Halo!

Istana Hantu - Chapter 03

Memuat...
Istana Hantu

Chapter 03

"Ha-ha, kau tak dapat lari. Ayo kami panggang!" Ji-te mengangguk. Dia sudah berkelebat mencari daun dan ranting-ranting kering, kayu bakar yang banyak terdapat di situ. Dan ketika temannya sudah membunuh dan menguliti binatang itu, maka api unggun pun menyala dan mereka tertawa-tawa memanggang daging kelinci itu.

"Ah, sedap sekali. Kelinci yang benar-benar gemuk dan sehat!" "Dan kita tak lapar lagi, Ji-te. Daging kelinci ini nikmat dan lezat sekali!" "Ya, dan kita dapat mencarinya lagi...." "Eh!" Temannya tiba-tiba tertegun. "Kau tak menyelidiki lubang itu, Ji-te? Siapa tahu ada guha atau apa?" "Hm," Temannya mengangguk. "Boleh jadi, twako. Biarlah kulihat!" Laki-laki itu meloncat, membuang sisa makanannya dan Ong-twako pun bergerak, memadamkan api unggun dan mengikuti temannya pula.

Dan ketika Ji-te menguak dan melihat lubang itu ternyata sesuatu mengejutkan sekaligus menggirangkan mereka berdua. "Ah, sebuah guha. Benar sebuah guha!" Ji-te menggali dan tiba-tiba menyambar potongan kayu unggun, membabat semak-semaknya dan tampaklah di depan mereka sebuah guha yang kecil, mula-mula mulutnya yang gelap dan tiba-tiba berlompatan kelinci-kelinci gemuk dari dalam, mengejutkan mereka tapi sekaligus membuat gembira.

Dan ketika dua tiga ekor kelinci ditangkap dan dijepit telinganya maka mereka tertawa bergelak melihat tempat persembunyian yang bagus. "Ha-ha, sementara ini beruntung, twako. Dapat persembunyian sekaligus bahan makanannya!" "Ya, dan kita masuk, Ji-te. Tempat ini jelas aman!" "Bagaimana kau tahu?" "Eh, bukankah kelinci-kelinci ini bersembunyi di sana? Kalau ada bahaya tak mungkin mereka di situ, Ji-te. Ayo masuk dan kita buat obor!" Ong-twako tertawa bergelak, melempar kembali kelinci yang ditangkap dan temannya pun terbahak.

Memang benar, dia baru mendusin. Dan karena tempat itu jelas aman dan tak mungkin ada ular atau binatang buas lainnya maka Ji-te melompat dan memasuki guha itu, mula-mula harus hati-hati namun akhirnya dia gembira. Guha itu luas di dalam sempit di luar. Dan begitu mereka masuk dan guha benar-benar lebar dan luas akhirnya dua orang itu tertawa bergelak dan sebuah obor sudah ada di tangan.

"Ha-ha, ini tempat aman, Ji-te. Kita dapat beristirahat atau tidur dulu di sini!" "Ya, dan kita sementara lega. Tak ada musuh atau binatang mengganggu. Aku puas!" Dan Ji-te yang melonjak serta berjingkrak girang tiba-tiba berlarian dan memeriksa isi guha, melihat batu-batu runcing di atas dan tertawa senang. Mereka seolah mendapat tempat menggembirakan setelah tegang di luar sana, dikejar dan diburu-buru bahaya.

Dan ketika mereka mendapat kenyataan bahwa guha itu juga bersih maka Ji-te sudah melempar tubuhnya untuk beristirahat, merasa mengantuk setelah perut kenyang. Menikmati kelinci panggang tadi sudah tak membuat mereka kelaparan lagi, Ong-twako juga melempar tubuh dan mengusap keringatnya. Luka di lengan sudah dibalut dan mereka bercakap-cakap sejenak, menghilangkan ketegangan dengan cara begitu santai, obor ditancapkan di sudut dan mereka dapat melihat ke mana-mana.

Dan ketika dua lelaki itu mulai menguap dan kantuk sudah menyerang mereka maka keduanya pun terguling dan akhirnya tidur. Merencanakan bahwa besok mereka akan mencari jalan keluar dan kembali ke perahu, tentu saja tak mau berlama-lama di pulau Sam-liong-to itu, meskipun sudah di guha yang aman. Tapi begitu mereka terlelap dan kantuk menyerang dengan hebat tiba-tiba suara menggeram terdengar di luar guha dan gorila jantan ternyata ada di situ, mau memasuki mulut guha namun masih terlalu sempit bagi tubuhnya yang besar!

Suara ini tak didengar dua laki-laki itu. Ji-te dan temannya terlampau lelah, mereka diguncang dan ditegangkan peristiwa sehari. Maklum saja, mereka tak mengetahui bahwa isi pulau Sam-liong-to adalah binatang-binatang buas, bahkan gorila yang tahan bacokan senjata tajam.

Dan ketika suara itu masih juga tak membangunkan mereka dan gorila jantan menggaruk serta mengorek batu-batu di luar akhirnya mulut guha melebar dan memberosotlah tubuh binatang tinggi besar itu, berjalan dengan langkah berat dan yang dihampiri adalah lelaki she Ong. Geramannya kini terdengar menggetarkan guha dan laki-laki itu tiba-tiba bangun.

Betapapun, nalurinya merasa diancam bahaya dan laki-laki itu membuka mata. Tapi begitu dia bangun dan membuka mata tiba-tiba gorila ini sudah menerkamnya dan dua lengan berbulu yang amat kuat dan panjang telah mencekik lehernya. "Auhh....!" Teriakan atau pekik yang terhenti itu mengejutkan Ji-te. Lelaki ini membuka mata dan melompat bangun, tentu saja kaget.

Dan begitu dia tahu betapa gorila jantan telah memasuki guha dan temannya kini meronta-ronta tiba-tiba lelaki itu pucat dan memekik. "Twako...." Dan menerjang serta menghantam binatang itu tiba-tiba Ji-te berusaha membebaskan temannya, tepat mengenai punggung namun binatang raksasa itu tak bergeming. Pukulannya membalik dan Ong-twako mendelik. Dia meronta dan menendang-nendang namun si gorila tak apa-apa, membuat Ji-te pucat dan menerjang lagi.

Dan ketika temannya mengeluh dan gorila menggeram tiba tiba cekikannya diperkuat dan terdengarlah suara "krak" Di mana temannya tiba-tiba terkulai. Tulang lehernya patah dan seketika lelaki she Ong tewas. Ji-te terbelalak dan kaget sekali, juga marah, di samping gentar.

Dan ketika gorila mencabik dada temannya dan menggigit di situ maka Ji-te ngeri sekali melihat gorila ini telah menancapkan taringnya dan..... menggigit sepotong jantung, yang penuh darah. "Twako....!" Ji-te sekarang menyadari bahaya, tiba-tiba membalik dan melarikan diri. Pucatlah mukanya dan menangislah tersedu-sedu lelaki itu berkelebat keluar guha dan rasa kantuk tiba-tiba hilang.

Dan begitu ia berteriak-teriak dan lari menerabas hutan maka seperti orang gila lelaki ini tak menghiraukan lagi ke mana ia lari, pokoknya lari dan lari. Ke mana saja yang kira-kira dapat menyelamatkan dirinya. Sepotong jantung yang membekas di ingatannya itu tak dapat dilupakannya, lelaki ini histeris dan menjerit-jerit.

Dan ketika tiba- tiba di samping kanan terdengar geraman dan gorila betina muncul tiba-tiba lelaki itu seakan terbang semangatnya dan mengeluh. "Ooh.....!" Ji-te jatuh bangun. Dia pucat bukan main melihat betina itu, tadi yang jantan sekarang yang betina.

Lari sipat kuping dan binatang-binatang lain tiba-tiba juga berloncatan menghilang. Geraman gorila betina itu ternyata membuat jerih semua penghuni hutan, lelaki ini tak terganggu di depan dan larilah dia secepat-cepatnya.

Dan karena semangatnya seakan terbang dan entah bagaimana mendadak ia seakan mendapat tambahan tenaga baru tiba-tiba lelaki itu sudah terbang dan kebetulan dia dapat menemukan jalan semua, melihat mulut hutan dan tampaklah perahu layarnya di pasir yang lunak itu, tak bergerak dan masih berada di tepi pantai, aman.

Bukan main girang dan leganya laki-laki itu, langsung saja dia berteriak dan menuju pantai, melihat laut yang biru dan ombaknya yang membuih. Dan begitu ia tiba di tempat ini dan gorila betina tersaruk-saruk mengejar maka laki-laki itu menyambar perahunya dan langsung melemparnya ke laut.

"Byurr!" Dia cepat meloncat. Gorila betina sudah tinggal beberapa tombak lagi di belakang, hewan berlangkah berat itu tak putus asa mengejarnya. Tapi begitu dia meloncat di perahu dan mengayuh menjauh maka binatang itu pun tertegun dan terbelalak di tempat. Matanya yang bulat kecil bersinar-sinar dan tentu saja ia tak dapat mengejar.

Ia adalah binatang darat, bukan binatang air. Maka begitu lawan melarikan diri dan cepat kemudian sudah ke tengah laut maka binatang ini termangu dan tampaknya kecewa. "Haram jadah! Terkutuk kau, binatang keparat. Terkutuk!" Ji-te memaki-maki di atas perahunya, menjauh dan mendayung cepat dan tiba-tiba ia menggigit bibir.

Tenaga yang dipacu untuk menyelamatkan diri sekarang terasa menghabiskan dirinya, Ji-te pusing namun ia mencoba bertahan, mengutuk dan mencaci maki binatang itu dan akhirnya gorila di pantai pun menghilang. Sekarang dia sudah jauh dan aman dari segala marabahaya itu.

Dan ketika perahu terus didayung tapi laki-laki ini mengeluh mendadak perahu berhenti dan laki-laki itu ambruk, tak kuat lagi menjalankan perahunya dan kenangan hebat di atas pulau membuat Ji-te seram. Ketakutan dan kengerian membuat laki-laki ini letih, lahir batin.

Dan karena ia juga baru mengerahkan segenap tenaganya untuk melarikan diri dari pulau Sam-liong-to itu maka laki-laki ini pun akhirnya roboh dan pingsan tak sadarkan diri, membiarkan perahunya hanyut dan terombang-ambing oleh ombak.

"Hei, lihat. Liong-ko (kakak Liong). Ada orang pingsan!" Dua muda-mudi, yang sedang berlayar dengan tenang mendadak melihat perahu Ji-te. Si gadis, yang berteriak menudingkan telunjuknya tiba-tiba tertegun. Mereka berada di laut yang luas dan temannya, seorang pemuda tampan berambut keemasan tiba-tiba menoleh, terkejut dan tertegun juga.

Tapi begitu mengangguk dan menyambar dayung sekonyong-konyong dayung itu bergerak dan menepuk permukaan air. Dan begitu laut berkecipak dan perahu terangkat naik tiba-tiba perahu itu sudah melesat dan terbang ke depan, jatuh lagi di air tapi segera melesat lagi, terbang dan meluncur lagi bagai kecapung menari-nari di atas permukaan air. Sekali melesat berjarak puluhan tombak.

Dan ketika enam tujuh kali perahu itu meluncur dan "terbang" Dengan cara yang aneh maka dua muda-mudi di atas perahu itu akhirnya sudah mendekati perahu Ji-te, menempel. "Benar, dia pingsan. Coba kita sadarkan!" Si pemuda, yang tampan dan berambut keemasan sudah mengikat dan mengait perahunya dengan perahu lawan.

Gerakannya cepat dan ringan, tangkas dan menunjukkan seorang pamuda hebat. Melihat sinar matanya yang mencorong saja orang akan tahu bahwa pemuda ini seorang ahli lweekeh (tenaga dalam) yang mahir, gerak-geriknya tenang namun cekatan.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment