Halo!

Istana Hantu - Chapter 111

Memuat...
Istana Hantu

Chapter 111

"Keparat, kiranya ada apa-apa dengan arak itu! Eh, kau melihat perbuatan Lauw-wangwe itu, lo-kai? Kau melihat si tinggi kurus diberi obat?"

"Ha-ha, aku melihatnya!" si kakek pengemis tertawa terbahak-bahak. "Dan justru itulah kemenangan-kemenangan mereka diperoleh, Nona. Barangkali kau sekarang tahu kenapa jagomu selalu keok!"

"Mereka diberi arak obat! Ah, tahu aku. Kiranya arak itu telah melemahkan tenaga dan kekuatan jago-jagoku!"

"Ha-ha, benar. Dan sekarang Kiat Ma bakal pecundang, Nona. Kecuali kalau si Copet itu bersikap cerdik. Dan aku percaya kecerdikannya!"

"Apa yang akan dia lakukan?"

"Bantuan suheng-nya itu, lihat!"

Soat Eng menoleh dan dengan cepat memperhatikan. Tiba-tiba ia melihat Lu Sam bersikap sama cepat seperti hartawan she Lauw; ia menjentikkan sesuatu dan sinar hitam meluncur memasuki mulut temannya. Tak ada yang tahu gerakan ini karena semua mata saat itu sedang tertuju pada perbuatan Lauw-wangwe yang memberikan arak pada si tinggi kurus itu.

Ketika benda bulat kecil ini lenyap di mulut si Copet, hartawan Lauw berbalik dan memberikan sisa araknya pada laki-laki itu. Tanpa ragu atau takut, si Copet menerima arak tersebut dan menenggaknya. Namun, apa yang terjadi? Baru sebagian arak memasuki mulut si Copet, tiba-tiba Kiat Ma tersedak, batuk, dan menyemprotkan arak dari mulutnya hingga membasahi baju hartawan she Lauw.

Saat semua orang terkejut karena muka hartawan itu segera berubah, seekor lalat terbang keluar melalui mulut si Copet yang sedang batuk terkekeh-kekeh.

"Huwaduh... ugh-ugh... celaka, Wangwe. Arak ini tercampuri lalat. Mulut bau si kurus itu rupanya begitu busuk. Arak sisanya kemasukan lalat dan aku tak dapat meminumnya... ugh-ugh!"

Semua orang terkejut. Mereka tiba-tiba merasa geli dan ikut terpingkal-pingkal. Lalat yang terbang keluar dari mulut si Copet sungguh membuat mereka terhibur. Namun, ketika Lauw-wangwe membentak dan suasana menjadi diam, hartawan ini memandang Kiat Ma dengan muka merah karena merasa dihina dengan siraman arak di bajunya.

"Orang she Ma, kau terkutuk dan kurang ajar. Kalau saja ini bukan di panggung lui-tai, barangkali kau sudah menerima hukuman dariku. Baiklah, kalian cepat bertanding dan siapa yang kalah, dia harus segera menyingkir dari sini!"

Hartawan itu berkelebat turun, disambut leletan lidah si Copet yang entah main-main atau sungguh-sungguh. Ketika si Copet mengangguk dan memutar tubuhnya, si kurus sudah mengerotokkan buku jarinya seraya mengancam dengan suara dingin.

"Orang she Ma, hati-hati saja kau kali ini. Awas, kita mulai dan jaga seranganku!"

Begitu menubruk serta mengeluarkan bentakan keras, laki-laki itu memulai pertandingan. Ia maju berkelebat dan kesepuluh jari tangannya menyambar bagai kuku elang. Kiat Ma mengelak dan serangan itu luput, mengenai angin kosong. Namun, ketika lawan membalik dan menyerang lagi, ia menghadapi hujan pukulan dan cengkeraman ganas. Serangan itu susul-menyusul menghadang semua jalan larinya hingga si Copet tak dapat menghindar. Ia terpaksa menangkis, dan ketika kedua tangan mereka beradu, Kiat Ma terpental sementara lawannya hanya terhuyung dan tergetar.

"Dukk!" Kiat Ma terkejut. Ia merasa tenaga si kurus amat kuat. Ia penasaran dan maju kembali, tetapi setiap kali ia menyerang dan lawan menangkis, ia selalu terpental.

"Duk-dukk!" Kiat Ma terkejut. Si kurus tertawa menyeramkan dan kening si Copet berkerut melihat kenyataan itu. Pada jurus-jurus pertama, si Copet benar-benar terdesak.

"Celaka, Lauw-wangwe benar-benar licik. Di samping memberikan obat penawar bius, dia juga memberikan obat penambah tenaga. Aih, ini perbuatan curang Kim-siocia. Harus dicegah dan dibantu!" Soat Eng terkejut.

"Dari mana kau tahu?"

"Lihat tenaga si kurus itu, bukankah dia bertambah hebat? Selain untuk menawarkan pengaruh arak, obat itu juga merangsang atau menambah tenaga si kurus. Celaka, kalau begini Kiat Ma bisa kalah!"

Soat Eng terbelalak. "Kau yakin?"

"Aih, kenapa ditanya lagi? Lihat si kurus itu kuat tenaganya, Nona. Padahal dia sudah bertanding dua kali! Masa kau tidak ingat?"

Soat Eng sadar. Tiba-tiba ia ingat bahwa si kurus itu sudah bertanding dengan si pendek dan seorang lagi, jadi ini adalah kali ketiga ia naik panggung. Ia mengangguk-angguk.

"Kau betul. Mengherankan bahwa si kurus itu mampu bertanding secara maraton, lo-kai. Barangkali benar bahwa obat yang dijentikkan Lauw-wangwe tadi berfungsi menambah tenaganya. Aih, hartawan itu licik dan curang!"

"Dan Kiat Ma akan kalah. Wah, aku harus maju membantu!"

"Kau mau ke mana?" Soat Eng terkejut melihat orang itu bersiap turun. "Apakah kau mau ke panggung?"

"Benar, aku mau mengobrak-abrik perhatian Lauw-wangwe, Nona. Agar si Copet itu menang!"

"Tak usah turun!" Soat Eng mencegah. "Aku sendiri dapat membantunya dari sini!"

"Kau?"

"Ya, kau mau lihat? Nih, buktikan!"

Soat Eng menyentil sebutir kacang dan menyerang belakang lutut si kurus yang sedang tertawa-tawa mendesak lawannya. Begitu benda bulat kecil itu mengenai sasaran, si kurus menjerit dan terpelanting. Ia pincang dan terkejut karena kaki kanannya kehilangan tenaga. Soat Eng telah menotok jitu jalan darah hu-keng-hiat di belakang lutut itu, membuat lawan tersentak dan lima per sepuluh bagian tenaganya hilang.

Ketika si kurus meloncat bangun dengan kaki pincang, lawannya menerjang dengan pukulan-pukulan cepat. Keadaan berbalik seratus delapan puluh derajat. Si Copet kini berada di atas angin dan Siu Pin, lawannya, terdesak mundur. Meski terpincang-pincang menangkis, ia selalu terpelanting. Akhirnya, ketika kaki kanannya kaku, sebuah pukulan lurus menghantam dadanya.

"Dess!" Si kurus terlempar dan hampir mencelat keluar panggung. Ia tersangkut pinggiran lui-tai, namun saat ia beringsut maju, lawan bertindak lebih lihai. Kaki si Copet menyapu kaki lawannya, dan si tinggi kurus itu pun mencelat keluar panggung.

"Ha-ha, cukup, Kurus. Kau pergilah dan jangan di sini lagi... dess!"

Laki-laki itu mengeluh, terlempar jauh, dan jatuh berdebuk dengan keras. Kiat Ma telah menyudahi pertandingan dengan manis; lawan dibuat tergeletak tak berdaya. Ketika sorak-sorai menggegap-gempita di kelompok si pendek, Lu Sam bergulingan tertawa-tawa menyambar uang milik hartawan Lauw dengan girang.

"Ha-ha, ini punyaku, Wangwe. Sekarang punyaku!"

Sang hartawan tertegun. Ia tidak mengira kekalahan itu. Namun, ketika ia menggeram dan menyuruh pembantunya maju, ia menantang si Copet sekali lagi dengan menambah jumlah taruhan hingga seratus ribu tail. Hartawan ini rupanya hendak menguras isi kocek si Copet. Kali ini Ouw Sek diperintahkan maju.

"Hayoh, Lauw-wangwe kini menantang langsung, orang she Ma. Kalahkan aku karena aku menggantikan temanku!"

"Tapi aku sudah bertanding dua kali. Mana kuat?"

"Ha-ha, kau takut? Kalau begitu serahkan semua uang itu, dan kau pergi!"

Namun, Kiat Ma dan suheng-nya hanya tertawa. "Baiklah... baiklah, orang she Ouw. Aku akan bertanding lagi, tapi biar temanku ini menyimpan uangnya dulu!"

"Kau mau ke mana?" Ouw Sek membentak saat melihat Lu Sam sudah bersiap pergi membawa uang. "Kau di sini tak boleh pergi, orang she Sam. Kecuali Lauw-wangwe atau aku memerintahmu!"

"Tapi aku tak mau bertaruh lagi. Aku ingin menikmati uangku ini!"

"Tak bisa. Kau tetap di sini atau kau akan dibunuh... srat!" Ouw Sek mencabut goloknya. Kejadian itu mengejutkan semua orang karena pibu rupanya sudah berubah, tidak lagi tangan kosong, melainkan menggunakan senjata.

"Kali ini Wangwe ingin melihat kita bertanding dengan senjata. Nah, cabut senjatamu dan kita tentukan darah siapa yang harus mengalir!"

"Wah, aku tak membawa senjata," Kiat Ma pura-pura pucat. "Senjata bakal mengalirkan darah, orang she Ouw. Aku ngeri!"

"Ha-ha, kau takut?"

"Bukan takut, melainkan ngeri..."

"Sama saja. Kalau begitu serahkan uangmu itu dan kau selamat!"

"Ah, mana bisa? Tak adil! Belum bertempur pantang menyerah, orang she Ouw. Baiklah kulayani kau dan kupinjam dulu senjata siapa saja yang ada di sini!"

Kiat Ma meringis, membalikkan tubuh dan mencoba meminjam senjata penonton. Namun, tidak ada yang berani memberikan senjata karena takut pada pandang mata Lauw-wangwe yang berkilat tajam. Si Copet pun gagal mendapatkan senjata.

"Nih, kau pakai pedang ini!" Lauw-wangwe tiba-tiba melontarkan sebatang pedang. Senjata itu mendesing dan menancap di kaki si Copet. Kiat Ma hampir tertembus kakinya kalau tidak cepat-cepat melompat ke kiri. Meski terkejut, ia tertawa lebar. Hal itu membuat orang-orang kagum, dan si Copet pun menjura pada Lauw-wangwe.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment