Chapter 06
Liong-ko, kita harus mendarat! Ya, dan bantu aku, Eng-moi. Hiu-hiu itu pun agaknya takut menghadapi keganasan badai. Dan kau....! Serunya pada Ji Pin. Harap berpegang erat-erat pada pinggiran perahu, twako. Atau kami tak dapat menolongmu lagi kalau terlempar ke laut!
Ji Pin yang pucat namun menganggukkan kepala tiba-tiba melihat Soat Eng menyambar dayung di samping kakaknya, kebetulan ada dua dayung di situ dan mulai menyambar-nyambarlah angin serta kilat di situ. Suaranya menderu dan Ji Pin gemetar. Ombak sekarang menghantam perahu mereka dan Soat Eng serta kakaknya bertahan. Laut, yang tadi tenang sekonyong-konyong buas.
Halilintar meledak dan untuk pertama kali terlihatlah kilatan petir di atas kepala, suaranya menggelegar dan Ji Pin menutupi mukanya. Tapi begitu dia melepas pinggiran perahu dan lupa pada nasihat Thai Liong mendadak tubuhnya terlempar dan untung saja menumbuk tubuh pemuda itu. Hei... Pemuda itu terkejut. Berpegangan erat-erat pada pinggiran perahu, twako. Jangan dilepaskan! Laki-laki ini mengangguk.
Sekarang dia tak dapat bersuara, mukanya pucat dan seluruh tubuh pun menggigil. Badai, yang datang menyerang mereka sekarang suaranya gemuruh. Semua suara akan tertutup oleh suara badai ini, yang begitu hebat dan ribut. Thai Liong sendiri harus mengerahkan khikangnya untuk berteriak pada temannya tadi.
Dan ketika kakak beradik itu mati-matian menyelamatkan perahu karena sekarang perahu mereka terangkat dan terbanting diserang ombak maka perahu tiba-tiba anjlok ketika sebuah ombak mengangkat mereka tinggi-tinggi untuk akhirnya hilang begitu saja. Brakk! Perahu ini terbanting. Sam-liong-to, yang tadi terlihat sekonyong-konyong lenyap pula. Ombak yang terlampau tinggi menghalangi pandangan mata, Thai Liong terkejut dan adiknya juga berseru keras.
Dan ketika ombak kembali membawa mereka tinggi ke udara dan membanting lagi ke permukaan air maka Ji Pin muntah-muntah karena perutnya serasa diaduk-aduk. Aduh, mati aku, kongcu.... mati....! Thai Liong mengerutkan kening. Dalam keadaan begitu yang dikhawatirkan adalah pecahnya perahu. Hujan mulai turun dan mereka pun basah kuyup. Soat Eng mengomel dan memaki-maki.
Dan ketika halilintar dan badai semakin ribut tiba-tiba kembali perahu mereka diangkat tinggi dan dibanting ke bawah. Brakk! Ji Pin terpental. Nyaris saja laki-laki itu terlempar ke laut kalau tidak tetap berpegangan perahu, dia jungkir balik namun kesepuluh jarinya tetap mencengkeram pinggiran perahu, hal yang masih menyelamatkannya.
Dan ketika dia muntah-muntah dan kembali mengeluh maka Thai Liong yang tak dapat menguasai perahu tiba-tiba sekali lagi dihantam ombak, air mulai masuk dan perahu pun oleng. Kalau tidak mati-matian mereka mempertahankan diri tentu perahu sudah terbalik. Yang membuat bingung pemuda itu adalah hujan dan masuknya air laut, yang lain tak dikhawatirkan karena dia merasa sanggup mengatasi.
Dan karena dia dan adiknya sibuk menjaga keseimbangan perahu sementara air kian membanjir masuk maka pemuda ini coba berteriak pada Ji Pin apakah laki-laki itu dapat mengeluarkan air agar perahu tidak tenggelam, dijawab dengan gelengan dan laki-laki itu tampak lemah. Ji Pin seakan dibanting berkali-kali oleh perabu yang terangkat dan anjlok.
Dan ketika petir menggelegar di atas kepala dan ombak menelan perahu mereka tiba-tiba air sudah memenuhi perahu dan benda itu pun terbalik dan pecah ketika disambar dan digulung ombak yang membukit. Hei.... Brakk! Perahu pecah berkeping-keping. Di tengah badai dan berkelebatnya kilat yang menyambar-nyambar mendadak saja Thai Liong berjungkir balik, adiknya berteriak melengking dan melakukan hal yang sama.
Keduanya berjungkir balik dan cepat hinggap di papan perahu, yang pecah berkeping-keping. Dan ketika Thai Liong melihat Ji Pin terpental dan jatuh ke laut maka pemuda itu menjejakkan kakinya dan cepat serta luar biasa ia menyambar tubuh laki-laki itu, mengangkatnya naik dan Ji Pin mengeluh ketika sudah dipanggul di pundak. Untuk kesekian kali kembali dia diselamatkan pemuda itu.
Melihat Thai Liong mempergunakan potongan papan untuk "berselancar", sama seperti ketika pemuda itu bergerak-gerak di atas permukaan laut, berjalan atau entah apa namanya. Dan ketika Thai Liong berteriak pada adiknya agar dengan pertolongan papan di kaki mereka itu mereka bergerak melawan badai maka Soat Eng sudah membentak dan naik turun di atas ombak, mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya dan sama seperti sang kakak gadis itu berjalan atau berlarian di atas laut, meluncur dan mengelak serta menghindari sambaran ombak, yang kian lama bukannya kian baik melainkan kian ganas.
Thai Liong berkali-kali harus meneriaki adiknya agar mereka tidak terlalu jauh, mencari jalan keluar dan tampaklah kini perbuatan aneh dua muda-mudi itu, terbang dan jatuh lagi di laut untuk akhirnya lenyap dan timbul lagi, digulung ombak yang besar dan berkali-kali mereka nyaris terguling. Hanya dengan kepandaian mereka yang luar biasa saja dua kakak beradik itu dapat menyelamatkan diri dari semua serangan ini, badai yang ganas dan ombak yang mengamuk.
Dan ketika satu saat Thai Liong terlempar begitu tinggi namun secara kebetulan pemuda ini malah dapat melihat gugusan tiga pulau maka pemuda itu berteriak. Hei, Sam-liong-to ada di sebelah kanan. Kita ke kanan....! Soat Eng mengumpat caci. Diserang badai dan basah kuyup seperti itu bukannya gadis ini takut melainkan malah memaki-maki.
Soat Eng marah dan memang gusar, mencari jalan keluar namun gagal, terkurung oleh ombak yang membukit dan pandangan mereka terhalang. Tanpa mereka sadari tiba-tiba saja mereka terperangkap dan memasuki Badai Siluman, terbawa dan terputar-putar di situ tanpa banyak berdaya. Benar kata Ji Pin, topan atau Badai Siluman itu sudah seperti arus pusaran yang berusaha menggulung atau menghisap mereka.
Kalau tak memiliki kepandaian tinggi jangan harap mereka dapat selamat. Maka begitu kakaknya berteriak tentang Sam-liong-to dan pulau yang dicari-cari itu katanya ada di sebelah kanan tiba-tiba Soat Eng berjungkir balik menghindari sebuah gulungan ombak dan meluncur mendekati kakaknya itu. Di sebelah kanan! Kakaknya berteriak. Sam-liong-to di sebelah kanan, Eng-moi. Ikuti aku dan mari berpegangan tangan.... wut! Thai Liong menyambar tangan adiknya, menyendal dan mereka kembali menghindari sebuah gulungan ombak, berjungkir balik dan meloncat tinggi di atas ombak yang membuih.
Mereka harus mengerahkan segenap tenaga untuk melakukan semuanya itu, apalagi Thai Liong masih memanggul Ji Pin, yang hampir pingsan. Dan ketika dua kakak beradik itu meluncur turun dan lagi-lagi harus menghindari hantaman ombak yang baru maka mereka saling menyentak dan berjungkir balik lagi, enam tujuh kali dan Thai Liong selalu ke kanan. Pemuda ini tak mau kehilangan sasaran dan sedapat mungkin mereka harus menjauhi pusat badai ini. Tempat itu berbahaya dan mereka benar-benar terperangkap.
Dan ketika mereka berhasil melewati gulungan ombak dan benar saja adiknya melihat gugusan pulau Sam-liong-to maka gadis itu berseru. Benar, itu Sam-liong-to, Liong-ko. Sekarang kita berselancar dan tambah kekuatan.... ser- serr! Soat Eng dan kakaknya tak mau melepaskan pegangan lagi, menggerak-gerakkan kedua kaki dan potongan papan di bawah kaki mereka itu benar-benar sudah lekat seperti lintah. Soat Eng dan kakaknya mengerahkan ilmu sedot, sekaligus ilmu meringankan tubuh.
Dan ketika dengan susah payah mereka berhasil menjauhi badai dan pulau di depan sudah dekat maka Thai Liong tiba-tiba berseru menyadarkan Ji Pin. Awas, kita selamat, twako. Aku hendak melemparmu ke pantai dan jaga dirimu baik-baik.... bruk! Ji Pin, laki-laki itu sudah terlempar mendahului. Thai Liong mengerahkan tenaga dan melempar laki-laki itu tanpa cidera, Ji Pin terjatuh dengan kaki lebih dahulu, tubuhnya masih tegak.
Dan ketika lelaki itu terhuyung dan dua kakak beradik itu berjungkir balik maka Thai Liong dan adiknya telah melepas "sepatu-lancar" Mereka dan turun di pantai, basah kuyup. Wut-wut! Dua kakak beradik ini telah mengusap keringat. Peluh mereka menjadi satu dengan air laut, juga air hujan. Dan ketika Ji Pin bengong dan tertegun melihat sepak terjang mereka itu maka Soat Eng membentak. Apalagi? Kenapa melotot? Eh-oh.... Ji Pin terkejut. Maaf. Siocia. Ini.... ini fantastis sekali. Aku hampir tak percaya!
Hm, percaya atau tidak aku tak perduli, orang she Ji. Sekarang tunjukkan padaku di mana Istana Hantu itu! Tidak, Thai Liong tiba-tiba menggeleng, meloncat. Kita mencari guha dulu, Eng-moi. Kita semua perlu mengeringkan pakaian masing-masing! Benar, Ji Pin berseru. Dan pulau ini bukan pulau di mana aku mendarat, Siocia. Gorila itu bukan di pulau ini tapi di pulau yang tengah! Sudahlah, Thai Liong berkelebat. Itu urusan nanti, Ji-twako. Sekarang kita mencari guha dan berlindung dulu! Ji Pin mengangguk.
Terhadap Thai Liong ia merasa suka, tidak seperti kalau berhadapan dengan Soat Eng. Dia selalu dibuat kebat-kebit kalau berhadapan dengan gadis itu, maklum, Soat Eng tampak galak dan ketus. Kakaknya jauh lebih ramah dan laki-laki itu sudah menyusul. Dan ketika Soat Eng juga berkelebat dan mereka mendapat sebuah guha maka Thai Liong sudah membuat api unggun dan menyuruh mereka semua berdiang. Kenapa repot-repot? Suruh orang she Ji itu bekerja, Liong-ko. Jangan membuat api unggun sendiri kalau di sini ada pembantu! Sudahlah, ini pekerjaan kecil, Eng-moi. Jangan marah-marah melulu dan biarkan Ji-twako berdiang. Kemarilah, Pemuda itu menggapai. Dekat kami, twako. Panaskan tubuhmu dan keringkan pakaianmu.
Orang she Ji ini kebat-kebit. Berhadapan dengan Soat Eng sungguh membuat dia gugup, selamanya tak enak dan untung ada kakaknya di situ. Kalau tidak, entahlah apa yang mau dia lakukan. Barangkali kabur. Dia selalu serba salah berhadapan dengan puteri Kim-mou-eng itu. Dan ketika dia mendekat dan otomatis berdiang di sebelah Thai Liong daripada Soat Eng maka gadis itu mendengus dan mencibir.