Halo!

Istana Hantu - Chapter 11

Memuat...
Istana Hantu

Chapter 11

Ketika dua kakak beradik itu memusatkan perhatian ke tempat itu, Soat Eng memandang dengan mata terbuka lebar. Tiba-tiba, gadis itu meloncat dan berseru, "Istana Hantu!" Thai Liong terkesiap.

Tanpa terasa, ia mengangguk dan mengiyakan, sudah menduga bahwa adiknya lebih dulu berseru. Ketika adiknya melonjak dan terdengar suara menguik di belakang mereka, maka Gosar dan Tin Tin muncul, basah kuyup bermandi keringat. Gadis itu tidak memperdulikan mereka karena tiba-tiba Soat Eng berteriak girang, berkelebat, dan menuju ke atap bangunan itu.

Dan begitu gadis itu berseru mendahului kakaknya, tiba-tiba Soat Eng melupakan puluhan hewan yang tak bernyawa untuk terbang menuju ke tempat itu, yang tak jauh dari mereka. "Liong-ko, kita menemukan Istana Hantu. Istana itu di bawah tanah, hayo kita lihat..." Thai Liong menggerakkan kaki.

Melihat adiknya berteriak menghambur ke tempat itu, tiba-tiba pemuda ini berkelebat dan menyusul. Adiknya sudah mendahului dan lupa pada sekitar. Bongkahan bumi yang merekah dilompati begitu saja seakan terbang, sekali terjeblos adiknya bisa celaka. Maka berteriak memperingatkan adiknya, pemuda ini menyusul dan berseru, "Eng-moi, hati-hati. Kita belum mengenal bangunan itu!"

"Ah, itu Istana Hantu, Liong-ko. Ini istana yang kita cari-cari..." "Benar, tapi jangan masuk dulu, Eng-moi. Tunggu aku!" Dan Thai Liong yang berkelebat menyambar adiknya akhirnya tak memperbolehkan adiknya bersikap sembrono. Terbang berendengan, kakak beradik itu akhirnya tiba di tempat itu.

Atap bangunan yang muncul sekarang terlihat lebih jelas lagi, muncul dari permukaan tanah, dan tanpa sengaja mereka bisa mendapatkannya lebih mudah. Dulu Ji Pin dan temannya tak berhasil mencari karena istana ini ternyata terpendam, harus dicari, dan mungkin mereka harus menemukan jalan yang lain, memasuki guha bawah tanah seperti yang dicari-cari Thai Liong, putera Pendekar Rambut Emas ini.

Dan karena gempa serta tanda-tanda munculnya gunung berapi telah mengangkat naik permukaan pulau Sam-liong-to tak kurang dari tiga meter, maka istana yang berada di dalam tanah itu muncul, mencuat, dan atap bangunannya terlihat oleh putera-puteri Pendekar Rambut Emas itu. Thai Liong dan adiknya sudah tiba di tempat itu, berhenti, dan berada di wuwungan bangunan itu, yang dapat diduga sebagai atap atau puncak Istana Hantu.

Dan begitu mereka berhenti dan Soat Eng terkekeh gembira, tiba-tiba gadis itu melihat sebuah lubang di atap bangunan, yang sedikit retak akibat gempa. "Kita masuk...." "Nanti dulu!" Sang kakak menyambar. "Jangan sembrono, Eng-moi. Hati-hati!" Dan suara ngak-nguk di belakang yang segera disusul dengan munculnya sepasang gorila itu akhirnya membuat Thai Liong menoleh dan melihat gorila jantan serta betina terengah-engah, memberi tanda dengan menggerak-gerakkan jari seakan mencegah mereka masuk.

Thai Liong maupun Soat Eng tak mengerti, tapi begitu kakaknya lengah, tiba-tiba gadis ini menarik tangannya, lepas, dan mamberosot memasuki lubang atau celah di puncak bangunan itu. Tapi baru sebagian kakinya masuk dan terdengar suara gemeratak dari dalam, tiba-tiba menyambat tiga panah kecil ke tubuh gadis itu. "Hayaa.....!" Soat Eng berjungkir balik. Gadis ini berteriak kaget dan keluar kembali, panah menyambar Thai Liong, dan pemuda itu membentak, menggerakkan tangan menyampok.

Dan ketika suara di dalam lenyap dan tiga panah itu runtuh ke tanah, maka Soat Eng sudah melayang turun, sementara kakaknya mengusap keringat, menegur. "Lihat, hampir kau membawa celaka, Eng-moi. Kau terburu-buru dan gegabah!" "Maaf," Gadis itu merah mukanya. "Aku tak menyangka, Liong-ko. Dan sekarang biarlah aku menurut padamu!" "Hm," Thai Liong yang tidak menegur adiknya lagi lalu memungut tiga panah kecil itu, mengamatinya, dan melihat bahwa panah-panah ini beracun, ujungnya mengkilap kebiruan, dan hal itu ditunjukkannya kepada adiknya.

Dan ketika Soat Eng mengangguk dan meminta maaf, maka Tin Tin dan gorila jantan menggaruk-garukkan kaki, ngak-nguk. "Mereka ini memberi isyarat, menuding-nuding. Apakah minta agar kita tidak memasuki istana ini?" "Ah, tak perlu digubris. Kalau sembrono seperti aku mungkin begitu, Liong-ko. Tapi kau mempunyai peta. Sebaiknya lihat peta itu dan kita masuk melalui jalan yang benar!" Thai Liong tertegun. Sekarang dia teringat bahwa peta memang ada di tangannya, cepat merogoh dan mengeluarkan benda itu.

Dan ketika dia membuka dan memperhatikan garis-garis di peta, maka gorila betina mendengus-dengus di belakangnya, mengganggu, dan gorila jantan juga menguik-nguik. Aneh dua binatang itu. Mereka gelisah dan berkali-kali menoleh ke belakang. Dan ketika Thai Liong mengerutkan kening dan Soat Eng jengkel, maka gadis itu membentak agar dua gorila itu menjauh. "Pergi kalian, jangan mengganggu!" Dua binatang itu mundur.

Thai Liong tak tahu bahwa dengan firasatnya yang tajam luar biasa, binatang itu hendak memberi tahu mereka bahwa seseorang mendatangi pulau, masih jauh di lautan. Bahwa di tengah lautan sedang terombang-ambing sebuah kapal besar, diamuk gempa dan badai, dan mereka itu akan terdampar di Sam-liong-to, atau mungkin sengaja akan datang di pulau itu, mencari-cari Sam-liong-to seperti halnya Ji Pin dan temannya.

Dan ketika dua binatang itu menjauh dibentak Soat Eng, maka gadis ini mengamati bersama kakaknya, melihat peta, dan segera ditemukan jalan masuk, berliku dan berlorong, dan semuanya itu dimulai dari bawah laut, yakni dipesisir di mana mereka harus mencari teluk kecil. Thai Liong telah melihat teluk ini namun tadi tak memperhatikan, yakni teluk yang melekuk ke dalam di sebelah selatan pulau.

Dan begitu Thai Liong tertegun dan melipat peta, maka adiknya berseru menahan gemas. "Wah, kita harus menyelam. Memasuki Istana Hantu berarti dimulai dengan pakaian basah kuyup di bawah laut!" "Benar, dan ada guha di bawah teluk itu, Eng-moi. Kita harus ke sana untuk akhirnya tiba di sini lagi." "Dan berenang seperti ikan?" "Eh, kau mau, bukan? Ini jalan paling aman, Eng-moi. Pantas Istana Hantu tak terlihat dari atas karena istana itu terpendam!" "Ya, dan kita akan mulai dari bawah, menyusur dan menyelam. Eh, aku mau, Liong-ko. Dan kau akan menjadi penunjuk jalan, bukan? Ayo, kita ke sana. Aku tak sabar!"

Dan Soat Eng yang berkelebat menuju teluk tiba-tiba menyambar kakaknya dan meninggalkan puncak bangunan itu, tak mau sembrono, dan kakaknya mengangguk. Menurut peta, mereka harus menyelam dan mencari guha bawah laut, di situlah mereka akan naik dan memasuki Istana Hantu. Dan karena mereka sudah mengetahui teluk yang dimaksud dan tanda-tanda atau rahasia peta harus dipecahkan sendiri, maka Thai Liong berkelebat dan bersama adiknya menuju ke teluk itu, tiba di sini, dan mereka mencari sebuah batu besar.

Di bawah batu itulah katanya terdapat guha bawah laut, jadi batu itu sendiri mungkin bagian atasnya, dan Soat Eng girang, meloncat, dan sudah bersiap di atasnya. Tapi sebelum dia terjun dan mendahului kakaknya, tiba-tiba Thai Liong berkata bahwa dia akan menyelidiki dulu. "Sebaiknya kau di sini, menunggu. Biar aku yang menyelam dan melihat apakah benar guha itu ada atau tidak." Lalu tidak menunggu adiknya membantah, Thai Liong mencebur dan terjun ke laut, menyelam berenang, dan adiknya menjaga.

Soat Eng memang tak dapat mendahului lagi karena kakaknya sudah meloncat lebih dulu, mereka berdua dapat berenang dan tidak takut di air. Dan ketika Soat Eng menunggu kakaknya, sementara Thai Liong sendiri menyelam dan sudah mencari guha bawah laut, maka pemuda itu berenang dan menahan napas sambil mengamati, tak lama kemudian menemukan guha itu, dan semacam terowongan atau guha bawah laut terlihat, didekati, dan pemuda ini sudah masuk ke dalamnya.

Tapi baru setombak dia masuk, tiba-tiba berkelebat bayangan seekor hiu yang langsung menyerangnya. "Plak!" Thai Liong menampar. Hiu dibuat terpental, dan binatang itu terdorong jauh, lari, namun dua ekor binatang lain muncul, hiu yang lebih besar. Tapi begitu Thai Liong mendorong dan menggerakkan tangannya lagi, maka dua ekor binatang buas itu dapat diusir, dan pemuda ini masuk ke dalam, mendapat kenyataan bahwa guha bawah laut itu dalam, kian jauh kian ke atas.

Dan ketika dia hampir tiba di tempat di mana air setinggi lutut, mendadak sebuah belalai panjang melibatnya dari samping. "Gurita!" Thai Liong terkejut. Seekor gurita besar menjaga di mulut guha yang mulai dangkal, cepat sekali belalai yang lain bergerak dan melingkari tubuhnya. Thai Liong terkejut namun tidak panik, tangannya bergerak, dan sekali remas dia menghancurkan sepasang belalai yang menggubat lengannya.

Dan ketika gurita itu kesakitan dan Thai Liong menggerakkan tangan yang lain, akhirnya belalai gurita itu putus semua, namun gurita itu mengeluarkan cairan hitam dari bawah tubuhnya. "Push!" Suara ini seperti kentut. Cairan hitam yang keluar dari bagian tubuh bawah gurita diiringi bunyi menggelutuk di dalam air. Gurita itu lari dengan kesakitan, belalai-belalainya yang putus diremas Thai Liong membuat binatang itu takut.

Tapi ketika Thai Liong tersenyum dan lengah terhadap cairan hitam ini, mendadak kepalanya pening, dan Thai Liong seakan tercekik tenggorokannya oleh sesuatu yang berat, tersentak, dan sadarlah pemuda itu bahwa racun yang aneh menyerangnya; kulit menjadi gatal-gatal, dan saat itu juga dia seakan mendengar bunyi mendengung. Telinganya sakit, dan cepat Thai Liong berenang ke atas, menuju tempat dangkal di mana air laut tak membasahi tempat itu.

Dan begitu dia tiba di sini dan gugup serta pucat, tiba-tiba Thai Liong terjatuh. "Ah, tinta beracun!" Thai Liong teringat, pernah mendengar hal semacam itu pada seekor cumi-cumi. Tak ayal pemuda ini mengambil obat dan menelan sebutir, obat penawar racun. Dan ketika peningnya hilang dan rasa gatal juga lenyap, maka Thai Liong bergidik namun lega, duduk terengah, dan cepat bersila. Betapapun dia harus mengerahkan sin kangnya melindungi diri, sisa-sisa racun harus dikeluarkan, dan beberapa menit kemudian barulah dia benar-benar merasa sehat.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment