Halo!

Istana Hantu - Chapter 10

Memuat...
Istana Hantu

Chapter 10

Aku memperhatikan peta, tiba-tiba kau mengajak makan! "Habis, aku lapar, Liong-ko," kataku. Dan kebetulan juga lama tidak menikmati daging kelinci. "Eh, kau mau, bukan? Atau membiarkan aku makan sendiri?" Thai Liong tertawa, meloncat di dekat adiknya dan segera dia membantu adiknya itu.

Adiknya sudah membuat api dan dia diminta menguliti kelinci itu, baru sebagian dan seekor kelinci lain tiba-tiba melompat, kaget dan Soat Eng sudah merobohkan kelinci ini pula. Dan ketika Tin Tin dan pasangannya ngaknguk takberani mendekat maka Soat Eng melempar kelinci kedua itu pada kakaknya, untuk dikuliti, menyuruh dua ekor gorila itu menyingkir dulu. "Kalian beristirahatlah, jangan jauh-jauh." Aneh, sepasang gorila ini mengerti. Mereka menjauh dan Soat Eng sudah duduk di dekat kakaknya, memanggang kelinci yang sudah dikuliti.

Dan ketika gadis itu tertawa dan kakaknya tersenyum maka dua muda-mudi ini menikmati santapannya sambil bicara ngalor-ngidul, Soat Eng pada makanannya, sedangkan Thai Liong pada istana yang belum ditemukan. Nyatalah, pemuda itu masih terpusat perhatiannya pada Istana Hantu daripada makanan, hal yang membuat adiknya geli. Maklum, mereka jadi bertolak belakang.

Dan ketika kelinci hampir habis dan Soat Eng membuang tulang-tulangnya mendadak gadis ini bangkit berdiri, berkata tertawa. "Eh, kau ini luar biasa, Liong ko. Di saat makan pun kau tak dapat melupakan Istana Hantu. Memangnya istana itu tak dapat kita temukan? Kita sudah di sini, Liong-ko. Sam-liong-to sudah ketemu dan peta juga sudah ada di tangan!" "Benar, tapi sebelum menemukan istana itu sendiri aku tak akan sudah membicarakannya, Eng-moi. Aku tertarik dan sungguh-sungguh penasaran ingin mencarinya." "Bukan kau saja!" Adiknya mencela. "Aku juga kepingin melihatnya, Liong-ko. Dan aku tak akan pulang kalau belum menemukan istana itu!"

"Hm, kita harus hati-hati, Eng-moi. Dan aku merasa sesuatu yang dingin. Eh, kau merasakan perobahan ini?" Thai Liong tiba-tiba bangkit berdiri merasa angin berkesiur tajam dan dua gorila yang tadi menghilang mendadak muncul lagi. Mereka ngak-nguk dengan muka gelisah, lari dan tersuruk-suruk menuju dua kakak beradik itu. Dan ketika Soat Eng juga merasakan angin yang bertiup tajam tiba-tiba tanah yang mereka injak bergetar. "Apa ini, Liong-ko?" Soat Eng terkejut. "Entahlah, hanya aku merasa sesuatu yang lain, Eng-moi. Perubahan suhu terjadi di sini. Eh, pohon itu bergoyang-goyang!" Thai Liong terbelalak, melihat pohon di sekitar mereka bergerak dan bumi pun bergetar dua tiga kali.

Tin Tin dan pasangannya mengeluarkan suara menguik dan kini dua ekor gorila itu berputar-putar. Aneh, mereka tiba-tiba ketakutan. Dan ketika bumi kembali bergetar dan Thai Liong kaget tiba-tiba pemuda ini berseru. "Gempa!" Soat Eng terkesiap. Angin yang berkesiur dingin sekonyong-konyong menerpa kencang, dan bersamaan dengan itu mendadak dua gorila di samping mereka terguling. Gempa, yang menggetarkan mereka tiba-tiba datang.

Soat Eng baru sadar setelah kakaknya tadi berseru. Dan ketika angin bertiup kencang dan tanah yang mereka injak bergoyang-goyang maka semua pohon di situ berderak-derak dan gadis ini kaget, tergelincir dan hampir dia jatuh dan kakaknya menyambar dirinya, mencari tempat berlindung namun kebingungan. Gosar dan pasangannya menguik-nguik dan panik, gempa semakin kuat dan terdengarlah, kini suara gemuruh di sekeliling mereka, kian lama kian kuat dan dua gorila itu sudah jatuh terbanting, berpelukan dan mereka mengeluh panjang pendek meminta tolong.

Semua hewan di hutan tiba-tiba keluar, kera-kera bercecowetan sementara harimau mengaum-ngaum. Dan ketika pohon-pohon mulai roboh dan satu dua berdebum di tempat itu maka Thai Liong pucat menghadapi kekuatan alam ini, melihat dua ekor gorila itu berlarian dan mereka pun keluar hutan. Kegaduhan dan kebisingan tiba-tiba melanda tempat itu. Thai Liong memanggil pasangan gorila itu namun Gosar dan temannya sudah terbirit-birit.

Dan ketika pemuda itu kebingungan dan berteriak melawan gemuruhnya angin tiba-tiba sebatang pohon roboh di dekatnya. "Bumm.....!" Thai Liong meloncat ke kiri. Pemuda ini pucat melihat tanah yang tiba-tiba merekah, begitu saja di depannya. Dan ketika dia berteriak dan menyuruh adiknya berpegang erat-erat, tiba-tiba bumi kembali bergetar dan mereka pun jatuh, terpeleset dan Thai Liong panik mencari tempat aman.

Dia berjungkir balik ke atas pohon namun pohon itu pun bergoyang-goyang, Soat Eng khawatir kalau pohon itu roboh. Dan ketika benar saja pohon itu roboh disusul gemuruhnya suara yang menyeramkan maka gadis ini berseru agar mereka keluar hutan. "Keluar.... kita keluar! Jangan tinggal di sini lagi!" "Tak bisa!" Kakaknya berteriak. "Aku tak tahu jalan keluar, Eng-moi. Gosar dan Tin Tin telah meninggalkan kita. Kita terjebak!" "Keparat, mana dua binatang jahanam itu? Kenapa kau tadi tak mencegahnya?" "Sudahlah, tak perlu marah-marah, Eng-moi. Kita selamatkan diri saja dan hindari pohon-pohon tumbang...bum!" Thai Liong menghentikan kata-katanya, berjungkir balik karena sebatang pohon hampir menimpanya.

Pemuda ini pucat menyelamatkan diri, lari dan mengajak adiknya ke sana-sini. Tapi karena gempa terus bergerak dan tanah selalu bergoyang-goyang maka Thai Liong gugup sementara tanpa terasa laut di sekeliling pulau membuih, bergelombang, terdengar suara-suara bergemuruh dari perut bumi dan Thai Liong terpelanting dua kali ketika terpeleset, Soat Eng juga dua kali dan gadis itu pun pucat.

Sekarang terasa seluruh pulau bergetar dan ke mana pun mereka lari tetap saja gempa mengikuti. Mereka tak tahu bahwa pulau ini sedang diserang letusan-letusan kecil. Secara aneh dan mentakjubkan pulau itu naik ke atas, sebuah gunung berapi akan naik ke permukaan dan ini semua dimulai dengan gempa. Dan ketika dua orang itu panik dan hewan serta isi hutan menjerit tak keruan maka Thai Liong dan Soat Eng terjebak di dalam hutan, tak ingat lagi pada peta dan bayangan Istana Hantu juga dilupakan.

Saat itu mereka jatuh bangun diguncang gempa. Sam liong to sedang bergerak dan pulau itu sebenarnya gunung berapi. Dan ketika letusan kecil berubah menjadi letusan besar dan tiba-tiba pulau bagian tengah meninggi dan membentuk kerucut tiba-tiba saja suara menggelegar membuat dua muda-mudi ini terlempar. "Blarr!" Tampaklah kilatan api di udara.

Thai Liong dan Soat Eng yang terpekik melihat itu mendadak menyadari bahwa mereka berada di sebuah gunung berapi, mendengar lagi suara menggelegar disusul muncratnya debu dan bebatuan. Sam-liong-to "batuk" Dan baru sadarlah mereka bahwa pulau itu bukan sembarang pulau, melainkan gunung berapi yang tercipta di dasar lautan.

Dan ketika pasir dan batu dimuntahkan ke atas untuk akhirnya jatuh lagi ke bumi maka dua kakak beradik ini gentar dan ngeri melihat kedahsyatan alam, berteriak dan Soat Eng jatuh bangun menyambar kakaknya. Sekarang terlihatlah rasa ngeri dan takut di hati gadis ini, Thai Liong mengajaknya berlindung di mana saja, di pohon atau batu-batu besar, setiap kali harus menyingkir kalau batu atau pohon itu roboh, berderak atau berdebum di samping mereka.

Maklum, tanah sedang bergerak dan berkali-kali mereka melihat bumi yang merekah yang siap menelan mereka. Sekali terpelanting dan jatuh ke situ tentu lenyaplah mereka. Rekahan bumi seakan tanah kuburan yang siap memangsa mereka. Dan ketika suara letusan atau gelegaran itu disusul oleh bunyi aneh dari lautan yang kembali buas maka Soat Eng gemetar memegang lengan kakaknya. "Celaka, kita akan mati di sini, Liong-ko. Kita bisa terkubur hidup-hidup!" "Tenanglah, kalau gempa atau letusan ini terus-menerus memang kita akan tewas, Eng-moi. Tapi kukira ini kejadian alam yang sebentar saja." "Bagaimana kau tahu?" "Kira-kira saja, Eng-moi. Biasanya gunung berapi yang baru tercipta tak akan lama amukannya." "Tapi aku takut....!" "Ada aku di sini, Eng-moi. Tenanglah!"

Dan Thai Liong yang terus menghibur adiknya sambil mendengarkan suara gemuruh akhirnya mendengar suara bercuitan pula di laut, melihat gelombang yang tinggi dan tiba-tiba pemuda itu tertegun. Pulau yang terus bergerak naik akhirnya membuat mereka berdua berada di tempat yang lebih tinggi, kebetulan melihat gelombsng pasang yang dahsyat sekali, debur atau buih ombak yang jauh lebih ganas daripada yang mereka alami. Mengertilah Thai Liong bahwa kiranya badai atau topan yang mereka alami pertama adalah tanda akan munculnya gempa dan kegaduhan semua ini, bekerjanya gunung di dasar laut dan naiknya pulau Sam-liong-to.

Berharap mudah-mudahan semuanya itu tidak berlangsung lama. Betapapun lebih dari tiga jam saja mereka bisa tewas, guguran dan jatuhan batu-batu yang dilemparkan gunung berapi tu cukup banyak, belum debunya yang berhamburan ke segala penjuru. Dan ketika langit menjadi gelap dan Sam-liong-to terus bergerak dengan guncangan gempanya yang bertubi-tubi maka dua kakak beradik ini jatuh bangun dipermainkan kedahsyatan alam, melihat semburan api dan kilatan cahaya di angkasa. Indah namun menyeramkan!

Dan ketika sejam kemudian semua suara-suara itu mereda dan kakak beradik Ini seakan lumpuh dicekam kejadian itu maka tiga puluh menit kemudian suara-suara ini lenyap namun mereka melihat sesuatu yang mentakjubkan di sana, di sebelah kiri mereka di mana tiba-tiba muncul sebuah atap bangunan. Mula-mula Thai Liong terbelalak, mengira mimpi. Matahari yang bergeser ke barat akhirnya menembus gumpalan debu yang membentuk semacam awan hitam, lorongnya keemas-emasan dan tepat sekali jatuh di atas bangunan ini, yang juga menjadi keemas-emasan dan sinarnya berkilauan memantul ke segenap penjuru.

Thai Liong terpusat perhatiannya karena itulah yang pertama kali dilihat, tidak seperti adiknya yang sedang memandang ke kanan, melihat bergelimpangannya binatang-binatang yang tewas dan harimau serta kera terjepit di antara tumpukan batu-batu besar. Soat Eng melihat semuanya itu dan tertegun, memberi tahu kakaknya tapi jadi bengong ketika menoleh, mengamati puncak bangunan yang keemasan itu, indah tertimpa sinar matahari yang membentuk lorong kekuningan.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment