Halo!

Iblis Dunia Persilatan - Chapter 92

Memuat...
Iblis Dunia Persilatan

Chapter 92

Kakek itu menyodorkan sebuah gelas bambu di hadapan Gardapati. Gardapati mengambil gelas bambu itu dan menghirup isinya; keningnya berkerut. Ia tertawa besar, membuat sosok perempuan paruh baya dan Surastri saling berpandangan.

"Terima kasih, Ki. Sudah kuduga. Ketika melihat hasil lukisan anakmu, aku sudah menduga ia bukan keturunan orang biasa, dan kini sekali lihat, Aki dapat menebak asal-usul saya. Racun seribu ular yang dicampur dengan madu ini sangat cocok untuk membuka malam," kata Gardapati seraya meneguknya hingga tandas.

Wajah kakek itu bergeming melihat keberanian Gardapati; tak nyana ia berani meneguk racun seperti meneguk air putih. Surastri dan perempuan paruh baya itu menjerit kecil, apalagi ketika melihat Gardapati mengeluarkan keringat keungu-unguan. Gardapati memejamkan matanya seolah pasrah dengan keadaan. Tangan kakek itu berkelebat mengirim angin totokan pada tubuh Gardapati.

"Ayah, mengapa kau meracuninya? Ia sudah menolongku dari para lelaki yang hendak memperkosaku!"

"Ai, kau tak tahu siapa pemuda ini!"

"Aku tahu, Kek, dia salah satu bagian dari Istana Dewa Iblis."

Wajah perempuan paruh baya itu memucat mendengar keterangan itu. Wajah kakek itu mengeras dan membentak, "Jika kau sudah tahu, mengapa kau membawanya pulang?"

Surastri menceritakan kejadian di mana ia bertemu dengan Gardapati sampai ia pulang dengan detail tanpa ada yang tertinggal.

"Ai, karma... karma. Dia yang menanam tumbuhan racun, maka dia sendiri yang akan menerima akibatnya. Dia sudah menanam permusuhan di dunia persilatan, dan kini ia dikhianati oleh apa yang dipimpinnya."

"Dipimpinnya? Dia hanya memakai!"

"Pemuda inilah yang sesungguhnya bergelar Iblis Dunia Persilatan."

"Apa?"

***

Astadewi yang berlari mengejar waktu tampak seperti sekelebatan sinar jingga. Cepat bagai kilat, berhembus lewat seperti angin semilir. Setetes peluh jatuh menimpa ilalang, ilalang itu melentik. "Tesss!" Air peluh itu jatuh membasahi debu. Astadewi tidak menghiraukan keadaan di sekitarnya, terus berlari laksana anak panah terlepas dari busurnya; sekali pentang tak akan berhenti sampai mengenai sasarannya.

Setelah menerobos hutan dan masuk melalui gerombolan semak yang dipenuhi ular, Astadewi menghela napas panjang. Ia bersyukur bahwa belum terjadi gebrakan di dalamnya. Tanpa berbicara apa-apa, ia langsung melesat menuju Keputren Dewi Sesat, tempat di mana Dyah Krusina berada. Kecepatan geraknya benar-benar melebihi sambaran cahaya; ia berlari tanpa menggoyangkan dedaunan yang dilewati, tanpa suara ataupun jejak.

Seperti angin yang berhembus, Astadewi mendarat di keputren. Ia melihat Dyah Krusina sedang bercanda dengan Aryani. Secepat kilat ia mendekati keduanya. "Mbakyu Dyah, Mbakyu Aryani, lekas perintahkan segenap anggota inti Dhara Sesat melarikan diri," katanya dengan tersengal-sengal.

Keduanya menghampiri dan menenangkan Astadewi, tapi Astadewi yang menyadari keadaan genting tidak dapat ditenangkan lagi. "Lekaslah, secepatnya kita harus kabur dari sini. Terjadi pengkhianatan di tubuh Istana Dewa Iblis. Kakang Gardapati menyuruhku kemari, sedangkan ia menyelamatkan Kakang Arya dan Mbakyu Ratih."

Wajah keduanya pucat. Aryani menghela napas dan berlutut di hadapan Dyah Krusina. "Penguasa Dhara Sesat, lekaslah menyingkir. Biar hamba yang menangani para anggota kita. Jika seandainya kami tak kembali, balaskan dendam kami pada suatu saat mendatang."

"Tapi... tapi..." Dyah Krusina merasa sedih.

"Eka Garwa Padmi, lekaslah! Jika keadaan segenting ini, tidak baik menunda waktu." Belum selesai Aryani berkata, dari pintu keputren, Antari dan Anudhari berlari dengan pundak terluka. "Dewi, lekas kabur, terjadi pengkhianatan di sini!" teriaknya.

Sigap, Aryani menjambret topeng yang dikenakan Dyah Krusina. Karena tak menyangka, Dyah Krusina dapat dikecoh. Mereka mengenakan pakaian yang sama. Ketika Aryani memasang topengnya ke wajah Dyah Krusina, maka wajah mereka kini tertukar; siapa pun tak akan menyangka bahwa kini kedudukan mereka berbalik.

"Lekaslah melarikan diri, biar aku menghalau mereka!" katanya.

Terlambat, sepasukan pemuda menerjang datang. "Itu mereka! Bunuh!" Bagai semut memperebutkan gula, mereka merongrong maju. Astadewi dan yang lain mencabut senjata, menanggapi serangan yang bagai gelombang samudra. Tidak sedikit pun kegugupan tertampak di wajah mereka.

"Hiaaa!" Bersamaan dengan komando dari Astadewi, sepasukan wanita itu menerjang. Bunyi senjata beradu bagaikan dentingan piano di kala malam; denting bersatu dengan jeritan semangat menggelora yang mengalahkan jeritan kematian. Astadewi seperti seorang panglima perang. Serangan pedangnya benar-benar dahsyat; perpaduan kecepatan gerak, kekejian, dan serangan yang stabil membuatnya seperti gasing yang masuk ke dalam agar-agar.

Satu per satu musuhnya bertumbangan. Begitu ia memutar pedangnya, tiga kepala telah terpisah dari lehernya. Ketika menyabet menyamping, dua orang kehilangan isi perutnya. Ketika ia membacok membelah, sekaligus dua orang terbelah dua. Ialah Astadewi. Ia melakukannya dengan wajah lugu seolah tak ada dendam, tak ada permusuhan, sungguh seperti bocah yang diberi mainan. Senyum tipis mengembang dari mulutnya ketika ia memotong lengan orang. Memutar, membelah, menusuk, dan menyabet adalah bagian dari serangannya. Dan dari setiap serangannya, tidak satu pun yang tidak membunuh lawan. Astadewi benar-benar seperti dua tangan penyelam menyibak air.

"Jika terus seperti ini, meski banyak lawan bertumbangan, jelas tak akan membawa keuntungan apa pun. Sebaiknya aku membawa Mbakyu Dyah kabur," gumamnya pada diri sendiri.

Ia menekuk kaki kiri dan memutar kaki kanan berbarengan dengan memutar pedang. "Sraat!" Bunyi benda tajam merobek kulit terdengar memanjang, diikuti dengan jeritan histeris yang mendirikan bulu roma siapa pun, kecuali Astadewi yang malah menikmatinya. Astadewi melompat dan bersalto di udara. Masih di udara, Astadewi menyimpan pedangnya di tangan kanan yang terentang membuka dengan posisi kepala di bawah. Laksana gasing, Astadewi berputar searah jarum jam.

"Wiiir!" Decitan nyaring seperti kincir memecah pertarungan. Putaran tubuh Astadewi meluncur jatuh di mana Dyah Krusina membolak-balikkan pedang dengan kalap. "Srat... srat... srat!" Seperti dicacah, beberapa pengeroyok mati dengan tubuh seperti terpotong-potong. Setelah kepala hampir menyentuh bumi, putaran tubuh Astadewi berhenti. Kaki kirinya menginjak dengan melenting maju, diikuti dengan kaki lain. Gerakan itu secara refleks membuat tubuh kembali tegak, dan Astadewi memanfaatkannya dengan membuka jurus membelah samudra luas.

"Hiaaa!"

Crat! Darah memancar setinggi langit, siapa pun yang lurus dengan pedangnya mati menggeletak terkena hawa pedang yang begitu ganas itu. Mendadak, dari tembok keputren, serombongan gadis berpakaian hitam ringkas ikut ke arena; senjata mereka dicabut.

"Tenaga kita sangatlah terbatas. Siapa pun yang masih menghormatiku, lekas menyelamatkan diri dan balaskan kematianku di masa mendatang!" Aryani yang memakai wajah ketua membentak garang.

Tak ada yang menghiraukan, malah terdengar seorang dari mereka berkata, "Bila harus memakan madu mengapa kita selalu bersama, dan pada saat memakan racun kita malah saling mengandalkan? Darah kami adalah darah kesetiaan, meski harus berkalang tanah kami siap menghadapi."

Aryani sungguh terharu sekaligus geram dengan jawaban anak buahnya. Ia tidak berkata apa-apa, hanya menusukkan pedangnya tepat di leher musuh di belakangnya. Dyah Krusina terharu bukan main. Bila semua mengorbankan diri, mengapa dia begitu egois melarikan diri?

"Mbakyu, kita harus segera pergi."

"Tidak, masakah aku mengecewakan kesetiaan mereka?"

"Plak!" Astadewi menamparnya. "Lalu dengan kematian tanpa membalaskan dendam mereka, apakah itu benar?"

"Trang... sreng... crasssh!" Astadewi menangkis serangan sekaligus mendorong pedangnya menusuk dada lawan.

"Tidak!" jawab Dyah Krusina sambil mundur selangkah dan menangkis serangan dari pengeroyoknya.

"Tunggu apalagi, lekas pergi!" Aryani membentak Dyah Krusina dan Astadewi yang sedang bertengkar di tengah pertarungan.

"Antari, Anudhari, kawal dia!" tunjuk Astadewi seraya membombardirkan pedangnya menangkis serangan sekaligus balas menyerang musuhnya. Antari dan Anudhari dengan memanfaatkan senjata rampasan begitu lincah berkelit dan menyerang. Mendengar perintah, mereka berusaha mendekat. Setelah berjuang cukup lama, akhirnya keduanya berhasil menghalau pergi musuhnya dan berhasil mengawal Dyah Krusina. Ketiganya menjejak dan melompat keluar keputren, namun lawan bukanlah orang sembarangan. Beberapa orang meloncat mengejar. Astadewi tak membiarkannya. Sekali pedangnya bergerak, empat orang pengejarnya tumbang dengan memercikkan darah.

"Lekas menyusul!" teriak Astadewi pada Aryani.

"Silakan dahulu," jawab yang diteriaki singkat sebab masih melayani musuh yang menyerangnya. Astadewi menjejak dan melototkan mata melihat Iblis Kembar Bumi dan Si Gila dari Neraka Hitam menyerang tiga orang itu.

"Hei, mengapa kalian bertarung sendiri?" Astadewi tak paham dengan apa yang terjadi.

"Kedua bangkotan ini adalah otak dari pengkhianatan ini. Selama ini kita dikelabui oleh mereka!" teriak Anudhari geram.

"Haha, bukankah kau juga sudah merasakan kenikmatan bersama kami?" Iblis Kembar Bumi tertawa besar.

Anudhari marah, "Seandainya aku tahu kau sebusuk ini, tak sudi kusentuh kalian!" bentaknya.

Astadewi yang menyadari bahwa semua ini berada di luar jalur rencana benar-benar marah karena ditipu mentah-mentah. "Kalian bertiga lekas pergi, biarkan aku menghadapi dua bajingan busuk ini. Kita bertemu di Karang Kenangan."

"Tapi, Dewi?" Antari membantah ragu.

"Lekas menyingkir, kalian hanya menjadi beban bila ada di sini!" teriaknya lantang. Kedua tangannya direntangkan seperti hendak terbang. Tangan kiri bergerak menyikut, sementara tangan kanan melindungi kepalan di depan dada.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment