Halo!

Istana Hantu - Chapter 104

Memuat...
Istana Hantu

Chapter 104

"Uang haram juga kita punyai, Suheng. Kalau mereka mempunyai uang emas, kita pun lebih-lebih lagi. Lihat!"

*Cring-cring!* Uang-uang emas berhamburan, tiba-tiba saja dikeluarkan dan sepundi uang penuh bergemerincing di atas meja. Sekarang, dua laki-laki terakhir di meja sebelah tertawa-tawa memandangi uang-uang itu yang gemerlapan, dan tentu saja membuat orang-orang yang tak terbiasa menjadi mengiler penuh nafsu.

Ketika Kwi-san Sam-houw terkejut dan terbelalak memandang kepingan-kepingan emas itu, seperti halnya si kurus dan temannya yang bernama Hok-twako, laki-laki yang dipanggil Kiat Ma ini berseru, memanggil pelayan.

"He, kau ke sini dulu. Aku juga ingin memberikan hadiah!"

Pelayan tertegun. Dengan tergopoh-gopoh dia berputar, membalik, dan menyeringai menghampiri tamunya itu. Kakinya berjingkat-jingkat dan tampak betapa haus matanya. Soat Eng sendiri juga tertegun dan terbelalak melihat uang sedemikian banyak di meja si Kiat Ma.

Ketika si pelayan datang mendekat dan tiga orang satpam di luar sana juga menoleh dan terkejut, si Kiat Ma ini sudah meraup uangnya dan memberikan segenggam pada si pelayan.

"Ha-ha, kau beruntung. Nih, terima ini, tapi keluarkan sebotol besar arak yang paling harum!"

"Terima kasih... terima kasih...!" Si pelayan mengangguk-angguk, rakus menerima uangnya, sementara Kiat Ma berpesan agar uang itu jangan sampai hilang.

Saat si pelayan membalik dan tergopoh-gopoh berlari ke belakang, uang segenggam itu sudah dimasukkannya ke dalam saku. Ia pun mengambilkan arak sesuai permintaan tamunya, sementara tiga satpam di luar tampak mengiler. Mereka pun dipanggil dan satu demi satu diberi seraup kepingan emas, perbuatan yang jauh lebih royal lagi dibanding teman si baju hitam.

Ketika semua terbelalak dan terkejut melihat itu, Kiat Ma menepuk-nepuk pundak orang-orang tersebut saat hendak pergi. "Hati-hati, jangan sampai hilang. Atau kalian kuwalat dan uang-uang itu akan berubah bentuk menjadi kerikil!"

Rumah makan ini geger. Keroyalan luar biasa yang ditunjukkan Kiat Ma ini jelas mengundang kegaduhan sepihak. Hok-twako, temannya, serta tiga orang Kwi-san Sam-houw terkejut.

"Nona, maaf. Hari ini kebetulan kami punya kaul. Kami ingin membayarnya. Setelah kami memberikan sebagian uang kami kepada mereka, maka giliranmu uang ini kuberikan. Kami sudah berjanji bahwa gadis pertama akan mendapatkan sisa uang ini. Karena kau yang kami temui, maka kami hendak memberikannya padamu. Terimalah!"

Soat Eng terkejut. Dia ingin menolak tetapi ragu, tadi dia melihat sesuatu dilakukan laki-laki ini. Maka, ketika semua uang sudah diletakkan di mejanya dan dia mengangguk dingin tanpa mengucapkan terima kasih, laki-laki itu tertawa dan mundur lagi ke mejanya.

"Ha-ha, hebat. Nona ini lain dari yang lain!"

"Tapi kau belum menanyakan namanya," sang Suheng, temannya, menegur. "Kau tak tahu kepada siapa kau berikan uangmu itu, Kiat Ma. Hayo kembali dan tanya dia!"

"Aih, lupa. Kau benar!"

Kiat Ma kembali ke meja Soat Eng, tertawa-tawa, menjura, lalu memandang uangnya yang masih di atas meja, sama sekali belum disentuh Soat Eng. "Maaf, aku ingin bertanya siapa kau, Nona. Kalau aku sendiri adalah Kiat Ma, itu Suheng-ku, Lu Sam!"

"Hm, aku tak ingin kau tahu. Kalau kau tak puas, boleh ambil kembali uangmu ini. Silakan!"

"Eh, Nona tak mau?"

"Tak usah banyak cakap, orang she Kiat. Kau tak usah tahu aku dan aku juga tak ingin tahu dirimu. Aku tak butuh uang, kalau kau mau ambil, boleh ambil lagi!"

"Ha-ha, ini istimewa!" Kiat Ma tertawa bergelak. "Kau betul, Nona. Kalau kau tak suka, tentu saja aku tak akan memaksa. Sudahlah, itu milikmu dan tak akan kuambil kembali!"

Laki-laki ini mundur dan duduk di sebelah temannya, tiba-tiba disusul suara ribut-ribut di pihak Kwi-san Sam-houw yang berdiri dan terbelalak memandang pundi-pundi di atas meja Soat Eng. Tiba-tiba si baju hitam melompat, marah, dan membentak sambil menyambar kantung uang itu. Soat Eng tak tinggal diam. Gadis ini mengira si baju hitam hendak merampas atau merampok di rumah makan.

Ketika Soat Eng mendahului menyambar kantung itu dan terkaman si baju hitam meleset, laki-laki ini berseru, "Hei, itu punya kami! Kantung dan uang itu punya kami!"

"Benar!" Temannya berkelebat maju. "Berikan itu pada kami, Nona. Entah bagaimana si Kiat Ma itu mencuri milik kami... *wut-wut!*"

Dua laki-laki menyambar, semuanya merebut pundi-pundi di tangan Soat Eng dan gadis itu marah. Ketika lawan mengulurkan tangannya dan pundi-pundi siap direbut, tiba-tiba gadis ini membentak dan tiga orang itu terpelanting terkena kepretan atau tamparan jari-jarinya.

"Kalian tikus-tikus busuk. Pergilah! *Plak-plak-plak!*"

Tiga orang itu terpekik. Mereka tak menyangka bahwa "kembang" yang halus ini begitu berduri, keras, dan menyengat mereka. Namun, ketika mereka bergulingan melompat bangun, si baju hitam marah dan membentak lagi. Dia maju menyerang sementara dua temannya juga menubruk dan menyambar pundi-pundi di tangan Soat Eng.

"Itu milik kami!"

"Benar, dan serahkan pada kami!"

Tiga orang itu susul-menyusul menyerang Soat Eng. Mereka menggerakkan tangan dan enam lengan terulur panjang, mencoba menjangkau atau merebut uang di tangan gadis itu. Soat Eng naik darah. Gadis ini masih menganggap orang-orang itu mau mencari onar dan merampok di rumah makan. Maka, begitu ia berkelebat dan mengeluarkan satu bentakan nyaring, tiba-tiba gadis ini lenyap membagi-bagi pukulan atau tendangannya.

"Bedebah, kalian benar-benar kurang ajar... *plak-des-buk!*"

Tiga orang itu terlempar dan terguling-guling dengan seruan kaget, tiba-tiba sadar seolah bertemu setan di siang bolong. Mereka sadar bahwa gadis ini bukan lawan empuk dan bukan wanita sembarangan; mereka pun pucat. Namun, karena dua gebrakan itu tidak cukup—karena orang-orang macam Kwi-san Sam-houw tak akan puas jika belum dihajar berat—mereka membentak dan menyerang lagi, kini mencabut golok mereka. Rumah makan itu tiba-tiba saja berubah menjadi ajang pertarungan.

Apa yang semula tenang sekonyong-konyong gaduh. Bentakan atau seruan marah tak berhenti diteriakkan. Tiga senjata berkelebat menuju tubuh Soat Eng. Namun, karena gadis ini adalah putri Pendekar Rambut Emas dan nama Kim-mou-eng dimalui orang kang-ouw, begitu gadis ini membentak dan menghilang dengan cepat, tahu-tahu senjata atau golok di tangan tiga orang itu mencelat beterbangan.

"Hei... *plak-des-dess!*"

Tiga orang itu terbanting. Cepat bagai kilat, gadis ini telah menyelesaikan pertarungan. Tiga orang itu merintih-rintih dan Kwi-san Sam-houw tampak menggigil memandang gadis ini. Tangan atau kaki mereka patah ditekuk atau dilipat gadis itu saat menerima senjata mereka, dan golok di tangan mereka mental bertemu jari-jari yang halus itu. Saat jari-jari itu masih menyambar ke depan dan tanpa dapat dicegah lagi, satu per satu mereka semua dilipat atau ditekuk sikunya. Tiga orang itu roboh bergelimpangan bagai babi yang disembelih.

"Aduh, tobat... ampun!"

"Aduh, mati aku...!"

"Celaka, kita bertemu orang kuat, Twaheng. Kita sial!"

Soat Eng sudah duduk di kursinya lagi. Tadi dengan Jing-sian-eng-nya yang luar biasa, dia berkelebatan di antara tiga orang itu, memberi hajaran dan mematahkan siku mereka. Kwi-san Sam-houw tentu saja pucat dan merintih-rintih; mereka tak dapat menyerang lagi. Ketika semuanya selesai dan tiga satpam di luar berteriak tertahan lalu berlarian masuk, mereka tertegun melihat tiga laki-laki yang sudah dihajar putri Pendekar Rambut Emas ini.

"Lempar mereka keluar, jangan mengganggu makanku!"

Bentakan itu cepat disambut anggukan. Tiga penjaga ini menyeret tiga orang Kwi-san Sam-houw itu sambil masing-masing memaki. Tapi ketika mereka berada di luar dan berteriak kaget, tiba-tiba ketiganya meraba-raba isi kantung dan kebingungan dengan muka berubah, disusul jeritan pelayan yang tadi diberi segenggam uang emas.

"Hei, uangku hilang! Uangku hilang!"

"Benar, punya kami juga, A-tong! Uang kami juga hilang!"

"Dan ini... ah, kerikil! Bagaimana uangku tiba-tiba berubah? Aih, uangku berganti bentuk, A-sui. Kantung ini masih ada tapi uangnya sudah berganti!"

Tiga penjaga itu pucat. Mereka sama-sama memperlihatkan isi kantung yang berisi kerikil semua. Uang emas tak ada lagi di situ dan si pelayan menggerung-gerung. Rezeki yang mereka terima mendadak lenyap tanpa bekas; entah bagaimana, tiba-tiba semua uang yang mereka terima sudah berganti wujud menjadi kerikil, barang yang tidak berharga lagi.

Ketika pemilik restoran datang terbata-bata dan laki-laki gemuk itu terbelalak memandang pelayannya yang bergulingan, Kwi-san Sam-houw tiba-tiba menuding Kiat Ma dan temannya.

"Mereka itu Copet Jari Seribu! Hei, bekuk dan tangkap dua laki-laki itu, manusia-manusia tolol! Mereka telah mempermainkan kita semua dan mengadu kami dengan siluman betina ini!"

"Benar!" Si baju hitam sadar. "Kami tertipu, penjaga. Tangkap dan bunuh dua Copet Seribu Jari itu! Merekalah yang mengambil kembali uang kalian!"

"Dan uang itu sebenarnya milik kami!" teman si baju hitam menyambung. "Tangkap dan bekuk dua laki-laki itu, manusia-manusia tolol. Nanti separuh uang kami boleh kalian miliki!"

"Ha-ha, si pelantur!" Kiat Ma yang dituding tiba-tiba bangkit berdiri. "Kami tak tahu-menahu uang kalian, penjaga. Dan salah kalian kalau sampai hilang. Tadi sudah kuperingatkan, kenapa ceroboh? Eh, hajar saja tiga orang itu, nanti kuberi lagi. Lihat... *cring-cring!*"

Laki-laki ini memperlihatkan pundi-pundi uangnya yang lain, tertawa bergelak, dan tiga satpam itu bingung.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment