Halo!

Istana Hantu - Chapter 09

Memuat...
Istana Hantu

Chapter 09

Biar Gosar yang menundukkan temannya! Thai Liong tertegun. Tadinya dia berlompatan menghindari serangan gorila betina itu, tentu saja mudah baginya dan tak perlu dia takut. Semula dia akan mempermainkan dulu gorila itu baru menundukkannya belakangan, seperti yang tadi dilakukan adiknya.

Tapi ketika gorila jantan menyerang temannya dan kini gorila betina itu memekik dan menyambut tiba-tiba Gosar sudah bertarung dan "ngak-nguk-ngik" menghadapi betinanya. "Bagus, robohkan temanmu, Gosar. Suruh dia menyerah!" Soat Eng terkekeh, girang mempermainkan dua gorila itu dan Gosar tampaknya kebingungan.

Berkali-kali gorila ini memberi tanda pada pasangannya agar menyerah. Thai Liong, terutama Soat Eng bukan tandingan mereka. Gadis itu telah mengalahkannya dan tadi dia dibuat bertekuk lutut. Tapi karena gorila betina rupanya marah dan gusar terhadap temannya maka dua ekor gorila itu akhirnya bertanding dan pukul-memukul, cengkeram-mencengkeram dan Soat Eng terkekeh-kekeh.

Thai Liong mengerutkan kening melihat gaya perkelahian dua ekor binatang itu, memperhatikan karena gerak kaki atau tangan mereka berdasarkan ilmu silat, meskipun sederhana. Dan ketika satu saat Gosar berhasil mengangkat temannya dan membanting roboh maka gorila betina memekik dan berdebuk. "Buk!" Soat Eng terkekeh-kekeh.

Gadis itu menyuruh Gosar menangkap lagi, membanting dan merobohkan lawannya itu. Dan ketika Gosar mengikuti namun pasangannya melawan tiba-tiba Gosar yang diangkat dan ganti dibanting. "Buk!" Gorila jantan itu menguik. Tadi, entah kenapa tiba-tiba perasaannya melemah. Teman hidupnya ingin membalas dan dia memberikan.

Dan ketika Gosar ganti terbanting dan gorila betina menubruk maka Gosar dicekik dan gorila itu bertahan, digigit dan Gosar merintih. Tiba-tiba gorila ini tak membalas dan Soat Eng kaget. Dan ketika satu gigitan melukai pinggir mata Gosar dan gorila jantan ini mengeluh tiba-tiba Soat Eng membentak dan menghantam gorila betina itu, yang ganas dan tidak mengenal ampun.

"Pergi kau... dess!" Gorila betina mencelat, terpekik dan kaget dan Gosar bangkit terhuyung. Soat Eng berkelebatan lagi dan menghujani pukulan ke tubuh gorila betina, bertubi-tubi dan menendangnya pula dan gorila itu terkejut, jatuh dan terlempar namun bangun lagi, sama seperti si jantan tadi.

Tapi ketika Soat Eng hendak melepas Tiat-lui-kang dan Thai Liong berkelebat tiba-tiba pemuda itu menarik adiknya dan berseru. "Jangan, biarkan aku yang menundukkan Eng-moi. Coba kugunakan Pek-sian-ciang (Pukulan Dewa Putih)....!" Dan Thai Liong yang berjungkir balik dan sudah tiba di depan gorila betina tiba-tiba menangkap tengkuk binatang itu, meremasnya dan gorila betina menjerit.

Jari-jari Thai Liong seakan tanggem baja baginya, baru kali itu gorila ini kesakitan. Dan ketika Thai Liong membanting dan menamparnya tiba-tiba gorila itu mengeluh dan terlempar terguling-guling, tak dapat bangun berdiri dan dengan susah payah binatang itu mencoba bangkit, jatuh dan terguling lagi.

Dan ketika Thai Liong berkelebat dan menggerakkan dua jarinya tiba-tiba gorila itu tertotok dan roboh tak bergerak. "Bluk!" Tersenyumlah pemuda ini. Gorila itu memandangnya marah, menguik lalu menggeram. Matanya bersinar-sinar dan rupanya dia tak puas, barangkali hendak mengatakan bahwa Thai Liong curang.

Dan Thai Liong yang tertawa dan membebaskan totokan itu lagi tiba-tiba berkata. "Kau ingin menyerangku? Boleh, coba kalahkan aku, Gotin. Boleh pukul atau gigit sesukamu!" Dan Thai Liong yang tertawa memberikan lengannya tiba-tiba disambar dan digigit binatang itu, mengerahkan sinkangnya dan gorila betina itu seakan menggigit batangan besi, terkejut dan menggeram serta mencakar pemuda itu namun Thai Liong bersiap.

Pemuda ini telah melindungi seluruh tubuhnya dengan sinkang, kebal dan dibacok pun pemuda itu tak akan apa-apa. Dan ketika gorila betina itu terkejut dan semakin kaget saja karena cakaran atau gigitannya sia-sia mendadak dia menerkam pemuda itu dan mau membanting. "Nguk!" Thai Liong tertawa.

Lawan yang menangkap dan mau membantingnya tiba-tiba dibuat terkejut lagi, tubuhnya tak bergeming dan Thai Liong seakan arca batu yang beratnya ribuan kati. Susah payah binatang itu mengangkat namun tak berhasil. Dan ketika dia kebingungan dan firasat kebinatangannya memberi tahu bahwa pemuda yang dihadapi betul-betul tak dapat dikalahkan maka Thai Liong melakukan tamparan Tiat-lui-kang dan gorila itu pun terbanting, kelengar.

"Brukk!" Sekarang gorila ini menguik-nguik. Rintihannya yang mirip rintihan gorila jantan jelas menunjukkan kekagetan binatang itu, di samping ketakutannya. Dan ketika Thai Liong tertawa dan menepuk pundaknya maka binatang itu mengeluh dan roboh terbungkuk, jatuh atau menjatuhkan diri berlutut.

"Ha-ha, kau sudah menyerah, Gotin? Kau sudah mengakui kelihaianku?" "Nguk..... nguk....." Gorila itu mengangguk, mengerti. Dan ketika Thai Liong memberikan lengannya lagi namun binatang itu tak berani menggigit maka Soat Eng melompat maju bertanya.

"Eh, apa itu Gotin, Liong-ko? Nama aneh apa ini?" "Ha-ha, Gotin adalah Gorila Betina, Eng-moi. Kusingkat seperti tadi kau menamakan gorila jantan itu. Bukankah bagus?" Dan ketika adiknya melengak dan tertawa pemuda ini berkata lagi.

"Sekarang kita sama-sama memberikan nama pada pasangan gorila ini. Kau memanggilnya Gosar sedang aku Gotin, atau Tin Tin. Yang laki Gosar sedang yang betina Tin Tin. Ha-ha, lucu. Bukankah bagus, Eng-moi? Sekarang kita memiliki binatang peliharaan. Hayo bangun!" Dan Thai Liong yang menyuruh Tin Tin bangun tiba-tiba diturut dan gorila itu bangkit, berkedip dan takut-takut dan gorila jantan mengeluarkan suara senang.

Si jantan ini rupanya lega bahwa betinanya tak menyerang lagi, mereka memiliki dua orang majikan dan Soat Eng terkekeh. Dan ketika gadis itu ingin mencoba dan menepuk gorila betina maka gadis ini berseru. "Hei, kau kenal aku, Tin Tin? Aku adik Liong-ko, kau harus tunduk pula padaku!" "Nguk-nguk..." Gorila ini menjawab, mengerti dan mengangguk dan Soat Eng pun geli.

"Sekarang Tin Tin dan Gosar menjadi pembantu kita. Barangkali mereka dapat menjadi penunjuk jalan." "Eh, nanti dulu. Bagaimana kalau Ji Pin tahu, Liong-ko? Bukankah gorila-gorila ini membunuh temannya?" Gadis itu teringat.

"Hm, keganasan mereka adalah keganasan wajar seekor binatang, Eng-moi. Rupanya bertahun-tahun binatang ini tak bertemu manusia, dan mereka juga tampaknya kelaparan. Tidakkah kau lihat nafsu membunuh mereka yang besar?" "Benar, dan orang seperti Ji Pin memang tak mungkin menundukkannya, Liong-ko. Tapi susah juga kalau orang itu tahu Gosar dan Tin Tin sudah menjadi pembantu kita!" "Sebaiknya kita jelaskan nanti, urusan itu mudah!" Dan Thai Liong yang tersenyum menepuk gorila betina tiba-tiba mengajak keduanya memasuki hutan, berjalan dan mulailah Thai Liong melihat kera-kera yang bercecowetan, bergelantungan dan lari dari satu pohon ke pohon lain, semuanya seakan menjauh begitu melihat dua gorila yang menggeram dan memandang mereka penuh ancaman.

Dan ketika dua gorila itu masih mengikuti Thai Liong dan Thai Liong mulai membuka peta mencari di mana istana itu maka Soat Eng juga menjumpai ular-ular besar kecil di atas pohon, juga beberapa harimau atau hewan lain yang tiba-tiba menyingkir, melarikan diri. Mereka tampaknya takut tapi juga heran melihat dua gorila ini bersahabat dengan manusia, Thai Liong dan adiknya itu.

Dan ketika mereka masuk semakin dalam dan hutan juga mulai gelap maka Tin Tin dan gorila jantan mulai menguik, berhenti. "Ada apa?" Thai Liong mengerutkan kening. "Kalian mau apa?" Dua gorila itu menggeram lirih, memandang satu tempat dan Soat Eng meloncat maju.

Kakaknya telah membawa mereka di tempat yang penuh batu dan agaknya dua gorila ini mau memberitahukan sesuatu, tak dapat dan jadilah komunikasi sepihak. Dan ketika dua gorila itu ngaknguk gelisah maka Soat Eng sudah di samping kakaknya.

"Percuma mengajak bicara, mereka tak bakalan mampu menjelaskan. Sebaiknya kau ceritakan di mana kita sekarang ini, Liong-ko. Dan masih berapa jauh lagi Istana Hantu itu!" "Hm, kita di mana aku juga tak jelas, Eng-moi. Hanya peta ini memberi tahu kita bahwa kita harus mencari sebuah guha bawah tanah....." "Guha bawah tanah? Istana itu di sana?" "Mungkin. Lihat sekeliling kita pohon melulu, Eng-moi. Dan baru di tempat ini ada bebatuan. Kalau tidak salah kita sudah di sebelah kanan matahari." "Bagaimana kau tahu?" "Bayangan kita, bukankah miring ke kanan?" "Hm, benar. Jadi kalau begitu kita di utara pulau, Liong-ko. Dan kita sudah cukup jauh maju!" "Ya, dan kita mencari guha ini, mendapatkan tanda-tandanya. Tentu guha itu sudah tertutup semak belukar dan barangkali kita harus mengorek-ngorek...." Thai Liong menghentikan kata-katanya, telinga bergerak karena tiba-tiba mereka mendengar suara berkeresek.

Seekor kelinci melompat dan Soat Eng tertegun, mengira bahaya tapi tak tahunya kelinci hutan. Maka begitu tertawa dan menendang batu tiba-tiba gadis itu menghajar kelinci ini yang menguik dan tewas seketika dengan kepala pecah. "Ah, kenapa kau bunuh?" Kakaknya menegur.

"Hi-hik, aku jadi lapar, Liong-ko. Dan kelinci itu juga telah mengagetkan kita!" Soat Eng berkelebat, menyambar kelinci ini dan segera dia tertawa-tawa. Kelinci yang dibunuh membuat Thai Liong mengerutkan kening tapi gadis itu tak perduli, malah menyambar ranting kering dan siap membuat api anggun.

Dan ketika Thai Liong terbelalak dan adiknya tertawa-tawa maka Soat Eng membuat api dan minta berhenti dulu di situ. "Aku lapar," Katanya. "Tidakkah kau ingat berapa lama kita melakukan perjalanan?" "Hm...!" Thai Liong tersenyum kecut. "Kau membuyarkan konsentrasiku, Eng-moi.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment