Halo!

Istana Hantu - Chapter 02

Memuat...
Istana Hantu

Chapter 02

Dan ketika dia bergulingan dan meloncat bangun, dia melihat keadaan temannya yang juga tidak lebih baik.

"Ji-te, lari!" Laki-laki kedua, yang gugup dan kewalahan menghadapi gorila betina, mengangguk.

Memang tak ada jalan lain kecuali melarikan diri. Golok mereka patah dan gorila-gorila itu kebal. Baik yang jantan maupun betina sama-sama buas, mereka tak mungkin menang lagi, dan lari adalah jalan paling baik.

Maka, begitu mengangguk dan berteriak keras, tiba-tiba dia memutar tubuhnya tidak ke hutan, melainkan ke pantai, bermaksud kembali ke perahu layarnya. Tapi temannya yang berteriak menyambar tangannya tiba-tiba berseru. "Tidak, bukan ke pantai, Ji-te, melainkan ke dalam. Kita masuki hutan itu dan bersembunyi di sana!"

"Tapi gorila-gorila itu..." Lelaki ini gemetar. "Mereka terus mengejar, twako. Di tanah mereka tak dapat kita hadapi. Sebaiknya ke laut, kembali!" "Ah, kau mau menyia-nyiakan perjalanan kita? Istana itu belum kita temukan, Ji-te. Kita terus dan masuki hutan itu, bersembunyi di sana!"

Dan ketika dia tak dapat membantah dan gorila di belakang menggereng dan mengejar, maka lelaki kedua terpaksa mengikuti kehendak temannya, pucat dan menggigil. Tiba-tiba, sebatang pohon besar ada di depan mereka. Ong-twako sudah berlari dan memanjat pohon ini, maksudnya bersembunyi. Pohon itu luar biasa besarnya, dan dahan serta daun-daunnya pun lebat. Bersembunyi di sana tak mungkin gorila itu dapat mencari.

Tapi ketika terdengar suara cecowetan dan puluhan monyet besar kecil mendadak terjun dan terayun-ayun ingin menyerang mereka, maka lelaki pertama terkejut dan melotot. "Jahanam, apakah kita harus berkelahi dengan monyet?" "Turun!" Temannya berseru. "Cari tempat lain, twako. Bahaya!"

Ong-twako anjlok, meluncur begitu saja, dan terpaksa dia mencaci-maki. Gorila di belakang mengejar dengan langkahnya yang berat, dan bunyi tapak kaki mereka menggetarkan tanah. Ngeri, dua orang itu. Dan ketika mereka berlari lagi dan memasuki hutan semakin dalam, maka tempat pun mulai gelap, dan mereka melihat ratusan pohon besar kecil berdiri di situ, memilih satu di antaranya, dan laki-laki she Ong tetap ingin memanjat pohon. Dia bermaksud menghindari dua gorila itu dengan bersembunyi di atas.

Tapi ketika desis dan tubuh-tubuh yang licin menggeliat di atas kepala, maka belasan ekor ular telah membuka mulutnya dan menyambut mereka, ular-ular yang ganas dan buas! "Ssh-sshh....!" Lelaki ini mengumpat. Kalau golok ada di tangannya, mungkin dia akan membabat ular-ular itu, tak perlu takut dan gelisah.

Maka, mengutuk dan meloncat turun lagi, terpaksa dia mencari tempat perlindungan yang lain, pohon-pohon besar di sekitar, namun hampir semua pohon ada penghuninya. Ong-twako pucat dan mandi keringat, temannya juga menggigil dan gemetaran sejak tadi. Dan ketika di belakang terdengar geraman dan suara dua gorila itu, maka dua laki-laki ini panik dan gugup.

"Celaka, ke mana lagi kita sekarang, twako?" "Lari, ke depan!" "Tapi di sana barangkali ada binatang buasnya juga, aku ngeri!" "Kalau begitu kau ingin kembali dan menghadapi gorila itu? Kembalilah, aku tak mau menanggung keselamatanmu, Ji-te. Kita sudah di sini dan tak mungkin mundur!"

Terpaksa, karena di belakang dihadang gorila dan di depan agaknya menjanjikan tempat persembunyian yang baik, akhirnya Ji-te mengikuti temannya dan tersaruk-saruk melangkah, tak dapat cepat lagi karena hutan mulai lebat, juga gelap. Dan ketika di depan tiba-tiba terdengar aum dan geraman harimau, maka laki-laki ini terjatuh dan hampir lumpuh.

"Twako, macan......!" "Diam, mereka dapat kita hadapi, Ji-te. Lepas ikat pinggangmu!" Namun aneh, begitu terdengar geraman gorila di belakang, dua laki-laki itu mendadak harimau-harimau ini menyingkir, tiga ekor jumlahnya, dan mereka menghilang, melesat di kiri kanan. Rupanya, raja hutan itu takut terhadap sepasang gorila.

Tahu kekebalannya, dan Ong-twako maupun Ji-te lega, meloncat dan kembali berlari-lari kecil. Mereka menerabas dan menyusup di apa saja, kian lama terasa kian lebat, dan akhirnya geraman di belakang hilang. Barangkali dua gorila itu kehilangan jejak mereka.

Dan ketika Ong-twako berhenti terengah-engah dan temannya di belakang memburu napasnya, maka lelaki itu menegur. "Ji-te, kenapa kerdil amat jiwamu ini? Mana keberanianmu sehari-hari?" "Aduh, ah....!" Lelaki itu mengatur napasnya. "Aku takut melihat suasana ini, twako. Kita seakan memasuki guha siluman!"

"Pengecut, kau mengecilkan hati dan kehilangan nyali. Hayo, kita membuat senjata dari apa saja!" Ong-twako merah mukanya, marah kepada temannya karena dia merasa mendapat beban. Temannya tampak ketakutan, dan dia sudah menyambar sebatang bambu, kebetulan runcing ujungnya. Jadi, seperti tombak.

Tapi ketika temannya terengah-engah dan mencari sesuatu untuk dibuat senjata, mendadak temannya itu menjerit dan melolong, di sebelah kirinya. "Buaya....!" Lelaki ini bergerak. Terdengar suara blak-bluk di situ, menguak semak belukar, dan tampaklah temannya menghantam dan diserang buaya.

Kiranya mereka berada di sebuah rawa, dan tanpa sadar mereka mendekati bahaya yang lain. Lolos dari harimau dan gorila, ternyata menghadapi binatang air yang tak kalah ganas. Dan ketika dari kiri dan kanan bergerak tiga buaya yang lain, maka Ong-twako meloncat dan menusukkan tombak bambunya untuk menolong teman.

"Krakk!" Tombak bambu itu patah. Si buaya mengipatkan ekor, dan laki-laki ini terpelanting, menjerit, dan mengaduh. Celaka sekali kecebur di rawa itu. Dan ketika tiga buaya yang lain meluncur dan membuka mulut lebar-lebar, tiba-tiba Ji-te melempar tali dan melasso temannya itu, menarik.

"Twako, naik!" Teriakan itu menyelamatkan laki-laki ini. Ong-twako menyambar, dan sudah gugup sekali, disendal, dan terlemparlah dia tinggi ke udara, jatuh berdebuk, dan terguling-guling di sana. Buaya pertama mengejar dan meluncur di air, untung dia dilasso dan dibetot dari rawa.

Dan ketika Ji-te berjungkir balik dan berseru keras, maka temannya itu menyambar tangannya, diajak lari. "Celaka, tempat ini tak ada yang aman, twako. Lari!" Ong-twako, si lelaki pertama, gemetar. Sekarang dia ketakutan juga, karena di mana-mana tak ada tempat yang enak.

Mereka kehilangan senjata, dan dengan tangan kosong saja mereka diharuskan menghadapi semua bahaya itu, tak pelak lututnya menggigil, dan ketakutan temannya menular. Kini dia tak memaki-maki temannya itu lagi, karena hampir saja dia disergap buaya. Kalau tak cepat temannya menolong, tentu dia sudah tinggal nama. Ah, mengerikan sekali kejadian itu.

Dan karena mereka mulai dikejar-kejar bahaya, dan laki-laki ini menyesal kenapa tak kembali ke perahunya saja, maka dia mengajak untuk keluar hutan, kembali. "Apa? Kembali? Sesudah demikian jauh kita memasuki hutan ini? Ah, tak mungkin, twako. Aku sudah tak ingat jalannya. Tadi kau tak mau!"

"Maaf, tadi aku tak menduga semuanya ini, Ji-te. Aku tak mengira kalau tempat ini penuh bahaya." "Dan kau nekat. Tadi kau memaki-maki aku!" "Maaf, ak? Menyesal, Ji-te. Biarlah sekarang aku mencari jalan, dan kita memutar." Namun terlambat. Mereka kini sudah tersesat di dalam hutan, pohon-pohon yang rimbun dan gelap tak dapat membuat mereka menentukan arah.

Ke manapun pergi, rasanya masih berkisar di tempat itu-itu juga, pohon-pohon yang lebat dan dingin. Bahkan sekali hampir saja ke tempat rawa itu, daerah yang dihuni oleh empat ekor buaya! Dan ketika mereka gemetaran dan menggigil pucat, akhirnya lelaki she Ong jatuh terduduk, dan tampak putus asa.

"Kita tak dapat kembali. Kita kehilangan arah!" "Apa yang harus dilakukan?" "Entahlah, aku bingung, Ji-te. Maaf!" Lelaki itu tiba-tiba menangis, membuat Ji-te tertegun, dan lelaki yang sebenarnya juga ketakutan ini mengeluh. Tanpa terasa, dia pun mengeluarkan air mata, dan dua laki-laki gagah itu menangis.

Namun ketika mereka kebingungan dan menangis di situ, mendadak terdengar suara berkeresek, dan seekor kelinci liar melompat dari sebuah lubang. "He, lihat itu!" Ong-twako menoleh. Dia juga mendengar suara itu, mula-mula mengira ular, dan bersiap waspada. Hati kebat-kebit, dan perasaan jerih sudah mencekam dirinya terlebih dulu.

Tersesat di hutan memang membuat orang ingin berteriak-teriak, melolong, atau melakukan apa saja agar diselamatkan. Namun karena hutan itu tak ada manusianya, dan penghuninya hanyalah hewan buas semata, maka laki-laki ini tertegun melihat ada binatang lain di situ, kelinci.

"Ah, kita tangkap, Ji-te. Jadikan penangsel perut!" Dua laki-laki itu bergerak. Memang Ji-te juga sudah berpikir begitu, perutnya lapar, dan tiba-tiba berkeruyuk. Dapat menangkap kelinci ini adalah sebuah keuntungan.

Tapi ketika mereka menubruk, dan kelinci meloncat, ternyata tubrukan luput, dan kepala mereka pun malah saling beradu, terlampau terburu-buru. "Dukk!" Ong-twako mengomel. Dia memaki temannya yang dianggap bodoh, Ji-te juga balas memakinya, namun mereka berdua sudah tidak bertengkar lagi, meloncat, dan menubruk kelinci gemuk itu.

Namun ketika si kelinci melejit, dan meloncat tinggi, tiba-tiba binatang ini berkuik, dan sudah melewati kepala Ji-te, meloncat-loncat, dan lari memasuki lubang dari mana dia tadi keluar. "Ah, tangkap, Ji-te. Pergunakan lasso-mu!" "Jrrtt!" Ji-te sudah melakukan pekerjaan ini, secepat kilat melasso, dan gemas pada kelinci lincah itu.

Binatang itu sudah tiba di mulut lubang, dan sedetik terlambat, tentu mereka gagal. Dan ketika kelinci itu terjirat, dan kaki belakangnya kena lasso, maka binatang ini meronta-ronta, dan Ji-te tertawa bergelak, merasa lucu, juga girang. Sejenak melupakan bahwa dirinya di hutan siluman!

"Ha-ha, kena, twako. Kena!" Temannya tertawa lebar. Melasso, dan menjirat kelinci gemuk, tiba-tiba menimbulkan kegembiraan tersendiri. Segala ketakutan, dan keputusasaan lenyap sedetik, gembira melihat tingkah kelinci gemuk yang meronta-ronta.

Dan ketika Ong-twako bergerak, dan menangkap kelinci itu, maka tangannya sudah mengetok, dan menjewer telinga kelinci...

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment