Halo!

Istana Hantu - Chapter 114

Memuat...
Istana Hantu

Chapter 114

Masih bisa bicara untuk menunjukkan di mana uangku itu...

"Wut!" Pedang yang terayun ganas ke tangan si copet tiba-tiba siap memutus pergelangan tangan, disambut jeritan dan kengerian Kiat Ma. Laki-laki ini merasa tangannya bakal putus dibabat pedang.

Namun, ketika pedang menyambar ke bawah dan siap menetak, sekonyong-konyong terdengar bentakan disusul melayangnya sebutir kerikil hitam. Sebuah bayangan berkelebat, dan Kwihouw terpekik kaget ketika tubuh mereka tahu-tahu terlempar. Entah dari mana datangnya, mereka telah dihantam sebuah tendangan berputar oleh seorang kakek pengemis yang tampak meluncur turun dari langit.

Ketika mereka terlempar sementara kerikil hitam telah membentur pedang di tangan Lauw-wangwe yang siap menebas tangan si copet, tendangan kakek itu masih diteruskan dan tepat mengenai pergelangan tangan hartawan she Lauw tersebut.

"Des! Des! Plak!" Lauw-wangwe terkejut. Dia tergetar dan mundur terhuyung. Pedangnya hampir terlepas, namun hartawan ini masih sanggup mencekalnya erat, tanda bahwa dia bukan orang sembarangan.

Ketika kakek itu berjungkir balik dan menarik Kiat Ma yang nyaris buntung tangannya, Lauw-wangwe tertegun melihat siapa yang datang. Begitu pula si copet yang tiba-tiba menjatuhkan diri berlutut di depan kakek itu.

"Suhu!" seru si copet.

Sang hartawan tertegun. "Kau? Kau datang mengacau di sini, Sin-tung Lo-kai (Pengemis Tongkat Sakti)? Dan tikus busuk ini muridmu?"

"Ha-ha, tak ada yang busuk. Muridku harum dan bersih, Lauw-wangwe. Memang benar aku datang, tapi bukan untuk mengacau!"

"Keparat jahanam!" bentak Lauw-wangwe. "Kau bilang tidak mengacau namun jelas menyuruh muridmu ini mencuri uangku? Kau bilang muridmu bersih dan harum, padahal dia menyambar harta milik orang lain? Bedebah, kau di mana-mana selalu mengganggu dan merusak acaraku, Lo-kai. Kau tak dapat diampuni lagi dan pantas dibunuh!"

Sang hartawan menggerakkan sepasang tangannya, meledak melakukan pukulan jarak jauh. Namun, ketika si kakek terkekeh-kekeh dan mengelak, lalu menendang muridnya agar menjauhi tempat itu, pukulan dahsyat Lauw-wangwe mengenai sasaran di belakangnya. "Dess!" Tanah dan batu berhamburan.

Sin-tung Lo-kai sudah meloncat tinggi dan berjungkir balik, namun Lauw-wangwe membentak dan mengejarnya. Kali ini, Lauw-wangwe berkelebat dan menyusuli serangannya yang gagal dengan serangan baru, yakni dua pukulan sinkang yang berkeredep mengeluarkan cahaya kebiruan. Ketika si kakek terpaksa menangkis dan mengangkat kedua tangannya untuk menahan, ternyata ia terpental dan tak sanggup menandingi kekuatan lawannya.

"Bress!" Lo-kai si pengemis tua bergulingan menjauh. Lauw-wangwe menggeram dan maju lagi, tak memberi kesempatan, bertubi-tubi melancarkan serangan mengejar si kakek pengemis itu.

Kiat Ma terbelalak, namun karena sudah disuruh gurunya pergi, ia pun sadar. Kakek ini adalah guru dari sepasang copet tersebut, Sin-tung Lo-kai, yang cukup terkenal di daerah selatan. Begitu melihat gurunya bertanding melawan hartawan she Lauw, ia teringat Kwi-san Sam-houw yang tadi membuka rahasianya. Ia melihat tiga harimau itu terpincang-pincang hendak kabur karena masih cedera akibat hajaran Soat Eng di restoran.

"Hei!" bentak si copet. "Jangan kalian lari, Sam-houw. Tadi kalian menyuruh aku dibunuh dan sekarang aku ingin membalas kelakuan kalian. Marilah, kita main-main sebentar!"

"Buk! Buk! Buk!" Kiat Ma mematahkan kaki kursi dan menggunakan potongan kayu itu sebagai tongkat. Ia menghajar berturut-turut punggung tiga orang lawannya yang menjerit dan terpelanting roboh. Saat si copet hendak mengejar lawan, tiba-tiba berlompatan bayangan Hek-bin dan kawan-kawannya. Si muka hitam ini telah melihat pertandingan Lauw-wangwe dan diminta mencegah lolosnya sepasang copet tersebut.

Maka, ketika Kiat Ma menggebuki Tiga Harimau Kwi-san yang sebenarnya adalah antek atau pembantu Lauw-wangwe, Hek-bin dan teman-temannya menerjang si copet.

"Keparat kau, lepaskan teman kami!" Kiat Ma terkejut. Dia membalik dan menangkis serangan enam orang itu, namun ia terpental dan tongkat kursinya hancur. Ketika si copet terkejut, Sam-houw membalik dan berani menerjangnya.

"Rasakan, sekarang kami mengejar dirimu, tikus buduk. Kau tak akan kami lepaskan dan pasti terbunuh!"

Kiat Ma sibuk berloncatan ke sana kemari sambil mencari senjata baru. Ia menemukan bangku pendek yang segera dijadikan senjata. Ketika ia berkelebatan mengimbangi lawan, tertahanlah sembilan pengeroyoknya itu untuk sejenak.

"Ha-ha, lihat. Aku tak mungkin terbunuh, Twa-houw. Justru kalian yang akan kurobohkan dan kupanggang seperti babi!"

"Mulut tajam... sringg!" Golok di tangan Twa-houw menyambar, dibantu delapan yang lain, namun si copet lincah menari-nari. Kiat Ma mampu menjaga diri dengan baik; nyata bahwa ilmu silatnya boleh juga. Tapi karena ia sudah bertanding berkali-kali dan hajaran Lauw-wangwe masih membuatnya nyeri, gerakannya akhirnya tidak setangkas semula. Ia mulai menerima tikaman dan bajunya robek-robek.

Kiat Ma gugup, namun dia masih memperlihatkan keberanian besar. Pantang mundur jika hanya menghadapi orang-orang ini. Namun, ketika sebuah bacokan golok menyerempet pundaknya, sang guru berteriak, "Hei, dengar kataku, Kiat Ma! Pergi dan jangan di sini lagi!"

"Tapi suheng masih belum kutemukan. Aku harus mencarinya!"

"Goblok! Dia di samping gedung ini, bocah. Lihat siapa di sana yang menyambar-nyambar itu!" bentak Lo-kai, marah karena muridnya tak mau menurut.

Ketika Kiat Ma menoleh dan melihat sebuah bayangan kuning menyambar-nyambar, ia tertegun namun berseri-seri. "Hei, dia gadis yang lihai itu!"

"Dan kau tak segera pergi? Bodoh, aku menahan semuanya di sini, Kiat Ma. Bawa cepat hasilmu itu!"

"Tapi suheng membawa harta karun Lauw-wangwe. Masa aku harus pergi begitu saja, suhu?"

"Kalau begitu bantu suhengmu, tunggu aku di tempat yang telah dijanjikan!"

"Baik!" Si copet yang tertawa mengelak sebuah tikaman, lalu mengayun kakinya dari bawah menyerampang lawan. Bangku dan kursi rusak di tangannya dilempar ke arah Kwi-san Sam-houw dan kawan-kawannya. Ketika mereka berteriak karena tak mau ditimpa kursi, si copet melejit dan menyelinap keluar.

"Ha-ha, terima kasih, suhu. Tapi hati-hati!"

"Tak perlu cerewet. Aku dapat menjaga diriku, anak tengik. Hayo pergi dan suruh gadis itu ke sini!"

Kiat Ma meninggalkan lawan-lawannya. Di sana terdengar teriakan gaduh dan keributan besar. Bayangan kuning menyambar-nyambar; di mana bayangan ini tiba, di situ seorang musuh terpelanting roboh. Dialah Soat Eng yang tadi menolong Lu Sam.

Si pengemis sudah berkata bahwa Lauw-wangwe adalah bagiannya, dan Soat Eng diminta menyelamatkan Lu Sam. Begitu si kakek pengemis melayang ke bawah, gadis ini berkelebat dengan Jing-sian-eng-nya. Soat Eng menyibak dan menampar semua orang untuk membebaskan Lu Sam yang saat itu terdesak hebat oleh pukulan-pukulan Lauw Sun, putra Lauw-wangwe.

"Kalian minggir, jangan di sini... plak-plak-plak!" Soat Eng membuat terkejut orang-orang itu. Ketika mereka terpelanting tak keruan, Soat Eng menuju Lauw-kongcu yang merangsek lawannya. Tepat sekali gadis itu menangkis sebuah pukulan yang hampir mengenai dahi Lu Sam.

"Jangan bersikap kejam... duk!" Lauw Sun terkejut dan terpental ke belakang. Pemuda itu menjerit karena Soat Eng mempergunakan Khikang. Pukulan Bola Karet ini menolak balik hantaman si pemuda dan membuatnya berguling-guling.

Pemuda itu meloncat bangun, marah melihat gadis cantik yang tenaganya luar biasa hingga ia seakan tersengat listrik. Begitu Soat Eng mengejek dan menangkis pukulannya, gadis ini mendorong Lu Sam sambil berkata, "Kau jangan di sini lagi. Berikan pemuda ini padaku... dukk!"

Lauw Sun mencelat, bahkan terbanting lebih jauh. Ia sadar bahwa ia menghadapi gadis yang betul-betul lihai. Pemuda itu marah dan mencabut pedangnya, lalu memerintahkan anak buah ayahnya untuk mengeroyok gadis itu. Lu Sam melongo kagum karena gadis yang dikenalnya di restoran itu berkelebatan seperti walet, tak dapat diikuti oleh mata.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment