Halo!

Istana Hantu - Chapter 05

Memuat...
Istana Hantu

Chapter 05

Ikan hiu aneh sekali menyingkir begitu perahu si gadis lewat, rupanya tahu atau mencium keberadaan Thai Liong, si pemuda lihai yang telah menggebah dan memukul-mukul mereka.

Ketika perahu lewat dan Ji Pin ketakutan, lelaki itu bergerak dan berteriak, "Hei, tunggu, nona. Biar aku ikut di belakangmu!" Dan mengejar serta menyambar dayungnya, tiba-tiba Ji Pin menggerakkan perahu dan pucat serta gentar, mengikuti tapi dia kalah cepat.

Perahu yang ditumpangi Soat Eng sebentar saja sudah terbang di depan, Thai Liong mula-mula ragu dan bimbang mencegah adiknya, mengharap laki-laki itu mengikuti mereka dan menganggap itulah jalan paling baik. Laki-laki itu dapat menempel mereka sementara dia sendiri tak usah menyakiti hati adiknya.

Tapi ketika adiknya mengerahkan tenaga dan perahu melesat seakan terbang, maka Ji Pin tentu saja ketinggalan dan hiu-hiu itu mulai bergerak untuk menyerang laki-laki ini. "Eh, tunggu, Eng-moi, jangan begitu. Kalau kau tak suka aku menolongnya, biarkan ia mendekati perahu kita dan dekat di belakang!" "Huh!" Gadis itu mendengus. "Dua kali kita menolong nyawanya sudah cukup, Liong-ko. Tak usah menolong untuk ketiga kali karena ini hukuman baginya. Orang she Ji itu pendusta, biar ia mampus dan dimakan hiu!"

"Tidak, jangan Eng-moi. Kuminta agar bersabar sedikit dan kembalilah..." "Aku tak mau!" "Kalau begitu kau tunggu di sini, biar aku menolongnya..." Dan Thai Liong yang melempar dua potong papan ke tengah laut tiba-tiba berjumpalitan dan hinggap di dua papan ini. Lalu begitu dia mengerahkan ilmu kepandaiannya dan bergerak ke depan, maka pemuda ini sudah meluncur dan seperti orang berjalan di atas permukaan air.

"Ser-ser!" Soat Eng terbelalak. Tentu saja ia menghentikan perahunya. Kakaknya telah mengerahkan ilmu meringankan tubuh dan Ji Pin berteriak-teriak di sana. Laki-laki ini sudah diserang dan disundul-sundul perahunya. Entah kenapa hiu-hiu itu selalu ingin menyerangnya. Tapi begitu dia melihat perbuatan Thai Liong dan cepat serta luar biasa pemuda itu sudah menghampirinya, maka Thai Liong berseru mendepak kepala ikan-ikan hiu itu, dengan ujung papannya. "Pergilah, ayo pergi.... duk-duk!" Dan kepala ikan-ikan hiu yang terpental dan terdorong balik tiba-tiba menyelam dan kembali ketakutan melihat datangnya pemuda ini.

Beberapa di antaranya menyerang, namun Thai Liong dengan mudah memukul. Pemuda itu dengan lihainya menghajar puluhan hiu-hiu yang ganas ini, sepasang papan di bawah kakinya seakan selancar yang dapat membawa dia ke mana saja, ke kiri atau ke kanan dan ke muka atau belakang. Thai Liong seakan di darat bukannya di air!

Dan ketika hiu-hiu itu kembali menyelam dan Ji Pin bengong, maka pemuda itu melompat ke atas perahunya dan berseru. "Sekarang kau ikut aku, perahumu bocor.... wut!" Dan Thai Liong yang menyambar serta memanggul laki-laki itu tiba-tiba sudah meloncat lagi ke laut dan... berjalan menggerak-gerakkan kedua kakinya di atas permukaan air!

"Ser-ser!" Ji Pin melongo. Sekarang pemuda itu menuju ke perahunya sendiri. Perahu Ji Pin, yang bocor dan diserang ikan-ikau hiu, ternyata tenggelam, terbalik, dan sudah tak dapat dipergunakan lagi. Dan begitu pemuda itu bermain "selancar" dan cepat serta ringan mempergunakan dua potong papan menyelamatkan laki-laki ini, maka pemuda itu sudah mendekati perahu adiknya dan melempar laki-laki itu di sana.

"Bruk!" Ji Pin masih bengong. Tadi laki-laki itu melihat betapa dengan caranya yang luar biasa pemuda ini berjalan di atas air, menggerak-gerakkan kedua kaki dan sepasang papan di bawah kakinya itu melekat seperti lintah, tak pernah lepas, dan selalu melekat di kaki pemuda itu. Tanda bahwa dengan sinkangnya yang luar biasa pemuda ini mampu menyedot papan hingga benda itu mirip sepatu, sepatu air yang aneh.

Tapi ketika dirinya ditendang dan Soat Eng, gadis yang galak itu, berseru agar dia mendayung, maka Ji Pin tersentak dan geragapan meloncat bangun. "Hei, kini giliranmu bekerja, orang she Ji. Atau kulempar kau ke laut!" Laki-laki ini mengangguk. Dia masih bengong memandang Thai Liong, takjub. Tapi begitu dibentak dan disuruh mendayung, maka dia menyambar dayung, dan Soat Eng menyambar pancing, melihat puluhan hiu yang tadi menyelam sekonyong-konyong muncul kembali, memburu, dan mengikuti mereka.

Dan ketika Ji Pek I Nikouw pucat dan Soat Eng berseru keras, maka gadis itu telah meledak-ledakkan pancingnya menyerang ikan-ikan buas yang membuntuti perahu mereka itu. "Hei, enyah. Kalian enyah.... tar-tar!" Mata pancing meledak, melukai beberapa di antaranya, dan hiu-hiu itu mendadak sambar-menyambar. Darah temannya yang luka tiba-tiba merangsang mereka untuk membunuh.

Tiga di sebelah kiri yang terluka oleh pancing di tangan Soat Eng mendadak disergap temannya, diserang. Dan ketika gigit-menggigit terjadi di situ dan puluhan hiu tiba-tiba berebutan mangsa, mendadak laut menjadi merah, dan Thai Liong berteriak. "Jangan menyerang!" Dan merampas pancing adiknya agar tidak melukai ikan-ikan itu, tiba-tiba pemuda ini menyambar dayung di tangan Ji Pin.

Lalu, begitu dia membentak dan melihat tiga pulau di depan, tiba-tiba pemuda itu sudah menerbangkan perahunya ke sana, ke pulau Sam-liong-to! "Hei, jangan ke sana. Itu Sam-liong-to!" Thai Liong terkejut. "Kau yakin?" "Tentu, aku... aku baru saja ke sana, kongcu. Itu Sam-liong-to, berbahaya!" Dan Ji Pin yang kaget serta tidak berbohong lagi tiba-tiba pucat mukanya dan meminta agar Thai Liong tidak ke pulau itu, tentu saja mengenal Sam-liong-to karena dia telah mendarat di pulau ini. Pulau yang ganas dan berisi binatang buas.

Dan ketika laki-laki itu terbelalak dan pucat mukanya mendadak, Soat Eng menyambar pundaknya. "Hm, jadi kau baru saja dari pulau itu? Kau berbohong kepada kami kalau bertempur melawan hiu-hiu yang ganas?" "Benar," Lelaki ini pucat. "Tapi aku berusaha menyelamatkan diriku, nona. Aku... aku terpaksa berbohong karena kalian berdua belum kukenal baik!" "Bagus, dan sekarang kau masih juga menyangsikan kami? Kau kira kami orang-orang jahat yang tak dapat kau percaya? Dua kali kakakku menolongmu, orang she Ji. Dan itu sudah cukup membuktikan padamu macam apakah kami berdua ini. Hayo ceritakan pada kami tentang Sam-liong-to, kebetulan kami berdua juga mencarinya!" "Nona... nona mau ke sana?" "Ya, dan kami bukan berpesiar!" "Nona mau mencari harta karun?" "Keparat, kami bukan orang-orang mata duitan, orang she Ji. Orang tua kami cukup kaya hingga tak perlu kami mencari harta!" "Tapi pulau itu menyimpan harta karun....!" "Kami tak perduli, kami ada urusan lain!" "Kalau begitu nona mencari apa?" "Eh, kenapa cerewet amat, orang she Ji? Perlukah urusan kami kau ketahui? Kau tak berhak bertanya, hanya menjawab! Nah, ceritakan padaku apa isi pulau itu dan bagaimana keadaannya!" "Hm," Thai Liong, pemuda tampan yang tetap bersikap tenang dan tersenyum itu, mendinginkan perasaan Ji Pin.

"Kami bukan orang-orang yang tamak akan harta, Ji-twako. Kami mencari Sam-liong-to karena terus terang saja ingin menemukan Istana Hantu. Orang tua kami memerintah kami untuk menemukan tempat itu, bukan untuk urusan harta melainkan urusan pribadi!" "Dan... dan kalian dari mana? Bolehkah aku tahu?" "Cerewet, kau pernah mendengar nama Kim Houw Eng (Pendekar Rambut Emas)? Itulah ayah kami, dan ibuku adalah Hu Swat Lian, puteri Hu Taihiap si jago pedang!" "Oh, jadi ji-wi kongcu dan siocia ini putera puteri Kim-taihiap (pendekar besar Kim)? Ah, tentu saja aku mendengar namanya, siocia. Kalau begitu kebetulan, aku dapat minta tolong kalian!" Dan Ji Pin yang tiba-tiba menjatuhkan diri berlutut di depan dua muda-mudi itu mendadak menangis dan meratap. "Siocia, temanku Ong Lun dibunuh gorila buas. Tolong kau balaskan sakit hati ini dan bunuhlah binatang itu. Aku akan menceritakan semuanya kepada kalian!" Namun Thai Liong yang tiba-tiba berseru dan menjentik kerikil-kerikil kecil mendadak berteriak pada Ji Pin agar berpegang erat-erat pada pinggir perahu, diserang empat hiu ganas, dan hampir saja laki-laki itu terpelanting.

Thai Liong mengusir empat hiu ganas ini dengan timpukan kerikilnya, yang membuat hiu itu kesakitan dan menyelam kembali. Dan ketika di belakang terlihat hiu-hiu yang lain mengejar dengan cepat, akhirnya Thai Liong berkata agar percakapan dihentikan dulu. "Semua bersiap. Aku akan menerbangkan perahu ini.... byur!" Dan perahu yang melejit dan meloncat tinggi di udara mendadak terbang dan jatuh lagi ke laut, meloncat, dan terbang lagi, dan segera kejadian semula dilihat laki-laki she Ji.

Orang itu menoleh ke belakang dan melihat bahwa tiga ekor hiu yang luka-luka sudah habis dimangsa temannya, kini ikan-ikan itu menjadi buas dan mau menyerang mereka, perahu ditumbuk, dan tadi Thai Liong cepat berseru pada dua temannya untuk berhati-hati. Dan ketika pemuda itu membentak dan perahu meluncur dan timbul tenggelam di antara ombak yang besar, tiba-tiba Ji-te pucat melihat datangnya awan yang gelap serta bergumpal-gumpal.

"Badai akan datang, awas...!" Thai Liong juga terkejut. Serangan ikan hiu segera disusul datangnya ombak yang besar, angin bertiup, dan awan di atas tiba-tiba juga bergulung-gulung. Semuanya berlangsung cepat. Dan ketika ombak di depan membukit setinggi rumah dan untuk pertama kali pemuda itu terteriak kaget, maka perahu terpental, dan hiu-hiu di belakang sekonyong-konyong hilang.

"Ah, Topan Siluman, kongcu. Kita akan diserang topan atau Badai Siluman!" "Bagaimana kau tahu?" "Arus putaran angin, kongcu. Sekarang angin berpusing, dan kita bakal terputar!" Benar saja. Thai Liong, yang lihai, tiba-tiba merasa menghadapi kekuatan dahsyat. Perahunya yang melaju ke depan mendadak tertahan oleh kekuatan angin yang luar biasa. Dua kali pemuda itu mendayung, namun dua kali pula perahunya terbanting. Untung, tidak terbalik.

Dan ketika hiu-hiu di belakang lenyap terganti dengan datangnya awan yang gelap, maka laut tiba-tiba berbuih, dan Soat Eng pucat.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment