Chapter 96
Di sekeliling mereka, lilin dari kapas menyala menerangi ruangan. Ruangan itu dihias dengan kain aneka warna. Antari yang berada di tengah-tengah memegang erat baju Astadewi, sementara Anudhari memegang baju Antari; keduanya ketakutan. Hanya Astadewi yang, meski kaget, malah menampilkan wajah keluguan seorang bocah.
"Siapa kalian? Kenapa begitu menakutkan?" tanya Astadewi.
Pertanyaan itu terdengar aneh; siapa pun yang mendengarnya pasti akan menganggapnya sangat lucu dan tidak berbobot. Namun, Astadewi menanyakannya dengan wajah masa bodoh. Orang ketiga yang kebetulan berada di depan Astadewi mengikik geli, lalu ia balas bertanya, "Menurutmu kami adalah siapa?"
"Ah, kau si binatang putih, kau si merah panas membara, dan kau si cantik berkibar!" jawab Astadewi seenaknya.
"Haha, terima kasih. Terima kasih kau memanggilku si cantik, tapi kedua orang ini tidak senang dengan julukan yang kau berikan barusan!"
"Ai, salah ya?" Astadewi menggigit jari telunjuknya.
"Tidak, mereka marah karena tebakanmu benar," jawab Si Cantik Berkibar.
"Hihi," Astadewi tertawa geli untuk menghibur hatinya yang lara. Antari dan Anudhari mulai tenang; mereka tidak lagi ketakutan dan bersikap tenang.
"Bocah, mengapa kau tertawa dalam kesedihan? Jika kau memang sedang bersedih, menangislah. Jika sedang merasa geli, tertawalah!" Si Binatang Putih memberi saran dengan dingin dan sinis.
"Kau benar, kau benar... huahaha... hik... hik... hihi... huhu." Benar saja, Astadewi melakukannya; ia tertawa sambil menangis.
"Kau! Lagi-lagi kau membuatnya menangis. Susah payah kami membujuknya agar tidak lagi menangis!" Antari menunjuk Si Binatang Putih sambil memarahinya; lucu sekali jadinya.
"Diam kau, bocah!" Si Merah Panas Membara membentak garang.
"Padahal memperingati saja sudah cukup dan kami pahami, untuk apa membentak?" Anudhari menjengek sinis.
Mendadak keenamnya seakan melihat cermin. Hanya Astadewi dan Si Cantik Berkibar yang tampak acuh. Si Cantik Berkibar menyingsingkan rambutnya dan berkata, "Kau harus menjadi muridku, anak muda."
"Kalau tidak?"
"Kalau tidak, kalian harus mengembalikan tenaga dalam sebesar seratus tahun latihan kami yang telah disalurkan ke dalam tubuh kalian. Salah kalian sendiri, mengapa tidak meminta izin kepada kami? Kalau sudah begini, malah menjadi kadung. Terimalah hormatku, Guru!" Astadewi berlutut kepada Si Cantik Berkibar. Antari, Anudhari, dan ketiga orang yang berada di sana awalnya menyangka Astadewi akan menolak. Melihat Astadewi sudah berlutut, Antari dan Anudhari ikut berlutut.
"Haha!" Ketiganya tertawa terbahak-bahak.
"Semasa muda, kami adalah tokoh rimba persilatan yang disegani dan ditakuti di negeri masing-masing. Tak satu pun tokoh rimba persilatan di negeri kami yang mampu menandingi kedigdayaan kami. Darah muda membuat kami bangga akan apa yang telah kami miliki. Namun, kebanggaan itu membawa kami pada kesombongan yang akhirnya melahirkan banyak keresahan. Bermula dengan niat mengalahkan pendekar di negeri orang, kami mendengar dari salah seorang tokoh yang sudah mengucilkan diri bahwa di tanah ini terdapat banyak sekali pendekar tanpa tandingan. Karena penasaran, kami merantau ke tanah ini."
"Berawal kami saling berjumpa di pertengahan jalan. Aku berasal dari Negeri Atap Langit, Si Angin ini berasal dari Negeri Matahari Terbit, dan Si Api ini berasal dari Mesir. Awalnya kami bermusuhan. Setelah mengadakan pertarungan selama empat hari empat malam tanpa ada yang kalah, kami sepakat untuk mengikat tali persahabatan. Dari persahabatan itulah kami berubah menjadi tokoh persilatan yang kejam. Pemerasan dan pembunuhan sering kami lakukan hingga kami menggelari diri sebagai Tiga Dewi Alam Neraka. Julukan itu begitu angker terdengar. Siapa pun yang mendengar nama kami pasti ciut nyalinya. Namun, suatu hari kami kalah di tangan seorang pemuda matang..." tutur Si Binatang Putih, ia menghentikan ceritanya karena tak tahan dengan kesedihannya.
"Lalu?" tanya Astadewi.
Si Merah Panas Membara melihat wajah saudaranya sebentar, lalu ia menyambung cerita. "Kami bertiga jatuh cinta kepadanya, namun pemuda itu malah berkata, 'Aku mau hidup dengan kalian asal kalian mengubah kebiasaan buruk kalian.' Karena pemuda itu, kami rela meninggalkan kebiasaan yang selalu berurusan dengan darah dan kematian. Namun takdir berkata lain. Karena kami sudah menanam bibit permusuhan dengan banyak orang, kami tetap diburu meski telah bertobat. Karena sudah berjanji, kami tidak membunuh mereka, padahal membunuh adalah hal mudah. Kami memilih lari, dan ketika berada di Jurang Akhirat, kami terdesak dan jatuh ke sana. Tersiar kabar di dunia persilatan bahwa kami menemui ajal."
"Mendengar ini, pemuda yang kami cintai itu sedih. Akhirnya ia menjadi seorang begawan dan mengganti namanya," lanjutnya.
"Siapa namanya?" Antari bertanya dengan gusar.
"Dia mengganti namanya menjadi Begawan Sutrasno!"
"Ai, kami tak pernah mendengar namanya!" seru Antari.
"Lalu, bagaimana dengan kalian?" Anudhari bertanya.
"Meski sudah mandi darah, ajal kami rupanya belum tiba. Kami diam-diam menguping di dunia persilatan. Mendengar pemuda yang kami cintai pergi mencari kami hingga ke luar lautan, kami merasa sedih sekaligus bahagia. Sedih karena ia dibutakan arah, bahagia karena tahu ia memiliki perasaan kepada kami. Pasti kalian bertanya, mengapa kami tidak menemuinya? Setelah tepekur, kami merasa tidak sepadan dan memilih bertapa di tempat ini. Kini kalian datang kemari, ini merupakan jodoh. Dasar ilmu kami adalah ilmu hitam, tapi setelah disempurnakan, efek sampingnya hilang. Asal digunakan di jalan kebaikan, pasti akan membawa berkah. Kami berpesan, jika kalian berasal dari golongan sesat, kembalilah ke jalan yang diridai Tuhan Yang Maha Kuasa. Jika kalian berasal dari golongan yang diridai, pertahankanlah dan jangan dibutakan oleh ilmu."
"Kami akan mempelajarinya, Guru!" jawab Astadewi lirih.
Bila rindu datang bermain di jiwa, gelisah tak menentu, hati resah. Tidur salah, main salah. Apa yang harus dilakukan bila rindu ini datang menjemput? Makan adalah bayangannya, bercermin adalah wajahnya; sungguh rindu tak bisa dibendung. Jingga akhirnya memutuskan untuk turun gunung, berkelana dalam kerinduan, berharap sosok yang dicinta dapat ditemui. Tanpa pamit, ia berlari melampiaskan rindunya.
Di atas puncak, Dyah Krusina duduk bersemadi di samping pusara eyangnya; gurunya, orang yang mengajarkan kembali arti kebenaran dan kebajikan. Sesuatu yang belum ia penuhi karena cinta. Lagi-lagi cinta, cinta membuatnya buta. Terpekur dalam lamunan, menangis sedu dalam kesedihan, bunga tanjung berguguran, gemerisik dedaunan menjadi latar kesedihan.
Inilah kehidupan. Mata sembab berurai air mata, pakaian basah karenanya. Penyesalan selalu datang terlambat, selalu di akhir. Mengapa harus di akhir? Jika di awal, bukan penyesalan namanya. Inilah kenyataan hidup. Angan dan asa tidak ada yang abadi. Terkadang ia datang membuat mata buta; keluarga dicampakkan, kawan ditindas, kebenaran diinjak. Ia datang dengan dua mata pedang; satu sisi membawa kebajikan, satu sisi melukai pemiliknya.
Perut membesar, buah dari cinta, buah dari permainan asyik yang membawa luka. Tenggorokan terasa mual. Dyah Krusina menyesali keadaannya. Mengapa nasib selalu mempermainkan? Ia sempat ingin membunuh kandungannya, namun tidak, ia takkan sekejam itu. Anak itu tak berdosa, ayah dan ibunya lah yang berdosa.
Kesedihan itu datang lagi saat melihat sang ayah dari bayi itu membujur kaku. Benarkah ia mati? Ia ragu dan menyangkalnya. Gita Jayasri sedih melihatnya. Di sisinya, Harsanto dan Meswario menghibur, membiarkan sang adik seperguruan terpuruk dalam kesedihan membuatnya sakit, sakit seperti disayat pisau. Gita Jayasri ikut menangis. Ia kini seorang ibu; seorang ibu cukup memahami apa yang dialami ibu yang lain, sedih mengingat masa depan sang anak.
Dengan susah payah ia bangkit. Harsanto mencegah, tapi Gita Jayasri bersikeras. Dengan senyuman pahit ia berkata, "Apa yang dirasa oleh adik seperguruanku dapat kupahami. Membiarkannya sendiri adalah baik, terlebih baik lagi bila ikut mengobati lukanya."
Gita Jayasri mendekat, ia memeluk Dyah Krusina dengan lembut dari belakang. Tangan lembutnya mengusap rambut dari ujung ke ujung, dibelai dengan manja seperti seorang ibu kepada anaknya. Tanpa kata, hanya bahasa tubuh yang bicara. Dyah Krusina bukan karang yang dapat berdiri diterjang gelombang; dia adalah layang-layang yang dipermainkan angin. Ketika sang pengendali benang telah kehilangan kendali, maka layangan itu akan pergi dibawa angin. Begitu pula Dyah Krusina; ketika tempat berpijaknya hilang, ia terbang melayang, berusaha mencari tempat di mana angin tidak lagi mempermainkannya.