Halo!

Istana Hantu - Chapter 106

Memuat...
Istana Hantu

Chapter 106

Namun, karena orang sudah tak mau diajak bicara dan ia tentu saja juga tak mau mendesak, Soat Eng bermaksud menyelidiki kata-kata kakek itu serta mencari tahu artinya. Malam ini, ia akan menonton keramaian.

Siapa tahu pencuri Cermin Naga juga ada di sana, karena si kakek berkata bahwa segala pencuri atau perampok, termasuk copet, akan berkumpul di tempat itu.

Ketika gadis ini mengangguk dan mengepalkan tinju, tiba-tiba ia berkelebat, menunggu datangnya malam.

Soat Eng bermaksud mencari tempat peristirahatan di luar kota. Ia tidak ingin menginap di losmen karena kehadirannya bakal mengundang pandang mata kurang ajar kaum lelaki.

Namun, ketika ia terbang dan teringat wajah si pengemis tua—sebenarnya ia ingin bertemu dan bercakap-cakap lagi—mendadak sesuatu terasa ringan di jari manisnya.

Soat Eng mula-mula tidak sadar. Ia tidak memperhatikan hal itu.

Akan tetapi, ketika pikirannya tertuju pada jari manisnya karena tiba-tiba merasa ada yang ringan, Soat Eng terkejut saat mendapati cincin di jari manisnya sudah tidak ada.

"Eh!" Gadis ini tertegun. "Ke mana cincinku? Kenapa bisa hilang?"

Soat Eng berhenti. Ia berputar dan mencari-cari, siapa tahu cincin itu jatuh. Namun, ketika ia tidak menemukan cincinnya dan saat merogoh kantong baju, mendadak peniti emasnya lenyap. Gadis ini terkejut dan mukanya memerah.

"Keparat, ini tentu perbuatan kalian, Jing-ci-cu-siang. Jahanam kalian, bedebah!"

Soat Eng mengepal tinju, marah dan memaki-maki karena ia segera teringat bahwa Kiat Ma dan suhengnya pasti berbuat usil. Kiat Ma mengembalikan peniti emasnya, tetapi mengambil cincinnya. Ia gusar karena mungkin suheng si copet itu mengambil kancing bajunya sekaligus penitinya—suatu perbuatan lihai kaum pencopet yang benar-benar mengagumkan. Soat Eng segera terbang kembali ke kota.

"Kubekuk kalian nanti, kupatahkan batang leher kalian!"

Namun, Soat Eng tidak berhasil menjumpai mereka. Si copet yang diduga mengambil cincin dan peniti emasnya tidak ada di sekitar tempat itu, tidak pula di rumah makan ataupun di rumah Lauw-wangwe.

Ketika Soat Eng marah-marah karena tidak menemukan kedua orang itu, tiba-tiba ia kembali bertemu dengan si kakek pengemis.

"Ha-ha, ada yang hilang, Nona? Kau sibuk mencari siapa?"

"Wut!" Soat Eng berkelebat, gemetar dengan muka merah padam. "Aku mencari Jingsiang, lo-kai. Tahukah kau di mana mereka berada?"

"Jingsiang? Ha-ha, mereka sudah mengerjai dirimu? Wah, tak ada orang yang tahu di mana si copet itu, Nona. Mereka hanya datang kalau mereka menghendaki. Sebutkan apa yang hilang dan barangkali aku dapat menemukannya!"

"Mereka mengambil cincinku, juga peniti emas!"

"Hanya dua itu saja?"

"Ya, itu saja. Tapi sudah cukup untuk membuatku membunuh mereka!"

"Ha-ha, tak mungkin!" Kakek ini tertawa bergelak. "Mereka orang-orang licik dan lihai, Nona. Akal mereka panjang dan hidup sekali. Aih, sudah kubilang agar kau tidak dekat-dekat tempat ini. Pergilah dan relakan saja dua barang milikmu yang hilang itu!"

"Hm, aku tak akan pergi!" Gadis ini mendengus. "Aku akan mencari mereka sampai dapat, lo-kai. Kalau begitu, terima kasih dan biar nanti aku kembali lagi!"

Kakek itu terbelalak. Soat Eng sudah berkelebat pergi meninggalkannya, lenyap seperti siluman. Gadis ini menggunakan Jing-sian-eng-nya dan tentu saja pengemis tua itu melongo.

Namun, ketika Soat Eng lenyap dan kakek itu sadar, pengemis ini meneguk araknya dan terbahak. "Aih, hebat. Gadis itu hebat sekali. Ha-ha, malam ini rupanya keramaian bakal bertambah ramai lagi!"

Soat Eng tidak mendengarkan. Ia sudah pergi, sementara kakek pengemis itu juga pergi. Mereka berpisah dan tidak bertemu lagi.

Ketika malam itu Soat Eng datang kembali ke tempat keramaian, ternyata di panggung lui-tai sudah bergebrak beberapa orang muda yang menunjukkan kepandaian mereka. Malam itu, sorak dan teriakan riuh terdengar di tempat hartawan she Lauw ini. Pengantin belum datang, tamu-tamu yang hadir diberi pertunjukan musik dan pibu atau adu kepandaian di atas panggung lui-tai.

Karena hartawan ini rupanya banyak berkenalan dengan orang-orang dunia kang-ouw—terbukti ia mendirikan panggung lui-tai dan mungkin juga seorang tokoh yang belum Soat Eng ketahui—perkelahian di panggung tersebut disusul teriakan atau sorak gegap-gempita pengunjung.

"Ha-ha, robohkan lawanmu, Bun Yong. Cekik mampus dan banting dia di panggung lui-tai!"

"Tidak, kau harus bertahan, Hu Ping. Banting dan angkat lawanmu ke atas!"

Mata Soat Eng bersinar-sinar. Dua pemuda tinggi tegap tampak berkutat dan saling pegang, masing-masing mencengkeram yang lain untuk dilempar keluar panggung. Ketika kawan-kawan mereka berteriak memberi semangat, pemuda di sebelah kiri yang berbaju kuning tiba-tiba menjegal kaki lawannya dan secepat kilat membanting.

"Bluk!"

Kelompok di sebelah kiri panggung bersorak. Mereka itulah yang menjagoi pemuda bernama Hu Ping. Namun, ketika pemuda itu mengejar, lawannya berguling menjauh untuk menyelamatkan diri. Pemuda yang dikejar itu menggeram dan meloncat bangun.

"Hu Ping, kau curang. Awas kau!"

Dua pemuda ini sudah saling terkam lagi. Bun Yong, yang dibanting dan dijegal lawannya, menjadi marah. Ia tadi diteriaki penonton agar membanting dan mendahului lawan, tak tahunya lawan menjegal dan ia pun roboh.

Pertandingan berjalan seru, namun tampak bahwa Hu Ping bertanding dengan cara cerdik. Pemuda itu tidak hanya mengandalkan kekuatan fisik, tetapi juga otaknya. Ia melihat lawan mulai marah dan beringas. Karena kemarahan jelas mengurangi kewaspadaan, Hu Ping berkali-kali mengelak atau menghindari tubrukan lawan.

Soat Eng yang menonton jalannya pertandingan itu, sambil sesekali melihat kalau Kiat Ma atau suhengnya muncul, terkejut saat sesosok bayangan berkelebat. Kakek pengemis itu sudah nongkrong di atas pohon, tepat di sebelah gadis ini.

"Ha-ha, kita bertaruh, Nona. Siapa yang bakal menang di antara dua orang itu?"

"Aku jelas si baju kuning!" Soat Eng tak ragu; ia sejenak terkejut, tapi girang bertemu kakek ini. "Kau siapa, lo-kai? Dan apa taruhanmu?"

"Ha-ha, aku si Bun Yong itu. Taruhanku arak!"

"Kau pasti kalah!" Soat Eng mengejek. "Si dogol itu bertempur tanpa otak, lo-kai. Lawannya lebih cerdik dan pasti menang!"

"Ha-ha, kau tak tahu liku-liku hidup. Memang masalah kecerdikan, si Hu Ping lebih cerdik, Nona. Tapi masalah nasib sungguh tidak ditentukan pemuda itu sendiri!"

"Apa maksudmu?"

"Kau lihat saja!"

Ketika si kakek terbahak dan menenggak araknya, ia bertanya apa taruhan gadis itu kalau kalah.

"Kau boleh minta apa saja yang kupunyai!"

"Ha-ha, kau begitu sombong? Eh, baik, Nona. Kalau begitu kita lihat, taruhan kita adalah siapa yang roboh dan terlempar keluar dari panggung!"

"Tentu, itu artinya kalah menang!"

Karena Soat Eng merasa yakin—karena perhitungan di atas kertas jelas menunjukkan si baju kuning akan menang—mereka berdua menyaksikan jalannya pertandingan. Gadis itu bertanya di mana Lauw-wangwe.

"Dia di dalam, menyambut tamu-tamunya yang penting."

"Kau mengenal hartawan itu?"

"Ha-ha, lebih dari mengenal, Nona. Orang itu licik tapi luas pergaulannya. Dia juga kenal baik denganku!"

"Kalau begitu kau orang penting, seharusnya kau pun disambut!"

"Ha-ha, aku si jembel miskin, Nona. Orang seperti Lauw-wangwe itu memandang rendah kedudukanku. Dia seorang hartawan, sedang aku pengemis!"

"Tapi kau menyatakan mengenalnya baik!"

"Ha-ha, itu memang benar, Nona. Tapi... hei, lihat. Si baju kuning roboh!"

Si kakek menuding. Soat Eng terkejut karena tiba-tiba terdengar bantingan keras. Hu Ping, yang dijagokan, ternyata keok. Pemuda cerdik itu dilempar lawannya. Peristiwa itu mengejutkan Soat Eng. Karena diajak mengobrol dan kehilangan perhatian, tiba-tiba saja ia melihat jagonya roboh, terbanting, dan terguling-guling untuk akhirnya berhenti bergerak sambil mengeluh.

Di bawah panggung, terjadi ribut-ribut karena penonton yang menjagokan pemuda baju kuning itu memaki-maki, menyebutnya bodoh.

"Ha-ha, aku menang, Nona. Secawan arak untuk kekalahanmu. Ayo minum!"

Soat Eng terkejut. Si tua itu sudah memberinya secawan arak sebagai denda atas kekalahan taruhannya. Karena jelas jagonya keok dan kakek itu menang, Soat Eng mendongkol dan menyambar cawan arak tersebut.

"Glek!" Arak itu amblas di perut.

"Kau menang, lo-kai. Tapi aku penasaran tak melihat penyebab kekalahan pemuda itu!"

"Ha-ha, masih penasaran? Ayolah, kita bertaruh lagi, Nona. Boleh diulang kalau kau tidak takut!"

"Tentu saja aku tidak takut. Aku memang penasaran!"

Soat Eng menantang kembali karena sudah melihat panggung diisi orang baru.

"Ayolah, mereka belum bertanding. Siapa yang akan menang di antara si pendek dan si tinggi itu?"

"Ha-ha, kau sendiri pilih yang mana? Kau boleh pilih dulu, Nona. Aku belakangan!"

"Aku si pendek!" Soat Eng melihat gerak kaki yang ringan dari jagonya itu.

"Dan kau yang mana, lo-kai? Si tinggi?"

"Ha-ha, tentu, Nona. Karena kau sudah memilih si pendek, maka aku yang tinggi itu. Ayo, lima banding satu untukmu!"

"Apa? Kau mau mengapit?"

"Ha-ha, aku pasti menang, Nona. Dan aku yakin akan kemenanganku itu. Aku akan menenggak lima cawan arak kalau kalah, dan kau cukup secawan saja. Berani?"

Soat Eng mengangguk. "Kuterima, dan bukan secawan yang kuminum, melainkan juga lima. Ayo, aku tak mau curang dan kita sama-sama adil!"

Gadis itu mendongkol, tidak mau kalah, dan tantangan kakek ini disambutnya dengan semangat tinggi.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment