Halo!

Istana Hantu - Chapter 102

Memuat...
Istana Hantu

Chapter 102

Pemuda ini mengerutkan kening dan memandang Thai Liong, memberi isyarat bahwa kedua gadis bersama mereka hanyalah merupakan beban saja.

Thai Liong mengerti, tetapi menggelengkan kepala diam-diam.

Dan karena urusan itu lebih dipercayakan pada pemuda ini daripada dirinya, Ituchi menarik napas dan tetap diam. Namun, Mei Ling rupanya tahu, atau merasa.

"Tidak, kalau begitu... kalau begitu kita pulang saja, Enci. Tapi kau berjanji bahwa binatang itu harus dibalas!"

"Aku tentu akan membalas, sebisa mungkin!"

"Kalau begitu kita pulang, mari..." Dan Mei Ling yang menarik kepalanya dari dada sang enci, lalu mengajak pergi tanpa memandang kedua pemuda itu. Ia melompat, dan encinya tertegun, tetapi cepat mengejar sang adik.

Dan ketika gadis itu kembali menangkap adiknya dan berseru pada Thai Liong bahwa mereka akan kembali ke kota raja, Thai Liong terkejut dan mengerutkan kening.

"Ah, aku tidak enak. Bagaimana pendapatmu, Ituchi?"

"Aku biasa-biasa saja, tidak apa-apa."

"Tapi aku tidak nyaman. Aku ingin mengikuti mereka!"

"Bagaimana pendapatmu?"

"Hm, terserah kau, Thai Liong. Tapi kupikir kita harus mencari Togura?"

"Tentu, tetapi tunggu dulu, Ituchi. Aku ingin mengikuti mereka semalam saja, dan setelah itu kita melanjutkan perjalanan kita lagi!"

"Kalau begitu baiklah, mari..." Dan Ituchi yang agak ogah-ogahan, membalikkan badan lalu mendahului untuk menyusul kakak-beradik Mei Ling, diikuti Thai Liong. Malam itu mereka melihat kedua gadis itu kemalaman di tengah jalan. Mereka berhenti dan menemukan sebuah gua, lalu duduk dan menyandarkan tubuh di sana.

Dan ketika Thai Liong menyelinap dan mengintai dengan perasaan yang semakin tidak nyaman, terdengarlah Mei Ling menahan isak dan menanyai encinya.

"Enci, kau benar-benar akan membantuku mencari jahanam itu?"

"Kau benar-benar akan membantu membalaskan dendamku pada binatang itu?"

"Ah, berkali-kali kau bertanya. Aku tentu membantumu, Ling-moi, dengan sekuat tenagaku. Tapi aku tentu tidak dapat membunuhnya kalau sendirian saja!"

"Pemuda itu amat lihai, kau tahu. Dan tentunya kau memaklumi kekuatan encimu ini."

"Ya, aku tahu. Tapi kau tentu tidak akan membiarkan aku tetap terhina, bukan, Enci? Bahwa kau akan membalaskan sakit hatiku dalam keadaan bagaimanapun?"

"Tentu! Tapi, eh... kenapa kau terus-menerus bertanya tentang hal ini? Apakah kau tidak percaya pada encimu? Hidup atau mati aku tetap akan mencari pemuda itu, Ling-moi. Membalaskan sakit hatimu yang juga berarti sakit hatiku!"

"Bagus, terima kasih. Kalau begitu, hmm... aku tenang." Dan malam itu Mei Ling yang tidur di samping encinya, tidak banyak bicara lagi, tersenyum. Hanya Thai Liong yang melihat pandangan ganjil pada gadis yang batinnya sedang terpukul itu.

Perbuatan Togura memang biadab. Dan ketika malam itu Mei Hoa menangis sambil memeluk adiknya, yang kemudian mendorongnya karena ingin tidur sendiri, keesokannya terdengar jerit dan pekikan Mei Hoa.

Ia melihat adiknya sudah membujur kaku dengan muka kebiruan. Mei Ling, yang malam tadi tidak mau dipeluk encinya, ternyata diam-diam telah menelan pil Maut, yakni pil yang sedianya disiapkan gadis itu untuk berjaga-jaga jika terjadi sesuatu, sebagai upaya menghindari perkosaan Togura, jika memang pemuda itu melakukannya.

Dan karena pil ini ternyata tidak dapat ditelan Mei Ling, karena saat itu lawan terlebih dahulu menotoknya dan perkosaan itu terjadi sebelum gadis itu sempat menelan pilnya, maka malam itu setelah berulang-ulang meminta janji encinya, gadis itu akhirnya bunuh diri!

Mei Hoa menjerit dan melolong-lolong melihat keadaan adiknya itu, tubuh yang kaku dan biru. Thai Liong pun melompat kaget. Pemuda ini tidak tahu dan tidak menyangka. Ia berkelebat dan tertegun melihat mayat Mei Ling.

Dan ketika Mei Hoa terkejut dan menjerit melihat Thai Liong, gadis itu menubruk dan tersedu-sedu di pelukan pemuda ini.

"Aduh, adikku... adikku tewas, siauwhiap. Dia bunuh diri!"

"Hm, dia menelan racun!" Thai Liong tergetar, sekali melihat, ia tahu apa yang terjadi.

"Bagaimana itu bisa terjadi, Mei Hoa? Kau tidak mewaspadai tingkah laku adikmu yang aneh?"

"Aku... aku terlambat. Dia... dia... ah, adikku menelan pil Maut!" Dan Mei Hoa yang menceritakan sejenak tentang pil yang mereka bawa, lalu membuat Thai Liong tertegun. Ituchi tiba-tiba berkelebat datang, yang semalam tidak begitu acuh dan menganggap Thai Liong terlalu mengkhawatirkan kakak-beradik itu.

Ternyata benar, sekarang Mei Ling tewas dengan muka kebiruan, menelan racun. Dan ketika pemuda itu terhenyak dan termangu-mangu, Mei Hoa membalik dan melepaskan dirinya dari pelukan Thai Liong, menjerit memanggil adiknya, namun gadis itu pun akhirnya roboh dan pingsan.

Dan ketika Thai Liong berkelebat dan Ituchi tertegun, Thai Liong menolong Mei Hoa dan cepat menyadarkan gadis itu.

"Tenanglah. Maaf, Mei Hoa. Aku sudah menangkap gerak-gerik adikmu yang aneh, tapi sungguh tidak kuduga kalau dia menelan racun. Ah, aku menyesal, tidak dapat menolong. Berhentilah menangis dan biarkan kami berdua membantumu." Mei Hoa terisak-isak dan tubuhnya berguncang-guncang. Dia terpukul dan berteriak-teriak memanggil adiknya. Namun, karena adiknya telah tewas dan tidak mungkin kembali, tiba-tiba gadis itu mencabut pedang dan hendak menusuk dadanya sendiri.

"Plak!" Thai Liong menampar, pedang terpental, dan tentu saja pemuda itu mencegah upaya bunuh diri itu. Mei Hoa memaki dan kalap, hendak menyambar pedangnya lagi, tetapi Thai Liong telah menotok pundaknya. Dan ketika gadis itu roboh dengan lemas dan mengeluh setelah ditotok pemuda ini, Thai Liong berkata.

"Mei Hoa, kalau kau bunuh diri, maka kau melanggar janjimu sendiri terhadap adikmu. Apakah kau tidak ingat bahwa adikmu meminta agar kau membalaskan sakit hatinya? Apakah kau lupa bahwa kau telah berjanji pada adikmu? Rupanya adikmu sengaja melakukan ini, Mei Hoa. Dan kau dituntut untuk melaksanakan janjimu, atau arwah adikmu akan penasaran di alam baka sana kalau kau melanggar ucapanmu sendiri!"

"Oh...!" Gadis itu tersedu-sedu. "Aku... aku tidak kuat, siauwhiap. Aku tidak mau sendirian tanpa adikku. Aku ingin menyusul. Ah, jahanam keparat Togura itu! Bedebah dan terkutuk dia!" Dan ketika gadis itu tersedu-sedu tetapi sadar akan kata-katanya sendiri, upaya bunuh diri itu berhasil dicegah.

Akhirnya Thai Liong membujuk dan memperingatkan gadis itu. Ituchi di sana sudah termangu-mangu dan menghela napas penuh sesal. Dia ternyata kurang tajam menangkap firasat. Thai Liong benar dan dia salah.

Dan ketika jenazah gadis itu akhirnya dimakamkan dan Mei Hoa terisak-isak di pusara adiknya itu, Thai Liong bertanya pendapat Ituchi, untuk kesekian kalinya lagi menguji pemuda itu.

"Terserah kau. Kau lebih pandai, Thai Liong. Kau lebih tanggap menangkap keadaan. Biarlah aku mengikuti dan menurut kata-katamu."

"Gadis itu harus kita bawa. Mei Hoa bersama kita."

"Baiklah, aku setuju." Dan ketika hal itu dikatakan pada Mei Hoa dan gadis itu menangis, Mei Hoa hanya berkata.

"Aku tidak mempunyai orang tua, tidak mempunyai siapa-siapa lagi. Kalau siauwhiap bersedia membawaku untuk menemukan pemuda keparat itu, tentu saja aku berterima kasih. Hanya aku mungkin mengganggumu saja, siauwhiap. Kepandaianku rendah dan betapa bodohnya aku!"

"Hm, pertama, jangan panggil aku siauwhiap," Thai Liong berkata. "Panggil saja aku twako atau kakak, Mei Hoa. Dan masalah dirimu, kupikir tidak menjadi persoalan. Kami memang hendak mencari pemuda itu, jika kau bersedia bersama kami, tentu saja kami senang. Nah, semuanya sudah diatur, Mei Hoa. Mari kita berangkat dan tinggalkan tempat ini." Gadis itu mengangguk. Setelah berlutut dan mencium kuburan adiknya, gadis itu terhuyung melangkah pergi, tanpa malu atau canggung bersama dua pemuda. Maklumlah, kedukaan masih menghimpit batinnya.

Tapi ketika seminggu kemudian kedukaan itu mulai berkurang dan Thai Liong maupun Ituchi selalu bersikap baik dan menghiburnya, lama-kelamaan sifat kewanitaannya muncul, malu dan mulai kikuk, namun Thai Liong bersikap biasa-biasa saja. Kali ini Ituchi memperlihatkan perubahan sikap, sering melirik dan memandang gadis itu, yang entah kenapa tiba-tiba menyentuh keharuannya dan rasa tertarik pemuda itu pun timbul.

Dan ketika Ituchi mulai memperlihatkan kemesraan dan perhatiannya yang besar, Mei Hoa tertegun melihat sikap Ituchi yang lebih istimewa daripada Thai Liong.

"Kau dapat mandi di sini. Telah kutemukan sumber air yang jernih!" Begitu pemuda itu berkata ketika mencarikan tempat untuk mandi gadis itu. Dan ketika masalah makan atau minum, pemuda itu juga lebih memperhatikannya daripada Thai Liong, maka Mei Hoa lama-lama tergetar.

"Atau ini. Makanlah milikku, Mei Hoa. Kebetulan aku mendapatkan empat buah pisang ini!" Pemuda itu menyodorkan pisangnya, memberikan penuh perhatian, dan sikap serta pandangan matanya penuh cinta kasih. Mei Hoa menerima dan tentu saja lama-lama getaran pemuda itu tidak dapat ditolaknya lagi.

Dan ketika Thai Liong juga melihat itu dan akhirnya tersenyum-senyum, maka dua minggu kemudian pemuda itu sengaja memberikan kesempatan pada temannya untuk lebih berdekatan lagi dengan putri Bu-ciangkun itu. Akhirnya cinta bersambut dan Ituchi benar-benar mendapatkan pujaannya. Kiranya pemuda itu mencintai gadis itu bermula dari haru, iba, dan kasihan setelah melihat kematian Mei Ling. Dan karena perasaan iba atau haru mudah sekali menimbulkan perasaan kasih, akhirnya cinta pemuda itu bersemi dan Mei Hoa kebetulan ternyata juga tidak menolak!

"Aku mencintaimu. Tidak dapat kusangkal aku mencintaimu, Mei Hoa. Kalau kau tidak keberatan dan mau menerimanya, sungguh aku merasa bahagia sekali. Dan kita dapat sama-sama mencari Togura lebih sungguh-sungguh lagi!" Mei Hoa terisak.

"Aku... aku menerimamu, Ituchi. Tapi tidakkah aku kelak mengecewakanmu?"

"Ah, mengecewakan apa?"

"Kau putra seorang raja, kau seorang pangeran! Sedangkan aku, ah... aku orang biasa, Ituchi. Aku sebatangkara dan tidak punya apa-apa lagi!"

"Ah, jangan begitu," pemuda itu memeluk. "Meskipun aku putra raja, tetapi aku seorang pangeran dari sebuah suku bangsa liar, Mei Hoa."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment