Chapter 95
Si Putera Salju melompat ke langit dan membuka telapak tangannya. Tanah yang dipijaknya barusan telah berubah menjadi putih karena kehebatannya.
Begitu telapak tangannya menyentuh air, air yang tadinya merah membara kembali bening, kecuali yang ada di sungai. "Byuuurrssshhh!" Air melewati tubuhnya dan membuatnya basah kuyup. Air yang sudah kembali normal itu tidak membawa efek yang berat bagi tanah dan tumbuhan yang diguyurnya.
Seandainya itu air biasa, air itu pasti sudah berubah menjadi es.
Ia bersalto sekali dan hinggap di sebuah karang di sisi sungai, menyaksikan air bergolak yang berputar laksana angin topan.
Menjelang magrib, air perlahan-lahan mulai tenang dan hawanya kembali normal. Dari dalam sungai menyembullah Gardapati. Ia berjalan dengan lesu ke sisi sungai.
"Brukk!" Begitu sampai di pesisir, ia pingsan.
Gardapati tak ingat apa-apa, hanya perasaannya yang kini sedikit lega. Seulas senyum muncul dari bibirnya. Ia pun terlelap dalam ayunan mimpi indah.
Ketika ia sadar, ia merasakan nyeri dan pegal pada tubuhnya. Ia terkejut ketika mendapati dirinya diikat silang pada sebuah pohon dengan seluruh tubuh memerah bekas cambukan.
"Guru, mengapa kau mengikatku dan mencambukku?" tanya Gardapati heran.
Ia melihat Surastri menatapnya dengan air mata berkaca-kaca karena tidak tega.
"Sudah berapa gadis yang kau ambil perawannya ketika menaikkan ilmu?"
"Seratus?" jawab Gardapati tak paham dengan maksud pertanyaan itu.
Surastri menjerit kecil mendengar jumlah korban Gardapati. Ia sangat terpukul mendengarnya. Rupanya gadis ini sudah menaruh benih perasaan.
"Dan ketika sedang memulai pembangunan kekuatan?"
"Aku tak dapat menghitungnya!"
"Dan seribu cambukan ini adalah penebus dari dosamu itu."
"Baiklah, bila itu yang harus kulakukan, lakukanlah, Guru."
"Sudah?"
"Ya," jawab Si Putera Salju sambil melepaskan sebuah cakra yang memotong ikatan Gardapati.
"Sebaiknya kita makan dulu."
"Baik!"
Sambil makan, Gardapati memperhatikan burung elang yang sedang mencari mangsa. Elang itu berputar di atas langit sambil sesekali menjerit, sungguh pongah dan sombong, seakan ia merasa dirinya adalah yang terhebat. Ketika melewati titik temu, ia melesat ke bawah menerjang mangsa, dan tak lama kemudian, di balik sebuah pohon, ia melesat ke udara membawa seekor anak ayam hutan.
"Sungguh takabur elang itu. Aku salah telah menempatkan prinsip seperti elang," gumam Gardapati.
"Saat berbicara perubahan zaman, berenanglah mengikuti arus. Saat berbicara prinsip, tegarlah seperti batu karang. Janganlah kau menyalahkan prinsip hidup. Sesungguhnya kau hanya memandang prinsip dari satu sisi. Seperti orang yang mengatakan jangan berprinsip seperti air yang mengalir dengan alasan selalu mengalir ke bawah. Padahal di sisi lain, air yang mengalir adalah sosok yang pekerja keras, sosok yang tak memandang terjal ataupun curam. Seperti apa pun medannya, seperti apa pun rintangannya, meski hanya sebesar lubang semut, ia pasti akan melewatinya. Kata siapa air tidak bisa naik? Sesungguhnya air adalah sosok yang hebat, ia adalah orang yang bisa menyesuaikan dengan keadaan. Dengan menjadi uap, ia akan naik ke atas awan; dengan menjadi salju dan hujan, ia akan turun kembali ke bumi. Air adalah sahabat yang sangat baik, sekaligus sahabat yang buruk. Meski hanya mengalir mengikuti arus, ia dapat menenggelamkan alam semesta beserta isinya."
"Ah, terima kasih atas nasihatnya, Guru!"
"Jangan berterima kasih. Sudah merupakan kewajiban bagiku untuk menasihatimu sebagai seorang guru sekaligus sesama manusia. Aku takkan menjerumuskanmu ke dalam lembah kenistaan."
"Seandainya sejak dahulu aku bertemu dengan Guru, maka takkan ada hal seperti ini."
"Jika tak merasa sakit, seorang takkan menjauhinya. Karena sakitlah orang menghindari. Dengan pengalamanmu kini, kau pasti dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, hanya saja orang persilatan tidak akan semudah membalikkan tangan untuk menerima kebaikanmu. Mereka pasti akan memusuhimu, jadi..."
"Saya tahu, Guru. Mungkin itulah ganjaran atas segala apa yang kulakukan di masa lalu."
"Syukur jika kau paham. Kau akan berjuang sendirian, Muridku!"
"Sendirian? Tidak, Guru. Aku tidak sendirian. Masih ada orang yang sejalan denganku. Aku masih memiliki alam yang setia menerimaku meski berlumur dosa. Aku memiliki Tuhan yang menciptakan aku, meski aku tidak pantas berlindung pada-Nya. Setidaknya aku berusaha untuk kembali kepada-Nya. Menerima atau tidak, itu terserah nanti. Bukankah seseorang yang berusaha suatu saat akan menemukan titik terang? Aku juga bersama musuhku yang membuatku semakin dewasa, juga para orang yang membenciku yang membuatku berusaha untuk diterima mereka."
"Haha. Hanya satu hari, hanya satu hari kau sudah berpandangan seperti ini. Pada dasarnya seseorang yang berniat untuk berubah pasti akan berubah juga. Sebaliknya, jika tak ada niat, meski ribuan tahun pun takkan mungkin ada perubahan."
"Guru terlalu memujiku."
"Ayo kita pulang, besok dilanjutkan!"
"Tidak, Guru. Aku hendak bersemadi dahulu untuk menenangkan batinku yang mengalami perubahan drastis ini."
"Baiklah, sampai jumpa."
"Ya, sampai jumpa."
"Inilah Puncak Gunung Gede!" ucap Dyah Krusina.
"Tempat yang indah, hanya aku merasa bahwa aku tidak cocok dengan tempat ini!"
"Maksud Nimas?"
"Aku akan meninggalkan tempat ini."
"Hendak ke manakah engkau?"
"Ke mana pun angin berhembus mengiringi setiap langkahku, maka aku pun akan pergi ke sana."
Keduanya berpelukan dengan haru. Hitungan kesepuluh kemudian, keduanya melepaskan pelukan. Astadewi mengajak Antari dan Anudhari yang berada di belakangnya untuk pergi. Ketiganya menjejak langkah dan melesat terbang meninggalkan tempat itu.
Dyah Krusina menatap kepergian mereka dengan tatapan haru. Setelah cukup lama terdiam, ia berbalik dan mendaki puncak yang tersisa. Keningnya berkerut kala melihat puncak tempat dulu ia tinggal sangat bersih dan terawat.
Dyah Krusina yang memakai wajah asli menghela napas panjang. Ia bisa menebak siapa yang menghuni tempat itu. Benar saja, ia melihat orang yang sudah dikenalnya berada di sana. Mereka adalah Harsanto, Meswari, Gita Jayasri, dan Jingga. Keempatnya tampak sedang berlatih silat.
Dyah Krusina tidak menghiraukan keberadaan mereka. Ia langsung menuju ke bilik tempat ia dulu tidur. Dilihatnya biliknya sangat rapi dan bau harum tercium dari dalamnya. Ia tidak peduli; jiwa dan raganya sudah sangat letih. Ia mengambil posisi tidur dan terlelap dalam impian.
Begitu sore datang menjemput, Gita Jayasri dan Harsanto masuk ke bilik tempat Dyah Krusina terlelap. Keduanya memekik kaget melihat seorang gadis cantik tidur terlelap di pembaringan mereka. Keduanya berpandangan. Untunglah, Gita Jayasri mengenal siapa gadis ini. Ia mengambil kain dari kulit beruang dan menyelimuti gadis itu, lalu mengajak Harsanto keluar.
"Loh, Mbakyu, Kakang Harsanto, kenapa kalian keluar kembali?"
"Ada tamu yang tak diundang tidur di kamar kami," jawab Harsanto diiringi senyuman lembut.
"Hussh, ia adik seperguruanku. Mungkin setelah dulu aku keluar perguruan, dia menghuni kamar itu," timpal Gita Jayasri.
"Ah, gadis yang dulu kita temui di kedai?" Meswari bertanya heran.
"Benar. Sudahlah, Kakang, sebaiknya mulai sekarang kita suami istri bertiga tidur sekamar saja," usul Gita Jayasri.
Suami istri bertiga? Benar, saat ini mereka memang sudah membina rumah tangga. Setelah cinta keduanya kandas di tangan Sagara Angkara, mereka beralih kepada Harsanto. Celakanya, keduanya sama-sama mencintai orang yang sama. Akhirnya melalui musyawarah kecil-kecilan, ketiganya sepakat hidup bersama. Sedang Jingga masih melajang. Cinta pertamanya kepada Sagara Angkara masih belum hilang; terkadang ia merindukannya seperti pungguk merindukan rembulan.
"Begitu pun baik," Meswari menyetujui.
Satu banding dua, bagaimanapun dua lebih unggul, Harsanto setuju saja atas usul mereka.
Astadewi dan kedua pelayannya, Antari dan Anudhari, melesat berlari bagaikan terbang di atas pucuk pohon.
"Dewi, ke manakah kita hendak pergi?"
"Pantai selatan," jawab Astadewi singkat.
Tanpa berkata-kata, ketiganya melesat terbang laksana burung rajawali. Kecepatan gerak ketiganya benar-benar telah mencapai kesempurnaan. Apalagi ketika hati sedang dilanda kegalauan, tak ada lagi yang bisa menahan langkah mereka.
Segurat lembayung kemerahan mengiringi langkah mereka, langkah ketiga orang yang sedang melampiaskan kesedihan.
"Malam ini, kita beristirahat di sini!" Astadewi menghentikan langkah di sebuah ceruk.
"Begitu pun baik. Hosh... hosh... kami sudah kelelahan!" jawab Antari di tengah helaan napasnya yang memburu.
Ketiganya masuk ke dalam ceruk yang tidak dalam, hanya cukup untuk bertiga. Tanpa permisi, ketiganya langsung membaringkan diri, tak sadar bahwa mereka terlelap dalam buaian mimpi.
Sementara itu, tak jauh dari mereka, sepasang mata tua menatap kejadian itu dengan pandangan aneh.
"Ugh!" Astadewi mendusin dari tidurnya. Matanya dikerjap-kerjapkan seperti orang yang tidak percaya. Tak lama kemudian, Antari dan Anudhari menyusul terbangun. Seperti Astadewi, mereka pun menatap dengan pandangan tak percaya.
Di depannya tampak tiga orang manusia aneh. Orang pertama adalah seorang perempuan dengan rambut putih bersih, mata sipit, dan baju dari kulit binatang berwarna putih yang berbelit-belit rumit. Kulit tubuhnya sangat putih.
Orang kedua adalah perempuan dengan rambut kuning kemerahan seperti bara api; begitu pula penampilannya, tatapannya tajam menusuk seperti dipanggang di atas api.
Orang ketiga adalah seorang perempuan yang memiliki wajah sangat cantik seperti boneka, matanya bundar gemerlapan seperti kedipan bintang. Rambut dan pakaiannya berkibar-kibar, padahal di tempat itu sama sekali tidak ada angin.
Entah bagaimana caranya, kini ketiganya telah berada di sebuah ruangan yang aneh, ruangan itu terbagi menjadi tiga warna sesuai dengan orang yang berada di hadapan mereka.