Halo!

Iblis Dunia Persilatan - Chapter 91

Memuat...
Iblis Dunia Persilatan

Chapter 91

Setelah itu, ia mengenakan pakaian miliknya pada mayat tersebut. Untuk menghilangkan jejak, Gardapati memasangkan topeng miliknya. Dengan mengerahkan dua bagian tenaga dalamnya, Gardapati mengarahkan telapak tangannya ke wajah pemuda itu.

"Blaarr!" Wajah itu hancur berantakan.

Tidak berhenti di sana, Gardapati juga menghancurkan kemaluan pemuda itu. Ia mengambil berbagai senjata lalu menancapkannya ke tubuh pemuda tersebut. Setelah dirasa cukup, Gardapati meninggalkan tempat itu.

Setelah berjalan cukup lama, sampailah ia di sebuah sungai kecil dengan air yang jernih. Gardapati berkaca pada air itu, pikirannya melayang.

"Ai, sebaiknya aku mengubah penampilanku," batinnya berkata pada diri sendiri.

Ia menjejakkan kaki pada batu dan melompat ke batu yang lebih tinggi. Ia menyunggingkan senyum saat melihat seorang gadis desa sedang mencuci baju, dan ia melihat ada beberapa pakaian yang belum basah. Gardapati lari mendekat lalu menyapa.

"Nona, dapatkah aku membeli salah satu pakaianmu?" Gadis itu terkejut, ia berbalik dan melongo.

Wajah Gardapati sangatlah tampan dan halus, apalagi dengan bertelanjang dada. Sungguh merupakan pemandangan yang luar biasa; dada berkeringat sehingga mengilap, putih, kekar, dan berotot. Melihat ke bawah, gadis itu menjerit ketakutan dan bersujud.

"Jangan, Tuan, jangan! Ampuni saya! Silakan ambil." Gardapati tertegun. Setelah berpikir sejenak, ia maklum dan mengambil pakaian berwarna hijau toska. Setelahnya, ia berjalan ke balik batu dan mengganti pakaiannya di sana.

Setelah keluar, gadis itu terpesona melihat Gardapati mengenakan baju lengan panjang dan celana longgar warna hijau toska.

"Dapatkah kau membantuku?"

"Membantu?" tanya gadis itu heran.

"Ya, bisakah kau mencari getah singkalang?"

"Ah, baiklah," jawab gadis itu setengah ketakutan.

Tak nyana Gardapati berkata, "Terima kasih!" Gadis itu melongo kaget. Gardapati menyobek kainnya dan menggunakannya sebagai ikat kepala sementara gadis itu menghilang. Ia merapikan rambutnya ke belakang dan mengikatnya dengan model ekor kuda.

"Ini, Tuan?" Gadis itu menyerahkan getah yang diminta sambil hendak berlutut. Gardapati menahan tubuh gadis itu dan tersenyum.

"Kau bisa melukis?"

"Se-sedikit."

"Tolong buatkan aku tato."

"Ekh?"

"Tak usah sungkan," kata Gardapati sambil melepaskan baju dan telentang di batu datar, lalu menyerahkan besi berbentuk jarum.

"Gambar apa, Tuan?"

"Terserah, aku hanya ingin merasakan sakitnya!" jawab Gardapati seenaknya.

"Sakitnya?"

"Ya, sakitnya. Aku ingin menyeimbangkan rasa sakit dalam batin dengan ragaku."

"Apa kekasihmu meninggalkanmu?"

"Bukan, dia adalah seorang sahabat. Sahabat yang sudah sehidup semati, yang lebih sakit adalah pengkhianatan."

"Siapakah yang mengkhianatimu? Maaf, saya hanya ingin tahu, mungkin saja bebanmu sedikit lega. Kata orang, dengan menceritakan kesusahan kepada orang lain meski tiada arti dan dia hanya mengatakan kasihan, setidaknya beban hati menjadi ringan."

"Haha, kau gadis yang menarik. Kurang leluasa aku menceritakannya sekarang. Kau boleh memulai."

Tangan gadis itu gemetar ketika menyentuh dada bidang Gardapati, tapi setelah terbiasa, ia mulai menikmati pekerjaannya. Meski sakit, Gardapati seolah tidak terasa, wajahnya tenang, hanya tampak bibirnya yang digigit kuat-kuat.

Agaknya rasa sakit Gardapati tidak sia-sia. Setelah gadis itu selesai mengerjakan tato dari getah pohon singkalang, tato itu bergambar daun teratai yang membuka. Di atas daun itu bukanlah bunga teratai, melainkan seekor cendrawasih yang sedang terbang dengan kepala menengok ke kanan. Gambarnya cukup besar, tepat pada belahan dadanya.

"Kau memang hebat, lukisanmu benar-benar indah!"

"Te-terima kasih!"

Gardapati mengambil sisa getah itu untuk menyamar. Dengan memanfaatkan air yang disoroti mentari senja, Gardapati mempertajam alisnya sedikit dinaikkan. Kemudian, di atas bibirnya ia memberi bintik-bintik, selanjutnya pada dagu dan pipi dibuat seolah bulu yang habis dikerok. Kepandaiannya merias wajah bukanlah ecek-ecek; sekejap saja sosoknya terlihat berbeda dari yang tadi.

Bibir gadis yang bersamanya melongo kaget melihat wajah Gardapati, apalagi ketika Gardapati dengan sengaja membuka belahan bajunya sehingga tato itu dapat terlihat dari luar.

"Mengapa kau menatapku seperti itu?"

"Ah, tidak, tidak. Maafkan aku!"

"Hemm, bagaimana dengan cucianmu?"

"Sudah, sudah selesai!"

"Di mana rumahmu? Mari kuantarkan, hari sudah beranjak malam, tidak baik gadis sepertimu berada di luar."

"Tidak, tidak usah, saya bisa sendiri."

"Jangan menampik, anggap saja ini sebagai rasa terima kasihku."

Gadis itu tak berkata apa-apa. Ia membereskan pakaiannya dan perlahan melangkahkan kakinya ke sisi sungai. Dari belakang, Gardapati mengikutinya dengan santai. Setelah cukup lama berjalan, tibalah keduanya di hutan yang lebat. Gardapati mengerutkan kening dan mengepalkan tinju. Dari depan, tampak lima orang dengan menunggang kuda datang menghadang.

"Ha-ha-ha, wah, mimpi apa kita semalam sampai-sampai muncul seekor kelinci mungil di hutan rimba seperti ini? Kita benar-benar mendapat kejatuhan bulan, sudah tentu kalian semua bisa mendapatkan bagian!" seru seorang lelaki brewokan yang memakai kain emas di bawahnya.

Di belakangnya, kawan-kawannya yang berpenampilan serupa tertawa terbahak-bahak. Gadis itu berpaling menatap Gardapati dengan buas; ia pikir Gardapati memanggil kawan-kawannya karena tak berani melakukan sendiri. Ia masih ingat bahwa sebelumnya Gardapati memakai pakaian yang serupa. Sedang Gardapati tenggelam dalam ingatan ketika Arya dan Ratih dihabisi. Tangannya terkepal erat, matanya memancarkan amarah pembunuhan.

Melihat sorot mata Gardapati, gadis tadi ketakutan sampai Gardapati berkata lirih, "Mundur dan berdiri di belakangku." Saking takutnya, gadis yang hanya berpakaian selembar kain yang dililitkan itu menurut.

"Lihat, lihat kelinci mungil ini berlari ke belakang domba, huahaha. Kawan-kawan, siapa yang dapat lebih dulu menangkapnya, dialah yang memperoleh bagian pertama!" kata laki-laki pemimpin rombongan Istana Dewa Iblis itu. Seruan ini disambut suara tawa dan sorakan. Bagaikan segerombolan anjing binal, mereka turun dari kuda dan menubruk maju untuk memperebutkan gadis itu tanpa menghiraukan Gardapati.

Gardapati yang sedang marah tak memandang sebelah mata. Ia bergerak dengan amat cepat, mendahului para pengeroyok itu datang mendekat. Ia meloncat ke depan dengan sebuah tinju terkepal di samping dada.

"Tapak Dewa Dunia Persilatan!" pekik salah satu dari mereka.

