Chapter 99
"Kakang paham apa maksudnya?"
"Tidak," jawab Sagara Angkara sambil melamun.
"Kama, aku hendak melihat keadaan di luar. Pergilah, bawa seluruh anggota rahasia kita ke ruang rahasia. Pasukan Istana Dewa Iblis akan tiba hari ini."
"Mengapa harus pergi, Kakang?"
"Ai, ingat apa yang dikatakannya? Aku takut mereka adalah apa yang dikatakan oleh gadis itu!"
"Baiklah, kami menurut saja. Hati-hati."
"Baik."
"Tunggu."
"Ada apa?"
"Kakang terluka?"
"Hanya sedikit benturan."
"Dengan siapa Kakang bertarung?"
"Raja Istana Dewa Iblis."
"Apa? Kakang pergi ke sana? Kapan?"
"Sudah lama aku menyusup, hanya posisiku terdesak. Mau tak mau mengambil keputusan buntu. Setelah membuat keributan, aku menyusup ke ruang bawah tanah dan membawa gadis itu."
"Di Istana Dewa Iblis?"
"Musuh dalam selimut yang selalu mengawasi kita diam-diam rupanya adalah orang yang sangat dekat. Kita harus lebih berhati-hati. Lagipula kekuatannya sangat hebat; melukaimu hingga seperti ini, menghindar pengejaran, menyelinap ke ruang bawah tanah, juga membawa kabur Wakil Ketua Dhara Sesat, Aryani."
Si Gila dari Neraka Hitam yang selalu tampil urakan menampakkan wajah seriusnya. Rupanya dia adalah otak dari pengkhianatan; dengan berkedok gila, ia melancarkan setiap rencananya dengan seksama dan matang.
Sungguh licin.
"Bagaimana dengan tindakanmu?" Iblis Kembar Bumi bertanya.
"Sudah kuutus jagoan handal kita. Aku percaya nasibnya tidak akan lama lagi. Barisan Dewa Iblis Darah akan mencabut nyawa beserta jeroan tubuhnya."
"Mengapa kau begitu percaya?"
"Barisan Dewa Iblis Darah sejak kecil sudah dilatih dengan keras dan bengis. Hanya satu yang dapat memerintah mereka, dialah Dewa Tangan Darah."
Sifat mereka aneh, bengis, dan haus darah.
"Huahahaha." Keduanya tertawa dalam luapan kegembiraan. Suara mereka bergaung laksana ribuan tawon; inilah suara pengkhianatan.
Sagara Angkara berjalan menyusuri Hutan Sancang dengan langkah lebar, pohon puspa menjadi saksi langkahnya. Telinganya yang tajam mendadak mendengar suara pertarungan dari arah tenggara, tidak jauh darinya. Jiwa pendekarnya terpanggil. Ia melesat cepat menuju lokasi kejadian dengan kecepatan laksana angin yang berhembus, hanya meninggalkan bayangan.
Sagara Angkara kaget melihat seorang gadis muda terlentang pasrah menuju kematian, pundak dan kakinya terluka parah. Apalagi setelah ia mencermati wajah gadis itu. Gadis itu perlahan bangkit berdiri dengan susah payah.
"Jingga!" desisnya.
Sagara Angkara heran bukan main. Di tempat itu terdapat dua puluh empat pemuda tanpa emosi dengan pedang di tangan kiri. Di tengah mereka terdapat seorang lelaki berwajah garang dan buas. Dialah pemimpin mereka, pemimpin dari Barisan Dewa Iblis Darah, Dewa Tangan Darah.
"Eksekusi dia!" perintahnya dingin.
Seorang pemuda tanpa emosi datang menerjang. Tak menunggu dirinya diserang, Jingga lebih memilih untuk menyerang dahulu. Kedua tangannya membuka dengan membentang cakar, ia menerjang dengan tenaga tersisa. Di atas atap pada sebuah sudut palang, sesosok berjubah dan berkerudung hijau menyaksikan dalam diam. Siapakah dia?
Seorang pemuda yang bergerak tadi menjulurkan pedang di tangan kiri dan membuka cakar di samping kanan.
"Cakar Cendrawasih merah terang!"
"Cakar tunggal pedang melintang!"
*Blaaarrrr!* Sebuah ledakan dahsyat beraliran tenaga dalam tinggi beradu. Pedang datang menyabet dengan kecepatan laksana sinar, namun Jingga lebih cepat. Setelah cakar beradu, cakarnya mengembang ke samping dan ke muka.
*Prakkk! Brukkk! Praangg!*
Pedang patah menjadi dua. Pemuda itu terpental ke belakang diiringi dengusan ringan.
"Sebaiknya aku lekas kabur!" pikir Jingga. Kedua tangannya dihentakkan ke atas dan berputar. *Wesss! Wesss! Prakk!* Terdengar suara angin ketika tubuh Jingga berputar dan menembus atap.
Belum juga keluar, mendadak bangunan itu meledak. Rupanya Dewa Tangan Darah sudah ikut campur. Bangunan itu meledak karena tenaga dalamnya. Melihat kejadian yang semakin parah, Sagara Angkara melesat maju.
"Nimas Jingga?"
"Kakang?"
"Budak kecil, kau sudah membuatku marah. Salah satu cara agar hatiku kembali tenang adalah membunuhmu dengan tanganku sendiri."
Dewa Tangan Darah menerjang, Jingga gugup. Apalagi tenaga dalamnya juga hampir habis terkuras. Dengan terpaksa ia kembali menggunakan jurus Cakar Cendrawasih merah terang. Tapi apalah dayanya, kekuatan lawan terlalu dahsyat untuk dihadapi; pergelangan tangannya ditangkap dan diputar ke belakang.
"Akhhh!" Jingga menjerit kesakitan, darah kembali menyembur dari mulutnya.
"Tidak!" Sagara Angkara menjerit memburu, namun barisan Dewa Iblis Darah malah menyerangnya.
"Kalian makhluk laknat, jangan menghalangiku atau kalian akan mati!"
Barisan Dewa Iblis Darah sejak kecil sudah dilatih dengan kejam dan ganas. Dalam otak mereka hanya ada dua kata: bunuh atau tidak. Karena Dewa Tangan Darah sudah menginstruksikan bagi siapa saja yang ikut campur harus mati, maka mereka melakukannya tanpa mempedulikan apa pun.
"Peringatan yang tulus memang tak enak didengar. Cari mati sendiri, jangan salahkan aku."
Sagara Angkara terbakar emosinya, emosi seorang pemilik Sastrajendrahayunuingrat. Siapapun yang menantangnya sama saja dengan menentang bola panas membara. Ketika sedang marah, Sagara Angkara dapat mengeluarkan tenaga di luar batasnya, meledak-ledak seperti mentari di kala tengah hari.
"Hiaaaaattt!" Dengan bentakan nyaring, ia menciptakan selapis garis merah horizontal mengarah pada lawan dengan menggunakan telapak tangannya.
*Crassshh! Crash!*
Sagara Angkara benar-benar dibutakan amarah, kemarahannya tidak ada yang bisa membendung lagi. Dengan kekuatan air bah, ia menggulung, menyabet, membacok, mencengkeram, bahkan memukul dan menendang.
"Hiaa!" Sagara Angkara memutar tubuh menyamping di udara, menghadapi keroyokan sebarisan manusia ganas yang tak mengenal arti mati.
Sebuah pisau dingin lewat seinci di depan perutnya, namun rupanya pisau itu hanya tipuan. Terbukti ketika konsentrasi Sagara Angkara terpecah, empat pemuda secepat kilat menyerang tangan, kaki, dan bacokan brutal yang hendak membeset perutnya.
Jingga yang melihat itu sangat terkejut. Meski sebelah tangannya telah patah, ia berusaha menolong. Sebuah jurus Cakar Hawa Kosong dihantamkan ke arah musuh.
"Wengg!" *Crasss!*
Sebuah hawa bergulung-gulung datang menerjang. Putaran hawa itu sangat kuat; tanpa ampun, pemuda yang hendak membacok Sagara Angkara terlepas kepalanya. Memanfaatkan kesempatan itu, Sagara Angkara memutar kedua kakinya dengan menjatuhkan kepala ke bawah.
*Dess! Dess! Dess!*
Tiga pemuda terjajar mundur. Sagara Angkara kaget melihat sesuatu di balik Jingga. Jingga memusatkan seluruh perhatiannya untuk menolong Sagara Angkara, padahal ia tahu Sagara Angkara mampu menghadapi mereka, namun entah mengapa ia ingin mengorbankan diri untuk melindungi, meski jiwa menjadi taruhan.
Pada saat ia sudah meredakan suasana yang genting tadi, pada waktu itulah malapetaka datang.
"Jingga, hati-hati!"
Terlambat.
"Duaaarrr!" Sebuah hantaman dari belakang tubuhnya mendarat.
"Huahahaha! Kau gadis sundal ini tak sudi melayaniku si tuan besar, maka sejak penolakanmu itu, aku ingin sekali merobek perutmu sampai ususmu berhamburan keluar, dan saat ini sudah kesampaian!" Dewa Tangan Darah tertawa terbahak-bahak.
"Jinggaaaa!" Sagara Angkara menjerit histeris memburu.
"Haha, kukembalikan gadis sundal busuk ini padamu!" Dewa Tangan Darah melemparkan tubuh Jingga pada Sagara Angkara.
Sagara Angkara terkejut, ia kembangkan tangan untuk menangkapnya.
"Owh, Nimas, mengapa kau berada di sini? Aku salah, aku salah. Seharusnya aku sudah membunuh mereka sebelum mereka mematahkan tanganmu." Sagara Angkara menangis memeluk Jingga di pangkuannya.
"Katakan... katakan bahwa... Kakang... mencintaiku!" *Uhuk... uhuk!* Jingga muntah darah.
"Aku... aku... aku..." *Plukk!*
Kepala Jingga terkulai. Entah ajal sudah datang menjemput sebelum Sagara Angkara menyelesaikan ucapannya, atau hanya pingsan. Sagara Angkara tak memastikan karena dibakar emosi.
"Tidaaakkk!" Sagara Angkara menjerit histeris. Ia sedih belum menyelesaikan permintaan terakhir orang, air matanya jatuh bercucuran membasahi wajah Jingga. Saking tergetar kemarahannya, batin Sagara Angkara goyah, matanya berubah membara.
Tetapi Sagara Angkara mendadak mengingat sesuatu, lekas ia menotok jalan darah pingsannya sendiri.
*Blukkk!* Ia pingsan.
Di tempat lain, tampak si kerudung hijau menyeka air matanya. Rupanya ia terharu atas kejadian itu.
"Hemmm, sepasang kekasih memuakkan. Saat mau mati, masih saja bermesraan!" Dewa Tangan Darah mengejek dingin. Tangannya terangkat, namun sebelum eksekusi dimulai, ia merasakan sebuah energi dahsyat yang memancar.
"Ya ampun, energi menakutkan ini. Dia manusia atau bukan? Masa memiliki energi seseram ini? Kedatangannya benar-benar aneh, padahal semenjak tadi aku tak merasakan kehadiran siapa pun selain kami."
Ketika semua mata memandang ke atas pohon mahoni, di dahan pohon bertenggerlah sesosok menakutkan. Dewa Tangan Darah merasakan sekujur tubuhnya dingin, bukan karena terkejut atau takut, tapi udara di sekitar situ berubah menjadi amat dingin, sulit diungkapkan dengan kata-kata. Hawa yang begitu dingin dilambari dengan nafsu membunuh yang sangat tebal. Berdasarkan pengalamannya, Dewa Tangan Darah memastikan bahwa yang datang bukanlah sosok biasa, yang jelas kedatangannya sama sekali tak menguntungkannya.
Dikala Sagara Angkara pingsan dan Jingga tak ketahuan nasibnya, sosok menakutkan datang tanpa diduga. Meski tahu sosok itu menakutkan, namun tak mengurungkan niat Dewa Tangan Darah melampiaskan kemarahan atas terganggunya eksekusi. Kedua tangannya direntangkan, segulung hawa panas menyeruak dari kedua telapak tangannya.
Tidak malu dikatakan sebagai Dewa Tangan Darah, kepandaiannya memang hebat. Kesiuran angin serangannya saja sudah seperti angin ribut. Dengan gesit, ia meloncat mengudara menerjang sosok yang tak diketahui identitasnya itu.