Halo!

Istana Hantu - Chapter 08

Memuat...
Istana Hantu

Chapter 08

Pemuda itu sendiri sudah mengejar adiknya yang meluncur di depan, dua kakak beradik itu sudah bermain di tengah laut yang dalam. Mereka itu seakan orang yang berjalan di atas air saja. Dari jauh, mereka seakan sepasang dewa-dewi yang lagi turun ke bumi! Dan ketika dua kakak beradik itu lenyap dan Thai Liong serta adiknya menyeberangi pulau dengan cara yang aneh, maka Ji Pin masih termangu-mangu di situ, tak berkejap dan berulang-ulang lelaki itu menghela napas tanda kagum. Apa yang dilihat sungguh tak mungkin ditirukan.

Dua kakak beradik itu mempergunakan ginkang (ilmu meringankan tubuh) yang sudah di atas tokoh-tokoh kelas satu. Dan ketika dia mendecak dan kagum sampai terlongong-longong, akhirnya bayangan kakak beradik itu benar-benar lenyap karena mereka sudah mendekati bagian pulau Sam-liong-to yang ada di tengah.

"Hei, jangan buang papan selancarmu, Eng-moi. Taruh dan letakkan di atas batu karang itu!" Thai Liong mendarat di pantai, menyusul adiknya yang sudah mendahului, dan berseru agar Soat Eng tidak membuang begitu saja papan yang amat berguna itu. Mereka sudah melepas papan yang mereka pakai, dan Thai Liong meletakkannya baik-baik di atas sebuah batu karang, menyuruh adiknya melakukan hal yang sama. Soat Eng tertawa, menyambar papannya kembali, dan melempar benda itu di atas batu karang di mana kakaknya lebih dulu meletakkan papan selancarnya.

Dan ketika mereka mendarat aman dan Thai Liong melihat kiri kanan, maka pemuda itu menangkap sesuatu yang menggetarkan, firasatnya bicara. "Hati-hati, aku merasa sepasang mata mengintai kita." "Benar, aku juga merasa begitu, Liong-ko. Barangkali gorila itu. Hi-hik, memangnya kenapa? Biar dia keluar, nanti kuhajar!" "Hm, jangan sembrono, Eng-moi. Tempat ini belum kita kenal baik...."

"Benar, tapi peta di tanganmu itu menjadi penuntun yang baik, Liong-ko. Tak usah khawatir, dan mari kita ke hutan itu!" Soat Eng berkelebat, tidak perduli dan tidak takut, dan gadis itu tertawa. Halangan di depan dianggapnya main-main, atau mungkin dia malah terangsang untuk menerima bahaya, menerimanya dengan enteng, dan kakaknya mengikuti.

Dan ketika dua orang muda itu tiba di mulut hutan, maka perasaan Thai Liong semakin tajam, merasa diintai gerak-geriknya, dan dia melirik sebuah batu besar. Firasatnya menunjukkan di situlah adanya bahaya. Dan ketika adiknya berhenti dan mengerling memberi tanda, tiba-tiba adiknya berkelebat dan berjungkir balik menuju ke batu besar itu, langsung membentak. "Grr!"

Benar saja. Soat Eng, seperti kakaknya, telah mencium adanya bahaya itu. Gadis ini tak menunggu diserang melainkan mendahului, mengetahui ada yang mengintai, dan cepat gadis itu berpoksai (berjungkir balik) di batu hitam itu. Dan ketika benar saja dia melihat seekor gorila mendekam di situ dan kaget menggeram padanya, tiba-tiba dia tertawa dan menghantam tengkuk binatang ini, yang segera diduga sebagai binatang yang diceritakan Ji Pin.

"Liong-ko, binatang ini ada di sini. Lihat.... bukk!" Pukulan gadis itu mendarat telak, mengenai tengkuk, dan binatang itu terpelanting. Hebat pukulan itu, tapi masih lebih hebat lagi binatang tinggi besar ini. Karena begitu dia terpelanting dan memekik kesakitan, tiba-tiba dia menggelinding jauh dan sudah berdiri lagi dengan tubuh bergoyang, taringnya diperlihatkan.

"Aih, binatang ini seperti pernah dilatih silat, Liong-ko. Dia mampu menggelindingkan tubuh!" "Benar, dan hati-hati, Eng-moi. Dia menyerang!" Soat Eng mengelak. Binatang itu sekarang menubruk dan memperlihatkan giginya yang besar dan kuat, menggeram, dan segeralah binatang itu memekik. Dan ketika Soat Eng mengelak dan tubrukannya luput, maka binatang itu mengejar, dan Soat Eng berloncatan, tertawa-tawa, dan dia menggerakkan tangannya dua tiga kali.

Binatang itu dipukul, tapi semua pukulan Soat Eng mental. Gadis ini terkejut dan mengerutkan kening. Dan ketika satu tubrukan kembali dikelit dan binatang itu terhuyung, maka Soat Eng menggerakkan kakinya, dan sebuah tendangan mengenai pinggang gorila itu. "Dess!" Binatang ini terlempar. Sekarang gorila itu terguling-guling, memekik, dan rupanya kesakitan. Betapapun tendangan tadi adalah tendangan yang penuh tenaga, dan Soat Eng mengerahkan setengah bagian tenaganya; lawan mencelat, dan meraunglah binatang itu.

Dan ketika Soat Eng mengejar, dan satu demi satu tendangan atau pun tamparan tangannya mulai mendarat di tubuh binatang ini, maka binatang itu berteriak-teriak, dan jatuh bangun, terlempar, dan dihajar lagi. Tiba-tiba binatang ini marah. Binatang itu sekarang menubruk dan memperlihatkan giginya yang besar dan kuat. Dan ketika satu tamparan mendarat di pundaknya, dan dia menggeram, sekonyong-konyong sebuah gerakan silat ditunjukkan, karena secepat kilat hewan itu membungkuk, dan lengan Soat Eng disambar. "Bret!" Soat Eng terkejut.

Kakaknya berseru keras memperingatkan dirinya, hampir kalah cepat, dan baju Soat Eng robek. Dan ketika gorila itu menyeringai, dan baju yang sobek berada di tangannya, maka gorila itu menubruk, dan ganti menyerang gadis ini, dikelit, dan segera tampaklah gerakan-gerakannya yang kaku, namun kuat, mencengkeram, dan menggereng, dan Soat Eng terbelalak. Hewan ini kebal, dan semua pukulannya sia-sia; gorila itu memperlihatkan jurus-jurus sederhana, namun berbahaya.

Dan karena Soat Eng gemas, karena berkali-kali pukulannya mental bertemu kulit yang keras, akhirnya gadis ini menampar dengan satu Pukulan Petir, Tiat-lui-kang. "Dess!" Binatang itu menjerit. Untuk pertama kalinya, dia terbanting, dan tak dapat bangun; Thai Liong terkejut, karena menyangka binatang itu sekarat. Tapi ketika binatang itu merintih-rintih, dan bangun dengan susah, mendadak dia menguik, dan terbirit-birit melarikan diri.

"Hi-hik, jangan pergi, binatang siluman. Kau harus menerima lagi sebuah pukulan Tiat-lui-kang ku... dess!" Binatang itu terbanting, lagi-lagi tak dapat bangun, namun menggeliat susah payah. Thai Liong memperingatkan adiknya agar tidak membunuh gorila itu, betapapun binatang ini menarik perhatiannya.

Dan ketika binatang itu menguik, dan bangun dengan berat, maka dia lari lagi, dengan langkahnya yang kaku, dihajar, dan jatuh lagi, dan kini Soat Eng mempermainkannya. Ternyata, setelah mendapat Tiat-lui-kang, gorila itu tak tahan; binatang ini merasa seakan dihantam petir sendiri, sebagian bulunya terbakar, dan tentu saja dia ketakutan.

Dan ketika enam tujuh kali Soat Eng berkelebat, dan menghajarnya, tiba-tiba binatang itu menguik, dan jatuh mendeprok di depan gadis itu, seperti orang berlutut. "....uik...uik....." Soat Eng terkekeh. Tak dapat dikata betapa girangnya dia dapat menundukkan binatang ini; meloncat, dan sudah duduk di atas punggungnya.

Dan ketika gorila itu diam saja, dan dia ingin menggoda, maka dia membentak, menyuruh binatang itu mencium sepatunya. "Hayo cium sepatuku, kalau kau benar-benar tunduk!" "Uik...." Binatang ini takut-takut, memandang sepatu Soat Eng yang disodorkan kepadanya, dan tampaknya dia ragu-ragu. Soat Eng membentaknya lagi, dan kakaknya was-was. Sekali gadis itu digigit, barangkali adiknya bisa terluka.

Tapi ketika gorila itu mendengus, dan mencium sepatu Soat Eng, tiba-tiba sepatu itu lepas, dan Soat Eng melompat mundur, tertawa; tadi sengaja memberikan sepatunya untuk memancing gerak-gerik gorila itu, menyerangnya atau tidak. Kalau menyerang, tentu saja dia akan menghantam tengkuk binatang itu, biar kelengar.

Tapi ketika binatang itu tak menyerangnya, dan sepatunya benar-benar dicium, akhirnya gadis ini berseru agar sepatu itu dipasangkan ke kakinya. "Nah, sekarang berikan sepatu itu kepadaku, Gosar. Pasangkan di kakiku!" Aneh, binatang itu rupanya mengerti. Melihat Soat Eng menyodorkan kakinya yang telanjang, sambil menunjuk sepatu yang dipegangnya, tiba-tiba gorila ini berdiri, maju, dan terbungkuk-bungbuk memasangkan sepatu itu di kaki Soat Eng, pas sekali.

Dan ketika dia mundur, dan menguik perlahan, maka Soat Eng percaya bahwa gorila ini sudah dikuasainya. "Hi-hik, sekarang aku dapat menundukkannya, Liong-ko. Kusuruh apa saja, barangkali dia menurut!" Soat Eng meminta sobekan bajunya, diberikan, dan segera memerintah ini-itu, tentu saja sambil menuding.

Dan ketika gorila itu ngak-nguk ngak-nguk, dan benar-benar tunduk, luar dalam, akhirnya gadis ini menepuk pundak gorila itu, dan tertawa, berdiri di sampingnya. "Gosar, sekarang aku majikanmu. Itu Liong-ko, kau harus tunduk kepadanya. Kau mengerti?" Binatang itu mengangguk-angguk. "Hm, apa itu Gosar?" Thai Liong bertanya.

"Hi-hik, Gorila Besar, Liong-ko. Kusingkat Gosar. Bukankah kita tak tahu namanya?" Dan ketika Soat Eng terkekeh, dan geli oleh pemberian namanya ini, maka Gosar, gorila itu, diam mengangguk-angguk, pandang matanya tak buas lagi, dan betapa binatang itu amat takut sekali kepada Soat Eng.

Namun, ketika Thai Liong tersenyum, dan geli oleh kenakalan adiknya ini, mendadak dari dalam hutan muncul seekor gorila betina yang menggeram-geram. "Eh, itu yang satu!" Thai Liong menoleh, tertegun oleh larinya gorila betina ini. Lebih kecil, namun tetap tergolong besar juga, langkahnya berat, namun cepat.

Dan ketika Gosar melihat temannya, dan bangkit menggerak-gerakkan pundak, maka binatang ini mengeluarkan suara aneh, dan temannya itu menerjang Thai Liong. "Awas!" Thai Liong mengelak. Seruan adiknya tak perlu diulang, karena Thai Liong melihat betapa marahnya gorila betina itu. Entah kenapa, Gosar, gorila jantan itu, mengeluarkan suara berulang-ulang pada temannya.

Thai Liong tak mengerti, apa yang dimaksud Gosar pada temannya. Tapi ketika gorila betina membalik, dan menyerang lagi, maka Thai Liong tertarik untuk menundukkan binatang ini, mengelak, dan meloncat ke kiri kanan. Tapi ketika gorila betina menyerang lagi, maka Soat Eng tiba-tiba membentak, berseru agar gorila jantan menyerang gorila betina. Gosar terkejut, dan menguik-nguik, rupanya bingung, tapi pandang mata Soat Eng membuat dia gentar.

Dan ketika gadis itu mendelik, dan menyuruh Gosar menghadapi temannya, maka binatang itu melompat, dan Soat Eng menyuruh kakaknya minggir. "Minggir, Liong-ko.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment