Halo!

Istana Hantu - Chapter 116

Memuat...
Istana Hantu

Chapter 116

Begitu diserang si pengemis dan semangatnya sudah terbang sebagian, hartawan itu tergetar dan mundur. Ia pucat pasi oleh kehadiran gadis lihai tersebut dan merasa ngeri mendengar nama Kim-mou-eng.

Pendekar Rambut Emas itu adalah orang yang amat lihai dan luar biasa; jelas puterinya bukan tandingan hartawan tersebut. Maka, ketika tongkat kembali menyambar dan hartawan itu gugup serta jerih, ia terpental lagi saat menangkis dengan setengah hati.

"Dukk!" Hartawan itu mengeluh.

Kalau terus-terusan begini, tentu ia bakal celaka. Keparat pengemis ini rupanya mengundang dan meminta bantuan puteri Pendekar Rambut Emas. Maka, ketika si pengemis menyerang lagi sementara gadis lihai itu menyambar-nyambar bagai burung srikatan, akhirnya hartawan itu membentak, memutar tubuh, dan lari masuk ke dalam gedung.

"Keparat, kau curang dan licik, Lo-kai. Kau mengandalkan bantuan dari luar!"

"Ha-ha, ke mana kau mau pergi?" Si pengemis tertawa. "Eh, tunggu, *wangwe*. Serahkan dulu semua kekayaan harammu untuk dibagikan kepada rakyat miskin!"

Sang hartawan menggeram. Lo-kai mengejarnya, namun tiba-tiba hartawan itu berbalik dan melepas tujuh senjata rahasia yang terpaksa ditangkis, membuat si pengemis berhenti. Ketika pengemis itu memaki, sang hartawan sudah lari lagi. Kebetulan puteranya juga tertatih dan melompat mendekati sang ayah.

"Kita panggil Koai-jin. Kita minta bantuannya!"

"Benar, di mana mereka itu? Kau tak melihatnya, Sun-ji?"

"Tidak, tapi tadi mereka di belakang, Ayah. Coba kita ke sana dan cepat panggil!"

Dua orang itu menyelinap ke dalam gedung. Lo-kai tertawa-tawa tanpa mendengar percakapan itu; ia sudah meruntuhkan semua senjata rahasia dan kini mengejar lagi. Kakek itu tetap waspada meskipun tampaknya tak hati-hati. Ketika dua-tiga kali sambaran senjata rahasia meluncur dari dalam gedung, ia mampu meruntuhkannya hingga sampailah mereka di belakang.

"Keparat, pengemis itu selalu mengejar-ngejar kita!"

"Dan kita cedera! Ah, kita panggil mereka, Ayah. Coba kita sama-sama bersuit!"

Ayah dan anak itu tiba-tiba bersuit nyaring. Mereka sudah tiba di sumur tua saat Lo-kai hampir merobohkan mereka. Kalau saja hartawan she Lauw itu tak terpukul pukulan Soat Eng, barangkali ia masih dapat melawan. Maklumlah, ia sedikit di atas si pengemis, apalagi jika berpedang dan memainkan *Giam-lo Kiam-sut*-nya. Tapi karena ia sudah tergetar dan pukulan *sinkang* gadis itu membuat dadanya sesak, hartawan ini mengulur waktu dan mencoba mengajak lawannya ke suatu tempat. Lo-kai terkejut ketika tiba-tiba dari dalam sumur terdengar suara tawa bergemuruh.

Saat hartawan she Lauw sudah melewati sumur itu sementara Lo-kai baru datang mendekat, tiba-tiba muncul sesosok bayangan iblis, hitam bagai asap.

"Heh, ada apa kau memanggilku, *wangwe*? Dan siapa pengemis busuk ini?"

"Dia musuhku! Tangkap dan cegah dia mengejarku, Koai-jin. Pukul dan bekuk dia!"

Sin-tung Lo-kai terkejut. Ia hampir berseru tertahan ketika tiba-tiba dari dalam sumur tua itu muncul sesosok asap bagai hantu, didahului tawa gemuruh yang hampir saja membuatnya terpeleset. Pengemis ini merasa bumi yang diinjaknya bergetar hebat dan nyaris ia terpelanting. Begitu asap itu muncul dari sumur diiringi tawa menyeramkan dan pukulan angin dingin, Lo-kai terkejut karena serangkum tangan raksasa sudah berada di depan hidungnya.

"Heii... dess!" Sang pengemis terbanting.

Sosok asap seperti hantu itu sudah menggerakkan tangannya dari atas ke bawah seperti tangan setan, mencengkeram. Tentu saja ia mengelak dan menangkis. Namun, ketika ia terbanting dan tawa gemuruh itu terdengar lagi, tiba-tiba dari sebelah kirinya menyambar "hantu" lain yang mencengkeram tubuhnya yang sedang bergulingan.

"Heh, mau apa pengemis ini, *wangwe*? Minta diapakan dia?"

"Tangkap atau bunuh dia. Dia mau merampas harta kekayaanku!"

"Wut!" Sang pengemis kaget bukan main. Baru saja bergulingan, tahu-tahu ia disambar dan dicengkeram tangan yang lain. Ia mengelak namun kalah cepat. Saat bajunya robek dan pengemis itu menjerit, lima kuku tajam langsung menembus daging tubuhnya.

"Aduh, tolong! Kim-siocia! Mati aku...!" sang pengemis meraung.

Entah siapa yang menyerang, pengemis ini tak tahu. Ia hanya mendengar dua tawa aneh yang suaranya bergulung-gulung, dingin, dan menyeramkan. Tentu saja ia kaget; mukanya seketika pucat bagai bertemu iblis. Munculnya dua sosok bayangan dari dalam sumur membuat pengemis ini seakan bertemu hantu dari liang kubur.

Begitu ia menjerit dan memanggil nama Soat Eng yang sedang menghajar lawannya, tiba-tiba gadis itu berkelebat dan datang dengan bentakan marah. Ia melihat si pengemis dicengkeram seorang laki-laki gagah tegap namun bermuka penuh cambang.

"Lepaskan dia, keparat jahanam!" Soat Eng langsung melepas pukulan *sinkang*.

Gadis ini marah karena temannya ditembus kuku-kuku mengerikan, mirip pisau atau kuku rajawali yang kuat dan ampuh. Begitu ia membentak, seorang laki-laki lain yang berambut gimbal terkekeh dan terbelalak di situ. Pukulan gadis ini mengenai sasarannya dan laki-laki tegap yang mencengkeram si pengemis berteriak terkejut.

"Dess!" Orang itu mencelat.

Soat Eng juga terkejut karena lawan bergerak demikian ringannya; mencelat ke belakang, lalu hilang masuk ke dalam sumur. Tapi ketika orang itu menggeram dari dalam hingga sumur seakan pecah oleh suaranya, laki-laki itu mumbul lagi dan sudah bergoyang-goyang di depan sang gadis.

"Heh, ilmu *mujijat*! Penolak tenaga!" Soat Eng tertegun.

Sekarang ia melihat lebih jelas siapa lawannya: seorang laki-laki gagah berusia sekitar empat puluhan, namun sayang matanya kosong. Bola matanya bergerak-gerak, tapi seolah tak ada pikiran yang hidup di otaknya. Jadi, ia berhadapan dengan orang gila. Ketika gadis ini tertegun dan terbelalak marah, laki-laki satunya yang gimbal dan sejak tadi terkekeh-kekeh sekonyong-konyong berkelebat dan sudah berdiri di samping temannya.

"Ha-heh, apa yang kau alami, Suheng? Gadis ini memiliki pukulan luar biasa?"

"Benar, dia... ah, kita menemukan lawan yang hebat, Sute. Pukulannya tadi seperti bola yang membuat tenaga kita membalik!"

"Begitu? Biar kucoba dia!"

Si gimbal tertawa, menjejakkan kakinya, lalu berkelebat dengan kedua lengan terjulur ke arah Soat Eng. Satu ke leher gadis itu, sementara yang lain ke perut. Kuku-kuku tajamnya bercuit seperti pisau. Benar-benar serangan yang berbahaya!

Soat Eng yang tentu saja tak mau menerima serangan itu berkelit, membentak marah, lalu menangkis.

"Dukk!"

Lawan pun mencelat. Sama seperti temannya tadi, si gimbal ini terpekik, jatuh, dan melayang ke dalam sumur. Tapi ketika ia terbahak dan mumbul ke atas, laki-laki ini pun keluar dengan amat cepat dan sudah berdiri di samping Suheng-nya yang bercambang.

"Heh-heh, hebat. Benar-benar pukulan penolak tenaga!"

"Dan kau tahu apa namanya?"

"Tidak, tapi hebat, Suheng. Biarlah kumain-main lagi dan kau menonton di sini, ha-ha!"

Si gimbal kembali bergerak dan berkelebat ke depan, lalu membentak dan menyerang Soat Eng. Sepuluh kukunya menyambar-nyambar. Soat Eng tertegun melihat gerak silat *Eng-jiauw-kun* (Silat Kuku Garuda), sebuah ilmu silat tangan kosong yang dipunyai mendiang kakeknya. Ketika sepuluh kuku tajam itu bercuitan bagai pisau dan Soat Eng terlambat berkelit karena tertegun, bajunya robek terkena guratan.

"Bret!"

Soat Eng terkejut. Tiba-tiba ia melengking tinggi dan marah, berkelebatan mempergunakan *Jing-sian-eng*. Sin-tung Lo-kai di sana terbelalak karena tiba-tiba tubuh gadis itu lenyap mengelilingi lawan. Saat gadis itu membalas dan pukulan-pukulan *Khi-bal-sin-kang* menyambar menghujani lawannya, sepuluh kuku itu bergerak luar biasa cepat untuk menangkis atau mengelak.

"Plak-bret-crit!" Sin-tung Lo-kai ternganga.

Akhirnya ia mendengar teriakan kaget si gimbal, berkali-kali terpental dan terhuyung menerima *Khikang*. Maklumlah, pukulan itu memang selalu menolak balik tenaga musuh untuk akhirnya menyambar tuannya sendiri. Si gimbal terkejut dan berkali-kali mengeluarkan seruan tertahan. Ketika Soat Eng berkelebatan semakin cepat, si gimbal membentak mengerahkan kepandaiannya dan tiba-tiba laki-laki itu pun lenyap berkelebatan mengimbangi Soat Eng.

"Wut-wut!"

Dua-duanya sudah tak kelihatan. Sin-tung Lo-kai yang pandai ternyata tak mampu mengikuti gerakan dua orang itu lagi; matanya kabur sementara hartawan she Lauw dan puteranya terbelalak lebar, tertegun, dan pucat menyaksikan pertandingan itu.

Namun, ketika bayangan kuning akhirnya lebih cepat dan pasti, perlahan bayangan si gimbal mulai terdesak. Laki-laki itu memaki panjang pendek sementara temannya yang gagah itu tertegun.

"Huwaduh, keparat. Hebat sekali, luar biasa!"

Temannya berkejap-kejap. Akhirnya *Eng-jiauw-kun* yang diterapkan si gimbal tak berdaya. Sepuluh kuku tajam yang bercuitan bagai pisau itu akhirnya patah satu ketika ditampar *Khikang*. Si gimbal terpekik dan menjerit marah—hal yang baru kali ini didengar Soat Eng—lalu tiba-tiba ia berjungkir balik menjauh dan mencabut sesuatu dari dalam sumur.

"Srat!"

Sinar menyilaukan membuat Soat Eng terkejut. Gadis itu melihat lawan mencabut pedang dan sebuah sinar hitam kehijauan berkelebat panjang. Ketika lawan kembali membentak dan maju menerjang, ilmu silat pedang yang luar biasa ditunjukkan si gimbal ini. Ilmu itu jauh lebih hebat daripada kepunyaan Lauw-wangwe sendiri, karena dalam jarak lima meter, baju Lauw-wangwe maupun Sin-tung Lo-kai berlubang-lubang ditembus angin pedang yang luar biasa tajam.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment