Chapter 04
Ketika temannya sudah meloncat ke perahu Ji-te dan menolong laki-laki itu, Ji-te mengeluh ketika membuka matanya. "Ah, Hai-sian-li (Dewi Laut).....!" Serunya, begitu beradu pandang dengan si gadis cantik. Laki-laki ini malah bengong dan terkejut, kekagumannya memancar terang-terangan, dan dia tidak ingat di mana dia berada.
Tapi ketika pundaknya dicengkeram dan laki-laki ini merasa sakit, tiba-tiba ia sadar, namun juga kaget mendengar suara yang nyaring galak, pertanyaan kaku. "Kau anak buah bajak?" Ji-te mengeluh. "Aduh, lepaskan, nona," Katanya. "Bagaimana kau menuduhku demikian? Aku orang baik-baik, bukan bajak atau anggauta bajak!"
"Tapi pakaianmu robek-robek, berpercikan darah! Bukankah kau habis bertempur?" "Ah, benar. Tapi...., ehl" Sebuah tangan yang lembut namun kokoh mengangkat cengkeraman di pundaknya, Ji-te melihat orang ketiga di situ, si pemuda tampan berambut keemasan.
Dan ketika dia terbelalak dan tertegun tak meneruskan kata-katanya, maka pemuda ini, yang lembut namun bermata tajam, menegur temannya, si gadis cantik. "Eng-moi (adik Eng), lepaskan orang ini. Kita tak dapat menuduhnya bajak atau bukan dengan melihat bekas-bekas darah di pakaiannya. Dia tampaknya terguncang oleh sesuatu, biarkan ia tenang dan memperkenalkan diri."
"Hm," Gadis itu, yang dipanggil Eng-moi, melepaskan cengkeramannya. Memang dialah yang mencengkeram laki-laki ini. Dia tadi merasa merah dan panas mukanya karena dipandang seperti itu. Kalau saja pandang mata Ji-te berkesan kekurangajaran, tentu dia sudah membanting laki-laki ini di laut. Tampaklah bahwa dia seorang gadis yang keras.
Dan ketika temannya mendorong sabar dan dia mendengus, maka Ji-te sekarang melongo melihat ketampanan yang aneh namun mempesona dari pemuda berambut keemasan ini. "Kongcu siapakah?" Tanyanya, kagum. "Apakah Dewa Laut penguasa lautan ini?" "Hm, aku Thai Liong, sobat. Kim Thai Liong. Sedang itu adikku Kim Soat Eng."
"Eh!" Soat Eng, gadis itu menegur. "Kenapa memperkenalkan diri, Liong-ko? Dia itulah yang harus bercerita, bukan kita!" "Maaf," Ji-te terkejut, menyadari kegalakan gadis ini. "Aku Ji Pin, nona. Aku orang she Ji yang malang." "Nah, begitu!" Gadis itu mencibir. "Ceritakan apa yang kau alami, orang she Ji. Bukan malah bertanya atau ingin mengetahui siapa kami!"
"Maaf, aku.... aku tersesat. Aku baru saja berkelahi dengan seekor ikan hiu!" "Hm, bohong. Di sini tak ada hiu!" Soat Eng, gadis itu membentak. Dia tak segan-segan melotot marah, dan Ji Pin, laki-laki itu terkejut. Sekarang lelaki ini sadar bahwa di situ memang tak ada hiu. Namun tentu saja tak mau berterus terang tentang Sam-liong-to dan segala kejadian yang menimpanya, laki-laki ini mengerutkan alis, sudah menemukan jawaban.
"Memang benar, tapi jauh dari sini aku bertemu ikan hiu, nona. Dan aku telah bertarung dengan ikan yang ganas itu. Aku dikeroyok, melarikan diri, dan akhirnya pingsan." "Kau tidak bohong?" "Hm, sudahlah." Thai Liong, pemuda berambut keemasan itu menarik tangan adiknya. "Dia bohong atau tidak bukan urusan kita, Eng-moi. Yang penting kita sudah menolongnya, dan dia selamat. Barangkali Ji-twako ini tak suka kita banyak bertanya,"
Dan, menghadapi lelaki itu, Thai Liong menjura. "Twako, maaf. Kami girang melihat kau tak apa-apa. Rupanya kau betul, kau habis bertarung dan pingsan oleh kelelahan dan ketakutan. Aku telah memeriksa denyut nadimu tadi. Biarlah kita berpisah, dan harap kau hati-hati!" Kemudian, menarik tangan adiknya dan tidak mau banyak bicara lagi, mendadak pemuda tampan ini meloncat, naik di perahunya sendiri.
Dan begitu dia melempar senyum dan menyambar dayung, tiba-tiba perahu melejit dan terbang ke depan, naik dan melompat-lompat seperti capung. "Byur..... byur.....!" Ji Pin ternganga. Dia melihat dua muda-mudi itu sudah jauh meninggalkan dirinya, perahu meloncat-loncat dengan cara yang aneh namun luar biasa. Tak lama kemudian sudah hilang dan lenyap di sana.
Dan sementara dia melenggong dan membelalakkan matanya, maka gadis di atas perahu itu mengomel. "Huh, kenapa manis budi kepadanya, Liong ko? Kalau aku tak usah permisi, pembohong itu tak perlu diberi sopan!" "Sudahlah," Thai Liong tersenyum. "Kau pemarah benar, Eng-moi. Memangnya kenapa bermanis budi kepada orang lain? Hal itu baik, tak merugikan kita sendiri."
"Tapi aku merasa sebal. Orang she Ji itu jelas berbohong!" "Benar, karena itu tak perlu kita mendesaknya, Eng-moi. Kalau seseorang tak ingin diketahui rahasianya, tentunya kita tak usah tahu. Biarlah kita tak usah pikirkan dia, dan berlayar sendiri." "Hm, kau terlalu sabar. Kau persis ayah!" Dan Soat Eng yang marah-marah membanting kaki, akhirnya menyambar kail dan memancing, melepas kemendongkolan, dan Thai Liong tersenyum.
Pemuda ini tak marah, dan kini perahunya melaju lambat. Tapi ketika mereka bersantai, dan perahu menentang ombak, tiba-tiba terdengar jerit di kejauhan, dan Ji Pin berteriak-teriak. "Tolong..... tolong.....!" Thai Liong bangkit berdiri. "Ada apa?" "Huh, kena apa? Tak usah menggubrisnya, Liong-ko. Biar saja orang itu mampus!" "Tapi...." "Sudahlah!" Adiknya menyambar dayung. "Kita jauhi si pembohong itu, Liong-ko. Tak usah menggubris dia, dan biar disergap hiu!"
"Benar!" Kakaknya berseru. "Aku melihat sirip-sirip hiu di sana, Eng-moi. Laki-laki itu benar diserang hiu!" "Perduli amat!" Adiknya menyambar dayung, mendahului sang kakak. "Aku sebal pada orang she Ji itu, Liong-ko. Hayo kau memancing, dan biar aku mendayung..... byur-byur!" Dan perahu yang kini meloncat-loncat dikemudikan gadis cantik itu, tiba-tiba menjauhi dan malah meninggalkan laki-laki she Ji, tak perduli pada teriakannya, dan pancing sudah dilempar kepada kakaknya.
Thai Liong terkejut, tapi tiba-tiba membuang pancing, meloncat pada adiknya, dan merebut dayung. Dan ketika sang adik terpekik dan melotot marah, maka perahu diputar, dan pemuda itu kembali ke perahu Ji Pin. "Tidak, kita harus menolongnya, Eng-moi. Belasan ekor hiu mengepung perahunya. Lihat, jangan kejam!" Dan perahu yang meloncat-loncat, kini melejit seperti ikan lumba-lumba, mendadak sudah melesat dan terbang mendekati perahu Ji Pin, diteriaki adiknya, tapi perahu tetap meluncur.
Dua kali Soat Eng merampas dayung, namun kakaknya menepis, membentak gadis itu. Dan ketika Soat Eng terbelalak, dan di sana Ji Pin sudah dikeroyok dan dikepung belasan hiu ganas yang menyundul-nyundul perahunya, mendadak perahu laki-laki itu terguling, dan terlemparlah dia ke laut. "Heii.....!" Namun sebuah bayangan putih berkelebat. Thai Liong, pemuda berambut keemasan itu, mendadak keluar dari perahunya, yang masih belasan tombak dari perahu Ji Pin.
Dan begitu dia berjungkir balik dan berseru keras, tiba-tiba pemuda ini sudah menggerakkan kedua kakinya terbang di atas permukaan air, melompat dan berjungkir balik dari satu punggung ikan hiu ke punggung yang lain, cepat dan luar biasa, dan orang hanya melihat ia menotol-notolkan kakinya di punggung-punggung ikan hiu itu. Dan ketika ia dekat dengan orang she Ji ini, dan laki-laki itu pucat tercebur di laut, maka Thai Liong sudah bergerak, dan kedua tangannya menyambar punggung laki-laki itu, sementara kakinya menendang perahu yang terbalik agar berdiri lagi di atas permukaan air laut.
"Siut-dess!" Ji Pin sudah berada di atas perahunya lagi. Dengan gerak luar biasa dan mengagumkan, pemuda tampan itu telah mengembalikan posisi perahu, telentang dan tidak tengkurap lagi. Dan begitu ia berjungkir balik dan melempar tubuh laki-laki ini, maka Ji Pin terbanting, namun selamat di atas perahunya sendiri, yang sudah tidak terbalik.
"Bress!" Laki-laki itu ternganga. Thai Liong, penolongnya, kini berkelebatan di atas punggung ikan-ikan hiu itu. Dengan kedua tangan atau kakinya, pemuda ini beterbangan mengusir hiu-hiu ganas itu, membentak dan mendorong atau memukul, dan segera ikan-ikan hiu itu tenggelam, banyak di antaranya yang merasa tak kuat menahan injakan pemuda itu. Thai Liong telah menakut-nakuti ikan-ikan ini dengan tenaga Seribu Katinya, Jing-kin-kang.
Dan ketika tangannya juga bergerak memukul atau mendorong, akhirnya semua hiu menyelam, dan gentar ditendang atau ditampar telapak pemuda itu. "Des-dess!" Thai Liong seakan menari-nari di tengah laut. Belasan ikan hiu yang diguncang dan dikejutkan sepak terjangnya tiba-tiba menyelam, terakhir dua ekor hiu berputar, membawa pemuda itu, yang melekat di atas punggungnya.
Satu diinjak, dan yang satu lagi dibuat batu loncatan. Dua ekor hiu ini agaknya merupakan pemimpin, dan tak mau segera pergi. Tapi ketika Thai Liong menepuk kepalanya, dan hiu itu seakan dipukul palu godam, maka ikan ini menyelam, dan pemuda itu cepat berjungkir balik ke perahunya sendiri, berseru pada Ji Pin. "Hei, cepat pergi, Ji-twako. Aku tidak membunuh ikan-ikan ini!"
Ji Pin malah melongo. "Kau mau melihat kakakku berdemonstrasi lagi?" Soat Eng, gadis di perahu, melengking. "Pergi, dan jangan bengong di situ, orang she Ji. Atau aku akan menghalangi kakakku kalau coba-coba menolongmu lagi!" "Tidak, eh..... terima kasih!" Ji Pin sekarang sadar, kagum, dan kaget. "Tapi di sana itu masih banyak teman-temannya, nona. Aku dikepung!" Ternyata hiu-hiu yang lari itu hanya menjauhi Thai Liong. Ji Pin sendiri, dengan perahunya, ternyata dikepung dari jauh.
Hiu-hiu itu pintar; mereka menjauhi Thai Liong, tapi tidak menjauhi Ji Pin! Dan ketika lelaki itu pucat, dan menuding ke sana, maka Soat Eng melihat benar saja puluhan ikan hiu kini menanti, dan menunggu untuk menyerang Ji Pin! "Nah," Gadis itu malah mengejek. "Kalau kau berani, harap ke sini saja, orang she Ji. Coba berenang, dan dekati perahu kami!"
"Mana bisa?" Laki-laki itu terbelalak. "Perahumu jauh, nona. Aku tak mungkin terbang. Aku tidak seperti kakakmu yang memiliki ilmu meringankan tubuh yang begitu tinggi!" "Kalau begitu kami tak menunggumu. Terserah kau mau di situ, atau pergi!" Dan menyambar dayung, dan waspada terhadap kakaknya, gadis ini memukul permukaan air, dan perahu pun meloncat, terbang, dan melejit, dan segera meninggalkan tempat itu.