Halo!

Iblis Dunia Persilatan - Chapter 98

Memuat...
Iblis Dunia Persilatan

Chapter 98

Lembar Ketiga: Mantranya: BISMILLAHIRROHMANIRROHIM ANA SAWO MATENG ING DADAKU SUARANE PRABU SILIWANGI SEPERTI MACAN KESURUPAN LAHAULAWALA QUWATA ILLAHBILLAHIL ALIYIL ADHIM, BISMILLAHI PRABU SILIWANGI INGSUN PAMIT AKAN MENGGUNAKAN SILIWANGI ATAS KEESAAN ALLAH.

Lembar Keempat: Ajian ini dalam penyatuannya melalui 4 tahap menurut pandangan batin: pertama, perubahan tangan dan kaki; kedua, perubahan badan; ketiga, perubahan wajah dan kepala; keempat, seperti wujud macan, namun hanya menurut mata batin musuh atau lawan saja.

Lembar kelima sampai kedua belas adalah gambar laku dan gerak.

Gardapati manggut-manggut. Sungguh besar rasa terima kasihnya kepada gurunya yang baru. Seandainya beliau tak mengajarkannya dan membawanya ke jalan yang benar, mustahil ia bisa menguasainya.

Merenung dalam diam, bersemedi menenangkan pikiran. "Waktu terus berputar mengikuti roda kehidupan. Kehidupan terus berjalan beriringan. Tak terasa dua belas purnama telah berlalu."

Kini Gardapati sudah menikah dengan Nawang Tresni, putri dari Raja Karang Bolong, orang yang dulu menolongnya—si Jubah Kerudung Hijau. Demi membalas budi dan memenuhi takdirnya, Gardapati menikah dan menjadi pewaris takhta kerajaan. Tobat, sepertinya itu yang ia lakukan. Kejahatan telah mengajarkannya kepahitan dan kesenangan. Kejahatan telah membawanya ke dalam jurang kesesatan. Kini dia sudah bertobat, bertobat sepenuh hatinya. Kini ia bukan yang dulu, bukan yang selalu menebar kejahatan; kini dia berada di jalan dan dasar kebenaran.

Orang menjadi jahat karena lingkungan, orang menjadi jahat karena kesempatan, orang menjadi jahat karena pendidikan. Tak ada orang yang jahat sejak lahir. Untuk menyadarkan seorang manusia, terkadang pengalaman menjadikannya cambuk untuk berubah. Kebersamaan telah berlalu. Kini Gardapati berdiri di antara dua orang: orang yang dihormat dan orang yang disayanginya.

"Tunaikan ilmumu dalam kebaikan. Di sini aku, mertuamu, dan istrimu, Nawang Tresni, selalu menunggumu, juga para rakyatmu. Selamat jalan, anakku!"

"Baik, Ayahanda!" Gardapati memberi sembah.

"Suamiku, bawalah istrimu yang lain kemari, juga anakmu dengan perempuan lain!" Gardapati memerah. Ia menunduk, mengingat masa lalunya yang kelam. Setelah memeluknya dalam dada, ia berkata, "Baiklah, Istriku!"

"Satu lagi!"

"Apa itu?"

"Anakmu dalam kandunganmu menantimu untuk dibelai dengan mesra lagi."

"Aih!" Gardapati membelai perut Nawang Tresni, lalu pamit undur diri.

Berkelana lagi, sama seperti dulu, ia kembali menghirup udara segar. Hanya visi dan misi kali ini berbeda. Dedikasi dan ideologinya berubah. Ia ingin menelusuri dari awal, bermula dari sang ayah. Tak ada penjamuan yang tak bubar, ada pertemuan ada perpisahan. Astadewi berlari meninggalkan tempat kediaman di mana ia kembali menempa diri, berusaha bangkit dari jurang kenistaan bersama kedua sahabatnya, Antari dan Anudhari.

Ia berlari menuju Cadas Ngelir; di sanalah tujuan mereka sekarang. Empat tangan tak akan mengalahkan delapan tangan, ia butuh suatu kekuatan, kekuatan yang ia timbun dahulu, kekuatan yang diam-diam ia kumpulkan untuk mengantisipasi keadaan.

Kekuatan apakah yang telah ia persiapkan? Cadas Ngelir adalah sebuah tempat di mana terdapat batuan cadas yang dari atas seperti mengalirkan air sungai, batuan aneh yang memiliki hawa gaib tersendiri.

Di samping Cadas Ngelir adalah sebuah desa. Ketiganya sudah sampai di sana karena memang tempat itulah yang ia tuju. Berkelebatan di antara pepohonan yang lebat, tersamarkan menjadi bayang-bayang, kecepatan laksana anak panah membuat mereka tak disadari kehadirannya oleh para anggota Istana Dewa Iblis yang berpesta pora bersama para gadis.

Siapakah para gadis itu? Ditilik dari pakaiannya, mereka adalah para gadis penduduk desa. Dari luar mereka seperti menangis dan ketakutan, hanya mata yang jeli yang melihat mereka saling berbagi kode. Kode apakah? Mendadak, "Tuk! Bret... crash... jreb!" Bersahut-sahutan berirama dalam dentingan musik kematian, tanpa suara, tanpa diduga, para anggota Istana Dewa Iblis mati berguguran, bersimbah darah, membasahi tubuh mereka.

Kembali mereka berbagi kode. Dengan licin mereka sengaja menindihkan dan memposisikan tubuh mereka dengan para mayat. Gemuruh kuda memecah keheningan, para gadis itu saling menangis. Siasat apalagi ini? Hanya mereka yang tahu. Seorang brewokan bertubuh kekar datang dengan mata merah membara, menebarkan hawa amarah. Dia marah melihat para komplotannya mati. Si brewokan turun dari kuda, dengan kasar ia menjabret salah satu gadis. "Siapa yang melakukan ini?" Dengan nada membentak penuh amarah.

Gadis itu ketakutan, dengan gemetar ia berkata, "Me... mereka gadis sebaya kami dan... dan memakai mahkota. Saat kami berpesta menemani para anggota Tuan, mereka datang dan membunuhi anggota Tuan, darah memancar... hiii!" Gadis itu pingsan. Aslikah? Sandiwarakah? Entahlah. Si brewokan melepaskan pegangan, gadis itu jatuh begitu saja ke lantai. Tanpa ada yang tahu, gadis itu menyunggingkan senyum tipis, hanya si brewokan tidak mengetahuinya.

"Panglima!" Komplotan yang lain turun dan menyapa.

"Kita pergi ke Cadas Ngelir, para dhara sesat itu belum juga tunduk dengan kekuasaan kita!" bentak panglima itu. Mereka segera naik ke atas pelana dan memacu kuda tanpa menghiraukan para gadis yang ada di sana. Mereka menganggap para gadis di sana adalah sampah yang bisa dipermainkan begitu saja, padahal pada kenyataannya merekalah yang dipermainkan. Ini merupakan siasat yang sangat hebat. Astadewi yang menyaksikan itu tertawa tanpa dapat dihentikan, ia menggenjot tubuhnya mendekati gadis yang pura-pura pingsan.

"Mbakyu Dwi Garani, sampai kapan mau tidur?" sapanya jenaka. Wajahnya begitu lugu seperti kanak-kanak.

Gadis yang pura-pura pingsan itu bangun dan menatap Astadewi. "Nimas Dewi, ke mana saja engkau?" katanya seraya memeluk.

Siapakah gadis yang bernama Dwi Garani ini? Tak lain dan tak bukan, dialah gadis yang dulu diperkosa oleh tiga orang yang ditolong Astadewi. Dengan bantuan Astadewi, gadis itu menghilangkan traumanya dan mempelajari ilmu silat. Diam-diam ia mencari gadis yang senasib dengannya, perlahan tapi pasti, anggota pun terkumpul. Mereka hidup seperti para gadis desa; ke sawah atau ke ladang adalah kebiasaan mutlak. Siapa pun tak akan menyangka bahwa para gadis ini adalah gadis yang memiliki kecerdasan dan kemampuan yang digdaya.

Tak lama kemudian, Antari dan Anudhari menyusul, mengobrol merencanakan siasat. "Siapa yang engkau bawa, Kakang?" tanya Kama dengan heran.

"Mungkin kalian lebih mengenalnya daripada aku!" jawab Sagara Angkara jelas.

Gadis yang dipanggil Kama oleh Sagara Angkara berlari ke dapur dan balik membawa air. "Kalian rawatlah!"

"Mengapa tidak Kakang saja?"

"Aku kurang leluasa!" jawab Sagara Angkara sambil berlalu dan tersipu malu.

Kama hanya ganda tertawa saja melihat ketua baru mereka. Kali ini ketua mereka memang beda dari ketua-ketua terdahulu. Pada mulanya mereka menolak kerja sama dengannya, hanya karena usaha gigihnya, akhirnya para anggota Dhara Sesat berkeputusan menerimanya sebagai rekan seperjuangan.

Lama bergaul, akhirnya mereka mulai menerima, apalagi dengan sikap Sagara Angkara yang ringan tangan dan halus budi. Perlahan tapi pasti, kelakuan buruk mereka sedikit berkurang. Setelah berembuk, akhirnya mereka sepakat menjadikan Sagara Angkara sebagai ketua mereka. Tentu saja Sagara Angkara menolak. Akhirnya, dengan alasan mereka ingin bertobat dan meminta bimbingan, mau tak mau Sagara Angkara tersentuh. Hanya saja jabatan ketua ia enggan menerima. Setelah disepakati, akhirnya mereka menganggap Sagara Angkara sebagai kakak yang harus dituruti oleh para adiknya, padahal jika ditanya soal umur, Sagara Angkara adalah yang termuda.

Begitulah, Sagara Angkara mulai membimbing mereka, menghilangkan dampak buruk dari ilmu yang mereka pelajari, dan diajari hal-hal baru yang lebih beradab dan berperikemanusiaan.

Kama mulai membuka kain penutup gadis yang dibawa Sagara Angkara, ia memekik kaget. Di sekujur tubuhnya dipenuhi bekas cambukan, luka pukulan, dan lebam, bahkan daerah selangkangannya merembes darah. Gadis itu setengah koma, entah kekuatan apakah yang menopangnya untuk hidup. Wajahnya dipenuhi dengan luka lebam akibat tamparan, sungguh nahas nasib gadis ini, bibirnya berubah ungu, mata terpejam rapat.

Dengan telaten, Kama membersihkannya, memakaikan pakaian baru, dan mengobati lukanya. Kama adalah sisa dari Laskar Dhara Sesat Air Terjun Balumbang. Dulu ia bekerja sebagai tabib perkumpulan, jadi jelas ilmu yang dipelajarinya adalah ilmu pengobatan; ilmu pengobatannya sama dengan apa yang dipelajari Gardapati dan Astadewi. Bisa dibayangkan dengan ilmu pengobatannya, pada waktu terjadi kisruh, beruntung ia sedang mencari obat di luaran sehingga selamat dari pembantaian. Ia memilih mengasingkan diri di sebuah dusun.

Belakangan ia mengetahui dari sandi yang disebar bahwa kawan seperjuangannya berada di Cadas Ngelir. Rasa solidaritasnya terpanggil, dengan memberanikan diri ia datang ke Cadas Ngelir. Meski ilmu silatnya sangat lemah, ditanya soal pertabiban, dialah ahlinya.

Dua hari kemudian, pasien Kama mulai siuman. Ia merintih menahan sakit di sekujur tubuhnya, hanya ia heran sebab ia tidak berada di tempat hukuman lagi. Kini ia ada di sebuah pembaringan yang nyaman. Ketika berpaling ke samping, Kama dan seorang pemuda menunggui.

"Kama... kaukah itu?" Gadis ini mengigau.

Kama terkejut mendengar namanya disebut, ia mendekatkan telinganya pada bibir gadis ini.

"Hati-hati... Barisan Dewa Iblis darah... barisan pembunuh... Istana Dewa Iblis... Sakti Mandraguna... jangan lengah!" Kama mengerutkan kening mendengar kata yang patah-patah didengarnya. Ia ingin bertanya, hanya gadis itu kembali pingsan.

"Kama, apa yang dikatakannya?"

"Tidak jelas, hanya patahan kata!"

"Apakah itu?"

"Hati-hati... Barisan Dewa Iblis darah... barisan pembunuh... Istana Dewa Iblis... Sakti Mandraguna... jangan lengah!"

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment