Chapter 118
Dua pedang yang menyambar-nyambar ternyata kalah cepat dengan Jing-sian-eng. Soat Eng selalu menyelinap dan mampu berterbangan di antara dua batang pedang itu. Bayangan gadis ini jadi seperti kupu-kupu yang bermain di antara sinar hitam dua pedang di tangan lawan, maka baju kuning yang dikenakan putri Pendekar Rambut Emas itu berkelebatan cepat, mengagumkan semua orang.
"Aih, ini benar-benar ilmu ginkang yang membuat mata lamur menjadi melek dan lebih terbuka lagi. Wah, hebat kau, Kim-siocia. Hebat!" Sin-tung Lo-kai memuji-muji, sering bertepuk tangan, dan matanya yang terbelalak lebar itu bersinar-sinar. Kakek ini menjadi kagum dan apa yang dilihatnya membuat dia takjub. Jing-sian-eng memang luar biasa, dan gerakan pedang di tangan dua laki-laki itu selalu didahului oleh gadis ini.
Namun, ketika Soat Eng membalas dan melakukan tamparan-tamparan Khikang atau totokan-totokan berdasar Ilmu Silat Bola Sakti itu, ternyata dia tertahan oleh sepasang pedang yang saling menghadang melindungi dua orang itu. Masing-masing melindungi yang lain hingga sepasang pedang yang berseliweran naik turun itu tak mampu ditembus.
"Keparat!" Gadis ini menjadi marah. "Kalian saling melindungi dan tidak memberi lubang? Hm, lihat saja, iblis-iblis busuk. Aku akan memecahkan pertahanan kalian dan kutembus!"
"Ha-ha, cobalah!" Si gimbal tertawa. "Kau boleh lakukan itu kalau mampu, anak manis. Coba tembus pertahanan kami dan robohkan kalau bisa!"
"Aku tentu bisa. Kalian akan roboh!" Soat Eng yang marah berkelebatan mengelilingi lawan, tiba-tiba mempercepat gerakannya dan mencoba menembus sepasang pedang yang menutup rapat itu. Bertubi-tubi dia menampar atau memukul, namun pertahanan sepasang pedang itu kuat bukan main. Soat Eng tak dapat menembus dan gadis ini gagal.
Ketika dia merah padam dan hampir menangis saking marah dan jengkelnya, lawan juga tak dapat berbuat banyak karena Khikang bakal selalu menolak balik serangan-serangan mereka. Akibatnya, mereka berimbang dan baru kali ini Soat Eng bertemu batunya. Dia mencak-mencak, namun pertahanan sepasang pedang di tangan lawan benar-benar rapat. Karena pertandingan menjadi seru namun masing-masing tak dapat mendesak atau mengalahkan yang lain, dua laki-laki itu juga kebingungan karena mereka dibuat tak berdaya menghadapi Khi-bal-sin-kang yang lihai.
"Ha-ha, ini sial kita. Eh, mimpi apa semalam kita berdua, suheng? Perbuatan apa yang telah kita lakukan hingga kita berhadapan dengan bocah siluman ini?"
"Hm, tak tahu. Tapi kita harus juga berusaha merobohkannya, sute. Bocah ini menarik perhatianku karena wajahnya mirip seseorang!"
"Ya, dia mirip sumoi. Tapi aku lupa siapa sumoi kita itu!"
"Dan dia mengenal ilmu pedang kita. Hm, kita harus menangkapnya hidup-hidup, sute. Pergunakan Jaring Naga!"
Soat Eng tak mengerti. Dia tak tahu apa itu Jaring Naga, mengira sebuah jaring yang mungkin akan dilepas dua orang itu untuk menakup kepalanya. Namun, ketika dua orang itu membentak dan bersama-sama menggerakkan tangan kiri yang penuh dengan kuku-kuku panjang, sekonyong-konyong dari ujung kuku-kuku itu muncul semacam benang-benang halus mirip benang laba-laba.
"Heii...!" Soat Eng terkejut. Dia meloncat tinggi namun benang-benang itu memanjang mengejarnya. Ketika dia membabat, benang-benang itu ulet dan merekat seperti lem. Benang-benang itu justru menempel dan merekat di tangannya, tak dapat putus, persis benang laba-laba yang tak mau patah.
"Aihhhh...!" Gadis ini berteriak keras. Soat Eng sudah melayang turun dan benang-benang panjang itu sebentar saja sudah memenuhi kedua lengannya. Soat Eng kaget karena dia tak dapat memutuskan benang-benang itu. Ketika sebentar saja kedua lengannya sudah dipenuhi benda-benda aneh yang amat merekat ini—yang kiranya merupakan perwujudan dari silat aneh yang bernama Jaring Naga—gadis itu terbanting ke bawah karena seluruh tubuh tiba-tiba saja sudah terbungkus dan penuh oleh benang laba-laba ini.
"Keparat, jahanam!" Soat Eng kaget dan marah sekali. Kedua tangan kiri dua orang itu terus bergerak-gerak. Kuku-kuku mereka mengeluarkan benda-benda aneh itu. Ketika Soat Eng bergulingan, benang laba-laba kian erat membungkus tubuhnya. Tiba-tiba dua orang itu berkelebat mengejar dan Soat Eng roboh oleh sebuah totokan lihai.
"Ha-ha!" Si gimbal tertawa bergelak. "Kini kami dapat merobohkanmu, anak manis. Dan harus kami akui bahwa kau merupakan lawan terkuat di antara lawan-lawan kami yang lain!"
Soat Eng melotot. Dia mengumpat dan memaki-maki dua orang itu. Si gimbal tertawa-tawa dan tidak menghiraukan. Ketika tubuhnya disambar dan si gagah memandangnya tak berkedip, Lauw-wangwe tiba-tiba melompat maju dan berseru, "Koai-jin, bunuh saja gadis siluman ini. Dia berbahaya!"
"Benar," Lauw Sun tiba-tiba juga menyambung, melompat maju. "Berikan dia padaku, Koai-jin. Aku akan membunuhnya dan kalian makan enak di dalam!" Pemuda itu bersinar-sinar, matanya melahap kecantikan gadis ini, dan pikiran kotor tak dapat disembunyikan dalam pandangan mata pemuda itu.
Namun, ketika Sin-tung Lo-kai bergerak dan berkelebat marah, tiba-tiba kakek pengemis itu membentak, "Lauw-wangwe, jangan bicara macam-macam. Membunuh gadis itu berarti harus lebih dulu membunuh aku!" Tongkat yang menyambar serta menghantam kepala hartawan itu tiba-tiba bersiut menyambar Lauw Sun pula, bergerak dari kiri ke kanan dengan cepat sekali.
Ketika dua orang itu mengelak dan memaki si pengemis, Kiat Ma dan suhengnya tiba-tiba muncul. "Benar, membunuh gadis ini berarti harus membunuh kami pula, suhu. Ayo kita bunuh dan lempar hartawan ini... wut-wut!" Kiat Ma dan suhengnya berkelebat, langsung menyerang ayah dan anak, dan senjata di tangan mereka bersiut mengejutkan dua orang ini.
Lauw-wangwe dan putranya masih cedera oleh pukulan Soat Eng; mereka tak memiliki kecepatan atau kekuatan seperti biasa. Tapi karena di situ ada dua orang andalan mereka, hartawan ini mendengus, lalu membentak dan menyambut pukulan Kiat Ma.
"Dess!" Si copet itu terpental. Kiat Ma terpekik karena baginya Lauw-wangwe masih terlalu lihai. Tapi ketika gurunya maju dan membentak agar dua orang itu menyerang Lauw Sun, karena hartawan she Lauw menjadi bagian pengemis ini, Lauw-wangwe terkejut ketika Lo-kai sudah menyerangnya bertubi-tubi. Kepandaiannya jelas lebih tinggi daripada Kiat Ma dan tenaga kakek pengemis itu juga lebih kuat. Hartawan ini sedang cedera dan serangan-serangan itu menyudutkannya.
Ketika sebuah sambaran tongkat mengenai bahunya dan dia roboh terpelanting, di sana Lauw Sun juga terhuyung-huyung dan bak-bik-buk menerima pukulan-pukulan Kiat Ma, kian lama kian terdesak dan berteriaklah dua orang itu agar si gimbal atau suhengnya menolong.
Tapi ketika dua orang itu saling pandang dan tersenyum aneh, si gimbal berkejap dan menggaruk punggungnya, dia justru malah bertanya pada si hartawan, "Kalian mau apa lagi? Bukankah ilmu silat sudah kuajarkan pada kalian berdua? Eh, pergunakan itu baik-baik, Lauw-wangwe. Kami sekarang ingin pergi membawa gadis yang menarik ini. Kami sudah tak suka tinggal di sini!"
"Apa?" Sang hartawan terkejut. "Kalian membiarkan kami didesak pengemis sialan dan dua muridnya ini? He, bantu kami dulu, Koai-jin. Jangan biarkan kami terhina dan dimalui si jembel ini!"
"Ha-ha, tapi kami ingin pergi. Itu urusanmu!"
"Eh!" Sang hartawan pucat. "Pengemis ini menghina ilmu silatmu tak ada mutunya, Koai-jin. Lihat dia menggebuk dan mempermainkan aku... dess!"
Si hartawan mencelat, Sin-tung Lo-kai memang mengejeknya dan mempermainkan hartawan itu. Ketika si gimbal mengerutkan kening sementara suhengnya berkilat marah, tiba-tiba si gagah yang bercambang ini mendengus, "Siapa menghina ilmu silat kami harus dihajar. Kau pengemis busuk. Pergilah!"
Sin-tung Lo-kai terkejut. Saat itu dia mengejar Lauw-wangwe yang bergulingan mengeluh di tanah, tongkatnya siap menyambar dan menimpa kepala hartawan ini. Tapi begitu di belakang tubuhnya berkesiur angin dingin dan kakek ini terkesiap karena itulah pukulan jarak jauh si orang aneh yang lihai, maka dia berteriak dan langsung membalik, tak jadi mengejar lawan karena tongkat dipakai menangkis pukulan si orang aneh itu.
"Dess!"
Sin-tung Lo-kai mencelat. Kakek pengemis ini berteriak keras ketika tubuhnya terlempar, tongkatnya patah, dan melayanglah kakek itu bagai layang-layang putus. Ketika dia berdebuk dan terbanting di sana, mengeluh tak keruan, maka si gagah yang bercambang itu tertawa mengejek.
"Nah, kau tahu rasa, pengemis busuk. Sekarang jangan bicara macam-macam lagi kalau tak ingin kubunuh!"
Lalu, berkelebat dan memandang sutenya, si gagah itu berseru, "Sute, kita pergi!"
Begitu tubuhnya lenyap membawa Soat Eng, si gagah ini telah meninggalkan rumah hartawan she Lauw dan tidak peduli kiri kanan lagi. Diteriaki hartawan itu, tapi tak menggubris. Lauw-wangwe terkejut dan membelalakkan mata di sana. Namun, ketika terdengar erangan dan gebukan tongkat, tiba-tiba saja kakek pengemis itu dilihatnya bangkit berdiri, sementara putranya di sana menjerit dan terlempar roboh, kena serangan Kiat Ma dengan suhengnya.
"Aduh... bluk-dess!" Hartawan ini pucat.