Chapter 101
Kulit mereka mampu menahan serangan dan mustahil terluka karena telah memiliki *sinkang* atau tenaga sakti yang kuat. Namun, karena pecahan itu terdorong oleh pukulan Thai Liong dan pemuda itu jelas memiliki *sinkang* yang lebih hebat, kakek dan nenek iblis tersebut menjerit kesakitan dengan pecahan granat yang menancap di sekujur tubuh mereka.
Ji-moi bahkan menjerit histeris karena pecahan granat nyaris mengenai bola matanya. Nenek itu terus berguling-guling sambil mengerang kesakitan. Ketika Togur berteriak agar mereka segera lari, kelima iblis itu pun langsung bangkit dan melarikan diri mengikuti Togur.
"Lari!" seru mereka bersicepat.
Siauw-jin dan yang lain merasa gentar menghadapi Thai Liong karena pemuda itu selihai ayahnya. Tentu saja kakek dan nenek iblis tersebut tampak pucat. Namun, ketika mereka hendak melarikan diri, sebuah bayangan tinggi besar membentak mereka.
"Kembali!" Bentakan tersebut mengejutkan Cam-kong. Kakek tinggi kurus itu, yang berada di posisi paling depan, langsung diserang. Sebuah pukulan dahsyat menghantamnya tanpa basa-basi. Itulah Ituchi yang membuat kakek itu tertegun. Begitu mendengus dan mengetahui siapa lawannya, kakek itu segera menangkis.
"Dess!" Ituchi terpental. Dibandingkan salah satu dari lima Iblis Dunia, pemuda ini memang belum sebanding. Dia berteriak keras, lalu berjungkir balik melayang turun untuk membuang tenaga tangkisan lawan dan menyerang kembali. Namun, karena ada Thai Liong di sana dan Cam-kong tidak ingin terhambat, kakek itu menyelinap dan membiarkan serangan pemuda itu menyambar Toa-ci yang berada di belakangnya.
"Dess!" Ituchi terbanting. Pemuda itu mengeluh, terguling-guling, lalu membentak dan meloncat bangun untuk menyerang lagi. Tapi ketika nenek Toa-ci berkelebat dan enggan melayaninya, pemuda itu berteriak marah.
"Hei, kalian jangan pengecut, Cam-kong! Hayo layani aku dan akan kuringkus kalian!"
"Hm, pemuda sombong!" Cam-kong mendengus. "Kalau tidak ada bocah bermarga Kim itu, tentu sudah kubunuh kau. Pergilah, lain kali saja kita bertemu!"
"Tapi kalian membunuh Ting Han! Hei, jangan lari dan hadapi aku!"
Cam-kong dan kawan-kawan tentu saja tidak menghiraukan pemuda itu karena harus segera menjauhi Thai Liong. Mereka segera menyusul Togur yang sudah menghilang dengan cepat.
Saat Ituchi masih memaki lawan, sebuah tubuh menabrak dan menumbuknya hingga terhuyung jatuh. "Bluk!" Itulah Mei Hoa. Gadis itu tersedu-sedu dan gemetar karena kengerian yang ia saksikan. Ia telah melihat apa yang dialami adiknya yang kini terbujur telanjang bulat dan pingsan.
"Aduh, keparat kau, Togur. Jahanam kau! Ah, kubunuh kau jika bisa. Kau menghina dan menodai adikku!"
Ituchi tertegun. Di sana, ia melihat Thai Liong sedang memeriksa Mei Ling. Gadis itu telah ditutupi dengan baju milik Thai Liong. Pemuda itu merasa bergidik. Begitu Mei Ling sadar dan membuka mata, ia tiba-tiba menjerit dan menyerang Thai Liong karena mengiranya sebagai Togur.
"Keparat jahanam! Kubunuh kau, Togur. Kubunuh kau... dess, dess!"
Pukulan dan tendangan Mei Ling yang mendarat di tubuh Thai Liong justru membuat gadis itu terpelanting dan menjerit kesakitan karena Thai Liong tidak bergeming. Pemuda itu mengerahkan *sinkang*-nya untuk bertahan, sehingga gadis itu sendirilah yang menanggung rasa sakitnya. Ketika Mei Ling sadar bahwa yang diserang bukanlah Togur, ia pun tertegun.
"Oh, kau... kau..."
"Benar, aku bukan Togura, Mei Ling. Aku Thai Liong. Maaf, aku menyakitimu dan membuatmu terkejut."
"Ooh...!" Mei Ling menangis tersedu-sedu saat melihat encinya dan mayat Ting Han. "Oh, tidak! Tidak, Ting Han. Bukan kau yang mati!" Gadis itu meratap dan mengguncang mayat itu, namun Ting Han tidak lagi dapat menjawab. Pemuda itu telah tewas di tangan Siauw-jin.
Ketika Mei Ling menjadi histeris seperti orang gila, ia bangkit dan berteriak memanggil Togur. Namun, gadis itu akhirnya roboh saat encinya berkelebat dan menyambar tubuhnya.
"Ling-moi, sadarlah. Pemuda itu tidak ada di sini!"
Mei Ling pingsan setelah encinya menotok tubuhnya. Ia terlalu terpukul dan terhina oleh perbuatan biadab Togur. Saat gadis itu ditolong, Thai Liong dan Ituchi pun bergerak. Thai Liong mengurus jenazah Ting Han, sementara Ituchi membantu Mei Hoa.
Ituchi menotok beberapa saraf tertentu untuk menyadarkan Mei Ling. Gadis itu akhirnya sadar dan tampak bengong sejenak sebelum tangisan encinya menyadarkannya kembali. Ketika Mei Ling ingat apa yang terjadi, wajahnya berubah merah padam.
"Mana dia? Mana binatang itu?"
"Sudahlah, dia sudah lari, Mei Ling. Tidak dapat menangkapnya sekarang, masih banyak waktu di kesempatan lain," sahut Ituchi sambil menggenggam lengan gadis itu. Mei Ling tersentak. Sentuhan lelaki itu terasa menyengatnya; trauma dengan Togur masih membekas. Saat lengannya terlepas dan gadis itu bangkit, pandangan penuh dendam terpancar dari matanya.
"Akan kucari dia. Kubunuh!"
"Hm, bagaimana kau membunuhnya?" suara Thai Liong terdengar. "Togur tidak dapat kau bunuh jika kepandaianmu hanya sebesar itu, Mei Ling. Dia terlalu lihai dan kejam bagimu!"
"Aku tahu," sahut gadis itu berapi-api. "Tapi aku akan mencari dan berusaha membunuhnya, Kim Thai Liong. Atau aku mati dan biar aku mampus!"
"Mei Ling!" sang kakak membentak. "Jangan bersikap kasar kepada Kim-siauwhiap, Adikku. Dialah yang menolong kita semua!"
"Hi-hik, tapi terlambat juga!" gadis itu mengejek. "Kim-siauwhiap tidak dapat menolong aku, Enci. Aku pun tidak mengharap pertolongannya. Biarlah, noda ini akan kuhapus dengan darah binatang itu atau dengan darahku sendiri!"
Gadis itu hendak beranjak pergi, namun sang enci menahannya. "Kau mau ke mana?"
"Aku... aku mau ke mana saja."
"Tidak, kau harus bersamaku, Ling-moi. Jangan bodoh. Kita cari pemuda itu bersama-sama, dan barangkali Kim-siauwhiap atau temannya mau menolong kita!"
"Itu benar, Mei Ling," sambut Thai Liong. "Aku dan Ituchi tentu senang membantu kalian. Perbuatan Togur harus dituntut. Marilah, kalian bersama kami dan kita cari pemuda itu bersama-sama."
"Atau kalian pulang saja ke kota raja," saran Ituchi. "Togur benar-benar berbahaya. Terus terang, aku sendiri masih bukan tandingannya. Hanya Thai Liong dan keluarganya yang dapat menghadapi pemuda itu."
Mei Hoa mencekal erat lengan adiknya dan memohon agar tetap bersama. Setelah dibujuk oleh semua orang, akhirnya Mei Ling mengeluh dan menyerah di dekapan encinya.
"Baiklah, bagaimana kalau kita pulang ke kota raja, Ling-moi? Bergabung dengan paman-paman yang lain?"
"Aku pribadi masih ingin mencari pemuda itu. Tapi kalau Enci ingin pulang, aku menurut saja."
"Sebaiknya kalian ikut kami, Mei Ling," kata Thai Liong. "Sedikit banyak kami dapat memberikan perlindungan. Bagaimana kalau kalian bersama kami selama satu atau dua minggu? Jika kalian suka, kami tidak keberatan. Tapi kalau kalian ingin pulang, aku juga tidak melarang."