Chapter 90
Bahkan ia lupa menyerang musuhnya. Ia berteriak memanggil sosok itu, namun tak ada yang menanggapi. Akhirnya, ia berlari ke arah Astadewi.
"Lekas, selamatkan Nimas Dyah! Bawa lari dari kerajaan. Aku hendak menyelamatkan Arya. Di kerajaan terjadi pengkhianatan!" Hanya itu yang diucapkan Gardapati. Ia langsung melesat terbang meninggalkan Astadewi yang terlongong.
Astadewi sadar, ia pun segera mengambil langkah seribu. Penjaja bambu dan yang lain melepas napas lega; raut kesedihan melintas di wajah mereka.
Sementara itu, di hutan sebelah kiri desa, sosok berkerudung hijau berlari. Tetesan darah mengucur dari balik kerudungnya.
"Tunggu!" sosok berkerudung lain mencegah larinya.
"Ai, tak seharusnya kau menahan jurus itu, jurus itu sangatlah dahsyat," kata sosok berkerudung yang menyusul.
"Mereka adalah orang yang penting, suatu saat mereka akan berguna." Hanya itu yang ia katakan, lalu ia langsung berlari pergi. Ke manakah dan siapakah dia?
Di puncak gunung tempat Perguruan Rajawali Emas berdiri, hujan rintik-rintik mengguyur dan angin bertiup cukup kencang. Seorang pemuda berjalan dengan langkah kaki yang cukup berat menuju padepokan. Dilihat dari keadaan luarnya, ia tak lain adalah Sagara Angkara. Ia mengenakan pakaian yang sudah kumal dan compang-camping. Wajahnya putih bersih, namun cara berjalannya yang memegang perut menunjukkan bahwa ia sedang terserang rasa lapar yang amat sangat. Di antara celah pakaiannya, terlihat otot tubuhnya yang kekar.
Ia ingat ketika ia pergi berkelana dan berjumpa dengan gadis yang telah memikat hatinya. Gadis itu bukan orang pertama dalam kehidupannya, namun ia merasa bahwa gadis itulah sosok yang ia rindukan. Yang membuat sakit hati adalah kenyataan bahwa gadis itu merupakan adik dari Gardapati.
Dalam perkelanaannya, ia telah mendaki gunung, menyeberangi sungai, serta mengunjungi berbagai partai di dunia persilatan. Tetapi, apa yang dilihat dan dialaminya hampir membuat dirinya kehilangan arah. Ia sempat pergi ke Padepokan Teratai Putih, namun setelah berkeliling dan berteriak-teriak, tak seorang pun menanggapi. Bahkan di tempat penerimaan tamu, terdapat secarik kertas putih bertuliskan tinta darah: "Dilarang keluar masuk padepokan ini. Siapa yang melanggar, dia akan mati dibunuh di tempat. Dilarang berkelana selama hukuman masih berlangsung." Di bawah kertas itu, tertulis nama pembuatnya: Iblis Dunia Persilatan.
Ia marah, tangannya terkepal erat, dan giginya bergemeretak. Ia berteriak-teriak hendak masuk, namun tak kunjung ada yang merespon. Terpaksa ia turun gunung dan berkunjung ke perguruan lainnya. Namun nahas, nasib padepokan lain pun sama dengan Padepokan Teratai Putih. Bahkan di setiap perjalanannya, ia hanya bertemu dengan para lelaki dan perempuan berpakaian serupa.
Padepokan Rajawali Emas merupakan tujuan terakhirnya. Selain hendak bertemu dengan ayah angkatnya, ia juga ingin mencari tahu sebab terjadinya bencana ini. Ia mendongakkan kepala memandang Padepokan Rajawali Emas yang megah dan berkabut terkena air hujan.
"Ya Tuhanku Yang Maha Kuasa, sebenarnya ada apakah ini? Mengapa semua ini Kau biarkan terjadi?"
Saat otaknya sedang mencerna apa yang terjadi, ia mengetuk gerbang itu beberapa kali. Sikapnya yang menjunjung adat kesopanan membuatnya sungkan untuk melompat menerjang gerbang. Oleh karena itu, ia memilih untuk menanti. Selagi dalam keadaan kesal dan bingung, tiba-tiba terdengar suara merdu namun sangat dingin.
"Manusia liar dari mana berani mengetuk pintu gerbang dengan terang-terangan melanggar perintah Iblis Dunia Persilatan?" Suara itu disusul dengan munculnya sesosok bayangan putih yang turun dari udara.
Ternyata bayangan itu adalah gadis belia berusia sekitar delapan belas tahunan. Gadis itu berparas cantik, bibirnya merah delima, alisnya lentik, matanya jeli, dan badannya langsing. Pakaiannya yang ringkas berwarna putih, sementara jubahnya berupa rompi yang senada. Karena hujan, baju itu menjadi basah sehingga lekuk tubuhnya tampak.
Gadis itu sendiri merasa bahwa hari ini sifatnya sangat ganjil; sebentar gembira, sebentar marah-marah. "Ai, hari ini mengapa aku menjadi begini? Biasanya aku membunuh orang semudah membalik telapak tangan. Tapi hari ini benar-benar berbeda." Ia bertanya pada dirinya sendiri apakah ia telah jatuh cinta. Memikirkan hal itu, wajahnya memerah. Saking gemas dan malunya, ia melesat terbang meninggalkan tempat itu.
Sagara Angkara menghela napas panjang, lalu mengerahkan ilmu Lacak Geter Kahuripan andalannya. Setelah menyadari gadis itu telah berlalu, ia berlutut. "Maafkan aku, Ayah, tak seharusnya aku melakukan hal demikian," ujar Sagara Angkara sambil menunduk.
Kedua kakek dan para murid yang ada di sana tercengang kaget. "Anakku Sagara Angkara, bangunlah. Syukur Tuhan masih merahmatimu. Tak kusangka aku bakal dapat mengelus pipimu kembali." Mendengar bahwa pemuda itu adalah Sagara Angkara, para murid Padepokan Rajawali Emas terpekik kaget.
"Ai, ada apakah dengan dunia persilatan ini, Ayah? Mengapa tak seorang pun kaum persilatan yang berkelana?"
"Ai, ceritanya sangat panjang. Yang penting kau sudah hadir di sini. Makanlah, kau terlihat sangat lapar. Setelahnya, engkau baru akan mendapat keterangannya."
"Baik!"
"Tidaaaaaaaakkkkk!"
Gardapati terlambat selangkah. Tubuhnya ambruk berlutut menyaksikan sahabatnya, Arya, bersama Ratih mati mengenaskan. Berbagai senjata telah menusuk tubuh keduanya. Mereka mati berpelukan dan bersimbah darah. Di sampingnya, darah menggenang dan mayat bertumpuk; keadaan di sana hancur berantakan. Masih ada sekitar tujuh puluh orang dengan pakaian seragam berwarna emas di sana.
Darah Gardapati mendidih hingga ubun-ubun. Kemarahannya benar-benar mencapai puncak. Melihat sosok Gardapati yang berlutut, kawanan pengkhianat Istana Dewa Iblis mengepungnya.
"Wuaaaaaaaa!" Gardapati berteriak memekakkan telinga. Para pengepung itu sempoyongan mundur mendengar teriakan yang luar biasa keras itu. Gardapati benar-benar marah hingga ia mengerahkan Titisan Dewa Srengen.
"Ilmu apa ini!"
"Iblis..."
"Lari!"
Kalang kabut para pengepung itu melarikan diri, namun terlambat. Kemarahan Gardapati sudah mencapai puncak.
"Jdeeeerr!" Sebuah petir menyalak menyambar sebuah pohon.
"Wungggg!" Badai mengamuk di tempat itu. Beberapa orang tewas terlempar, senjata mereka berterbangan, dan nyali mereka menciut ketakutan.
Gardapati benar-benar murka. Sekali kibaskan tangan, angin prahara membadai menghempas. Jangankan manusia, pohon pun tercabut sampai ke akar-akarnya dan cadas berterbangan. Teriakan serta jeritan bergema di mana-mana.
"Pessss!" Mendadak angin prahara lenyap, alam kembali tenang. Hanya suara benda jatuh yang terdengar. Dari balik dedaunan yang berguguran, Gardapati berdiri dengan pakaian dan rambut berkibar laksana ular hidup.
Mendapati jalan buntu, tak ada pilihan lain bagi para pengkhianat itu. Mereka mencabut senjata dan dari segenap penjuru menyerang Gardapati. Sebuah panah melesat, namun dengan gerak menghindar yang remeh, Gardapati mengelak.
"Jrubbb!"
"Arrgghh..."
"Brukkk!"
Salah seorang dari mereka tumbang terkena panah. Setelah itu, Gardapati membalas serangan dengan kibasan enteng sebelah tangan. Hasilnya jauh lebih mengerikan. Serangkum terjangan angin ribut menggasak ke arah lawan.
"Weerr!"
"Arrhh!"
"Ugh!"
Sepuluh orang terpental hingga jumpalitan, berakhir dengan mengenaskan. Ada yang menabrak batu, ada yang menabrak pohon hingga tumbang.
"Maju!" teriak mereka memberi semangat.
Gardapati yang dilanda kemarahan tidak memandang bulu. Ia maju sedikit ke muka, kuda-kuda disejajarkan, tubuhnya sedikit membungkuk, telapak tangannya dihentakkan ke depan, hingga urat-uratnya bertonjolan. Saat itu pula dari telapak tangannya keluar angin yang amat kencang, menerbangkan apa saja yang dilaluinya. Bagaikan gelombang laut yang menghempas, angin pukulan itu menyerbu ganas ke arah pengepung di sisi kirinya. Debu, dedaunan, kerikil, dan batu-batu ikut terbang.
"Wussshhh!" Jurus pukulan itu terlalu kuat bagi para pengkhianat itu. Nyali mereka ciut mendengar deru angin berkekuatan topan. Tanah merekah, pepohonan tercabut kembali.
"Duaaarrrrr!"
"Arrhh!"
"Ugh!"
Jeritan terus bergema, apalagi ketika Gardapati melakukan pukulan ke samping dengan kedua tangan. Angin ribut menerjang mereka. Mereka adalah pasukan yang berani mati; kematian rekan-rekannya tidak membuat mereka takut, justru semakin beringas. Itu terus berlangsung hingga senja datang. Seluruh pengeroyok telah dibantai habis.
Gardapati berdiri terlongong di antara deru napasnya yang memburu. Keringat membasahi seluruh tubuhnya. Gardapati mendekat pada mayat Arya dan Ratih yang masih berpelukan. Diusapnya mayat keduanya dengan wajah yang tampak menderita.
Gardapati mendadak mendapati sebuah ide gila. Dia bangkit dan mencari mayat yang berperawakan sama dengannya. Setelah lama mencari, ia menemukannya. Gardapati memanggulnya, lalu meletakkannya di sisi mayat sahabatnya. Gardapati melucuti pakaian orang itu dan menukarkannya dengan miliknya.