Chapter 89
Andhika hanya menyebut si iblis itu saja; apakah Andhika tak memperhitungkan para konco-konconya itu? "Beberapa ratus tahun lalu, Sang Pujangga Silat Pendekar Seribu Diri Aram Widiawan juga mengerahkan segenap elemen yang ada di muka bumi untuk membinasakan musuh dan itu berhasil, tak ada salahnya bila saat ini kita mencoba."
"Ai, Pertapa, mengapa engkau begitu sembrono menggunakan siasat? Sebagai keturunan salah satu Ksatria Satwa Luyu Manggala, tak semestinya kau mengambil keputusan semudah membalikkan telapak tangan. Untuk dirimu yang terkenal licin dalam menyelamatkan diri mungkin tak jadi masalah, tapi bagaimana dengan yang lain? Apakah engkau mau mengorbankan kami? Lihatlah, belajar dari itu, Iblis Dunia Persilatan sama sekali tak melibatkan masyarakat, bahkan menyejahterakan mereka, bagaimana kita meminta mereka mendukung aksi kita?"
"Ai, jika orang lain yang mengatakannya, mungkin kepalamu sudah hilang sejak tadi. Mengingat bahwa kau adalah keturunan dari mendiang Murka Semesta, aku pun merasakan sungkan kepadamu. Tapi, apakah kita akan di sini saja menanti kematian? Menyaksikan Iblis Dunia Persilatan dan konco-konconya berbuat seenak udelnya? Kau pun tak berdaya menanggapinya."
"Menurutku hanya satu jalan untuk menghadapi kemelut ini." Begitu mendengar ucapan itu, semua orang yang berada di situ terbangun semangatnya. Serempak mereka menanyakan, "Cara apa?"
"Jalan satu-satunya itu adalah menggali ilmu rahasia dari para Ksatria Satwa yang sudah hilang. Perlu kita ketahui, bahwa Ilmu Ksatria Satwa itu lebih kuat daripada kelima partai golongan putih. Oleh karenanya, kita harus berupaya mencari ilmu rahasia keluarga kita masing-masing yang tak sempat diturunkan."
Semua menghela napas panjang. Mereka tenggelam dalam lamunan masing-masing.
"Amurti, kau adalah keturunan dari Amuk Samudera, apa tak sebaiknya kita mencari keturunan mendiang Pendekar Kijang berbaju cokelat Angkara?" Si Jelita Berbau Harum membuka percakapan.
"Ahaha, kau sendiri adalah keturunan dari mendiang Ksatria Domba Kasturika, apa tak menemukan jalan?"
Si Penjaja Bambu menghela napas panjang dan mencegah kedua orang itu berselisih. "Sudahlah jangan saling menyalahkan. Kita di sini adalah saudara, masing-masing dari kita adalah para keturunan Ksatria Satwa, baik secara langsung maupun tidak. Lain daripada itu, kita harus saling merekatkan persaudaraan."
"Itu benar, mengapa jika kalian hendak memberontak malah saling gontok-gontokan sendiri?" Mendadak seseorang ikut pembicaraan. Dan betapa terkejutnya ketika mereka melihat sesosok kelabu dengan caping lebar; di sisinya seorang gadis cantik mungil menggelayut manja.
"Iblis Dunia Persilatan!" Serentak semuanya berdiri dan mencabut pedang.
Sebagai tuan rumah, Si Penjaja Bambu tentu lebih tahu keadaan medan. Sekeliling tempat itu tertutup, cara bagaimana orang ini dapat masuk? Itu adalah pertanyaan yang sungguh tak bisa dijawab.
"Haha, sungguh besar nyali kalian semua. Sungguh besar, sungguh besar." Keadaan berubah menjadi tegang, ketakutan menyelimuti setiap benak orang. Ini adalah sesuatu yang sangat di luar perkiraan dan rencana. Orang bijak mengatakan: "Tuliskan rencanamu dengan sebuah pensil dan berikan penghapusnya pada Tuhan. Biarkan Ia menghapus bagian-bagian yang Ia anggap perlu. Dan pasti, hasilnya adalah lukisan hidup yang dipenuhi dengan keindahan." Kata siapa sesuatu yang di luar rencana adalah mutlak musibah? Hanya orang yang sempit pikiranlah yang akan mengatakan itu.
"Aku akan adu jiwa denganmu!" Salah seorang lelaki brewokan menerjang Gardapati. Dia biasa dipanggil dengan nama Panglima Satu Dusun. Serangannya sangatlah dahsyat, kesiuran angin yang dibawanya sangat menggiriskan. Sebuah pukulan berlandaskan ajian Batara Karang menghantam Gardapati.
Gardapati mundur setindak, tangan kanan memutar dan menangkap pergelangan tangan lawan, tangan kirinya menusuk dengan cepat pada dahi. Bagaimanapun Panglima Satu Dusun bukanlah tokoh sembarangan, tangan kanannya sebat melakukan tangkisan. Gardapati yang sangat bersikap santai itu memutar pergelangan tangan dengan kuat dan cepat, menangkap pergelangan tangan lawan yang hendak melakukan tangkisan. Gardapati mendengus kala melihat kaki lawan hendak terangkat, cepat bagai kilat ia mendahului dengan menjejak lutut seraya mengibaskan tangan kiri lawan, berbareng mengibas dengan sisi tangan pada batang leher.
"Tak!" Rupanya lawan Gardapati memiliki ilmu kebal sampai tangan Gardapati terasa kesemutan. Gardapati yang dapat menaklukkan dunia persilatan tentu bukan orang sembarangan. Sebat ia memukulkan tangan lainnya hingga kepala Panglima Satu Dusun melengak ke belakang terkena hajaran. Panglima Satu Dusun terjajar hingga tujuh-delapan langkah ke belakang. Gardapati merunduk dan menempelkan tangannya ke lantai tanah yang berdebu.
Pucat wajah Panglima Satu Dusun melihatnya. Terlambat, sebuah pukulan dahsyat mendarat di ulu hatinya. "Arrhggghh!" Panglima Satu Dusun mencelat terbang sambil memuntahkan darah.
"Brakkkk!" Tubuhnya menabrak dinding hingga hancur berantakan.
"Menentangku, MATI. Melawanku, MATI. Adalah suatu kehormatan baginya aku belum mencabut jiwanya, setelahnya dia harus tunduk di bawah kakiku sebelum kubantai seluruh anak istrinya," kata Gardapati sinis.
Melihat itu, Si Penjaja Bambu yang terkenal dengan senjata rahasianya melakukan sesuatu yang membuat semua orang melengak; antara takjub, heran, dan iri bersatu dalam sebuah benak. Si Penjaja Bambu yang sudah berada dalam posisi kuda-kuda segera mendorongkan kedua telapak tangannya dengan kuat, mendorong angin seakan angin itu memiliki bobot ribuan kati. Entah bagaimana kejadiannya, kedua tangannya itu masih mendorong angin, namun entah juga dari mana datangnya, ia memiliki dua tangan lagi yang mengayun simpan menyamping pada tangan kanan yang diayunkan ke dalam, dan tangan lainnya yang terkepal untuk disilangkan di depan dada. Perlahan kedua tangan yang mendorong angin telah hilang, sambil menyelinapkan tubuh ke depan, maka di sini tangan kiri melakukan suatu totokan yang cepat pada daerah yang lemah di tubuh lawan.
"Wuuurrssshhhh... Blaarrr... Crekk... Crekkk."
Gulungan angin tornado bergulung-gulung dari tempat di mana kedua telapak tangan Aram mendorong angin. Berat namun cepat, itulah salah satu rahasia dari jurus itu. Diam namun bergerak, gerakannya kosong seperti tak berisi, namun memiliki sumber kekuatan tenaga dalam dari alam yang diolah di tangan tanpa memasuki tiantan. Inilah jurus Ksatria Menolak Angin yang dahsyat. Memang jurus ini sama sekali tidak terlihat sempurna, mungkin Si Penjaja Bambu belum menekuninya hingga sempurna. Meski begitu, jurus ini terlihat begitu menggiriskan.
Dari semenjak melihat pembawaan kuda-kuda lawan, Gardapati sudah tahu jurus yang dikeluarkan bukan jurus sembarangan. Apalagi ketika menyadari bahwa mereka yang berkumpul di sini adalah para keturunan Ksatria Satwa, Gardapati tidak lagi sungkan, jurus Telapak Iblis Dunia Persilatannya digunakan. Kedua tangannya direntangkan seperti hendak terbang. Kaki kiri maju ke depan satu langkah. Tangan kiri bergerak menyikut sementara tangan kanan melindungi kepalan di depan dada. Selanjutnya dengan posisi kedua kaki tetap terbuka lebar, tangan kiri lurus ke samping kiri dan tangan kanan didorong ke depan dengan diiringi bayangan hawa telapak tangan berwarna hitam berbau busuk dan amis menyeruak datang.
Astadewi yang menonton di luar arena terkejut, kakinya menjejak dan melompat ke udara menembus atap hingga jebol.
"Duaaaaarrrrrrr! Arrgghhh! Ugghhh! Brak! Dreettt... bruk!"
Dari udara, Astadewi melihat sebuah telapak beradu dengan totokan yang dibarengi dengan angin topan bergulung-gulung. Dirinya melihat lantai menyibak menciptakan lubang, selanjutnya dinding hancur, diikuti dengan meledaknya rumah megah itu. Untung ilmu Ngambang Angin-nya yang sudah mencapai tataran sempurna membuat Astadewi selamat dari ledakan itu. Setelah keadaan mulai reda, Astadewi memutar tubuh bersalto dan meluncur ke bawah, ringan bagai kapas, cepat bagai tanah. Astadewi berdiri di atas reruntuhan bangunan. Batu bangunan berserakan, para tetangga berhamburan melihat, tak ada seorang pun di antara mereka yang melihat dari dekat, semuanya dari jauh.
Sudut bibir Gardapati mengucurkan darah segar, sementara Si Penjaja Bambu berusaha untuk bangkit dan menyingkirkan bangunan yang menindihnya. Sekujur tubuhnya diselimuti darah akibat goresan yang diterimanya dari ledakan itu, belum lagi tenaga dalamnya yang terluka parah. Yang lain pun tampak satu per satu bangkit sambil membersihkan tubuh mereka dari tindihan batu, itu diibaratkan bagai jamur yang mulai tumbuh.
"Hehe, kalian tamatlah sekarang," desisnya sambil memasang kuda-kuda. Melihatnya, Si Penjaja Bambu juga yang lain pasrah akan kematian.
"Tapak Dewa Dunia Persilatan!" Seketika Gardapati memukulkan tinjunya ke arah mereka. Di tengah-tengah telapak tangannya terbuka hawa putih membentuk telapak tangan mengembang.
"Bleeegarrrr! Drukkk... drakk... byurr... drakkk..."
Kembali terdengar ledakan dahsyat menggelegar, namun kali ini tidak ada teriakan atau jeritan kesakitan. Gardapati mengernyitkan kening. Siapakah kiranya yang menahan serangannya yang bahkan membuatnya mundur dua langkah ke belakang?
"Siapakah Andhika?" tanya Gardapati heran.
Begitu asap sirna, tampaklah sesosok berkerudung hijau berdiri tenang. Gardapati tertegun bengong. Terlihat sosok itu berjalan mendekat dengan cepat, begitu di depan Gardapati ia berkata, "Kau tak menepati janjimu, akibatnya sesuatu yang lain telah terjadi. Di dalam tubuh Istana Dewa Iblis terjadi pengkhianatan. Saat ini kawan utamamu bersama kekasihnya sedang berjuang sendiri di daerah Jampangkulon. Bukan hanya itu, pemimpin wanitamu juga sedang diincar, namun sama sekali ia tak sadar bahwa maut menunggunya dan malah berdiam di kerajaan itu."
Begitu selesai berkata, sosok itu mengabur dan menghilang. Gardapati tergetar hatinya.