Halo!

Istana Hantu - Chapter 110

Memuat...
Istana Hantu

Chapter 110

Dia menoleh dan segera mendengar suara bak-bik-buk di sana, disusul suara tendangan saat si tinggi besar tiba-tiba menjerit.

Ketika gadis itu menengok dan membelalakkan matanya, si tinggi besar mengaduh dan terlempar keluar panggung.

"Bress!" Semua orang terkejut.

Mereka melihat Kiat Ma memperoleh kemenangan dengan mudah. Tadi lawan menyerangnya dengan sengit, namun semua serangan itu dikelit dengan mudah.

Ketika pertempuran berjalan belasan jurus dengan si Copet hanya mengelak dan menghindar, tampaklah si tinggi besar mulai terhuyung-huyung dengan muka pucat.

Tenaganya melemah dan orang-orang menjadi heran karena dalam waktu singkat saja si tinggi besar itu sudah gemetaran.

Mereka mengira karena serangan-serangan yang luput dari si tinggi besar itu menghabiskan tenaganya sendiri, sebab pukulan atau tendangan yang luput memang berarti membuang tenaga sia-sia.

Ketika laki-laki itu semakin gemetaran sementara lawan tertawa-tawa menghindar sana-sini, akhirnya Kiat Ma berseru bahwa dalam empat jurus saja lawannya itu bakal terlempar keluar panggung.

"Sekarang sudah saatnya," si Copet tertawa.

"Kau mabuk dan linglung, monyet besar. Daripada membuat kesal di sini, lebih baik kau enyah!"

"Buk-dess!" Si Copet mendaratkan sepasang tangannya, menghantam tengkuk si tinggi besar dan lawan pun terbanting.

Namun karena lawan bertenaga besar dan mampu bangkit lagi, Kiat Ma berkelebat dan mendaratkan lagi dua-tiga pukulannya. Terdengar bak-bik-buk dan saat itulah si tinggi besar mengeluh sambil mendekap perutnya.

Tanpa diketahui seorang pun, tiba-tiba si tinggi besar ini merasa mulas di perutnya.

Arak yang diminum tadi sesungguhnya adalah arak yang telah dicampuri semacam obat pengganggu yang akan melemahkan tenaga siapa saja, disertai perut yang mulas tak keruan, seperti yang dialami Sin Cek atau si pendek tadi, lawan Siu Pin si tinggi kurus.

Maka, begitu keadaan serupa menimpa si tinggi besar ini dan tak pelak laki-laki itu pucat dan gemetaran, sebuah tendangan akhirnya menyelesaikan pertandingan itu.

Si tinggi besar mencelat dan terlemparlah dia keluar panggung.

Ketika si Copet terbahak-bahak dan Sam Lu alias Lu Sam meraup uang yang ada di pundi-pundi, si Copet itu berseru nyaring sambil tertawa gembira.

"Ha-ha, lihat, Muka Hitam (Hek-bin). Aku telah memenangkan pertandingan dan kalian kalah!"

"Benar," Lu Sam juga berseru nyaring. "Orang she Ma ini memenangkan pertandingan, Saudara-saudara. Semua telah menjadi saksi akan kemenangannya!"

Hek-bin dan kawan-kawannya pucat. Wajah mereka otomatis berubah, terkejut dan kaget bukan main.

Maklumlah, di samping uang mereka sepuluh ribu tail ludes, juga mereka masih dibebani utang empat puluh ribu kepada Lauw-wangwe. Utang ini empat kali lipat dari uang mereka sendiri, tentu saja kelewat berat!

Maka, begitu jagonya kalah dan kemenangan yang diharapkan tiba-tiba berubah menjadi kekalahan, Hek-bin dan enam temannya itu menggigil.

"Bagaimana, Ouw-twako? Apa yang harus kita lakukan?"

"Kita bertanding lagi, ajak bertaruh lima puluh ribu tail!"

"Tapi uang kita habis...."

"Kita berutang pada Lauw-wangwe!"

Ketika Hek-bin tertegun dan membelalakkan matanya, Lauw-wangwe tiba-tiba sudah berdiri di dekatnya.

"Hm, kalian berutang empat puluh ribu tail. Bagaimana membayarnya, Hek-bin?"

"Kami... aku...!"

"Kami berutang lagi, Wangwe tak usah khawatir!" Ouw Sek, laki-laki yang tadi bicara, sudah meloncat ke depan. Dialah yang tadi bicara dengan si muka hitam hingga Hek-bin sempat terkejut.

Ketika Lauw-wangwe sendiri mengerutkan kening dan terkejut memandang Ouw Sek, laki-laki itu membungkuk.

"Wangwe, perkenankan kami pinjam sekali lagi. Kali ini tak mungkin kalah. Kami akan menantang sekali lagi dan orang she Ma itu akan kami hancurkan!"

"Hm, utangmu sudah empat puluh ribu tail...."

"Dapat kami bayar, Wangwe. Akan kami lunasi. Sebab kalau kami kalah lagi, maka dua orang itu akan kami bunuh dan ambil uangnya!"

Lauw-wangwe tiba-tiba tertawa.

"Aha, begitukah?" katanya tertawa. "Baiklah, Ouw Sek. Kalau begitu kalian boleh pinjam lagi dariku!"

Sambil memberi tanda pada pembantunya untuk mengambil uang di dalam, tiba-tiba Ouw Sek sudah meloncat naik dan berseru marah di atas panggung.

"Orang she Ma, pertandingan belum selesai. Aku menantangmu bertaruh lagi dan kita bertanding!"

Kiat Ma terkejut.

"He, masih penasaran?" serunya tertawa. "Tapi kau tak punya uang lagi, Sobat. Jangan menipu aku dan coba-coba berbuat curang!"

"Lauw-wangwe akan meminjami kami lagi. Ayo, kita bertanding untuk lima puluh ribu tail!"

Si Copet terkejut. Kalau Lauw-wangwe benar memberi pinjaman lagi dan lawan ngotot mengajak bertaruh, tentu saja dia tak dapat menolak. Si pemenang harus meladeni sampai satu pihak betul-betul ludes. Kalau masih punya simpanan, maka simpanan itu akan dikeluarkan, betapapun berangnya.

Maka, begitu lawan melotot sementara hartawan she Lauw mengangguk di sana, Kiat Ma tertawa dan tersenyum berkata.

"Baiklah, kalau begitu tantanganmu kuladeni. Hanya tunjukkan dulu uang itu dan baru kita bicara lagi..."

"Cring-cringg!" Uang tiba-tiba berhamburan, dilempar Lauw-wangwe.

"Aku juga ingin ikut main-main, orang she Ma. Entahlah kenapa tiba-tiba hatiku gatal melihat kemenanganmu ini. Ayo, aku juga lima puluh ribu hingga genap seratus ribu dengan punyamu!"

"Wangwe maju bertaruh?" Si Copet tertegun. "Wah, tak berani aku menerimanya, Wangwe. Kau tuan rumah, sedang aku tamu yang tak diundang!"

"Ha-ha, tak apa. Aku tertarik melihat dirimu, Ma Kiat. Dan aku sekarang mengundangmu. Kau tamuku yang paling istimewa!"

Ketika si Copet tertegun dan terbelalak mengerling suhengnya, Lu Sam tertawa sambil menggoyang pundi-pundi uang.

"Ma Kiat tak memiliki seratus ribu. Dia hanya memiliki setengahnya saja, karena yang setengah adalah bagianku. Bagaimana dia menerima tantanganmu, Wangwe? Lagi pula sungkan rasanya berjudi dengan tuan rumah!"

"Benar," si Copet teringat, tiba-tiba tertawa. "Seratus ribu itu bukan punyaku semua, Wangwe. Setengah dari jumlah itu telah dimiliki orang she Sam ini sebagai upahnya menjadi hakim!"

"Hm, tak apa. Kami berdua sama-sama yang tak terlibat langsung. Kalau begitu kutantang dia untuk sama-sama mempertaruhkan yang lima puluh ribu itu. Kalau pun tak apa baginya karena uang itu toh hasil hadiah, pemberian cuma-cuma!"

"Ha-ha, bagaimana, Sam-heng (Kakak Sam)? Kau berani menerima taruhan Lauw-wangwe ini?"

"Hm, bagaimana, ya?" Lu Sam tertawa, pura-pura sayang dan menimang-nimang uang bagiannya itu. "Aku pribadi tak pernah berjudi, Wangwe. Tapi kalau ditantang, tentu saja aku berani. Orang tuaku telah melatih keberanian dan semangat besar padaku!"

"Bagus, memang sudah kuduga!"

Lauw-wangwe yang tertawa dan menyuruh ambil lagi uang lima puluh ribu lalu meletakkan uang itu di sudut panggung. Kemudian berbisik dan bicara dengan rombongan Hek-bin, hartawan ini tampak mengebut-ngebutkan lengan jubahnya.

Ketika Hek-bin dan teman-temannya berseri mengangguk-angguk, maka si tinggi kurus meloncat naik menyuruh mundur si Ouw Sek itu.

"Wangwe menyuruhku maju. Kau turunlah!"

Orang she Ouw ini turun. Dia terbelalak sejenak tapi tersenyum mendapat kedipan, meloncat turun, dan sudah berhadapanlah Kiat Ma dengan si tinggi kurus itu.

Ketika si Copet tertawa dan diam-diam melirik suhengnya, Lu Sam, Lauw-wangwe berkelebat di atas panggung dan mengejutkan si Copet karena gerakan hartawan itu sungguh amat cepat dan ringan, tanda sebuah ilmu meringankan tubuh yang cukup membuat hati keder!

"Orang she Ma, aku sebagai tuan rumah ingin memberimu arak selamat datang. Ayolah, minum ini dan jangan buat aku malu di depan tamu-tamuku!"

"Eh-eh!" Kiat Ma mundur-mundur, mukanya berubah. "Aku... aku tak biasa minum arak, Wangwe. Tersedak aku nanti!"

"Ha-ha, kau laki-laki, bukan perempuan. Kenapa takut dan enggan? Ayolah, minum secawan ini saja, orang she Ma. Atau kau sengaja menghinaku yang sungguh-sungguh ingin menghormatimu sebagai tamuku!"

Kiat Ma terpojok. Lauw-wangwe memang sudah berkata bahwa sejak itu dia merupakan tamu undangan, bukan lagi tamu liar, dan kini sebagai tamu undangan memang sewajarnya saja hartawan itu menyuguhkan arak.

Tapi karena dia tahu bahwa arak itu sudah tercampur obat dan memang si Copet ini sudah mengetahui adanya kecurangan di situ, maka Kiat Ma tertegun dan bingung mundur-mundur, melihat cawan sudah disodorkan kepadanya dan Lauw-wangwe pun maju terus.

Menolak terus berarti menghina tuan rumah dan tidak memberi penghargaan. Ketika si Copet itu bingung dan pucat mukanya, mendadak Lu Sam maju tergopoh-gopoh dan suhengnya yang menyamar sebagai orang biasa itu berkata.

"Wangwe, agaknya tak adil memberi arak pada orang she Ma ini saja. Bagaimana kalau dibagi juga dengan si tinggi kurus ini? Adalah adil jika penghargaan itu dibagi sama, Wangwe. Baik ini maupun itu sama-sama mendapat setengah cawan!"

Lauw-wangwe tertegun. Dia tampak terkejut dan mengerutkan kening.

Tapi Kiat Ma yang sudah merasa mendapat bantuan suhengnya tiba-tiba berseru.

"Benar, kalau begitu aku mau, Wangwe. Biarlah sebagai laki-laki aku coba-coba menenggak arak, ha-ha!"

Hartawan ini tersudut. Akhirnya apa boleh buat, dia mengangguk juga sambil tersenyum.

Namun ketika dia menyodorkan arak terlebih dulu pada si Copet, tiba-tiba lelaki cerdik ini tertawa dan menolak.

"Jangan aku dulu, biarlah kehormatan itu kuberikan pada lawanku dulu!"

"Hm!" Hartawan ini gemas. "Kau begitu licik dan pengecut? Baiklah, minum ini, Siu Pin. Dan tenggaklah setengah cawan!"

Arak terpaksa dibalik arahnya, diberikan pada si tinggi kurus itu, dan Siu Pin atau si tinggi kurus ini tampak ragu.

Dia berubah mukanya, tapi Lauw-wangwe tiba-tiba menyentil sebutir obat langsung memasuki mulutnya.

Karena gerakan itu tak diketahui orang luar kecuali Soat Eng dan si kakek pengemis yang kebetulan duduk di atas pohon, maka Soat Eng terkejut dan membelalakkan mata melihat kejadian ini.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment