Halo!

Iblis Dunia Persilatan - Chapter 94

Memuat...
Iblis Dunia Persilatan

Chapter 94

"Ya, kuharap kau tidak membunuh orang ini," ucap Sagara Angkara sembari menunjuk Pendekar Rajawali Berhati Emas, "sampai aku kembali ke mari dan membalas dendam."

Mendengar itu, Adiratna malah terlihat sedih. Setelah menarik napas sejenak, ia menjawab, "Seandainya engkau meminta beberapa purnama lalu, aku pasti menuruti. Namun, sekarang..." Wajahnya tampak murung.

Pendekar Rajawali Berhati Emas terheran-heran, sementara Sagara Angkara kembali bertanya, "Tapi sekarang apa?"

"Sekarang aku pun hendak pergi dari tempat ini. Berdoalah agar orang-orang awam di luar sana semoga masih selamat."

"Apa maksudmu, Nona?" tanya Pendekar Rajawali Berhati Emas mulai merasakan firasat buruk.

"Seperti yang kalian ketahui, Iblis Dunia Persilatan terikat dengan kerajaan, maka ia tak pernah menyentuh rakyat jelata. Namun, kini ia telah mati karena pengkhianatan. Kekuatan sebesar lautan Istana Dewa Iblis akan membanjir keluar karena tak ada lagi yang mengikatnya. Aku mohon maaf secara pribadi karena telah membunuhi para anggotamu. Aku ke mari hanya untuk berpamitan saja. Selamat tinggal!"

Wusss! Bayangannya melesat terbang dengan cepat dan gesit; tak seorang pun dapat menghentikan kepergiannya. Sagara Angkara terhenyak dengan wajah pucat. "Apa kejadian beberapa ratus tahun lalu akan kembali terulang?" gumamnya.

"Jadi, kau pun tak tahu siapakah yang mengkhianatimu?" tanya seorang kakek tua berwibawa dengan nada tidak percaya.

Kini mereka sedang berbincang santai di sebuah pondok bambu di atas dahan pohon nangka yang menjorok ke jurang. Di bawah sana terdapat jurang yang tak diketahui kedalamannya. Seolah tak memedulikan tempat itu, keduanya malah asyik duduk sambil ditemani secangkir kopi dan ubi rebus.

"Ya, aku pun tak tahu siapa yang mengkhianati, hanya ada sebuah petunjuk saja."

"Apakah itu?"

"Sulit. Hakikatnya, aku tak tahu di Karangbolong mana yang akan diadakan pagelaran wayang dan kapan diadakannya." Gardapati berhenti berkata saat menyadari wajah lawan bicaranya tampak tegang. Setelah agak tenang, ia melanjutkan, "Sesosok berkerudung hijau yang tak diketahui jenis kelaminnya beberapa kali memperingatkan aku untuk menemuinya di Karangbolong. Karena tak percaya, akhirnya aku mendapat karma; apa yang dikatakannya berubah menjadi kenyataan."

"Hah? Apa kau memiliki tanda Tiga Titik Asmara Darah?"

"Tiga Titik Asmara Darah? Apa itu, Ki?"

"Tanda lahir yang berupa titik berwarna merah dan membentuk segitiga?" jawab Gardapati memotong.

"Ya, itu."

"Memang apa artinya tanda itu, Ki?"

"Bukan apa-apa. Rahasia langit tidak boleh dibocorkan. Hanya saja, kau tidak bisa masuk ke Karangbolong. Sampai di sana pun, kau pasti hanya akan mendengar suara tanpa mampu melihat apa-apa."

"Maksud Aki?"

"Hanya orang yang berjiwa putih dan berpikiran suci yang dapat melihatnya."

"Ah, haruskah aku terus seperti ini tanpa dapat membalas dendam?" keluh Gardapati.

"Kau memiliki hati nurani, hanya itu yang bisa kau harapkan. Aku bersimpati padamu, anak muda. Secara pribadi, aku merasa diuntungkan dengan kepemimpinanmu di mana orang awam tidak diperbolehkan untuk dilukai oleh kaum dunia persilatan. Dengan melarang kaum persilatan turun ke dunia rakyat, banjir darah dapat dikurangi. Hanya ini yang kutakutkan... setelah kau dikhianati, kekuatan sebesar Istana Dewa Iblis bukan main besarnya. Kaum persilatan tidak dapat turun ke gelanggang, sementara para anggota Istana Dewa Iblis tak dikekang lagi. Orang-orang awam pasti akan menjadi korban."

Mendengar nasihat kakek itu, sepatah kata membuat hati Gardapati terluka. Ia menunduk tak sanggup berkata apa-apa. Dua tetes air mata jatuh dari pelupuk matanya, membasahi anyaman bambu yang ia duduki.

"Kau menangis?"

"Aku menyesali dosaku. Perkataan Aki seakan menyayat perasaanku. Apa yang dikatakan memang benar adanya!"

"Sudahlah, masa lalu biarlah berlalu. Yang terpenting adalah bagaimana kau menghadapi masa depanmu. Jika engkau tak keberatan, aku akan mengajarimu kebatinan agar kau bisa memandang dunia ini dari sudut yang berbeda. Memang ilmumu lebih tinggi, tapi hatimu rapuh dan ternoda dalam lembah kenistaan."

Gardapati tanpa berkata apa-apa langsung sungkem. Ia menangis tersedu-sedu dan menerima apa yang dikatakan oleh kakek tua itu. "Tapi... tapi apa seorang iblis sepertiku cukup berharga di mata Aki? Apakah Aki tidak merasa jijik padaku? Bukankah orang seperti diriku lebih pantas mati dengan racun semalam? Mengapa Aki menyembuhkanku kembali?" Gardapati terhanyut oleh perasaannya.

"Sudahlah, muridku. Kini gelarmu bukanlah Iblis Dunia Persilatan ataupun yang lain. Kini gelarmu adalah Miduwung Kawalat (menyesali dosa)." Kakek itu memanggil Gardapati dengan sebutan murid sebagai tanda bahwa ia sudah menerimanya.

"Aku suka sekali gelar itu, Guru. Gelar itu mengingatkan aku pada apa yang telah kulakukan selama ini," ucap Gardapati berlinang air mata.

"Sekarang ceritakan apa yang membuatmu menjadi seperti iblis haus darah!"

Wajah Gardapati mengeras sebentar, lalu kembali tenang. Ia menyerahkan sebuah kain pembungkus ari-ari berwarna hijau kepada kakek itu. Kakek tersebut melihat kesungguhan Gardapati dan tersenyum. Dibukanya bungkusan itu, isinya ternyata adalah sebuah surat. Ketika dibuka, terpampanglah barisan tulisan. Selang beberapa waktu, kakek itu menghela napas panjang.

"Ternyata tidak sepenuhnya kesalahan berada pada dirimu," ucapnya pada Gardapati. Kakek itu melipat kembali suratnya dan menyerahkannya kepada Gardapati yang langsung memasukkannya ke balik bajunya.

"Kek, Surastri hendak ke sungai untuk mandi!" seorang gadis cantik berwajah lugu berpamitan.

"Janganlah ke sungai, takutnya banyak orang berkeliaran. Kita pergi ke Grojogan Asah Kawalat saja."

"Kita?"

"Ya, kita. Ayo, muridku, kita berangkat!"

"Baik, Guru!"

"Nilai manusia bukan bagaimana ia mati, melainkan bagaimana ia hidup. Bukan apa yang telah ia peroleh, melainkan apa yang telah ia berikan. Bukan apa pangkatnya, melainkan apa yang telah diperbuat dengan tugas yang diberikan Tuhan kepadanya," kata kakek itu kepada Gardapati yang duduk merenung di atas sebuah karang.

Gemuruh air terjun seakan tidak mengganggu keduanya. Tak jauh dari mereka, di balik batu, Surastri tampak asyik bermain air dengan tubuh polos. Kakek tua itu kembali berkata, "Jangan kau terlalu menyesali dirimu karena kesalahan. Hidup dengan melakukan kesalahan akan tampak lebih terhormat daripada selalu benar karena tidak melakukan apa-apa."

"Meski aku berusaha untuk tak memikirkan masa laluku yang bertahtakan dosa, tetap saja..."

"Tetap saja terpikirkan. Galilah, Nak, galilah lebih dalam siapa dirimu. Bandingkan dirimu dengan alam ini, bandingkan dirimu dengan Sang Pencipta, maka kau akan terjaga dari alpa dan dosa."

"Sudah dari dahulu aku menggali siapa diriku, tapi inilah yang kudapat, Guru!"

"Sifat kehidupan itu sama halnya dengan kata paling tajam di dunia, ialah cinta. Cinta dan kehidupan sama seperti sifat air dan tanah. Apabila kau tidak cukup menggali, yang kau peroleh adalah air yang keruh. Apabila kau cukup menggali, yang kau peroleh adalah air yang bersih dan jernih. Galilah dengan dalam, dan yang harus pertama kau lakukan adalah mengeluarkan dendam dan amarah."

"Bagaimana cara mengeluarkannya, Guru? Dengan melampiaskannya dan menghancurkan alam ini?"

"Bukalah bajumu!"

"Ekh?" Meski kaget dan heran, Gardapati menurut dan melepaskan bajunya.

"Turunlah ke sungai!" Gardapati menurut, ia turun ke sungai dan berjalan ke tengah.

"Keluarkan amarahmu dalam bayangan, dalam pikiran. Bersemadilah di bawah sungai sana!"

Gardapati menurut, ia memejamkan mata dan bersila di dasar sungai. Pertama yang dilakukannya adalah mengatur napas. Mendadak dalam benaknya muncul adegan di mana kedua sahabatnya mati di depan mata. Air yang jernih dan sejuk perlahan menghangat. Surastri yang sedang berenang terkejut; tak ingin mengambil risiko, ia naik ke darat dan mengenakan kainnya, lalu menengok dengan naik ke atas karang.

Tampak dari tempat Gardapati bersemadi, air menggolak dan pusaran air mulai tercipta. Wajah kakek itu tegang, apalagi ketika air sungai berubah menjadi merah bara dan mengepulkan asap. Surastri yang berada di atas karang tampak merasa kepanasan, keringat membasahi tubuhnya, dan wajahnya pucat. Beberapa hewan tampak mati mengapung. Ini adalah sebuah pameran tenaga dalam yang luar biasa, menggolakkan air sungai hingga seperti merebus air di tungku. Desisan nyaring terdengar ketika air menimpa karang, dan asap mengepul tinggi.

"Bet!" Kakek itu melompat membawa Surastri terbang ke udara dan hinggap di sisi sungai. "Menjauhlah! Pemuda ini benar-benar menakutkan seandainya menjadi lawan," ungkapnya. Matanya terbelalak ketika beberapa karang mencair karena panasnya. Sudah sembilan tombak ia mundur dari sungai, namun panasnya masih terasa; tumbuh-tumbuhan di antaranya ada yang layu, juga ada yang terbakar.

"Byuurr!" Mendadak, air setinggi langit muncrat. Sungguh tak bisa dibayangkan bila air ini mengenai orang. Bukan hanya hutan yang terbakar, tidak mustahil hutan ini akan berubah menjadi padang pasir.

"Jika dalam alam semadi sudah dapat menghancurkan sedemikian rupa, apalagi bila harus di alam nyata."

"Kakek!" Surastri menjerit kecil ketika setetes air jatuh di hadapannya, membuat tanah yang berumput tebal seketika menjadi kering kerontang.

Kakek ini bukanlah orang sembarangan. Pada masa silam, ia dikenal dengan nama Si Putera Salju. Dinamakan demikian karena kakek ini berasal dari negeri yang memiliki salju. Kepandaiannya memang terkenal memiliki hawa dingin sehingga dapat mengubah air menjadi es. Ia datang ke tanah Jawa karena hendak menengok ibunya yang memang berasal dari sana. Setelah tiba di tanah Jawa, ia terpesona dengan keindahannya, sehingga ia memilih untuk menetap.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment