Halo!

Istana Hantu - Chapter 117

Memuat...
Istana Hantu

Chapter 117

"Minggir!" Soat Eng berteriak.

"Menjauh, Lo-kai. Ini Giam-lo Kiam-sut yang dimainkan seorang yang sudah mencapai tingkat amat tinggi!"

"Apa?" Sang pengemis terkejut. "Giam-lo Kiam-sut? Ilmu Pedang Maut yang dimiliki si jago pedang Hu Beng Kui itu?"

"Benar, menjauhlah, Lo-kai. Atau aku tak dapat menolongmu jika kau terluka!"

Kakek itu melompat mundur. Akhirnya dia menjauh dan memandang pertandingan itu dengan wajah pucat. Si gimbal membentak panjang dan sinar hitam pedangnya berkelebat bagai pelangi. Dari jarak enam meter, angin tusukannya masih terasa jelas; kulit terasa dingin dan sedikit perih. Itu adalah tanda bahwa pedang benar-benar dimainkan oleh seorang ahli yang sudah mencapai tingkat amat tinggi.

Ketika Soat Eng berkelebatan menghindar, ia terbelalak melihat ilmu silat pedang yang dimainkan lawannya benar-benar Giam-lo Kiam-sut, warisan atau ciptaan mendiang kakeknya. Jantung gadis ini berdegup kencang. Tiba-tiba ia berseru keras, mencabut pedangnya sendiri, dan menarik tenaga Khikang untuk menghadapi Giam-lo Kiam-sut dengan jurus yang sama!

"Sing-crang!"

Lawan terkejut. Soat Eng tiba-tiba mengubah gerakan dan bergulung-gulunglah sinar putih menyambut sinar hitam. Pedang di tangan Soat Eng bergerak bagai pelangi, menyambut atau mengiringi pedang lawan. Dua sinar hitam dan putih melengkung panjang pendek dengan indah di udara. Benturan pertama membuat si gimbal berseru keras karena pedangnya terpental.

Soat Eng mengisi tenaganya dengan Khikang meskipun gadis itu tidak memainkan pukulan-pukulan Khikang, hal yang tentu saja membuat lawan kaget dan berteriak keras. Ketika bunga api memuncrat dan tempat itu menjadi terang-benderang, semua yang menonton tertegun sejenak.

Namun, si gimbal menggeram. Laki-laki itu terbelalak melihat Soat Eng mengiringi ke mana saja gerakan pedangnya; menempel dan seolah menjadi bayangannya. Ketika pedang di tangan si gimbal bergulung naik turun, pedang gadis itu pun mengikuti dengan gerakan serupa. Si gimbal menjadi marah, namun anehnya ia terbahak-bahak.

"Keparat, hebat sekali. Gadis ini rupanya pandai meniru-nirukan gerakan pedangku!"

"Hm!" Soat Eng mengejek. "Justru kaulah yang mencuri dan menjiplak warisan kakekku, manusia gila. Sebutkan namamu dan dari mana kau dapatkan ilmu silat pedang Giam-lo Kiam-sut ini!"

"Giam-lo Kiam-sut? Ha-ha, aku tak tahu. Aku tak tahu apa itu Giam-lo Kiam-sut, tapi kau sudah menyebut namanya... Sing!"

Pedang yang bergerak menyerong itu tiba-tiba menusuk dan menyambar ganas ke arah ulu hati, namun Soat Eng mengelak dengan mudah. Ia tahu itulah jurus Pedang Maut Mengeluarkan Bianglala yang akan dilanjutkan dengan gerakan menyontek dari bawah ke atas. Jadi, ia harus berhati-hati.

Benar saja, saat lawan membentak dan melakukan gerakan menyontek, Soat Eng berputar dan dengan manis membalikkan ujung pedangnya untuk menyambut sontekan itu.

"Crang!"

Lawan menjerit. Untuk kesekian kalinya, Soat Eng selalu tahu gerakannya. Ke mana pun pedang bergerak, ke situ pula gadis ini mengiringi. Si gimbal menjadi marah bukan main. Ketika ia terpental karena tenaga Khi-bal-sin-kang milik Soat Eng mendorongnya lewat adu pedang, temannya, si gagah bermuka cambang, mulai berkerut kening.

"Sute, agaknya siluman cilik ini mengetahui pula ilmu silat kita. Sebaiknya kubantu kau dan kita mainkan Siangmo-sut (Silat Iblis Hitam Sepasang Pedang) yang telah kita latih bersama!"

"Nanti dulu!" Si gimbal atau sang sute berteriak mencegah. "Aku masih penasaran, Suheng. Kalau sepuluh jurus lagi aku belum dapat merobohkan siluman betina ini, biarlah kau maju!"

"Tapi dia terlalu hebat dan mengenal silat pedang kita!"

"Hm, bukan saja mengenal, manusia busuk. Melainkan akulah pewarisnya karena silat pedang ini adalah milik kakekku!"

"Eh, mengoceh tak keruan. Biarkan aku mencoba lagi, Suheng. Mundur dan jangan bantu aku!" Si gimbal berteriak, mukanya menjadi merah sementara matanya melotot lebar. Ia marah karena Soat Eng selalu tahu gerakannya.

Enam jurus lewat lagi dengan cepat sementara pedang berkelebatan bagai naga menari-nari. Satu tikaman miring akhirnya dibarengi dengan cengkeraman lima jari tangan kiri si gimbal yang cepat menuju tenggorokan dan dada Soat Eng.

"Crep-cring!"

Soat Eng menangkis dan tangan kirinya bergerak pula menerima cengkeraman si gimbal. Gadis ini membentak dan mengerahkan Khikang, membagi tenaga hingga pedang mereka lekat dan saling tempel. Ketika kuku-kuku panjang itu gagal mematahkan tangan Soat Eng, laki-laki ini menjerit dan melepas tendangan dari bawah.

"Dess!"

Soat Eng tidak menduga. Ia tergetar tapi tidak terdorong mundur; kedua kakinya menancap kuat sementara pedangnya mendorong pedang lawan. Karena lawan membagi tenaga untuk menendang, Soat Eng berhasil mendorong hingga pedang lawan tertindih tenaga yang dahsyat.

"Aih-plak!"

Laki-laki itu membanting tubuh dan bergulingan. Pedangnya terlepas dan mencelat. Tangan kiri Soat Eng menghantam pundaknya dengan cepat hingga si gimbal berteriak kesakitan. Saat Soat Eng mengejar, lawan meloncat bangun dan membentak marah. Tiba-tiba, sembilan jarum hitam menyambar gadis itu.

"Keparat, benar-benar lihai. Luar biasa... cet-cet-cet!"

Sembilan jarum hitam menyambar berturut-turut dari atas ke bawah, membentuk garis vertikal. Soat Eng memuji kagum, namun ia menggerakkan pedangnya dan meruntuhkan semua jarum tersebut. Si gagah bercambang di sampingnya tidak tahan lagi dan berseru, "Sute, sekarang sudah waktunya. Maju lagi dan kubantu kau... Wut!"

Si gagah berkelebat ke depan, menghantam gadis itu dengan pukulan lurus, lalu menggerakkan tangan kirinya untuk mencengkeram.

"Cret-dess!"

Soat Eng terhuyung. Ia sudah menangkis cengkeraman lawan, namun kuku lawan melentur dan tidak dapat dipatahkan. Pukulan lurus si gagah disambut tangan kirinya. Ketika lawan tergetar dan Soat Eng sendiri terhuyung mundur, laki-laki itu kagum dan pandang matanya yang kosong tiba-tiba menjadi hidup.

"Hm, hebat. Luar biasa!"

Si gagah maju lagi sambil mencabut pedang berwarna hitam kehijauan. Ia melengking, memainkan Giam-lo Kiam-sut yang cepat dengan hawa dingin yang lebih menyakitkan. Sin-tung Lo-kai mundur lagi dengan gentar; kulitnya tergores hawa dingin hingga terluka seperti disayat bambu.

Ketika si gagah memainkan pedangnya, sutenya tadi juga melompat dan mengelilingi gadis ini. "Hayah, bekuk dan tangkap gadis ini, Suheng. Dia hebat sekali!"

"Ya, dan dapat menirukan ilmu pedang kita pula. Hati-hati, ini siluman betina yang cukup berbahaya. Mainkan Siang-kiam-hek-mo-sut kita yang belum dikenal... cring-crangg!"

Dua pedang bertemu, memuncratkan bunga api. Soat Eng terkejut karena lawan kini bergabung memainkan dasar Giam-lo Kiam-sut dengan variasi yang berbeda. Tangan kiri mereka ikut membantu; sepuluh kuku panjang kini berfungsi sebagai pedang pendek yang tajam dan kuat karena dialiri Sinkang istimewa.

Silat pedang aneh itu membuat Soat Eng kewalahan dan bingung. Jurus-jurusnya sering bertolak belakang, mirip orang gila yang sering membentur sendiri. Gadis itu terdesak dan silat pedangnya tertahan.

"Ha-ha, betul, Suheng. Gadis ini bingung!"

"Ya, tapi tetap hati-hati. Dia memiliki penolak tenaga itu!" Si gimbal tertawa.

Soat Eng merasa marah dan gemas karena silat Giam-lo Kiam-sut yang dicampur dengan kuku-kuku panjang itu sungguh tidak keruan. Kuku-kuku itu membantu gerakan pedang mereka yang berseliweran naik turun. Karena Soat Eng menggunakan dasar Giam-lo Kiam-sut yang juga dikuasai lawan, Siangmo-sut yang tidak ia kenal membuat posisinya terjepit.

"Bret!"

Baju pundak Soat Eng robek, namun kulitnya tidak terluka; pedang lawan mental saat mengenai bahunya. Namun, ketika pedang si gagah berkelebat dan dua pedang saling menggunting, lengan kanan gadis itu menjadi sasaran.

"Bret-bret!"

Soat Eng marah. Ia melengking, menyimpan pedangnya, dan mengerahkan Jing-sian-eng. Tubuhnya lenyap dengan ilmu Seribu Bayangan, bergerak dengan sangat cepat hingga lawan kehilangan sasaran.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment