Chapter 108
Ketika pertandingan berlanjut dan jagoan-jagoan yang diajukan kelompok si pendek tidak mampu menghadapi si tinggi kurus atau teman-temannya, keheranan Soat Eng tidak habis-habisnya.
Melihat jagoan kelompok si pendek itu secara taktis dan teknis sebenarnya selalu unggul, nyatanya mereka malah kalah ketika pertempuran berjalan setengah babak. Rata-rata mereka memiliki tenaga yang lemah hingga serangan mereka mendarat terlalu empuk, tidak bertenaga seperti kelompok si tinggi kurus.
Ketika enam jago akhirnya roboh dan kelompok si pendek kalah bertaruh, uang serta perhiasan perak bergemerincing mengisi pundi-pundi kelompok si tinggi kurus yang terbahak-bahak mengejek lawannya.
"Ha-ha, ayo keluarkan semua hartamu, Wan-twako. Kita bertaruh satu banding dua!"
"Atau satu banding empat!" yang lain berseru.
"Aku berani bertaruh mengapit mereka, Hek-bin. Satu banding empat kalau mereka berani!"
"Ha-ha, boleh juga. Kita tanya mereka!" Namun, lawan yang menggeleng dan terhuyung pucat ternyata menolak; mereka tidak berani menerima tantangan itu karena seluruh uang dan harta mereka hampir habis. Kantong kelompok si pendek ini nyaris terkuras oleh kekalahan berturut-turut, mereka tidak berdaya lagi.
Namun, ketika kelompok si tinggi kurus tertawa-tawa dan yang lain bersorak riuh, tiba-tiba berkelebat sesosok bayangan. Muncullah seorang laki-laki yang tertawa menyambut tantangan kelompok si tinggi kurus, kawan-kawan Siu Pin.
"Aku berani. Ayo, siapa yang hendak bertaruh mengapit denganku? Satu banding empat!"
Kelompok Siu Pin terkejut. Si tinggi kurus sendiri sudah beristirahat dan tidak bertanding karena kelelahan setelah bertempur dua kali. Maka, begitu laki-laki yang tidak dikenal namun jelas muncul dari kerumunan penonton ini datang, semuanya terkejut dan tertegun.
"Ha-ha, tidak berani?" laki-laki ini sesumbar. "Atau aku yang akan mengapit kalian?"
"Siapa kau?" sebuah bentakan muncul, disusul seseorang yang melayang ke atas panggung. "Aku akan melayanimu, tikus sombong. Tapi sebutkan dulu siapa namamu dan dari pihak mana kau mewakili!"
"Ha-ha, aku mewakili diriku sendiri. Aku Ma Kiat, namaku tidak terkenal. Tapi kalau kalian sesumbar menantang taruhan, aku jadi gatal untuk melayani kalian. Nah, kau siapa dan apakah hendak bertanding denganku?"
"Aku Sai Pek, memang ingin bertanding denganmu. Tapi kalau kau tidak punya uang, sebaiknya minggir dan tidak perlu mengoceh di sini!" laki-laki itu membentak.
"Eit, kau menghina aku?" Ma Kiat berseru marah. "Lihat, seluruh uang kalian mungkin masih kalah banyak dengan punyaku, orang bermarga Sai. Buktikan dan lihat ini... cring-cring!"
Uang berhamburan saat Ma Kiat menuangkannya dari kantong bajunya. Tujuh kantong di celananya dibuka semua, isinya dikeluarkan. Ketika emas dan perak berjatuhan di lantai panggung dan semua orang melotot, Soat Eng yang menonton di atas pohon tiba-tiba terkejut.
"Dia Kiat Ma, si Copet Berjari Seribu!"
"Ha-ha, benar. Dan dia membalik namanya, Nona. Ini artinya keributan besar akan terjadi. Lihatlah, emas dan perak di kantungnya sudah dikeluarkan semua!"
"Tapi suheng-nya tidak ada!" Soat Eng tertegun, memandang sekitar. "Mana temannya dan kenapa dia muncul sendiri?"
"Sst, lihatlah saja baik-baik. Copet itu akan memanggil namamu, Nona. Kalau kau tidak berhati-hati, kau bakal dilibatkannya!"
"Tapi aku berkepentingan dengan dia!" Soat Eng berseru. "Eh, aku harus menangkap si copet itu, Lo-kai. Atau nanti dia kabur dan sulit kutemukan lagi!"
"Jangan!" si kakek berseru, menangkap lengan gadis ini. "Kiat Ma tidak akan kabur, Nona. Dia sengaja datang ke sini untuk membuat kekacauan. Hartawan Lauw sebentar lagi akan dipaksanya keluar. Kau jangan beranjak!"
Ketika gadis itu tertegun dan ragu untuk melompat turun, Ma Kiat alias Kiat Ma sudah tertawa-tawa memandang lawannya. "Nah, kau dapat menghitung semua uangku itu? Masih kurang untuk dipakai bertaruh?"
Lawannya tertegun. "Kau hebat," katanya agak bergetar. "Namun, aku akan melayanimu..."
"Kalau begitu keluarkan uangmu!" Ma Kiat memotong. "Dan perlihatkan di sini apakah seimbang atau tidak!"
"Aku... aku tidak memiliki sebanyak itu. Tapi bersama kawan-kawanku tentu aku dapat mengimbangimu!" Laki-laki ini memutar tubuh dan meloncat turun menemui kawan-kawannya, lalu terjadilah bisik-bisik.
Semua mata masih melotot memandang uang yang berceceran, namun Ma Kiat sudah meraupnya kembali. Sambil tertawa-tawa, si Copet Berjari Seribu ini menyimpan uangnya. Calon lawannya meloncat kembali ke atas panggung dengan berjungkir balik.
"Kami menerima, dan uangmu boleh dijadikan taruhan!"
"Ha-ha, berapa kalian punya?"
"Sepuluh ribu," laki-laki itu agak tertegun. "Tapi coba hitung berapa punyamu, orang bermarga Ma. Kalau kami lebih banyak, biarlah tidak apa!"
"Wah, sebegitu saja?" Ma Kiat tertawa. "Ha-ha, punyaku ini lima puluh ribu lebih, orang bermarga Sai. Kalau kalian hanya punya sekian, maka kelebihan uangku adalah lima kali lipat. Tidak adil!"
"Kalau begitu kita bertaruh saja sesuai kepunyaanku...!"
"Atau kalian hutang saja pada Lauw-wangwe!" Ma Kiat tertawa. "Tanggung rasanya bertanding hanya untuk sepuluh ribu tail, orang bermarga Sai. Kalian pinjam saja pada tuan rumah dan setelah itu kita tentukan kalah menang!"
Sai Pek terkejut. Kawan-kawannya di bawah ribut, mereka marah namun tertarik. Ketika Hek-bin meloncat naik dan si muka hitam ini berbisik pada Sai Pek, laki-laki itu tersenyum dan mengangguk, lalu meloncat turun dan berbisik pada yang lain. Kelompok si tinggi kurus riuh sejenak.
Mereka diminta berhutang pada Lauw-wangwe sebanyak empat puluh ribu tail untuk menandingi Ma Kiat. Ketika mereka setuju dan berbicara dengan pembantu dekat Lauw-wangwe, si pembantu segera masuk untuk memberitahu tuannya. Lauw-wangwe tiba-tiba muncul dan untuk pertama kalinya Soat Eng melihat hartawan itu.
"Siapa yang akan bertanding? Siapa yang mengajak bertaruh?" Suara lantang yang disertai senyum ini segera menghentikan kegaduhan.
Kelompok si pendek diam tertegun memandang sepak terjang si Copet Berjari Seribu itu, merasa mendapat kawan namun mereka tidak kenal. Ketika Lauw-wangwe keluar diiringi pembantu dan keluarganya, ia berhadapan dengan Ma Kiat. Hartawan itu bertubuh kokoh berusia lima puluhan, tegap dan gagah. Sekali lihat, Soat Eng segera tahu bahwa hartawan ini bukan orang sembarangan, karena gerak kaki dan langkah ringannya menandakan seorang ahli silat.
"Itulah orang bermarga Lauw," si pengemis berbisik sambil tertawa.
"Kau pernah kenal?"
"Belum," gadis ini menggeleng. "Dan dia tampaknya bukan laki-laki sembarangan, Lo-kai. Aku melihat gerak-gerik yang ringan dan langkah kaki yang mantap!"
"Memang benar, dan hartawan ini cerdik serta lihai, Nona. Sayang licik!"
"Kau pernah disakiti?"
"Ha-ha, bukan hanya disakiti, Nona. Tapi juga dihina! Aih, orang miskin macam aku memang tidak pantas berdekatan dengan orang kaya macam Lauw-wangwe. Sudahlah, kita lihat sepak terjang si copet itu dan apa kata hartawan ini!"
Soat Eng mengangguk. Lauw-wangwe sudah berhadapan dengan Kiat Ma dan bertanya apa maksud laki-laki itu. Ma Kiat menjawab sambil tertawa bahwa dia ingin meramaikan pesta, ikut di panggung lui-tai dan bertaruh.
Ketika hartawan itu mengangguk dan tersenyum memandang si copet, Hek-bin meloncat naik dan berseru, "Orang bermarga Ma ini menantang pibu dengan taruhan lima puluh ribu tail emas. Kami hanya memiliki sepuluh ribu saja, tolong Wangwe pinjami kami empat puluh ribu dan sebentar kemudian akan kami kembalikan dengan robohnya si sombong ini!"
"Ha-ha, jangan takabur!" Kiat Ma tertawa. "Bukan aku yang akan roboh di panggung lui-tai ini, Hek-bin. Melainkan temanmu yang bodoh dan ingusan itu. Aku akan merobohkan musuhku tak lebih dari lima belas jurus!"
"Sombong!" Hek-bin membentak marah. "Kau jangan bermulut besar, orang bermarga Ma. Ayo kita buktikan nanti dan lihat apakah kesombonganmu terbukti atau tidak!"
"Ha-ha, pasti terbukti!" Kiat Ma tertawa bergelak. "Ayo keluarkan uang kalian semua, Hek-bin. Dan berhutanglah pada Lauw-wangwe supaya dipenuhi!"
Laki-laki itu mengeretakkan giginya. Ia melihat Lauw-wangwe tersenyum dan mengangguk sebagai tanda setuju. Karena hartawan itu sudah mendengar taruhan ini, ia menyuruh orang mengambil empat puluh ribu tail sesuai permintaan dan meminta agar uang Kiat Ma dikeluarkan.
"Tidak usah ragu, uangku genap lima puluh ribu tail, semua emas!" Kiat Ma memperlihatkan miliknya kepada Lauw-wangwe, yang diam-diam terkejut dan mengerutkan kening karena heran dari mana laki-laki itu mendapatkan uang sedemikian banyak. Sinar aneh memancar dari sepasang matanya yang berbinar.
Namun ketika pesuruhnya datang membawa empat puluh ribu tail, hartawan itu menoleh pada kelompok Hek-bin. "Siapa yang bertanggung jawab atas pinjaman ini?"
"Kami semua, Wangwe. Kami bertujuh!" Hek-bin dan enam kawannya mengacungkan jari. Mereka bertujuh menyatakan bertanggung jawab atas pinjaman itu dengan penuh keyakinan, sikap percaya diri yang disambut tawa mengejek oleh Ma Kiat.
Ketika Lauw-wangwe tersenyum dan mengangguk, ia mundur dan berkata, "Baiklah, kalian bertanggung jawab atas pinjaman ini. Kuharap tidak meleset dan kalian dapat mengembalikannya dengan baik!"
"Ha-ha, tentu, Wangwe."