Halo!

Istana Hantu - Chapter 103

Memuat...
Istana Hantu

Chapter 103

Jauh bedanya dengan pangeran di tempatmu itu. Lagi pula, kau putri Bu-ciangkun, seorang panglima gagah! Siapa yang tidak tahu dirimu? Kalau sebatangkara, hm... justru itu semakin menguatkan cintaku, Mei Hoa. Aku ingin melindungimu dan menjagamu setiap saat!"

"Ooh...!" Gadis itu menangis. "Kalau begitu, aku bahagia sekali, Ituchi. Kalau begitu... kalau begitu terserah kau...!"

Ituchi memeluk serta mencium gadis itu. Keduanya saling melepas rindu; selama ini, diam-diam masing-masing pihak memang mengharapkan satu sama lain. Lirikan atau senyum malu-malu di antara keduanya tak dapat disangkal lagi ingin dilanjutkan dengan hubungan yang lebih mesra dan intim. Karena Ituchi sudah menyatakan cintanya sementara Mei Hoa juga menerima, keduanya mabuk dalam kebahagiaan dan kecupan sayang.

"Aku mencintaimu. Aku akan menjagamu melebihi jiwaku sendiri!" Mei Hoa menangis penuh haru.

Dicium dan dipeluk mesra begitu, gadis itu merasa bahagia. Ituchi mencintainya dan kini ada seorang laki-laki yang akan melindunginya. Karena cinta sudah bersambut sementara perjalanan tetap diteruskan, Thai Liong tersenyum di belakang. Ia diam-diam merasa iri namun senang bahwa Mei Hoa akhirnya mendapatkan seorang pelindung, karena bagaimanapun, tidak mungkin baginya untuk terus-menerus mengawasi atau menjaga gadis itu selamanya.

Sudah lama kita tidak mengikuti Soat Eng. Ke manakah gadis itu setelah pergi meninggalkan ayah ibunya? Mungkinkah dia ke Sam-liong-to? Tidak. Gadis ini, sebagaimana diketahui, amat marah dan mendendam atas kematian kakeknya. Tewasnya Hu-taihiap membuat gadis itu ingin mencari dan menemukan si pembunuh sampai dapat. Dan karena pembunuhnya sudah diketahui—tidak lain adalah See-ong—Soat Eng ingin mencari dan menemukan kakek itu.

Namun, gadis itu tidak gegabah. Kehebatan dan kesaktian See-ong sudah diketahuinya. Dia harus mengakui kelihaian kakek itu dengan ilmu Hek-kwi-sut, ilmu yang membuat kakek iblis itu dapat menghilang hingga semua pukulan Soat Eng sia-sia menghantamnya. Dan karena See-ong sudah diketahui memiliki kepandaian amat tinggi serta dijaga oleh lima Iblis Dunia di Sam-liong-to, Soat Eng tidak ke sana dulu. Pikirannya tiba-tiba teringat pada pencuri Cermin Naga.

Pencuri itu sudah ditemukan, sayang tidak dapat ditangkap karena mengenakan kedok, hingga siapa dia tidak diketahui. Namun, karena ciri-cirinya sudah diketahui dan pencuri itu merupakan seorang pemuda tinggi besar seperti yang dikatakan Uwak Lu, Soat Eng mencarinya. Soat Eng tentu lebih mengenal karena dia sudah pernah bertempur dengan pencuri itu.

Namun, mencari pencuri ini tidak mudah. Meskipun gadis itu telah bertanding dan mengenal ciri-ciri lawan, bukanlah hal gampang untuk menemukan musuhnya. Dulu, musuhnya itu lari setelah Siang Le datang membantu. Teringat Siang Le, tiba-tiba muka Soat Eng menjadi merah. Hm, pemuda itu! Soat Eng berdebar. Pandangan mata dan sikap Siang Le tak dapat disangkal diam-diam menggetarkan jiwanya.

Kalau saja pemuda itu bukan murid See-ong yang telah membunuh kakeknya, barangkali ia akan mudah tergetar. Maklumlah, pandangan mata pemuda itu sudah menyiratkan segalanya dan Soat Eng tentu saja bukan gadis bodoh. Putri Pendekar Rambut Emas ini telah berusia delapan belas tahun, usia yang cukup bagi seorang gadis remaja yang telah menginjak dewasa. Karena dia tahu akan sikap dan pandangan mata pemuda itu, diam-diam Soat Eng merasa panas pipinya kalau teringat akan hal tersebut.

Tapi Siang Le adalah musuhnya. Guru pemuda itu telah membunuh kakeknya. Dan karena gurunya musuh, maka muridnya juga musuh! Soat Eng mengepalkan tinju. Teringat Siang Le dikerangkeng di tempat ayahnya, diam-diam dia tersenyum mengejek. Rasakan kau, pikirnya. Kalau gurumu datang, maka ayah atau ibunya pasti menyambut hangat. Dan See-ong barangkali dapat dibunuh, setidak-tidaknya dihajar!

Karena See-ong diharapkan datang mengambil muridnya dan gadis ini ingin menelusuri jejak si pencuri Cermin Naga, ke situlah tujuan gadis ini melakukan perjalanannya. Sebulan dua bulan berlalu dan gadis itu segera menarik perhatian banyak orang, terutama laki-laki dan khususnya kaum pemuda. Banyak yang mencoba mengganggunya, namun siapa yang dapat menghadapi gadis lihai ini? Sebagai putri Pendekar Rambut Emas yang memiliki kepandaian tinggi, tentu saja gadis itu tidak perlu takut. Yang coba-coba mengganggu pasti dihajar, kalau nekat akan diberi hukuman berat.

Karena di setiap perjalanan gadis itu dapat menyelesaikan persoalannya sendiri dan akhirnya tidak ada laki-laki atau pemuda hidung belang yang dapat mengganggunya, tibalah gadis ini di daerah selatan, di kota Wu-nien. Waktu itu, Soat Eng merasa lapar dan haus. Tidak adanya pedang atau senjata apa pun di pinggangnya membuat banyak mata kembali mengganggunya. Dia merasa sebal, tapi lama-lama mulai terbiasa. Memang, kalau ada pedang atau senjata lain di tubuhnya, orang akan cepat mengenal dirinya sebagai gadis kang-ouw. Tapi Soat Eng tidak menyukai segala macam senjata. Baginya, tangan dan kakinya itulah senjata yang ampuh. Kalau ada yang coba-coba main dengannya, tentu dia akan menghajar dengan keras.

Ketika siang itu dia memasuki sebuah rumah makan dan duduk memesan minuman atau makanan seorang diri, kehadirannya segera menarik perhatian seluruh laki-laki yang ada di situ. Soat Eng sebenarnya sudah memilih tempat yang aman, di pojok dan sedikit tersembunyi di balik halangan pot-pot bunga yang besar. Tapi karena mata lelaki biasanya tajam dan kaum hidung belang atau laki-laki iseng selalu tertarik pada gadis yang duduk menyendiri, beberapa orang bangkit berdiri dan sengaja pindah ke dekat gadis itu untuk memesan makanan atau minuman.

"Ha-ha, tempat ini panas. Aih, aku ingin yang di dekat jendela situ, segar!"

"Hm, dan aku juga, Hok-twako. Rasanya di sini kurang angin dan duduk di dekat pot-pot bunga memang sejuk. Aku juga ingin di situ!"

Soat Eng mengerutkan kening. Dua laki-laki tiba-tiba berdiri dari kursinya yang jauh untuk duduk di dekat mejanya, disusul beberapa laki-laki lagi yang nyengir dan tersenyum-senyum. Ketika tidak kurang dari tujuh laki-laki berada di situ dan masing-masing meminta arak untuk menambah semangat, Hok-twako—laki-laki pertama yang tinggi besar dan berewokan—tampak berkata pada temannya yang melirik-lirik Soat Eng.

"Ha-ha, dekat pot bunga dikerumuni kumbang-kumbang jantan, agaknya sang bunga tinggal memilih mana yang dia suka, A-shan. Kumbang yang sini atau kumbang yang sana!"

"Ah, kalau aku pasti kumbang yang sini. Kantongmu tebal, uangmu banyak. Kau bisa memberikan banyak kebahagiaan pada sang bunga!"

"Ha-ha, cocok. Di kantongku ada seribu tail perak, A-shan. Umpama kuborong semua makanan di sini, tentu cukup untuk dua ratus orang!"

"Tapi mereka rupanya juga punya kelebihan. Hm, kumbang-kumbang di kiri kanan kita agaknya juga gemuk-gemuk, Hok-twako. Kau harus dapat menunjukkan kelebihanmu untuk memenangkan ini!"

"Hm, si kurus bermulut tikus! Bagaimana ada hewan-hewan begini menyebalkan di tempat ini, Beng-heng? Apakah mereka perlu digebah atau kita yang harus menyingkir?" Tiga laki-laki, seorang di antaranya berbaju hitam, tiba-tiba berseru memotong percakapan Hok-twako dan temannya itu.

Laki-laki ini melotot ke arah meja Hok-twako, namun tangannya menggoyang-goyang seolah jijik atau ingin mengusir tikus atau lalat-lalat di meja laki-laki tinggi besar itu. Ketika si kurus melotot karena dialah satu-satunya yang terkurus di antara mereka bertujuh dan merasa makian itu ditujukan kepada dirinya, laki-laki ini bangkit dan membentak si baju hitam.

"He, kau! Kepada siapa kau tujukan makianmu itu? Kepadaku kah?"

"Eh," si baju hitam acuh, menoleh tapi membuang ludah. "Kau marah kepada siapakah? Kepadaku kah?"

Omongan ini jelas dibalik. Si kurus mencak-mencak, tapi pelayan segera datang, meletakkan cawan dan arak, sehingga keributan itu berhenti sejenak. Ketika pelayan ganti meletakkan arak di meja si baju hitam, setengah berbisik pelayan ini berkata, "Maaf, jangan ribut-ribut, siauw-ya. Kalian semua adalah tamu-tamu kami. Di luar ada pengawal!"

Si baju hitam mendengus. Secara tiba-tiba muncul bayangan-bayangan pengawal, semacam satpam atau penjaga rumah makan itu, rupanya sengaja hadir untuk menjaga ketenangan agar tidak terjadi keributan. Ketika si baju hitam mendengus dan temannya di sebelah kiri tertawa, tiba-tiba temannya ini berseru, tangan bergerak menekan pundak sang pelayan.

"He, kau! Tak usah kau khawatir, pelayan. Kami Kwi-san Sam-houw (Tiga Harimau dari Kwi-san) tak pernah ribut-ribut kalau tak didahului. Pergilah, dan bawa setail emas ini untuk bersenang-senang!"

Si pelayan terkejut. Dengan royal dan pongah, teman si baju hitam itu memberinya sekeping emas, hal yang membuat bukan hanya pelayan ini saja yang terbelalak, melainkan si kurus yang menjadi teman si Hok-twako itu juga terkejut. Kepingan emas itu berharga kira-kira seratus tail, seratus kali lipat dari uang biasa!

Ketika pelayan itu menerimanya dan tersenyum membungkuk-bungkuk, pelayan ini memutar tubuhnya dengan gembira, "Aih, terima kasih, siauw-ya. Kiranya kalian adalah Kwi-san Sam-houw!"

Si kurus terbelalak. Keroyalan dan sikap teman si baju hitam itu yang jelas mengalahkan sikapnya, tiba-tiba membuat si kurus ini marah. Dia mau berdiri dan menandingi, tapi sebelum dia mengeluarkan suara, dua laki-laki terakhir yang duduk di meja bundar mendadak batuk-batuk.

"Haihh, uang curian dari mana sebanyak itu, Kiat Ma? Tahukah kau pelayan itu menerima uang haram?"

"Ha-ha, tak usah digubris."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment