Halo!

Istana Hantu - Chapter 07

Memuat...
Istana Hantu

Chapter 07

Suara itu membuat Ji Pin semburat. Jika tidak terpaksa, barangkali dia akan membalas, betapapun dia merasa direndahkan dan diejek terus-menerus. Tapi ketika Thai Liong tersenyum dan ramah memandangnya, laki-laki itu menunduk dan berkata, lirih.

"Kongcu, terima kasih. Kau telah berkali-kali menyelamatkan nyawaku." "Untuk apa berterima kasih? Lebih baik sekarang kau minta maaf dulu, orang she Ji. Kau telah berbohong kepada kami. Sekarang lebih baik ceritakan apa yang telah kau alami dan kapan kau mendarat di pulau Sam-liong-to yang di tengah itu!" Soat Eng, yang tidak puas dan masih marah karena merasa didustai, menjengek, mendahului kakaknya. Thai Liong cepat memencet lengan adiknya itu. Betapapun Soat Eng terlalu keras.

Tapi ketika gadis itu mencibir dan malah mendengus, Ji Pin tiba-tiba mengangguk dan berkata. "Baiklah, aku minta maaf dulu, siocia. Dan aku akan berterus terang kepada kalian. Sesungguhnya, aku mencari Istana Hantu untuk mendapatkan harta karunnya. Dan karena kalian berkali-kali telah menyelamatkan nyawaku, biarlah kutunjukkan peta ini dan kuberikan pada kalian."

"Nanti dulu," Thai Liong mencegah. "Aku tidak menerima peta harta karun, Ji-twako. Kami mencari Istana Hantu bukan untuk maksud itu!" "Aku tahu," Laki-laki itu mengangguk. "Tapi peta ini menunjukkan letak istana itu, kongcu. Kalau saja aku tak tersesat di hutan dan mengalami celaka bersama temanku, barangkali istana itu sudah kutemukan!"

"Nah, begitu. Ini saja yang kau ceritakan!" Soat Eng berseru. "Kami tak butuh peta penyimpanan harta, orang she Ji. Lebih baik kau ceritakan apa isi pulau di tengah itu dan bagaimana kau terapung-apung di tengah laut, yang katamu habis diserang hiu!" "Maaf," Ji Pin merah mukanya. "Aku menyesal, siocia, harap jangan mengejek lagi. Salahkah aku kalau harus berbohong pada orang yang belum kukenal sama sekali? Bagaimana kalau siocia sendiri yang mengalami seperti itu? Apakah siocia juga akan jujur dan langsung berterus terang?"

"Hm!" Soat Eng terbelalak. "Kau mau melawan aku? Kau mau menghina aku?" "Sudahlah," Thai Liong lagi-lagi bicara. "Urusan yang lewat biarlah lewat, Eng-moi. Apa yang dikata Ji-twako ini benar. Kita tak usah mengejeknya lagi dengan omongan itu dan Ji-twako sendiri harap percaya penuh kepada kami!" Dan menghadapi laki-laki itu Thai Liong berkata. "Lanjutkanlah, tak usah kau sakit hati kepada adikku, twako. Dia memang begitu dan sudah menjadi wataknya untuk selalu marah kepada orang yang pernah bohong kepadanya!"

"Hm, maaf, kongcu, memang aku juga salah. Baiklah, kuceritakan pada kalian. Pulau di tengah itu berbahaya. Sepasang gorila jantan dan betina ada di sana, kebal dan tahan bacokan senjata tajam. Temanku Ong Lun mati dicabiknya!" "Apa yang terjadi? Bagaimana asal mulanya?" Ji Pin tiba-tiba menangis. "Mengerikan, kongcu. Menyeramkan! Pulau itu penuh dengan binatang buas. Aku...., kami berdua sial!" Dan Ji Pin yang tak meneruskan kata-katanya karena teringat kematian temannya tiba-tiba mengguguk dan menutupi mukanya, terguncang dan Soat Eng tertegun juga.

Betapapun setelah laki-laki ini meminta maaf dan bersikap jujur akhirnya dia merasa lunak juga. Memang, puteri Kim-mou-eng ini amat membenci sekali orang-orang yang bohong, pantang didustai dan dia sendiri adalah seorang gadis jujur yang tak suka berbohong. Biar terhadap lawan pun dia tetap jujur. Maka begitu melihat laki-laki ini menangis dan tampak betapa kedukan sungguh-sungguh menguasai laki-laki itu maka dia meminta kakaknya agar menghibur, dengan isyarat mata.

"Hm," Thai Liong mengangguk. "Aku turut berduka cita atas kematian temanmu, Ji-twako. Sudahlah kauhentikan tangismu dan mari kita bicara lagi. Betapapun, kau selamat dan sudah tak ada bahaya di sini." "Benar, tapi..... ah, kematiannya itu mengerikan, kongcu. Gorila itu benar-benar buas dan terkutuk sekali. Keparat binatang itu. Aku ingin ji-wi membunuhnya untuk membalaskan sakit hati ini!" "Sudahlah, itu urusan nanti. Sekarang ceritakan kepada kami bagaimana keadaan di tengah pulau itu agar kami dapat bersiap-siap." Ji Pin akhirnya mengusap air matanya. Dihibur dan mendapat kata-kata lembut begini akhirnya dia terhibur juga.

Pemuda ini adalah putera Pendekar Rambut Emas, tak usah dia ragu dan tentu pemuda itu dapat membunuh si gorila keparat di pulau bagian tengah itu. Dan ketika dia mengangguk dan mendapat tepukan lembut maka orang ini akhirnya bercerita tentang keadaan pulau yang dikunjunginya itu. Betapa pulau itu tenang di luar tapi ganas di dalam. Banyak binatang buas dan buaya, juga ular dan monyet-monyet yang ratusan jumlahnya. Dan ketika dia bercerita bahwa dari semua binatang buas itu yang tampaknya paling ditakuti adalah sepasang gorila di pulau ini maka dia menutup.

"Harimau dan semua hewan lain tampak ketakutan mendengar geraman gorila ini. Begitu mereka mendengar begitu pula mereka lari. Aku sudah beberapa kali membuktikan dan melihat bahwa agaknya raja di antara segala raja penghuni hutan itu adalah sepasang gorila ini!" "Dan kau belum menemukan istana itu?" "Belum, keburu dikejar-kejar binatang keparat ini, kongcu. Kami akhirnya tersesat dan hampir saja dicaplok buaya!" "Ah, menarik!" Soat Eng kini berseru. "Kita secepatnya ke sana, Liong-ko. Ingin kulihat gorila yang aneh itu. Tentu dulu ada pemiliknya!" "Benar, tapi kita harus berhati-hati, Eng-moi. Mendengar cerita Ji-twako ini tahulah kita bahwa pulau itu cukup berbahaya. Dan dia juga belum menemukan Istana Hantu!" "Kita dapat mencarinya!" Gadis itu bersemangat. "Aku yakin kita dapat menemukan, Liong-ko. Dan sekali ketemu ingin kulihat bagaimana wujud dan isi istana itu!" Ji Pin kagum. Puteri Kim-mou-eng ini tampak begitu berani dan tak takut, mau tak mau dia memuji juga. Jarang dia menemukan gadis seperti ini.

Dan ketika Thai Liong mengangguk dan melihat hujan sudah reda maka dia bertanya pada Ji Pin apakah laki-laki itu dapat menjadi penunjuk jalan. "Ah, bagaimana ya?" Laki-laki ini ragu. "Aku dapat saja menjadi penunjuk jalan, kongcu. Tapi barangkali justeru aku akan merepotkan kalian berdua saja. Kalian harus sering menolongku kalau ada bahaya." "Hm, jadi bagaimana kalau begitu?" "Biarlah kongcu dan siocia berangkat berdua. Aku menunggu di sini dan peta kalian bawa. Aku percaya penuh!" Ji Pin lagi-lagi menyerahkan peta itu, memberikannya pada Thai Liong tapi pemuda itu ragu.

Dan ketika Ji Pin mendesak dan berkata bahwa biarlah peta itu dibawa pemuda itu maka Thai Liong menarik napas dan melirik adiknya. "Baiklah, terima kasih, Ji-twako. Anggap saja peta ini kupinjam. Kalau kami sudah menemukan istana itu tentu kami ke sini dan membawamu pergi...." "Dan harta karun itu boleh kau bawa!" Adiknya memotong. "Kami tak butuh harta karun, orang she Ji. Kami bukan tamak harta dan kau tak usah sangsi!" "Tidak, tidak!" Lelaki ini tiba-tiba menggeleng. "Kalau ada harta di situ biarlah kita bagi tiga, siocia. Aku juga tak tamak harta kalau sudah cukup!" "Hm, baiklah," Thai Liong tersenyum. "Urusan itu mudah dan belakangan saja, twako. Kami tak begitu tertarik. Lagi pula kami belum tahu apakah dapat keluar atau tidak dari pulau itu!"

Suara itu membuat Soat Eng tertawa. "Kim-kongcu, hati-hati. Kim-siocia, harap kalian kembali lagi ke tempat ini!" Thai Liong mengangguk dari jauh. Benar saja, hujan dan badai sudah tak terdengar suaranya lagi. Gemuruh angin juga lenyap dan suasana di luar guha tampak tenang, hanya air bergemericik di sela-sela guha yang tiris, sisa-sisa hujan. Dan ketika Soat Eng meloncat bangun dan mengajak kakaknya keluar maka mereka melihat laut yang sudah tidak berbuih lagi.

"Hm, aneh. Tadi laut tampak demikian buas dan kejam, bagaimana sekarang tiba-tiba seperti gadis yang begini lembut?" "Ih, kau mau berpantun? Hayo, kita ke pulau di tengah, Liong-ko. Dan kita menyeberang seperti tadi.... ser!" Soat Eng menyambar "sepatu air"-nya, dua potong papan yang masih tergeletak dan cepat serta indah dia berjungkir balik di atas permukaan air. Lalu begitu dia menggerak-gerakkan sepatunya dan papan di bawah kakinya itu naik turun mirip selancar maka Thai Liong tersenyum dan menyambar potongan papannya pula, berjungkir balik dan hinggap di atas air laut yang tidak bergelombang.

"Ji-twako, baik-baiklah di situ. Kami mau pergi!" Laki-laki ini tertegun. Soat Eng sudah terkekeh dan meluncur menggerak-gerakkan kedua kakinya, terbang dan cepat sekali gadis itu sudah melesat ke depan. Dan ketika Thai Liong menggerakkan kakinya pula dan tangan terkembang di kiri kanan tubuhnya tiba-tiba pemuda itu pun sudah meluncur dan bermain-main di atas permukaan air laut, tak mempergunakan perahu karena mereka sudah cukup dengan sepasang papan itu, mengerahkan kepandaiannya dan naik turunlah dua kakak beradik itu di tengah laut.

Dan ketika Thai Liong melambai dan berseru agar dia berhati-hati, maka dua putera-puteri Pendekar Rambut Emas yang luar biasa itu telah menyeberang dan mendatangi pulau di tengah, hanya dengan sepasang papan yang ringan dan bekas pecahan perahu!

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment