Chapter 112
"Terima kasih. Satu kehormatan besar bagiku menerima pinjaman ini, Wangwe. Mudah-mudahan menang dan doa restumu tetap bersamaku!"
"Tak perlu cerewet!" suara si hartawan meninggi. "Kau layani pembantuku itu, orang she Ma. Dan lekaslah roboh menghadap nenek moyangmu!"
"Hm," Lu Sam tiba-tiba berseru. "Di mana uang taruhanmu, Wangwe? Bolehkah diperlihatkan pada kami?"
"Kau minta aku menunjukkannya? Khawatir dan tak percaya?"
"Ah-ah, tidak. Bukan begitu, Wangwe. Melainkan semata agar adil saja. Bukankah uang orang she Ma ini di sini? Aku diminta menjadi penjaga sekaligus hakim, tentu saja aku layak bertanya dan harus bersikap adil!"
Hartawan itu mendengus. Dia menyuruh orangnya mengambil uang lagi, kali ini bukan seratus ribu, melainkan dua ratus ribu. Dia menantang Lu Sam sekalian agar menggabungkan uangnya. Ketika Lu Sam terkejut dan membelalakkan mata, Kiat Ma tertawa.
"Aneh sekali. Kenapa hakim atau Wangwe harus ikut-ikutan bertaruh? Bukankah seharusnya dia bersikap netral dan tidak memihak? Kalau kau menantangnya, aku khawatir dia justru berpihak padaku. Sebaiknya dia dibebaskan saja dan biar kita berdua bertaruh!"
"Aku tak perlu nasihatmu. Kalian berdua terima tantangan ini atau pergi secara baik-baik dan tinggalkan uang itu!"
"Wah, mana bisa? Kalau begitu baiklah, Wangwe. Aku hanya mengikuti dan silakan Sam-loheng menolak atau menerima kalau setuju!"
"Aku setuju, tapi... ah, aku jadi merinding. Uang sebanyak ini sungguh repot harus kubawa-bawa. Eh, aku ingin kencing! Wah, aku boleh pergi sebentar, Wangwe? Pertandingan harap ditunda dan tunggu aku dulu!"
Tanpa menunggu jawaban lawan, Lu Sam sudah berlari menuruni panggung sambil menahan kancing celananya. Tingkah lucu dari orang she Sam ini membuat penonton tertawa. Ketika Lu Sam menghilang dan Soat Eng melihat laki-laki itu berkelebat memasuki gedung si hartawan, si pengemis di sampingnya terkekeh.
"Heh-heh, anak nakal. Tapi pandai!"
"Apa yang dia lakukan?"
"Wah, mana aku tahu? Tapi dapat kuduga, Nona. Pasti ke peti uang!"
"Untuk apa?"
"Ssst, kau diam saja. Lihat, dia sudah kembali!"
Benar saja, Lu Sam sudah kembali dengan pura-pura mengancing celananya, lalu bergegas naik ke tangga panggung adu pibu. "Sudah... sudah... wah, hampir bocor di tengah jalan!"
Semua orang tertawa. Soat Eng sendiri geli karena mengetahui laki-laki itu tidak membuang hajat, melainkan menggerayangi rumah si hartawan. Ketika laki-laki itu bersiap di sudut sementara golok di tangan Ouw Sek sudah diputar-putar dengan mengancam, jago Lauw-wangwe itu berseru, "Sekarang kita siap, awas seranganku... wut!"
Golok yang membacok dengan bengis menyambar muka Kiat Ma. Ia mengelak, namun lawan memburu lagi dengan cepat. Ketika Kiat Ma menangkis dengan pedang pinjamannya, "Crakk!", pedang itu patah. Kiat Ma terkejut karena pedang itu ternyata rapuh.
"Ha-ha, awas orang she Ma. Kau mampus atau menyerah saja baik-baik!" Kiat Ma mengeluarkan keringat dingin. Ia tahu Lauw-wangwe berbuat licik; setelah gagal dengan arak, kini ia memberikan pedang rapuh untuk mencelakainya.
Sebentar saja Kiat Ma sudah terdesak hebat. Pedang itu kini tinggal separuh dan nyaris hanya gagangnya yang tersisa. Sebuah bacokan golok mengenai bahu Kiat Ma. "Brett!" Kiat Ma menggigit bibir. Ia mengaduh, sementara lawannya kian ganas karena melihat darah.
Di atas pohon, kakek pengemis itu memaki-maki si hartawan. "Busuk dan tak tahu malu. Aih, agaknya aku tak dapat tinggal diam lagi, Nona."
"Hm, kau mau turun?"
"Ya, sebelum bocah itu roboh."
Soat Eng tersenyum. "Kau duduklah, tenanglah. Kenapa seperti kambing kebakaran jenggot? Biar si sombong itu kuberi ganjaran... wut!"
Sebutir kacang menyambar. Benda kecil itu menotok belakang lutut Ouw Sek. Laki-laki itu tiba-tiba roboh dan terpelanting. Kaki kirinya lumpuh separuh. Kiat Ma tak menyia-nyiakan kesempatan, ia menusuk dengan pedang yang tinggal separuh. "Ha-ha, kau kemasukan setan, orang she Ouw. Kualat kau!"
Pedang buntung itu mengenai pangkal paha dan pundak lawan. Akhirnya, setelah pergelangan tangannya ditusuk, golok Ouw Sek terlepas dan satu ayunan kaki Kiat Ma membuat laki-laki itu terlempar keluar panggung.
Lauw-wangwe tersentak dan bangkit dari kursinya. Saat tubuh Ouw Sek terkapar lemah, sebuah bayangan berkelebat menendang tubuh laki-laki itu hingga pingsan. Lauw-wangwe marah besar karena taruhannya amblas. Kumisnya naik-turun menahan geram.
"Orang she Ma, sekarang aku yang akan maju menghadapi. Kau lihai benar. Kita bertaruh empat ratus ribu tail!"
"Wangwe!" Kiat Ma terpekik. "Kau mau membunuh aku? Kau tidak menyuruh aku beristirahat dulu?"
"Hm, orang lihai macammu tak perlu beristirahat, kecuali kemenanganmu tadi tidak murni karena dibantu seseorang. Ayo majulah!"
Sebelum Kiat Ma bicara, Lu Sam melompat maju. "Wangwe, tanding boleh tanding. Tapi keluarkan dulu uang taruhanmu!"
"Keparat!" Hartawan itu mengibas. "Kau tak mempercayai aku, tikus busuk? Lihatlah, pembantuku akan mengeluarkan uang itu dan kau sebaiknya turun dari panggung... bress!"
Lu Sam terpental keluar panggung namun tidak cedera. Saat Lauw-wangwe memerintahkan pembantunya mengambil uang, pembantunya justru berlari berteriak bahwa uangnya telah hilang beserta petinya.