Halo!

Istana Hantu - Chapter 109

Memuat...
Istana Hantu

Chapter 109

"Lihat saja, orang she Ma ini akan kami robohkan!" Hek-bin sudah berseri-seri gembira, menyuruh temannya tadi maju. Namun, tiba-tiba Kiat Ma berseru bahwa harus ada pihak ketiga yang memegang uang itu.

Uang seratus ribu bukanlah jumlah yang sedikit dan masing-masing pihak harus menjaga diri dari kecurangan. Ketika Hek-bin dan kawan-kawannya tertegun karena perkataan itu memang benar, Kiat Ma berseru kembali.

"Kalah atau menang akan segera ditentukan dalam pibu ini. Untuk menjaga hal-hal yang tidak diinginkan, aku minta agar ada seorang netral yang maju menjaga uang ini, seorang yang tidak berpihak!"

"Aku dapat menjaga uang itu!" Seorang teman Hek-bin melayang ke atas panggung. "Aku tak akan berpihak dan dapat dipercaya, orang she Ma. Biar aku yang menjaga dan kalian bertanding!"

"Ha-ha, kau konco Hek-bin, mana bisa dipercaya? Tidak, kau mundur, siluman bau. Aku minta seorang penonton untuk maju dan menjaga uang ini!" Kiat Ma menolak dengan tegas. Orang itu merah padam karena terang-terangan tidak dipercaya, dan keributan kecil terjadi di kelompok Hek-bin.

Namun, ketika laki-laki itu mundur dan si tinggi kurus meloncat naik, tiba-tiba laki-laki ini berseru bahwa sebaiknya Lauw-wangwe menjadi hakim netral.

"Lauw-wangwe adalah tuan rumah. Patut rasanya kalau kita mempercayakan uang sejumlah ini kepadanya!"

"Tidak," Kiat Ma tertawa. "Tuan rumah tak usah dilibatkan, kurus. Kecuali kalau dia mau bertanding atau bertaruh pula! Ha-ha, kalian tak usah macam-macam, aku minta seorang yang benar-benar netral dan tidak berpihak!"

"Di sini tak ada orang yang seperti itu kecuali wangwe. Kau terlalu menuntut! Mana ada penonton berani menjaga uang sebanyak ini?"

"Ha-ha, pasti ada. Kau tak usah berkaok-kaok, kurus. Lihat, kupanggil seorang di antara mereka. Hayo, kuminta seorang di antara penonton tampil di sini, maju dengan hormat!" Kiat Ma bertepuk tangan, memutar pandangannya ke bawah panggung. Dia menatap belasan orang dari kelompok si pendek, tertawa, dan meminta mereka naik.

Namun, ketika mereka ragu-ragu dan tampak jerih memandang Lauw-wangwe, yang tersenyum-senyum tetapi sepasang matanya berkilat berbahaya, tak ada yang berani maju. Tiba-tiba terdengar tawa nyaring disusul seseorang yang melompat dari panggung sebelah kiri.

"Ha-ha, kenapa tak ada yang berani juga? Baiklah, aku mewakili permintaan orang she Ma ini dan menjaga uang seratus ribu di panggung lui-tai!"

Semua orang tertegun. Seorang laki-laki tegap berusia tiga puluh limaan tahun berlari-lari kecil, naik ke atas panggung melalui tangga di sebelah kanan, tidak meloncat naik seperti layaknya jago-jago pibu. Hal itu membuat orang-orang tertawa karena menunjukkan laki-laki ini tidak pandai silat.

Ketika laki-laki itu tiba di atas dengan sedikit berkeringat, dia tertawa memandang sekeliling, lalu menjura dan berkata kepada hartawan she Lauw.

"Wangwe, kau adalah tuan rumah. Berilah aku kesempatan untuk mengucapkan selamat atas perkawinan putramu itu. Aku orang she Sam, namaku Lu. Tidak terkenal, namun sudah dilatih sejak kecil untuk memiliki sedikit keberanian. Nah, aku memenuhi permintaan orang she Ma ini, ingin menjaga dan menjadi hakim netral!"

"Ha-ha, kau bisa apa? Mampu apa? Eh, kau cecunguk busuk, tak usah maju ke sini, orang she Sam. Panggung lui-tai diperuntukkan bagi orang-orang yang bisa silat, bukan orang lemah sepertimu itu. Minggir, jangan main-main di sini!" Hek-bin, yang terkejut tapi tertawa geli, segera membentak. Dia memuji keberanian laki-laki itu, tapi tentu saja menganggapnya hanya melawak untuk mencairkan ketegangan.

Namun, ketika Ma Kiat berseru bahwa laki-laki itu cocok menjadi hakim netral, si Copet Seribu Jari ini berkata, "Tidak, dia boleh di sini. Uang itu boleh dijaganya. Aku setuju dan inilah hakim yang adil!"

"Tapi dia tak bisa apa-apa, dia tolol dan lemah!"

"Justru itu! Kalau dia pandai dan bisa silat, barangkali uang itu akan dibawanya kabur, Hek-bin. Aku menganggap ini hakim yang cocok untuk menjaga uang taruhan. Lagi pula dia tetap di atas panggung, gerak-geriknya akan dilihat semua mata!"

Hek-bin tertegun. Dia kalah berdebat dan terpaksa mengangguk. Akhirnya, orang she Sam itu resmi menjadi hakim. Karena orang netral sudah didapatkan, si muka hitam itu mengangguk-angguk meski dengan perasaan dongkol.

"Baiklah, dia boleh menjaga di sini. Tapi kalau dia berani main-main dan melarikan uang itu, tentu dia akan terbunuh!"

"Ha-ha, orang tak pandai silat tak mungkin bisa melarikan uang, Hek-bin. Kalau pun begitu, teman-temanmu di bawah sana pasti mengejar. Ayolah, pertandingan dimulai dan tanganku sudah gatal untuk merobohkan pihakmu!" Ma Kiat tertawa-tawa sambil menyingsingkan lengan bajunya. Tiba-tiba orang she Sam itu meloncat maju. Semua orang terkejut, dan laki-laki itu berkata dengan suara nyaring.

"Aku sudah ditunjuk dan tentu harus bekerja dengan adil. Bagaimana upahnya? Apakah aku tidak diberi imbalan? Masa harus bekerja cuma-cuma sementara satu di antara kalian pasti mendapatkan untung?"

"Ha-ha, kau boleh ambil setengah dari bagianku, Sam Lu, kalau aku menang. Sedang mereka, kau tanya saja langsung!"

"Kami akan memberinya seratus tail!" Hek-bin tiba-tiba berseru. "Dan upah itu cukup untuk seorang penjaga!"

"Wah, begitu pelit?" Laki-laki ini tertawa. "Baiklah, kuterima upahku, Hek-twako. Dan permisi, kuambil dulu bagianku agar kalian tidak curang!"

Sam Lu melompat ke pundi-pundi uang, merogoh, dan mengambil seratus tail emas sebagai bagiannya. Orang-orang terbelalak karena laki-laki itu mengambil tanpa izin. Hek-bin melotot menahan gusar.

"Kau keparat, lancang sekali! Kenapa tidak tunggu nanti dan mengambil tanpa izin kami?"

"Ha-ha, aku takut kalian curang, Hek-bin. Siapa tahu kalau kalian menang aku malah harus gigit jari!"

"Sudahlah," Ma Kiat tertawa, merasa geli karena yang diambil orang she Sam itu adalah uang dari pundi-pundi Lauw-wangwe. "Tak perlu marah-marah di sini, Hek-bin. Ayo mulai dan ajukan jagomu!"

"Aku sudah di sini!" Si tinggi besar membentak. "Aku maju dan akan merobohkanmu, orang she Ma. Hayo keluarkan kepandaianmu!"

"Nanti dulu!" Seseorang tiba-tiba meloncat. "Pibu tanpa didahului minum tak enak rasanya, kawan. Ayo segarkan tubuh dan minum arak ini!" Teman Hek-bin tertawa memberikan secawan arak kepada Ma Kiat.

Ma Kiat berkata bahwa dia tak biasa minum arak dan biarlah lawannya saja yang meminumnya. Tahu-tahu, si Copet Jari Seribu ini sudah menyambar cawan tersebut.

"Arak memang untuk menyegarkan badan. Ha-ha, biarlah lawanku ini yang menyegarkan badannya agar semakin kokoh dan perkasa!" Ma Kiat bergerak cepat, dan tahu-tahu cawan arak sudah di depan hidung lawannya. Ketika laki-laki itu terkejut dan mulutnya terbuka, arak meluncur masuk.

"Hai, aku... aku tidak... glek!" Arak itu tertelan. Laki-laki itu memucat saat melihat si Copet tertawa-tawa. Merasa terhina, laki-laki itu menggeram dan langsung menerjang.

"Keparat jahanam, kau katak buduk!"

Ma Kiat berkelit dan serangannya luput. Penonton tertegun karena gerakan si Copet yang demikian ringan dan lincah. Bentakan dan tubrukan susul-menyusul di panggung lui-tai. Orang-orang mengira kemarahan si tinggi besar itu disebabkan oleh arak, namun ada rahasia lain di balik semua ini.

Di atas pohon, Soat Eng tertegun. "Itu Sam Lu, suheng dari Kiat Ma," gadis ini terbelalak. "Mereka sekarang berdua sudah menampakkan diri, lo-kai. Dan Lu Sam membalik namanya seperti Kiat Ma!"

"Ha-ha, benar. Dan mereka sudah mulai bermain api, Nona. Hartawan she Lauw itu sebentar lagi akan menerima berita yang tentu akan membuat kumisnya berdiri!"

"Berita apa? Tentang apa?"

"Sepak terjang dua anak nakal itu. Kiat Ma dan suhengnya sudah mulai membakar jenggot Lauw-wangwe, ha-ha!"

Soat Eng bingung. Kakek itu berkata lagi, "Nona, bagaimana pendapatmu tentang sepasang copet itu? Apakah mereka orang baik-baik?"

"Hm, copet jelas bukan manusia baik-baik, lo-kai. Tanpa kujawab pun mestinya kau mengerti!"

"Tapi mereka sering bertindak bijak. Hasil copetan mereka bukan untuk diri sendiri!"

"Maksudmu?"

"Heh-heh, dua anak nakal itu membagi-bagikan hasil copetannya untuk orang-orang miskin, Nona. Sebagian besar hasil pekerjaan mereka bukanlah untuk diri sendiri!" Soat Eng tertegun. "Kau tahu?"

"Ya, mereka itu... eit, lihat!" Si pengemis tiba-tiba menghentikan percakapannya dan menuding. "Kiat Ma sudah berhasil merobohkan lawannya, Nona. Bocah kurang ajar itu telah berhasil memperoleh kemenangan, ha-ha!"

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment