Chapter 115
"Boleh kalian maju, dan lihat seberapa kuat kalian dapat bertahan... des, des, dess!"
Soat Eng, yang dengan mudah menghajar orang-orang itu, akhirnya mendapat bentakan dari belakang ketika sebatang pedang mendesing panjang menusuk ke arahnya. Lu Sam berteriak memperingatkan. Laki-laki itu melongo, namun kaget melihat serangan Lauw Sun. Soat Eng sebenarnya sudah tahu; pendengarannya yang tajam dapat menangkap gerakan pedang itu.
Maka, begitu dia membalik dan menyentil ke belakang, tiba-tiba pedang si pemuda mencelat. Lauw Sun sendiri terpekik, membanting tubuh, dan bergulingan karena pedangnya sendiri berbalik membabat menuju kepalanya.
"Crass!" Rambut pemuda itu terbabat.
Lauw Sun mengeluarkan keringat dingin ketika melompat bangun. Ia menyuruh anak buahnya menyerang lagi sementara dia diam-diam mencari kesempatan untuk menyambar pedangnya dan menyerang dari belakang atau sisi samping. Namun, karena Soat Eng menggunakan *Jing-sian-eng*, gerakan gadis itu berpindah-pindah dengan sangat cepat sehingga tidak mungkin diikuti oleh mata orang biasa.
"Kau keparat!" Lauw Sun tiba-tiba membalik dan menyerang Lu Sam. Laki-laki itu terkejut karena si pemuda marah kepadanya. Saat Lu Sam mengelak, lawan mengejar hingga pinggiran baju laki-laki itu tertabas.
"Bret!" Lu Sam terkejut. Segera ia mencabut tongkat pendeknya untuk menangkis. Namun, ketika Lauw Sun memekik dan memutar pedangnya dengan hebat, pedang itu berubah menjadi sinar bergulung-gulung. Hawa pedangnya saja sudah membuat baju lawannya robek berlubang-lubang.
"Aih, *Giam-lo Kiam-sut* (Ilmu Pedang Maut)!" Soat Eng berteriak tertahan. Gadis itu mengenal gerakan pedang tersebut dengan baik.
Lauw Sun tertawa bergelak, mendesak dan mencecar Lu Sam hingga si copet itu kewalahan, pucat, dan berubah mukanya. Meskipun tikaman pedang itu tidak menyentuh tubuh, angin sambarannya sudah cukup melubangi pakaian Lu Sam. Soat Eng tertegun dan kaget setengah mati melihat ilmu itu.
Itulah ilmu pedang keluarganya, tepatnya berasal dari kakeknya, mendiang Hu-taihiap si jago pedang yang menciptakan *Giam-lo Kiam-sut*. Bahkan, kakeknya dijuluki *Giam-lo-kiam* sebelum mendapatkan warisan Cermin Naga, yakni dua ilmu dahsyat *Khikang* dan *Jing-sian-eng*.
Melihat ilmu itu dimainkan oleh orang asing—putera Lauw-wangwe—Soat Eng sangat kaget, namun tiba-tiba kemarahan menggantikan rasa terkejutnya. Dia merasa ilmu warisan keluarganya dicuri orang. Dulu *Khi-bal-sin-kang* dan *Jing-sian-eng*, kini *Giam-lo Kiam-sut*.
Soat Eng melengking dan berkelebat, menampar sepuluh orang pengeroyoknya. "Kalian semua pergi, minggir... des, dess!" Sepuluh orang itu terlempar dan menjerit tak keruan. Soat Eng segera menuju ke tempat pemuda itu.
Saat itu, Kiat Ma sudah ditolong gurunya dan melihat sepak terjang gadis yang luar biasa ini. Soat Eng membentak Lauw Sun, tangan kirinya menampar dan mengetuk pergelangan si pemuda.
"Kau pencuri hina, lepaskan pedangmu... pletak!" Pedang itu patah. Tangan Soat Eng tidak berhenti bergerak; sebuah tamparan menghantam pelipis Lauw Sun hingga pemuda itu menjerit, terlempar, dan terguling-guling dengan pelipis nyaris retak.
"Aduh, tolong, Ayah... tolong!"
Lauw-wangwe terkejut. Saat itu dia sedang bertempur hebat dengan Sin-tung Lo-kai. Hartawan itu juga memainkan *Giam-lo Kiam-sut* sehingga si pengemis terdesak. Namun, begitu sang anak berteriak, hartawan itu tertegun dan rangsekannya terhenti.
"Keparat, apa yang terjadi, Sun-ji? Kenapa dengan pedangmu?"
"Aduh, gadis ini menyerangku, Ayah. Dia lihai bukan main. Dia mengenal ilmu pedangku. Senjataku dipatahkannya." Lauw Sun memegangi pelipisnya dan tidak berani bicara banyak karena rasa nyeri yang hebat.
Ketika Lauw-wangwe tertegun, hantaman tongkat Sin-tung Lo-kai menghajar pundaknya. "Dess!" Hartawan itu terhuyung. Ia memperoleh ilmu itu dari dua orang gila yang doyan makan enak, yang ia jamu dengan kekayaannya.
Melihat puteranya terluka, hartawan itu marah dan bingung. Sin-tung Lo-kai terbahak-bahak mengejarnya. "Hayoh, pertandingan kita belum selesai, Wangwe. Kau jagalah tongkatku dan hati-hati jangan kena gebuk... wut, dess!"
Sang hartawan mengerahkan *sinkang*-nya untuk menangkis. Tongkat itu terpental, namun hartawan itu menggeram saat pengemis sakti itu mencecarnya lagi. Ketika serangan bertubi-tubi dilancarkan, hartawan itu membentak dan menangkis tongkat yang menyambar dari atas.
"Keparat kau... crak!" Tongkat putus sejengkal. Pedang hartawan itu terus menusuk dada sang kakek pengemis. Sin-tung Lo-kai kaget dan berteriak pada Soat Eng agar menolongnya.
Soat Eng melihat gerakan pedang yang dinamakan "Pedang Hitam Mengejar Roh" itu. Dia berkelebat meninggalkan lawan-lawannya. "Pencuri-pencuri hina. Kiranya ayah dan anak sama-sama mempelajari ilmu pedang curian... plak, dess!"
Soat Eng menampar dan memukul dari jauh. Pedang Lauw-wangwe melenceng dan patah, tubuh hartawan itu terlempar dan jatuh di panggung *lui-tai* yang tinggi sebelum akhirnya jatuh terjerembap ke bawah.
Anak buah dan sahabat-sahabat Lauw-wangwe segera maju menyerang Soat Eng. "Gadis siluman liar, tangkap atau bunuh dia!"
Soat Eng menjengek. Dia dikerubuti puluhan orang, namun kedua tangannya yang bergerak disertai dorongan jarak jauh membuat lawan menjerit dan terlempar. Lauw-wangwe terbelalak. "Dia iblis! Siapa siluman betina ini? Dari mana ia datang?"
"Ha-ha!" Sin-tung Lo-kai berkelebat. "Dia puteri Pendekar Rambut Emas, *Kim-siocia* yang akan menamatkan riwayatmu!"
"Apa? Puteri Kim-mou-eng?"
"Benar, dan kau sudah tak dapat menadah atau menerima barang-barang haram lagi!" Lo-kai tertawa bergelak dan menghantamkan tongkatnya. Para pembantu hartawan itu terlempar karena tidak sanggup menahan kesaktian pengemis tersebut. Hartawan she Lauw hanya bisa menggeram, kehilangan pedangnya, dan terus menerima tamparan Soat Eng.