Chapter 100
"Tidak, jangan... oh, jangan!" Namun siapa yang mendengar?
Putri Bu-ciangkun ini akhirnya melengking dan menjerit ketika sesuatu menyakitkan tubuh bagian bawahnya. Togur dengan kasar, beringas, dan tertawa-tawa menciumi gadis itu. Kini Mei Ling membuktikan dengan nyata kekejaman pemuda tersebut; berita tentang pemerkosaan atau kejahatan serupa yang dilakukan pemuda itu memang benar adanya. Setelah menyerbu dan menyerang dengan pasukannya, ia menangkap dan mempermainkan wanita-wanita cantik yang menjadi korbannya.
Ketika Mei Ling mengeluh dan menggeliat di bawah keperkasaan pemuda itu, setan dan iblis menjadi saksi atas peristiwa biadab ini.
"Oh, tidak... jangan... jangan, Togur. Kau... kau pemuda keji... ooh!" Keluh atau rintihan itu tak ada yang mendengar. Togur dengan buas dan kasar mempermainkan korbannya. Mei Ling menangis dan tak dapat berbuat apa-apa hingga akhirnya pingsan.
Tiba-tiba, saat gadis itu mengerang dan menjerit lirih, sebuah tendangan menghantam pemuda itu.
"Keparat, kau mempermainkan kekasihku, Togur? Kau menggagahinya? Jahanam... des, dess!"
Togur yang kaget karena mendapat serangan tiba-tiba itu melihat kedatangan Ting Han. Togur bergulingan lalu meloncat bangun, sementara Ting Han yang merah padam melihat lawannya telanjang bulat, terbelalak, namun tiba-tiba tertawa terbahak-bahak sambil menyambar pakaiannya.
Togur sempat kaget karena mengira yang datang adalah Thai Liong. Namun, begitu melihat bahwa yang datang adalah pemuda tinggi kurus itu, murid Siauw-jin tersebut tertawa, merasa marah sekaligus geli.
"Eh, kau rupanya? Ha-ha, kekasihmu cantik sekali, bocah. Dan nikmat tiada tara. Ia masih perawan! Ha-ha, sungguh luar biasa dan menakjubkan!"
Togur berkelebat meninggalkan pemuda itu. Ia menggeram marah kepada guru-gurunya karena merasa telah lalai dalam berjaga, sehingga bocah ini bisa datang mengganggu. Jika yang melakukan itu adalah Thai Liong, tentu lain ceritanya. Begitu sadar dan marah kepada kelima gurunya, Togur meninggalkan Ting Han sejenak untuk melabrak mereka.
Namun, apa yang terjadi? Rupanya sebuah pemandangan lain tersaji. Nenek Ji-moi, yang tadi ingin menonton muridnya, tampak mendengus-dengus di bawah sebatang pohon. Nenek itu sedang bergumul bersama Siauw-jin, sementara nenek Naga menonton sambil terkekeh-kekeh karena merasa hal itu lucu. Tak jauh dari situ, nenek Toa-ci bergulingan bersama Cam-kong, tua sama tua!
"Hih, heh, terus, Siauw-jin. Terus! Angkat naik kakimu yang pendek dan goyang pinggul sekuat-kuatmu!"
Togur tertegun. Ternyata keempat gurunya itu sedang bermain cinta sementara nenek Naga menonton. Tentu nanti akan tiba giliran nenek itu jika teman-temannya selesai. Togur terbelalak sekaligus geli. Pantas saja hal ini membuatnya kecolongan musuh!
Ia membentak marah karena perbuatan ini membahayakan dirinya. Dengan berkelebat ke depan, ia melayangkan serangan, "Des, des, dess!" Kelima orang itu pun terpental dan berteriak kaget, terlepas satu sama lain.
"Jahanam bedebah, kalian terkutuk! Eh, apa yang kuperintahkan pada kalian, Suhu? Apakah aku menyuruh kalian bercinta? Lihat, seorang musuh datang menyerangku, dan kalian tidak tahu karena asyik bercinta-cintaan. Keparat, bedebah!"
Togur berdiri dengan mata merah, membuat kelima gurunya terkejut dan berloncatan bangun. Tubuh mereka telanjang bulat, tampak lucu seperti kakek dan nenek kempot dengan buah dada yang bergelantungan layaknya kates!
Saat semuanya terkesiap, bayangan Ting Han yang menyusul pemuda itu berkelebat.
"Togur, kau iblis tak berjantung. Kau pemuda keparat!"
Ting Han langsung menyerang dan membacok dengan pedangnya. Kelima kakek dan nenek iblis itu terkejut dan sadar bahwa kelengahan mereka membiarkan pemuda ini datang. Namun, melihat pemuda itu bukan Thai Liong dan gerakannya bukan pemuda yang lihai, Siauw-jin tiba-tiba terkekeh dan berkelebat maju.
"Togur, maafkan kami. Tapi aku dapat menyelesaikan pemuda ini... plak, pletak!"
Pedang di tangan Ting Han seketika patah, disusul jerit pemuda itu saat tubuhnya terlempar tinggi ke udara dan terbanting di tanah. Satu keluhan pendek terdengar sebelum tubuh itu jatuh berdebuk. Ketika tubuh itu terkapar dan Siauw-jin tertawa, ternyata pemuda ini telah tewas dengan hidung dan telinga mengeluarkan darah!
"Ha-ha, lihat, Togur. Kami telah menebus dosa!"
Togur mengerutkan kening. Ia melihat pemuda tinggi kurus itu telah binasa. Dalam sekejap, gurunya yang cebol itu menghabisi lawan. Namun, terdengar bentakan nyaring ketika Mei Hoa melompat dan menyerang si cebol. Mei Hoa muncul dengan teriakan kaget melihat tewasnya Ting Han.
"Aih, kalian iblis-iblis keji. Terkutuk, mampuslah!"
Pedang yang menyambar dan menusuk tenggorokan Siauw-jin disambut kekeh kakek itu. Ia hendak menangkis, tapi kali ini nenek Naga berkelebat mendahului Siauw-jin. Nenek itu membentak dan ingin membunuh gadis tersebut, mencontoh temannya. Namun, ketika Togur menghardik agar nenek itu mengurangi tenaganya, Mei Hoa terpelanting saat pedangnya ditampar hingga terpental.
"Tahan... plak, bluk!"
Mei Hoa menangis. Ia selamat karena nenek Naga tidak jadi menampar kepalanya, melainkan mengenai pedangnya hingga terlepas. Ketika ia bergulingan bangun dengan marah dan memaki-maki, Ji-moi yang tersenyum dan berkelebat ke depan mendahului nenek Naga, berseru perlahan.
"Togur, kau agaknya menginginkan gadis ini. Baiklah, kutangkap dia untukmu dan terimalah!"
Mei Hoa terkejut. Saat ia sedang memaki, nenek itu berkelebat ke arahnya, menangkap, dan mengulurkan lengannya. Gadis itu mencoba menangkis, tetapi karena ia bukan lawan si nenek iblis, gerakan Ji-moi yang jauh lebih cepat membuatnya tertangkap dan dilemparkan ke arah Togur.
"Hi-hik, terimalah, Togur. Ini permintaan maaf dari kami!"
Togur tersenyum. Sebenarnya ia belum berhasrat mempermainkan gadis itu karena baru saja mengerjai Mei Ling. Namun, saat ia hendak menangkap tubuh yang terlontar di udara itu, tiba-tiba berkelebat bayangan kuning emas dan muncul Thai Liong.
"Togur, kalian biadab. Serahkan dan lepaskan gadis itu... duk, plak!"
Togur terpental. Thai Liong telah berjungkir balik menyambar tubuh Mei Hoa dengan gerakan yang luar biasa cepat. Pemuda itu meneruskan gerakannya dengan tendangan cangkul. Nenek Ji-moi yang terdekat "dicangkul" hingga kontan menjerit karena kepalanya terputar.
Thai Liong melayang turun dan berdiri dengan muka merah, sementara di sana Togur terguling-guling dan berteriak dihajar pukulan Thai Liong.
"Keparat, serang pemuda ini. Bunuh dia!"
Namun, Thai Liong mendahului. Marah dan melengking melihat Ting Han roboh tak bernyawa, putra Pendekar Rambut Emas ini berkelebat cepat. Jing-sian-eng dan Cui-sian Gin-kang langsung keluar, digabung dan menyambar ke arah lima kakek dan nenek iblis itu. Karena Ji-moi dan yang lain gentar menghadapi pemuda ini, satu per satu mereka menerima pukulan atau tamparan.
"Des, des, dess!" Kelima orang itu berteriak.
Togur terkejut dan membelalakkan mata, memaki kelima gurunya yang dianggap goblok dan tolol! Begitu Ji-moi dan yang lain terpelanting dan menjerit tak keruan, Togur menerjang ke depan.
"Des, plak!" Pemuda itu terpental.
Thai Liong menggabung Khikang dengan Lui-ciang-hoat-nya, kontan membuat Togur mengeluh dan terbanting bergulingan. Namun, karena pemuda itu dilindungi Khikang dari Cermin Naga yang khusus melindungi pemiliknya, ia tidak apa-apa dan bangun lagi. Ia menyerang bersama gurunya; Siauw-jin dan teman-temannya mencabut senjata baru karena senjata lama mereka hancur saat bertemu Thai Liong di benteng.
Mereka mengeroyok pemuda itu dengan cepat dan bertubi-tubi. Namun, saat Thai Liong mengeluarkan Khikang bersama Lui-ciang-hoat-nya, kelima iblis itu tidak tahan dan tetap saja terpelanting.
"Aduh... des, des, dess!"
Togur terbelalak. Ia marah karena hanya ia seorang yang mampu menerima pukulan Thai Liong. Kelima gurunya jungkir balik karena mereka tidak dilindungi Khikang, ilmu Bola Karet yang didapat pemuda ini dari Cermin Naga. Saat semuanya mengaduh dan terlempar bergulingan, satu pukulan Thai Liong menghantam tengkuk pemuda ini.
"Dess!" Togur terbanting.
Pemuda ini nanar dan terguling-guling, namun dapat meloncat bangun lagi berkat Khikang-nya. Ketika Thai Liong berkelebat dan menghantamnya lagi, pemuda itu mengeluh dan terpekik kesakitan. Betapapun panas rasanya menerima pukulan Lui-cing-hoat atau Khi-bal-sin-kang yang digabung, lama-lama ia tidak tahan juga.
Ketika Thai Liong membentak dan menggerakkan tangan untuk mencengkeram lehernya, tiba-tiba Togur melempar granatnya dan berteriak.
"Darr!"
Thai Liong waspada. Ia berjungkir balik melihat lawannya mengeluarkan sesuatu dari balik kantung baju. Dugaan benar; Togur mengeluarkan granat tangan. Saat benda itu meledak, Thai Liong mengibas ke kiri dan kanan, sehingga pecahan granat menyambar Siauw-jin dan empat temannya yang lain.
"Aduh... crat, crat!" Kelima iblis itu memekik.
Pecahan granat yang didorong pukulan jarak jauh Thai Liong tentu jauh lebih cepat dibandingkan ledakan granat yang menyambar secara wajar.