Chapter 01
SAM-LIONG-TO (Pulau Tiga Naga) adalah sebuah pulau terpencil di selatan Laut Tiongkok, jauh di tenggara. Jarang dikenal orang karena pulau itu memang jauh, baik dari keramaian maupun perbatasan. Hampir tak disebut namanya oleh siapa pun, baik oleh orang kang-ouw maupun orang biasa.
Tapi ketika pagi itu sebuah perahu layar tampak mendekati gugusan pulau ini dan dua laki-laki tampak kegirangan melihat pulau itu maka seorang di antaranya menuding dan berseru, "Lihat, itu, Ji-te (adik Ji). Ini benar-benar Sam-liong-to!"
Orang kedua, yang mengayuh dan mendayung tiba-tiba berseri mukanya. "Benar, agaknya tidak salah, Ong-twako (kakak Ong). Kita menemukan apa yang kita cari!"
"Daratkan perahu, kita menepi!"
Dan orang pertama yang kelihatan girang dan bersinar mukanya lalu menggerakkan dayungnya pula mempercepat laju perahu, tak menghiraukan keringat yang bercucuran. Dua orang di atas perahu itu tampak gembira. Mereka seolah mendapat emas permata, hal itu tampak dari tawa dan sikap mereka yang tak henti-hentinya berseru.
Ketika perahu menepi dan akhirnya mendarat di pasir yang lunak, keduanya sudah meloncat dan tertawa bergelak. "Ha-ha, kita berhasil. Perjalanan jauh kita tak sia-sia!"
"Benar, rejeki di depan mata, twako. Dan kita tinggal mencari istana itu!"
"Tak salah!" Keduanya yang sudah berjingkrak girang dan menari serta melonjak tiba-tiba berlarian ke atas bukit batu, hitam kecoklatan, dan mereka seakan berlomba siapa paling dulu tiba di atas.
Ketika keduanya hampir bersamaan tiba di tempat itu dan tertawa memandang sekeliling, mendadak keduanya berhenti tertawa dan menoleh kiri kanan. "Lihat, itu, Ji-te (adik Ji). Ini benar-benar Sam-liong-to!"
"Eh, dari sini semua tempat kelihatan. Tapi mana istana itu?"
"Atau kita salah?"
"Tak mungkin. Tanda di tengah pulau itu benar, Ji-te. Lihat dua punuk di ujung paling depan itu, mirip mata naga. Kita benar-benar di pulau Sam-liong-to!"
"Tapi istana itu tak ada. Apakah kita lamur?"
"Hm, coba lihat peta, Ji-te. Keluarkan dan kita periksa sekali lagi!"
Dua orang itu bergerak. Mereka meloncat turun dan berteduh di bawah sebuah batu besar. Seorang mengeluarkan peta dan segera membebernya. Ketika mereka mengamati dan memperhatikan dengan seksama, yang satu berseru, menuding sisi kanan peta. "Nah, di sini seharusnya istana itu berdiri. Raja Beng membuat istana itu di sini!"
"Benar, di dekat hutan, Ji-te. Kalau begitu, apakah di sebelah hutan itu?"
"Mungkin. Kita selidiki, twako. Hutan itu memang menghalangi pandangan kita!"
"Dan kita siapkan senjata kita. Mungkin di sana ada binatang buas!"
Dua lelaki itu bergerak kembali. Mereka terdiri dari laki-laki yang tegap, otot mereka kokoh, dan jari-jari tangan pun besar, sebesar pisang. Ketika keduanya menyimpan peta dan satu di antaranya sudah mendahului meloncat turun, Ong-twako, laki-laki pertama, sudah berteriak dan bersorak girang. "Hayo, kita dekati hutan itu!"
Lelaki kedua, yang dipanggil Ji-te, melayang turun. Dengan senyum dan tawa lebar, dia sudah mengikuti temannya, berlompatan dari satu batu ke batu yang lain, ringan dan cekatan. Jelaslah bahwa dua laki-laki ini adalah orang-orang yang pandai silat. Golok yang sudah mereka cabut untuk menjaga segala kemungkinan semakin memperkuat dugaan itu.
Ketika keduanya terbang dan tertawa-tawa mendekati hutan di tengah pulau, keduanya tak melihat betapa sepasang mata bulat kecil mengintai dari balik celah batu, mata seekor makhluk gorila yang buas dan kelaparan!
"Ha-ha, cepat, Ji-te. Cepat.....!"
"Sabar, tak lari gunung dikejar, twako. Hati-hati dan jangan tergesa!"
Dua orang itu tertawa-tawa. Mereka mendekati hutan dengan langkah tak sabar, seolah berlomba, dan masing-masing menghapus keringat sekenanya. Apa yang mereka cari sudah hampir didapatkan. Kegirangan mereka tak kepalang lagi, dan dua orang itu sudah tiba di mulut hutan.
Tapi baru mereka menerobos masuk dan berjingkrak kegirangan, tiba-tiba terdengar geraman, dan mereka menoleh kaget, melihat seekor gorila berlari mengejar mereka. Dua laki-laki itu tertegun. Seekor hewan buas, dengan ketinggian masih di atas manusia biasa, tiba-tiba menubruk mereka, giginya menyeringai, dan tampaklah taring-taring yang amat kuat itu. Tentu saja mereka mengelak, dan dua laki-laki itu berseru memperingatkan yang lain.
Ketika tubrukan luput dan gorila itu mengeluarkan pekik menggetarkan, Ji-te, orang kedua, menusukkan goloknya tepat ke bahu. "Tak!" Senjata itu mental. Ji-te kaget bukan main. Kuku gorila menyambarnya, membanting tubuh bergulingan, namun baju pundaknya robek. Ternyata, hampir terlambat dia mengelak.
Ketika gorila itu menggereng dan menubruk lagi, laki-laki pertama membentak mengayunkan goloknya. "Tak!" Gorila itu kebal. Dua kali bacokan golok ternyata tak membuatnya apa-apa. Ia berbalik dan kini menerkam laki-laki pertama itu. Ji-te sudah bergulingan menjauhkan diri.
Ketika laki-laki pertama juga melempar tubuh bergulingan dan berseru keras, dua laki-laki itu sudah meloncat bangun dengan muka pucat. "Awas, hati-hati, Ong-twako. Binatang ini kebal!"
"Ya, dan dia kuat bukan main, Ji-te. Juga kelaparan!"
Dua orang itu bergerak ke kiri kanan. Mereka sudah diserang gorila ini dengan gerengan dan tubrukannya, menghindar dan membacok, namun binatang tinggi besar itu tak apa-apa. Tujuh kali tusukan golok ternyata mental, tak dapat melukainya. Ong-twako bahkan menerima cakaran berat di pangkal lengannya, berdarah, dan satu di antara mereka sudah terluka.
Ketika laki-laki itu pucat dan membentak serta menyerang, akhirnya mereka menujukan serangan pada mata binatang itu. "Serang matanya. Tusuk!" Namun hewan ini pintar. Nalurinya yang tajam memberitahunya bahwa bagian itu diincar. Cepat menggeram melindungi bagian muka dengan tangannya yang berbulu. Satu tusukan golok bahkan sempat ditangkis.
Ketika satu tusukan lagi disambutnya dengan telapak tangan yang lebar, tiba-tiba golok laki-laki kedua bahkan dicengkeram. "Hei..... plak!" Golok itu tertangkap. Ji-te terkejut karena tak mampu membetot, sudah menarik namun gagal.
Ketika gorila itu menggeram dan menggerakkan tangan yang lain, tiba-tiba kuku jarinya sudah menyambar muka lawan. "Awas, Ji-te!" Ong-twako, laki-laki pertama, berteriak. Dia menendang, namun binatang itu tak bergeming, bahkan semakin terdorong maju menyerang temannya itu.
Karena waktu sudah sedemikian mepet dan hanya ada satu jalan menghindarkan itu dengan cara membiarkan goloknya, Ji-te sudah melempar tubuh bergulingan, dan golok tiba-tiba dicengkeram patah oleh tangan si gorila yang kuat perkasa. "Pletak!" Dua laki-laki itu ngeri.
Aneh dan lucu, tiba-tiba gorila ini menggigit mata golok, menggeram. Patahan yang lain dibuang, dan Ji-te kebingungan. Dia tak mempunyai senjata lagi, dan gorila sudah menyerang mereka, matanya buas kelaparan, dan mereka sungguh ngeri, berloncatan dan mengelak.
Ketika berkali-kali gorila gagal menerkam mereka sementara mereka pun gagal membacok atau merobohkan gorila itu, mendadak binatang tinggi besar ini mengeluarkan suara berkuik, panjang dan parau, dan Ji-te maupun temannya tak mengerti. Tapi begitu dari dalam hutan muncul seekor gorila lain, dan dua laki-laki itu terkejut, maka gorila yang ini sudah berlari dan menubruk mereka. "Awas....!"
Dua laki-laki itu panik. Gorila betina, yang datang belakangan, ternyata tak kalah buas. Hewan itu menggeram dan sudah menubruk mereka, menyambar siapa saja. Ji-te pucat, bergulingan menjauh, dan cepat memungut potongan kayu yang kebetulan menggeletak.
Ketika hewan itu menyerang lagi dan Ji-te berteriak keras, potongan kayu ini dihantamkan ke kepala si gorila betina. "Bukk!" Dahan itu malah mental. Laki-laki ini harus bertahan sekuatnya ketika dia terputar. Kaget bukan main. Senjata di tangannya seolah menghantam dinding baja, dan gorila itu menggereng, menubruk lagi. Matanya yang jalang dan kelaparan jelas menunjukkan betapa buas dan ganasnya.
Laki-laki ini membentak dan menyerang lagi, berkelit, dan dahan di tangannya itu menghantam dari samping. Tapi ketika gorila tak bergeming, dan suara "buk" itu disusul pekik tertahan laki-laki ini yang jatuh terpelanting, maka gorila berkuik dan menerkamnya lagi. "Bress!" Laki-laki itu sepucat mayat. Dia hampir diterkam kalau tidak menggulingkan tubuh ke kanan. Kuku atau cakar binatang buas itu menghunjam tanah sedalam lima senti.
Ketika temannya di sana juga berteriak dan kewalahan menghadapi gorila jantan, mendadak goloknya dicengkeram dan diremas hancur oleh gorila perkasa ini, patah menjadi tiga potong. Dua laki-laki itu gentar. Mereka tak bersenjata lagi. Laki-laki pertama menyambar potongan kayu, seperti temannya, menghantam. Tapi ketika kayu itu ditangkap, dan mulut yang menggigit patahan golok tiba-tiba menyeringai, maka gorila ini membuka mulutnya dan menubruk. "Grr!" Ong-twako harus melempar tubuh bergulingan. Hampir dia diterkam dan digigit, kuku dan taring binatang itu sejengkal saja di sisi tubuhnya.