, sedangkan yang lainnya berjaga-jaga di ruangan lain. Seorang lelaki berbaju kuning dengan sebuah kelabang besar nangkring di rambutnya berkata, "Ai, kita memang tak memiliki daya ataupun upaya untuk melawannya," ucapnya lesu.

Mendadak sekelebat sosok bayangan kuning kemerahan datang. Ketika semua mata mengalihkan perhatian, tampak di salah satu tempat duduk yang kosong telah ditempati seorang pertapa memegang tasbih besar. Dialah yang dikenal dengan Pertapa Empat Jari. Sesuai dengan gelarnya, memang jari tangannya hanya ada telunjuk dan jari tengah.

"Mohon maaf, kedatangan saya agak terlambat sehingga para saudara sekalian lama menunggu," katanya memohon maaf.

"Tidak apa-apa. Apa kedatangan Andhika juga hendak menyangkut Iblis Dunia Persilatan itu?" tanya Argono atau biasa dikenal dengan Si Penjaja Bambu.

"Benar. Iblis Dunia Persilatan itu, dengan menggunakan ilmunya yang tiada taranya, telah mengacaukan keseimbangan dunia persilatan. Ia menutup seluruh pintu perguruan, melarang kaum rimba persilatan menginjakkan kaki di dunia persilatan. Padahal dulu kita bisa berkelana dengan nyaman meski tak jarang badai kelabu selalu datang menghadang. Kita harus mengadakan perlawanan," jawab Pertapa Empat Jari.

"Tetapi apakah sudah ada rencana untuk memusnahkan musuh?"

"Urusan ini sangat mudah sekali, asalkan kita tiga golongan bersatu, bekerja sama bahu-membahu, mengadakan perlawanan dengan sekuat tenaga. Saya rasa tidak susah untuk mengeroyoknya hingga dia menemui ajal."

"Ai, maksud Pertapa memang sangat baik, usulnya juga saya terima dengan baik, saya merasa setuju. Hanya cara demikian tak ubahnya dengan telur diadu dengan batu. Ini namanya menghancurkan peradaban sendiri."

Mendengar jawaban itu, semua orang yang berada di sana merasa diangkat dari air es dan diceburkan ke dalam air bergolak. Pertapa Empat Jari adalah salah seorang pertapa yang beribadat baik, meski terkenal dengan tindakannya yang serba sembrono, namun ia terkenal dengan kecerdikannya dalam memecahkan kesulitan. Kini ditanggapi seperti itu, sungguh ia merasa terhina sekaligus heran. Dengan penuh emosi ia berkata kepada Si Penjaja Bambu, "Apa? Kita gabungan para kaum persilatan belum mampu membunuh si iblis itu? Dari sudut manakah kau, Si Penjaja Bambu ini, mengatakan telur diadu dengan batu?"

"Ya!"

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment