Chapter 113
Dan ketika hartawan itu tertegun dan berseru tertahan, kaget dan berubah mukanya, pembantunya menjatuhkan diri berlutut dengan tergagap-gagap.
"Wangwe, ampun. Uang itu tak ada di tempatnya. Hilang!"
"Apa?" Sang hartawan berkelebat dan menyambar leher pembantunya. "Hilang? Kau maksudkan uang itu tak ada di tempatnya? Lenyap seperti siluman?"
"Benar, Wangwe. Uang itu hilang. Ada siluman di sini!"
"PLAK-PLAK!" Sang hartawan menampar pembantunya sambil membentak kaget. Ketika sang pembantu menjerit dan berteriak mengaduh hingga empat giginya rontok, Lauw-wangwe menendang dan memaki pembantunya itu.
"Keparat bodoh! Kau jahanam busuk, A-seng. Kalau begitu, pergi dan biar kulihat sendiri!"
Lauw-wangwe menendang dan menampar pembantunya hingga A-seng terlempar, menjerit, roboh, terguling-guling, dan tewas seketika. Isi dadanya pecah dihantam tendangan maut Lauw-wangwe. Ketika semua orang geger melihat satu nyawa melayang, Lauw-wangwe segera melesat masuk ke gedungnya dengan wajah merah padam karena kaget mendapati peti uangnya raib.
Di dalam kamar, ia menyimpan tak kurang dari sepuluh peti uang yang semuanya penuh. Ketika hartawan itu tiba di kamar dan mendapati lemari terbuka dengan isi yang kosong melompong, ia menggeram dan meremas hingga hancur lengan kursi yang dipegangnya.
"Bedebah, keparat terkutuk!" Kursi itu hancur menjadi serpihan kayu. Sang hartawan kembali berkelebat keluar. Di sana, orang-orang sudah mulai hiruk-pikuk karena mayat A-seng. Mereka pucat karena takut akan murka sang hartawan. Saat Lauw-wangwe melayang ke atas panggung, sesosok bayangan lain muncul.
"Ayah, ada apa?" Seorang pemuda muncul. Sama seperti Lauw-wangwe, pemuda itu memiliki gerakan yang ringan dan cepat. Dialah Lauw Sun, putra Lauw-wangwe, pengantin laki-laki yang sejak tadi berada di dalam dan terpaksa keluar karena mendengar kegaduhan. Saat matanya membentur mayat A-seng, Lauw Sun tertegun dan bertanya pada ayahnya.
"Di sini ada siluman jahanam. Uangku habis disikat!"
"Maksud Ayah dicuri?"
"Benar. Kau bantu Ayah membekuk jahanam itu, Sun-ji. Cari dan suruh orang-orang kita menemukan si keparat itu!"
"Dan dua orang ini, siapa mereka?"
"Mereka Ma Kiat dan Sam Lu, orang-orang busuk. Gara-gara merekalah aku kehilangan banyak uang dan mendapat malu!"
Sang hartawan membentak dan berkelebat maju, lalu menendang Lu Sam yang kontan menjerit terlempar dari panggung. Lu Sam berpura-pura tidak pandai silat, namun di bawah panggung, ia menggulingkan tubuhnya dengan lihai hingga tidak sampai cedera. Ketika keadaan kembali ribut, ia meloncat bangun dan berteriak agar sutenya, yang sudah memegang kantong uang, segera lari.
"Aih, Lauw-wangwe murka. Lari!"
Kiat Ma bergerak. Melihat keadaan tidak menguntungkan, ia menyambar hasil kemenangannya dan berusaha melarikan diri dengan melompat turun. Namun, baru saja ia tiba di bawah panggung, hartawan itu sudah berkelebat menghadang di depannya.
"Kau mau ke mana? Lari? Hm, tak ada jalan, orang she Ma. Bertanding dulu atau serahkan uang itu kepadaku!"
"Tapi, ini uang-uangku sendiri, Wangwe. Bukan hasil rampokan atau mencuri. Aku ingin pergi!"
"Begitu enak? Boleh, kalau kau serahkan semua uang itu, tikus busuk. Karena uang itu adalah milikku!" Si hartawan mendengus.
Belum selesai bicara, si copet menerjang dengan satu pukulan miring. Kiat Ma marah namun juga gentar. Begitu si hartawan mengeluarkan suara dari hidung dan tidak mengelak, pukulan si copet diterima begitu saja.
"Bukk! Aduh!" Si copet terpelanting dan terguling-guling. Ternyata ia seakan menghantam tubuh dari baja; pukulannya membalik sendiri. Sang hartawan berkelebat menyambar buntalan uang dari kempitan si copet. Buntalan itu tertarik, namun si copet menahan hingga pecah dan isinya berhamburan.
Saat emas berhamburan dan Lauw-wangwe membentak marah, satu tendangan kuat menyapu pinggang si copet. "Keparat!" Si copet terlempar lagi dengan pinggang seakan patah. Lauw-wangwe segera memerintahkan orang-orangnya mengambil semua uang yang berceceran itu.
Sementara itu, Lu Sam dikejar oleh Lauw Sun yang mendapat perintah ayahnya untuk tidak melepaskan kedua orang tersebut.
"Hei, kau! Lepaskan buntalan di punggungmu, orang she Sam. Berhenti atau kau kurobohkan!"
"Aku tak ada urusan apa-apa lagi. Aku tak bersalah, aku ingin pergi!"
Lu Sam terpekik saat melihat bayangan menyambar. Putera si hartawan sudah berkelebat menghadang di depannya. Saat suheng dari si copet itu tertegun, Lauw-kongcu menyambar kantong uangnya.
"Serahkan padaku!"
Lu Sam mengelak dan sambaran lawan luput. Ia tidak lagi menyembunyikan kepandaiannya, lalu berkelebat meluncur di bawah ketiak lawan. Saat lawan terkejut karena Lu Sam berhasil lolos, muncul tiga laki-laki berpakaian hitam yang menunjuk ke arah mereka.
"Mereka Jingsiang! Hei, awas, Lauw-wangwe. Lawanmu itu adalah si Copet Jari Seribu, dan ini suhengnya!"
Lauw-wangwe terkejut. Ia pun curiga jangan-jangan uangnya yang hilang memang disambar oleh mereka. Dengan marah besar, ia membentak berang.
"Kalian Jingsiang? Bedebah, kau harus mampus, copet busuk. Aku akan membunuhmu!"
Keramaian pesta berubah menjadi ajang keributan. Kiat Ma yang mencoba bangun dihajar kembali oleh Lauw-wangwe hingga roboh. Tangan kiri hartawan itu mencengkeram tengkuk si copet.
"Kembalikan uangku, dan setelah itu kau mati!"
"Aduh! Lepaskan aku, Wangwe. Aku tak tahu apa-apa!"
"Hm!" Si hartawan menggeram, menggencet jalan darah di belakang telinga lawan. "Aku akan melepaskanmu kalau kau kembalikan uangku. Di mana uangku itu?"
"Aku tak tahu!"
Si copet menjerit karena jalan darahnya dipencet dan tubuhnya mulai melepuh terkena singkang panas dari sang hartawan. Tiga laki-laki berbaju hitam tadi mendekat.
"Kwihouw, keparat!" Kiat Ma berteriak. "Kiranya kalian, harimau-harimau pecundang. Kalian tak tahu malu datang ke sini!"
"Ha-ha, bagus!" Twa-houw (Harimau Tertua) tertawa bergelak sambil terpincang-pincang. "Inilah pencopet yang harus dihukum berat, Wangwe. Uangmu diambil dia atau suhengnya!"
Lauw-wangwe menyambar pedang dan bertanya hukuman apa yang pantas. Twa-houw menyarankan agar hartawan itu membacok putus tangan si copet karena itulah bagian tubuh yang paling menjijikkan. Tanpa pikir panjang, hartawan itu menggerakkan pedangnya.
"Baiklah, dia tak akan mampus."