Halo!

Istana Hantu - Chapter 105

Memuat...
Istana Hantu

Chapter 105

Mereka menjadi ragu dan tentu saja kacau. Namun, karena bayangan emas membuat mata menjadi hijau, mereka sepakat untuk mendapatkannya kembali dengan menghajar tiga orang di luar. Tiba-tiba, Kwi-san Sam-houw dibentak, dimaki-maki, dan dipukuli.

"Kalian pengacau, kalian orang-orang liar. Barangkali kalianlah pencurinya. Terimalah sekarang hajaran kami... bak-bik-buk!" Tiga satpam yang memukul serta menendang itu tiba-tiba menuruti kata-kata Kiat Ma. Mereka tidak lagi percaya pada omongan Kwi-san Sam-houw, dan jadilah tiga orang itu sasaran empuk dari hujan pukulan serta tendangan. Ketika mereka semakin kesakitan dan mengaduh, Kiat Ma tertawa-tawa sambil mengisi cawan araknya.

"Ha-ha, sepuluh gebukan untuk masing-masing emas. Siapa paling banyak, dialah paling beruntung!" Tersiksalah Tiga Harimau Kwi-san itu. Sebelumnya mereka sudah dihajar Soat Eng dan tidak dapat mengelak atau menangkis karena tangan atau kaki mereka patah-patah. Namun, ketika tiga satpam itu terus menghujani pukulan dan Soat Eng mengerutkan kening, tiba-tiba gadis ini melempar tiga biji sumpit yang terbang menyambar tepat untuk menotok pergelangan tangan tiga orang penjaga tersebut.

"Berhenti, kalian mundur!" Ketika tiga orang itu berteriak dan terpelanting mengaduh, Soat Eng berdiri lalu menuju ke meja si Copet Berjari Seribu.

"Kau suka menyiksa orang?" tanyanya.

"Kau juga suka disiksa?"

"Eh-eh!" Laki-laki ini terkejut. "Nanti dulu, Nona. Aku tak mengerti omonganmu. Aneh sekali kata-katamu ini. Siapa suka menyiksa dan disiksa? Aku hanya membalas kelakuan tiga orang itu, atau aku yang bakal celaka jika tidak pandai-pandai menyelamatkan diri!"

"Benar," temannya, sang suheng, maju bicara membantu. "Kau jangan marah-marah dulu, Nona. Kami berdua bukan pencuri atau pencopet. Atau, kalaupun kami pencopet, uang yang dimiliki tiga orang itu jelas lebih haram dibanding uang hasil copetan kami. Kau tenanglah, sabar dulu!"

Soat Eng tertegun. Bicara orang yang demikian mapan dan *cengli* membuatnya melengak juga. Soat Eng berhenti dan tidak jadi marah. Ketika gelagat itu dilihat Kiat Ma, laki-laki ini tertawa sambil mengangkat jempolnya.

"Betul, kalau kami copet, penjahat atau perampok macam mereka itu jauh lebih ganas, Nona. Mereka memiliki uang dari hasil rampokan atau rampasan. Ha-ha, dan kau tadi sudah membuktikannya. Lihat betapa kasar mereka itu waktu menyerangmu!"

"Nah," si suheng bicara lagi, melihat Soat Eng mulai termakan. "Kami tak dapat dibandingkan dengan mereka itu, Nona. Dan terus terang, mereka adalah pemfitnah!"

"Dan sepatutnya mereka ditendang atau dibunuh!"

"Tidak, jangan!" si baju hitam berteriak. "Kami tak pernah merampok atau melakukan kejahatan lain, Nona. Dua orang itulah yang licik dan curang. Mereka si Copet Seribu Jari. Awas, kau pun menjadi korbannya!"

"Ha-ha!" Kiat Ma tertawa. "Aku bukan pencopet atau orang yang berjari seribu, Sam-houw. Kau harap tidak mencari-cari atau Nona ini akan menghukummu!"

"Sudahlah," Soat Eng membentak. "Kalian semua hanya mengganggu makanku saja. Nih, aku tak mau menerima uangmu, tapi harap rekeningku kalian bayar!" Soat Eng melempar uang Kiat Ma. Ia sejak tadi memang tak tertarik, dan laki-laki ini bengong. Namun, ketika dia menerima kembali uangnya dan Soat Eng mendengus, gadis ini berkelebat dan pergi menghilang.

"Kalian tak usah mencari gara-gara. Atau aku akan menghajar kalian kalau berani coba-coba mengganggu wanita!"

"Hei!" Kiat Ma berteriak. "Tunggu, Nona. Ada sesuatu yang ketinggalan!"

Soat Eng berkelebat datang. Bagai siluman atau hantu, tahu-tahu dia telah muncul kembali di depan laki-laki ini, yang terkejut tapi tentu saja kagum. Ketika Soat Eng bertanya apa yang ketinggalan, Kiat Ma menyeringai dan menjura.

"Ini, tertinggal di meja..." Soat Eng tertegun. Peniti emas yang menjadi hiasan bajunya tahu-tahu telah berada di tangan Kiat Ma. Laki-laki itu menyerahkannya dan berkata bahwa agaknya dalam keributan tadi peniti emas itu terjatuh. Soat Eng tertegun, namun ketika dia mengangguk dan menerima peniti miliknya, laki-laki itu tertawa dan menepuk pergelangan tangannya.

"Nah, silakan kau pergi, Nona. Tapi harap hati-hati agar lain kali tidak ada barang milikmu yang lepas. Nanti malam di tengah kota akan ada perayaan pesta pengantin Lauw-wangwe. Kalau kau ingin mencari kami, tentu kita dapat bertemu di sana!"

"Huh!" Soat Eng mendengus. "Untuk apa mencari mukamu? Kau jangan ceriwis, orang she Kiat. Terima kasih, tapi tak usah kau merayu!"

Soat Eng berkelebat meninggalkan orang she Kiat ini, tapi tiba-tiba sang suheng berteriak. Entah bagaimana, di tangan laki-laki itu juga ada sebuah kancing baju emas milik Soat Eng. Ketika Soat Eng berhenti dan membalikkan badan, suheng si Kiat Ma ini tertawa.

"Maaf, aku lupa ini, Nona. Tapi barangkali ini juga milikmu. Apakah benar?"

"Dari mana kau mendapatkannya?"

"Dari lantai, jatuh. Barangkali juga punyamu. Maaf aku memanggilmu sejenak."

"Hm!" Soat Eng merah mukanya. "Itu memang punyaku. Kembalikan dan terima kasih!" Soat Eng menyambar, berkelebat menghilang, dan kancing baju serta peniti emasnya sudah di tangan. Dia terheran tapi tidak curiga bagaimana dua benda miliknya itu bisa terlepas; barangkali benar memang jatuh. Karena perutnya sudah diisi sementara haus juga sudah tidak mengganggu, Soat Eng bermaksud meneruskan perjalanan. Dia tidak memenuhi undangan Kiat Ma, menganggap laki-laki itu main-main dan ingin kurang ajar.

Namun, ketika melihat bahwa di tengah kota benar terjadi keramaian pesta, gadis ini tertarik dan berhenti. Perhatiannya bukan tertuju pada keramaian orang yang hilir mudik, melainkan pada adanya panggung *lui-tai*, tempat di mana biasanya orang-orang gagah mengadu ilmu silat atau kepandaian. Sebagai orang *kang-ouw*, dia tertarik pada hal semacam itu. Soat Eng terbelalak ketika tiba-tiba melihat si kurus dan Hok-twako, temannya yang tadi bertemu di rumah makan!

"Aih, ketemu lagi, Nona. Selamat jumpa!" Soat Eng tertegun. Tadi dua orang ini tidak menjadi perhatiannya karena ia fokus pada Kwi-san Sam-houw, Kiat Ma, dan suhengnya. Ketika si kurus menyapanya, si brewok Hok-twako itu menjura padanya penuh hormat, tak ceriwis lagi.

"Nona, maafkan kami tadi. Kami hanya sekadar main-main. Jangan kau marah dan kebetulan kita bertemu lagi di sini. Apakah ada sesuatu yang hilang dari tubuhmu?"

"Apa maksudmu?" Soat Eng membentak, tak memberi hati.

"Maaf, berdekatan dengan Jingsiang (Sepasang Copet Berjari Seribu) seperti tadi amatlah berbahaya, Nona. Kami pergi setelah tahu bahwa mereka itu si Copet Jari Seribu. Kami ingin memperingatkan agar jangan dekat-dekat dengannya, atau ada bagian milikmu yang bakal hilang! Adakah sesuatu yang hilang dari Nona?"

"Tidak," Soat Eng tertegun. "Tapi aku tak takut si Jari Seribu atau si Jari Sejuta, orang she Hok. Aku tak merasa ada sesuatu yang hilang!"

"Kalau begitu syukurlah. Maaf kami pergi." Soat Eng tersenyum mengejek. Dua orang itu melangkah pergi setelah si brewok kembali membungkuk, agaknya gentar setelah melihat Soat Eng menghajar Kwi-san Sam-houw dengan begitu mudah.

Ketika dua orang itu pergi dan Soat Eng melihat-lihat sekitar *pibu*, di ujung jalan dia bertemu seorang pengemis yang menenggak arak.

"Haheh! Ini perayaan aneh. Kenapa Lauw-wangwe mengundang segala macam kurcaci untuk meramaikan pesta pernikahan anaknya? Bukankah lebih baik mengundang kami para pengemis ini untuk diberi makan yang cukup? Aih, tak panjang umurmu, Lauw-wangwe. Kau tak tahu penderitaan orang kecil dan maumu hanya bersenang-senang saja. Haram jadah, umurmu tak bakal panjang!"

Lalu, terhuyung sambil menenggak araknya hingga tumpah di sisi mulut, kakek ini berjalan berpapasan dengan Soat Eng. Tiba-tiba dia menyembur ke kiri dan arak menyemprot tajam. Soat Eng hampir terkena kalau tidak berkelit cepat ke kiri. Ketika kakek itu terbelalak dan tampaknya kaget baru saja menyembur seseorang, dia membungkuk dan tertawa-tawa.

"Maaf... maaf... aku si tua bangka bermata lamur, Nona. Tapi janggal rasanya melihat seorang gadis di seputar *lui-tai*! Apakah kau orang undangan Lauw-wangwe? Atau kau teman kurcaci-kurcaci itu?"

"Siapa kurcaci yang kau maksud?" Soat Eng tertindas rasa marahnya oleh heran. "Dan kenapa kau mendoakan orang she Lauw itu agar tidak berumur panjang?"

"Ha-ha, kalau begitu kau orang baru!" Kakek ini malah terbahak. "Bagus, Nona. Kalau begitu kau pergilah cepat-cepat atau semua bakal kacau di sini. Aih, malam ini bakal gempar. Segala maling dan rampok berkumpul di sini, juga copet. Sebaiknya kau pergi dan jangan dekat-dekat tempat ini!"

Terhuyung melangkah cepat, kakek itu sudah meninggalkan Soat Eng yang tertegun.

"Hei!" gadis itu berseru. "Tunggu dulu, *lo-kai*! Aku ingin minta keterangan!" Soat Eng berkelebat dan menghadang jalan kakek itu.

"Kau mau apa?" Kakek ini terkejut. "Apalagi yang ingin kau ketahui dari aku si pengemis tua?"

"Aku ingin tahu tentang maling, copet, dan rampok, *lo-kai*! Apa yang akan terjadi dan siapa pula kau ini!"

"Ha-ha, aku si pengemis tua. Kau sudah menyebutnya tadi! Kenapa bertanya dan ingin tahu? Eh, aku tak tahu apa-apa lagi, Nona. Aku lupa dan pikun!" Kakek itu terkekeh, pergi meninggalkan Soat Eng, dan sudah memutar tubuhnya. Ketika dia menenggak arak dan tidak peduli lagi pada kiri kanan, Soat Eng hanya bisa mendongkol dan melotot.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment