Chapter 97
Suara tangis meledak laksana dentuman meriam di tengah malam. Dyah Krusina melampiaskan segalanya; rasa amarahnya, dendamnya, dan kesedihannya dengan air mata. Menangis bukanlah perbuatan pengecut. Menangis memang tiada artinya, tetapi cukup berarti untuk membohongi perasaan.
"Sudahlah, Nimas. Hentikan tangismu, bangkitlah menggapai asamu. Jangan membuat si Dia menangis dalam kandunganmu, rawatlah dia. Bukankah dia adalah peninggalannya yang berharga?"
"Ya, ya..."
"Aku harus merawatnya!" Dyah Krusina meracau tak jelas, antara paham dan sedih. Ia kembali menangis sampai tertidur di dalam pelukan hangat Gita Jayasri.
Sementara itu, Sagara Angkara berjalan dengan linglung. Benarkah Iblis Dunia Persilatan telah mati? Tak terasa ia sudah tiba di sebuah kedai yang cukup besar. Ia masuk ke sana dan memesan makanan. Mendadak, terdengar obrolan yang memikat hatinya.
"Iblis Dunia Persilatan mendapatkan ganjarannya. Dia sudah memasukkan anggotanya ke perkumpulan kita di Pantai Selatan hingga hancur berantakan, dan kini ia mati karena pengkhianatan. Memang siapa yang menanam pisang tak mungkin berbuah tomat."
"Menurutku, saat ini kabar yang paling hangat adalah kematiannya. Sebenarnya, siapakah yang dapat membunuhnya?"
"Mungkinkah Dewa Dunia Persilatan?"
"Ah, tidak mungkin. Dewa Dunia Persilatan hanya mampu imbang dengannya, tak mungkin ia mampu membunuhnya."
"Lalu siapa selain dia?"
"Entahlah."
Sungguh terlalu banyak kejutan. Obrolan itu semakin memanas, hingga akhirnya Sagara Angkara memilih untuk keluar kedai. Di pintu kedai, seseorang menepuk pundaknya. Sagara Angkara berpaling dan melihat seorang lelaki memandangnya dengan senyuman. Lelaki itu berwajah biasa saja, tidak membuat orang berpikir macam-macam kepadanya. Kedatangannya tidak diiringi dengan kewibawaan, juga tidak dengan kegarangan dan kebengisan. Semuanya berjalan normal, tak ada yang aneh dari perawakannya, hanya tubuh kurus layaknya seorang petani. Dialah utusan dari Nyonya Kabar Langit.
"Kau siapa, Kisanak?"
"Aku bukan siapa-siapa, hanya pembawa pesan saja. Kedatanganmu sudah kutunggu. Ramalan tentang kedatanganmu ke tempat ini adalah benar adanya."
Suara itu begitu datar dan tanpa tekanan nada, membuat orang jadi bergidik. Nada yang sama ketika ia berbicara kepada Maharaja Dunia Persilatan tempo dulu.
"Katakan apa pesanmu."
Dari balik bajunya, ia mengeluarkan sebuah bungkusan kecil lalu menyerahkannya kepada Sagara Angkara. Isinya sangat singkat: "Perkampungan Bunga".
"Nyonya Kabar Langit?"
"Ada maksud apakah ia mengundangku?"
"Aku tak pernah mencampuri urusan majikan."
"Aku paham, silakan tunjukkan jalan!"
Keduanya berjalan beriringan, melangkahkan kaki menuju tujuan yang entah di mana. Sagara Angkara mengikuti saja. Di beberapa tempat, tampak ia melihat beberapa anggota Istana Dewa Iblis. Hanya saja, penampilan Sagara Angkara yang memakai kain pelajar di kotapraja membuatnya tak menjadi pusat perhatian. Pesta rakyat digelar, entah untuk siapa. Meski berwujud manusia, hakikatnya Gardapati melihat mereka seperti asing.
Di tengah kebimbangannya, seseorang membentaknya dari belakang. "Manusia, mengapa kau ada di sini?"
Gardapati berbalik. Ia terpengarah, empat sosok berwajah angker dan berpakaian prajurit menghadangnya. "Anu... ini... ini..."
"Tangkap dia!" bentak salah satu prajurit yang sepertinya adalah pemimpinnya.
Sigap, ketiga prajurit lain mengepung Gardapati. Jika seandainya Gardapati yang dulu, niscaya ia akan melawan dan membunuh siapa pun yang berani menangkapnya. Namun kali ini berbeda; ia membiarkan prajurit itu menangkap dan menyeretnya ke sebuah bangunan megah berwujud istana. Di setiap sudut mata memandang, hanya ada keindahan dan kemewahan. Kagum hatinya bukan kepalang, tapi ia tak bisa menikmati keindahannya karena prajurit itu membawanya ke sebuah balairung istana tempat pesta sedang diadakan.
Para penari pemuda dan pemudi bergerak gemulai laksana kupu-kupu surga. Musik mengalun indah dan para tamu tertawa terbahak-bahak dengan gembira. Ditilik dari pakaian mereka, sepertinya mereka adalah para penguasa yang diundang. Pakaian mereka sangat mewah, di sekujur tubuh mereka hanya ada emas dan permata; jelas mereka bukan dari kalangan rendah. Gardapati ingin melihat wajah mereka, tetapi tak bisa karena pemimpin prajurit itu menekan kepalanya hingga hampir menyentuh lantai.
"Beribu ampun Paduka, di luar sana hamba menemukan seorang manusia menyusup masuk. Hamba tak tahu dia tamu dari Paduka atau bukan. Karena hamba tak ingin membuat kesalahan fatal, hamba membawanya ke sini terlebih dahulu untuk meminta restu dan petunjuk Paduka."
Pemimpin itu bersujud kepada seorang lelaki paruh baya beruban yang memiliki mahkota berukiran harimau. Orang yang dipanggil Paduka itu maju dan mendekati Gardapati. "Siapa kau, Nak? Mengapa engkau kemari?" katanya.
Gardapati berusaha menatap wajahnya, namun salah seorang prajurit menekan kepalanya kembali. Ia malah bergumam melampiaskan rasa dongkolnya, "Beginikah cara kalian menyambut orang yang kalian suruh kemari? Sungguh, mati pun aku tak mau kemari seandainya seseorang tak mengancamku dan menyuruhku ke sini."
"Sungguh takabur kau!" bentak si prajurit sambil menekan kepalanya lebih bawah.
"Ah, lepaskan dia!"
"Sesuai kehendakmu, Paduka," kata prajurit itu sambil bersujud dan mundur.
Pada saat itu, pesta mendadak berhenti. Para tamu memandang kejadian ini lebih menarik daripada para penari.
"Sekali lagi, aku bertanya padamu Nak, siapakah kau dan dengan maksud apa engkau kemari?"
Gardapati bangkit. Meski ia sudah berubah menjadi baik, darah mudanya masih membuatnya enggan tunduk di hadapan orang. Ia menatap lawan bicaranya dan dengan jantan berkata, "Aku Gardapati. Aku kemari menuruti sosok berkerudung hijau. Dia memintaku untuk kemari dengan ancaman bahwa para sahabatku akan mati bila aku tak datang. Pada mulanya aku tak menuruti, dan rupanya apa yang ia ancamkan terjadi. Aku kemari hendak meminta pertanggungjawabannya."
Raja dari Karangbolong itu tertegun, namun hanya sejenak. Dengan bijak ia berkata, "Perlihatkan tandamu!"
"Tanda? Tanda apa?"
"Tanda bahwa kau layak masuk ke sini."
Mendadak, seseorang dari belakang berkata dengan nada antara laki-laki dan perempuan, "Tanda di kepalamu!"
Gardapati berpaling. Dilihatnya sosok berkerudung hijau berdiri dengan gagah. Gardapati tercengang, dengan berapi-api ia memandang sosok itu. Tangannya terkepal erat seakan ingin melumatkan baja. "Kau!" geramnya penuh dendam.
Sosok itu mundur selangkah, tak menyangka akan terjadi perubahan ini. "Tenanglah, Nak, jangan terbawa amarah. Bukan dia pelakunya!"
"Bukan dia? Lalu mengapa dia mengancamku?" Gardapati ngotot.
"Sett!" Gardapati terkejut, ia ingin menghindar namun terlambat.
"Bukkk!" Rupanya sang Raja telah membokongnya. Dengan telak, leher bagian belakangnya terhajar hingga buram dan gelap. Gardapati kehilangan kesadaran.
Gardapati mulai mendapatkan kesadarannya kembali. Di telinganya yang tajam, ia mendengar percakapan yang cukup jelas, hanya saja ia pura-pura belum sadarkan diri.
"Ayahanda, bagaimana caranya agar dia tak menuduhku lagi?" sebuah suara merdu perempuan belia terdengar memelas.
"Ah, bersabarlah anakku. Secara perlahan kita bimbing ia untuk mengerti, itu hanya salah sangka," jawab sebuah suara lain, yang dikenali sebagai Raja di kerajaan ini.
"Maksud Ayahanda?"
"Pengalamanmu masih cetek, anakku. Peringatanmu telah menjadi sebuah ancaman. Caramu memperingati adalah salah."
"Apanya yang salah, Ayahanda? Ananda menyuruhnya datang ke sini agar ia mendapat Aji Macan Siliwangi, kemudian mengajarkannya kepada sahabatnya itu. Dengan begitu, meski di dunia mereka mati, jiwa mereka akan datang kemari dan mengabdi di kerajaan ini. Dengan begitu, ia masih bisa melihat mereka... uhuk... uhuk..."
"Mengapa kau menahan jurus berbahaya darinya, anakku? Lihatlah, sampai sekarang engkau belum juga sembuh."
"Mereka adalah orang yang dapat membantunya menghancurkan Istana Dewa Iblis, Ayahanda, maka dari itu Ananda menyelamatkan mereka."
"Sungguh besar pengorbanan cintamu untuk memilikinya, anakku, tapi ia malah membencimu. Takdir... takdir..."
"Apa Ananda salah mencintainya, Ayahanda?"
"Tidak, tidak salah. Apalagi ia adalah pemilik tanda itu. Tanda pewaris takhta kerajaan ini."
Diam hening tak terdengar apa-apa lagi. Gardapati yang mendengar percakapan itu terhenyak; sadar ia salah. Yang membuatnya terkejut adalah sosok yang menolong dan mengancamnya adalah seorang gadis. Air susu dibalas air tuba, tak seharusnya ia melakukan demikian. Lamunannya bukan hanya itu, ia kaget mendengar bahwa ia pewaris takhta kerajaan. Gila!
"Ugh!" Ia pura-pura baru siuman.
"Ah, kau sadar, anakku? Maafkan aku yang membuatmu pingsan. Aku tak ingin ada keributan di tengah pesta tadi, terpaksa aku berbuat demikian."
Gardapati tahu hal itu hanya untuk menutupi pembicaraan tadi. Ia berlagak marah, "Kalian memang kejam!" desisnya sinis.
Raja itu menghela napas cukup panjang. Ia berpikir sejenak lalu meninggalkan Gardapati menuju salah satu rak. "Istirahatlah barang sejenak, ini untuk mengobati rasa bosanmu!"
Setelah memberikan sebuah buku kecil dan tipis, Raja itu meninggalkan tempat. Tinggal Gardapati dalam kesendirian. Ia melihat sampul buku itu, "AJIAN MACAN SILIWANGI," desisnya kaget.
Perlahan dibukanya lembar pertama. Isinya: Manfaat ajian ini adalah untuk kewibawaan, kekuatan, disegani, ditakuti, dan pengisian berat atau beban.
Lembar kedua berisi: Laku yang harus dijalani untuk memperoleh ajian Macan Siliwangi ini adalah puasa 7 hari dan hari terakhir diakhiri dengan pati geni. Sebelum memulai amalan, maka disyaratkan untuk melakukan salat hajat 4 rakaat. Selanjutnya adalah melakukan puasa. Selama menjalani puasa itu, kita membaca mantra sebanyak 121 kali usai salat wajib.