Terlambat, hawa putih telah menghantam mereka tanpa ampun.

"Duaaarr!" Tempat itu meledak. Mereka mati dengan tubuh koyak berikut kuda-kuda mereka.

"Ikh!" Gadis di belakang Gardapati menjerit ketakutan.

Gardapati mendongakkan kepala menatap langit yang mulai gelap. Ia berteriak dengan lantang, "Wuaaa! Istana Dewa Iblis, sang pengkhianat! Lihatlah, suatu saat nanti aku akan membalas perlakuan kalian padaku. Lihatlah dan saksikan aku. Aku akan menjadi tikus yang menggerogoti kalian. Tak akan kubiarkan satu pun dari kalian hidup. Aku bersumpah bahwa tujuh turunanku akan mencacah kalian! Huahahaha!"

Gardapati tertawa terbahak-bahak dengan mata bercucuran air mata. Gadis yang berada di belakangnya tertegun; ia paham bahwa pemuda ini adalah salah satu anggota dari perkumpulan itu.

"Kakang, tenanglah," sapanya sambil menepuk pundak Gardapati.

Gardapati berpaling dan langsung memeluk erat gadis itu, lalu ia menangis di dalam pelukannya. Mulanya gadis itu menolak, namun tak begitu lama, ia malah mengusap-usap punggung Gardapati, wajahnya semburat merah malu. Setelah tenang, Gardapati melepaskan pelukannya dan meminta maaf.

Tanpa berbicara, keduanya melanjutkan perjalanan. Setelah melewati empat tikungan dan menyeberangi sebuah jurang yang memisahkan dua buah bukit, gadis yang belum diketahui namanya itu berkata, "Kita sampai."

Gardapati memandangi rumah di depannya; sebuah rumah mungil indah yang menyatu dengan alam. Atapnya terbuat dari daun ilalang yang dianyam, dinding-dindingnya terbuat dari kayu mahoni. Pekarangan rumah itu sangat asri dengan berbagai macam bunga, pot bambu tampak menghiasi sudut-sudut rumah. Perabotan seluruhnya terbuat dari kayu, di sudut lain tampak bermacam tumbuhan obat.

Sebagai orang yang pernah tinggal bersama salah seorang dedengkot ilmu pengobatan, Gardapati tahu bahwa obat-obat yang ditanam merupakan tumbuhan langka. Hatinya memuji dengan sangat. Di sisi kiri tampak beberapa bambu dibuat khusus memanjang; sepertinya bambu itu digunakan khusus untuk jemuran. Gardapati melihatnya dengan hati takjub, apalagi ketika gadis tadi mengangkat tangannya untuk menjemur pakaian yang tadi ia cuci.

"Malam akan datang, mengapa pakaianmu engkau jemur? Apa engkau ingin menjemurnya di bawah sinar rembulan?" tegur Gardapati.

Gadis itu berpaling dan tertawa kecil, "Bila pakaian ini aku simpan di wadah seperti ini, maka nanti akan menimbulkan bau tak sedap. Lihatlah langit begitu terang, aku yakin malam ini tidak akan hujan, jadi tidak masalah bila aku mengangin-anginkan pakaian-pakaian ini."

"Ai, urusan seperti ini jujur aku tak mengerti," jawab Gardapati jujur.

Mendadak, "Kau berbicara dengan siapa, Surastri?" di dalam terdengar teguran seorang lelaki. Suaranya agak serak, sepertinya ia sudah berusia lanjut.

"Ah, dia adalah..."

"Cklek!" Pintu terbuka. Munculah seraut wajah ramah yang sudah dipenuhi uban, tubuhnya jangkung. Hidungnya bangir dan memiliki wibawa yang sangat hebat. Melihatnya, Gardapati memberi hormat sembari tersenyum. Kakek itu menatap Gardapati dengan tajam, perlahan ia mengendurkan tatapannya dan berkata, "Silakan masuk!"

Gardapati tidak banyak bicara; memang saat ini tubuhnya sangat letih, bukan hanya tubuhnya, seluruh raganya juga sangat letih. Ia melangkah masuk dengan langkah lebar lalu dipersilakan untuk duduk di sebuah papan berbentuk bundar.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment