Chapter 107
Kakek itu terbahak, tetapi akhirnya mengangguk-angguk kagum. Melihat bahwa gadis ini gagah dan ksatria, tidak mau curang, tentu saja sikap yang diperlihatkan itu mengundang rasa suka kakek ini.
Ketika di panggung lui-tai dua laki-laki itu sudah berhadapan dan si pendek ternyata menggantikan pemuda berbaju kuning, si tinggi yang merupakan anggota kelompok Bun Yong menyeringai dan tertawa menantang lawannya.
"Sin Cek, kau majulah dan minta berapa jurus kau kurobohkan? Berani kau main-main denganku? Ha-ha, kau tidak takut?"
"Hm, tak perlu sombong, Siu Pin. Aku berani menghadapimu karena aku yakin dapat mengalahkanmu. Hayo, kau mulailah dan lihat berapa jurus aku merobohkanmu!"
"Eit, kau besar mulut? Baik, awas, pendek. Lihat seranganku dan jaga jangan sampai tubuhmu kulempar!"
Si tinggi kurus sudah menyerang, bergerak dengan tangan atau kakinya yang menyambar cepat ke tubuh si pendek yang bernama Sin Cek. Ketika si pendek menghindar dan berkelit, si tinggi kurus mengejar dan menyerang lagi dengan cepat dan bertubi-tubi. Kelompok kedua pihak pun berteriak atau bersorak.
Si pendek lincah berkelit sehingga serangan bertubi-tubi si tinggi kurus gagal. Ketika si tinggi kurus menjadi penasaran dan mengejar lawan, si pendek diteriaki agar tidak hanya menghindar.
"Hei, balas lawanmu, Sin Cek. Hantam dan seruduk perutnya!"
"Nanti dulu," si pendek tertawa. "Aku belum panas, kawan-kawan. Biarkan lawanku ini mengejar-ngejar aku seperti kucing memburu tikus!"
"Tapi kau akan celaka. Siu Pin memiliki Tangan Besi!"
"Aku tak takut, jangan khawatir!"
Ketika si pendek kembali berkelit dan pukulan Tangan Besi lawannya menghajar lantai, terdengar suara berderak seakan lantai panggung mau pecah, disusul bentakan-bentakan si tinggi kurus yang marah karena lawan selalu menghindar saja.
Kelincahan gerak kaki si pendek ternyata benar-benar ringan dan mengagumkan. Soat Eng berseri-seri; apa yang dilihatnya ternyata cocok, laki-laki pendek itu memiliki kelebihan dibandingkan lawannya. Ketika berkali-kali pukulan lawan luput dan hal ini menguras tenaga si kurus, si pendek mulai melakukan balasan. Kaki atau tangannya yang pendek sering melakukan gerakan mencengkeram atau membetot, seperti Kim-na-jiu, yaitu ilmu tangkap dan banting.
"Ha-ha, hebat si pendek itu, Nona. Tapi sayang, nasibnya juga kurang beruntung!"
"Dia akan kalah? Hi-hik, jangan mengimpi, Lo-kai. Si pendek jelas menang gesit dan cerdik. Si tinggi kurus itu pasti terjungkal!"
"Memang benar, tapi sayang keberuntungannya belum sebaik itu. Ha-ha, lihat saja, Nona. Meskipun dia membalas, tapi tenaga si pendek lemah!"
Soat Eng mengerutkan kening. Memang benar bahwa si pendek mulai mendaratkan beberapa pukulannya di tubuh lawan hingga lawan terhuyung, tapi tidak roboh. Ada kesan tenaga atau pukulan si pendek ini lemah. Ketika si pendek sendiri tampak terkejut karena sesuatu yang dirasa aneh mengganggu dirinya, satu cengkeraman jarinya tiba-tiba berhasil menangkap bahu si tinggi kurus.
"Crep!"
Si tinggi kurus tertawa. Dia merasakan lemahnya cengkeraman itu, tenaga si pendek sama sekali tidak membuat bahunya sakit. Ketika lawan terkejut karena dia tertawa, tiba-tiba kelima jari laki-laki tinggi kurus ini balas bergerak dan mencengkeram bahu lawannya.
"Crep!"
Si pendek terkesiap. Dia merasa tenaga yang hebat dari si tinggi kurus itu, merasa tulangnya remuk, dan secepat kilat dia membentak. Namun, ketika lawan mendahului dan tahu-tahu mengangkat tubuhnya, lalu melempar dan membanting si pendek ke lantai panggung, Sin Cek menjerit kesakitan.
"Aduh... brukk!"
Si pendek terguling-guling. Laki-laki itu merasa kaget dan pucat bukan main oleh keadaan yang tidak diduga ini. Dia sebenarnya lebih unggul, tapi tiba-tiba keunggulannya tidak dapat dipergunakan. Tenaganya hilang separuh dan entah kenapa dia merasa perutnya tiba-tiba mulas. Ada sesuatu yang tak beres di tubuhnya dan si pendek bergulingan menjauhi lawan.
Ketika Siu Pin atau si tinggi kurus itu mengejar dan tidak memberi kesempatan pada si pendek untuk menyelamatkan diri, si pendek dikejar dan bertubi-tubi mendapat serangan. Tendangan atau pukulan lawan membuat si pendek semakin pucat. Dia kebingungan dan akhirnya mendapat tendangan lagi tepat mengenai pinggangnya. Ketika dia terlempar dan jatuh ke bawah panggung dengan berdebuk, orang-orang yang menjagokan si pendek ternganga, terdiam seolah tak percaya, sedangkan pihak yang menjagokan si tinggi kurus bersorak.
Mereka bertepuk riuh. Soat Eng kaget melihat kekalahan jagonya ini. Gadis itu terkejut dan wajahnya berubah pucat dan merah berganti-ganti. Mendadak si pendek berteriak keras dan meloncat bangun, terhuyung melayang ke atas panggung, lalu menerjang si tinggi kurus itu.
Si pendek murka karena dia merasa ada kecurangan di situ, entah apa, tapi dia yakin benar. Semua orang terkejut karena si pendek mengamuk dan nekat menyerang lawan yang tertegun sejenak tetapi sudah melayaninya sambil terbahak-bahak. Si pendek terhuyung maju mundur ketika semua pukulannya luput; dihindari atau dielak oleh lawan, dan si pendek dipermainkan oleh si tinggi kurus.
Dua kali si pendek jatuh sendiri, lalu si tinggi kurus tertawa tergelak dan tiba-tiba kakinya bergerak dari samping menghajar ulu hati lawannya.
"Pendek, kau tak tahu malu. Sudah kalah masih juga nekat menyerang. Nah, pergilah dan beristirahatlah lebih lama... dess!"
Si pendek menjerit dan roboh melewati panggung, akhirnya terbanting dan tidak bergerak-gerak lagi. Dia pingsan dan muntah darah karena lawan telah menghajarnya cukup keras. Pertandingan selesai dan bersorak-sorailah pihak yang menjagokan si tinggi kurus itu.
Ketika suasana menjadi riuh dan kelompok si pendek pecundang dua kali, kakek pengemis di atas pohon terkekeh-kekeh menyodorkan lima cawan araknya.
"Heh-heh, dua kali kau kalah, Nona. Hayo minum dan tepati janjimu!"
Soat Eng mendelik. Dia marah sekali namun tak dapat berbuat apa-apa, lalu menerima lima cawan arak itu dan meneguknya sekaligus. Muka gadis ini terbakar dan dia mulai merasa ada sesuatu yang tak beres di situ, sesuatu yang diketahui kakek ini tapi tidak olehnya. Ketika lawan terkekeh-kekeh sementara dia melotot dan menjadi penasaran, tiba-tiba dia meloncat turun dan berkata, "Lo-kai, aku akan maju bertanding. Kelompok orang-orang sial itu akan kuhajar!"
"Hei!" si kakek terkejut dan berkelebat ke bawah. "Tahan dulu, Nona. Jangan terburu-buru. Keramaian akan segera selesai kalau kau berada di panggung!"
Cepat-cepat kakek itu menangkap serta menahan lengan gadis ini dan menyambung, "Kau jelas bukan tandingan mereka. Kau terlalu lihai. Tak enak rasanya menonton pertandingan yang tidak imbang. Tunggu dan nantikan saja keluarnya Lauw-wangwe, dialah yang pantas kau hajar!"
Soat Eng tertegun. "Lauw-wangwe? Dia akan keluar? Dia ada hubungannya dengan semua ini?"
"Ha-ha, benar, Nona. Karena itu bersabarlah dan kita menonton lagi di atas pohon, jangan terburu-buru!"
Setelah Soat Eng berhasil dibujuk dan kakek itu melayang ke atas, gadis ini berjungkir balik dan kembali ke tempatnya semula. Dia duduk di sana menonton jalannya pertandingan karena segera kelompok si pendek menantang lagi kelompok lawannya. Mereka penasaran karena dua kali berturut-turut dikalahkan, padahal di atas kertas seharusnya mereka menang.
Saat Soat Eng menonton dan gemas memandang kelompok si tinggi kurus yang tetap menjagokan jagoannya itu, si kakek pengemis di sebelahnya tertawa. "Kau berani lagi menerima taruhan? Kau berani minum beberapa cawan lagi arakku yang istimewa?"
"Hm!" Soat Eng menggeleng, kali ini tak mau gegabah. "Kau licik, Lo-kai. Kau sudah mengetahui adanya suatu kecurangan sedangkan aku tidak. Sebaiknya aku menemukan dulu apa isi kecurangan itu dan kalau sudah tahu, baru tantanganmu kuterima!"
"Ha-ha, begitu seharusnya!" Kakek ini terkekeh. "Kau dapat mendinginkan hatimu yang panas, Nona. Sungguh mengagumkan dan tak percuma kau menjadi putri Kim-mou-eng!"
Soat Eng tertegun dan menoleh. "Kau sudah mengetahui siapa ayahku?"
"Wah, mata yang lamur ini masih bekerja baik, Nona. Kalau tidak mengenal ayahmu, tentu gerakan Jing-sian-eng tadi haruslah membuka mataku bahwa kau putri Pendekar Rambut Emas!"
Soat Eng terbelalak. Si pengemis mengenalnya baik. Dia tertegun dan waspada, tapi melihat bahwa kakek ini bukan orang jahat. Sikap dan gerak-geriknya yang baik jelas menandakan dia golongan pek-to (kaum putih). Maka, dengan mengangguk dan tersenyum lebar dia berkata, "Kau hebat. Sungguh aku yang harus malu karena tak mengetahui siapa dirimu, Lo-kai. Kalau kau bermata demikian tajam, tentu kau benar-benar bukan orang sembarangan!"
"Ha-ha, aku orang biasa saja, tak terkenal seperti ayahmu. Sudahlah, kita lihat pertandingan itu dan kelompok si pendek akan selalu kalah!"
Soat Eng mengerutkan keningnya. Dia sekarang menjadi heran dan curiga kenapa kelompok si pendek akan selalu kalah seperti kata kakek itu.