Halo!

Istana Hantu - Chapter 119

Memuat...
Istana Hantu

Chapter 119

Kalau putranya di sana terpekik dan keadaan sungguh tidak menguntungkan maka satu-satunya jalan adalah segera tidak ada dari situ.

Sin-tung Lo-kai tampak memandangnya bersinar-sinar sementara kakek pengemis itu kelihatan akan menyerangnya lagi.

Tongkat andalannya tidak ada, dia sendiri.

Dan ketika terdengar lagi teriakan serta jeritan putranya maka hartawan ini membentak dan berkelebat ke depan.

"Manusia busuk, lepaskan putraku!" Kiat Ma dan suhengnya terpental.

Mereka terkejut ketika hartawan itu menyerang mereka, melakukan satu pukulan keras dan mereka terpelanting.

Memang dua orang ini masih bukan tandingan hartawan bernama Lauw dan mereka terpekik.

Tapi ketika dua orang itu bergulingan meloncat bangun dan Sin-tung Lo-kai bersiap untuk membantu muridnya, menggeram, ternyata Lauw Wangwe tidak mengejar, justru menyambar putranya untuk dibawa pergi.

"Sun-ji, kita pergi. Tidak ada gunanya di sini!" Dan hartawan itu yang sudah membawa putranya tidak mau berlama-lama tiba-tiba melepas beberapa senjata gelap untuk menghalau Sin-tung Lo-kai dan dua muridnya, berkelebat dan lenyap di belakang gedung dan kakek pengemis itu berteriak kecewa.

Sin-tung Lo-kai mengambil tongkat barunya dan mengejar, setelah menangkis dan menjatuhkan semua jarum dan paku-paku yang disambitkan Lauw Wangwe.

Dan ketika Kiat Ma dan suhengnya juga memburu namun hartawan itu sudah menghilang maka tiga orang ini marah-marah dan mengobrak-abrik tempat itu, tetap tidak mendapatkan lawan mereka dan kegaduhan pun merebak di sana.

Pengantin putri lari tidak keruan dan para tamu pun panik.

Mereka sudah kacau sejak Sin-tung Lo-kai dan Soat Eng muncul di situ, bertanding dan melempar-lemparkan pembantu hartawan itu yang tentu saja bukan tandingan dua orang ini.

Dan ketika semua melarikan diri dan Sin-tung Lo-kai teringat putri Pendekar Rambut Emas itu tiba-tiba kakek itu berkata bahwa mereka harus menemukan Soat Eng, mencarinya.

"Kita tidak menemukan hartawan itu, tidak mengapa. Tapi kita harus mencari dan menemukan gadis ini. Ayo, kita pergi, Kiat Ma. Tidak usah lagi mengobrak-abrik tempat ini karena Lauw Wangwe sudah melarikan diri!"

"Tunggu!" Sang murid berkata.

"Kau betul, suhu. Tapi aku ingin menyelesaikan ini!"

"Apa?"

"Ini!" Dan Kiat Ma yang menepuk-nepuk punggung suhengnya memberi tahu tentang pundi-pundi uang yang demikian penuh, berkata bahwa mereka ingin membagi-bagikan itu kepada fakir miskin.

Memang dua copet ini bekerja untuk rakyat jelata, hasil pekerjaan mereka sebagian besar diberikan kepada orang-orang miskin, cara kerja yang aneh.

Dan karena Sin-tung Lo-kai sudah mengetahui itu dan kakek itu mengangguk maka berkelebatlah kakek itu meninggalkan muridnya.

"Baiklah, kau boleh lakukan itu, Kiat Ma. Tapi cepat susul aku begitu selesai!"

"Terima kasih!" Dan Kiat Ma serta suhengnya yang berseri-seri mendengar itu lalu mengangguk dan tertawa membalikkan tubuh, sudah meloncat ke arah timur dan berpisahlah guru dan murid ini.

Mereka sementara akan membagi tugas. Gurunya mencari Soat Eng dan mereka menyusul.

Dan karena semua sudah diatur dan dua copet itu meninggalkan gedung hartawan bermarga Lauw maka di sana Soat Eng sudah dibawa kabur dua orang aneh ini.

Siapa mereka? Bagaimana dapat menurunkan ilmu pedang Giam-lo Kiam-sut kepada Lauw Sun dan ayahnya?

Dulu, belasan tahun lalu si jago pedang Hu Beng Kui mempunyai beberapa murid.

Yang terlihai tentu saja putra dan putrinya, Beng An dan Swat Lian.

Tapi karena Beng An telah tewas dan Swat Lian akhirnya menjadi istri Pendekar Rambut Emas, ibu dari Soat Eng itu maka yang mewarisi ilmu kepandaian si jago pedang itu tinggal putrinya ini dan dua orang murid utama, karena yang lain-lain akhirnya tewas dan terbunuh.

Jago pedang itu, yang kini tewas oleh See-ong, memang benar-benar seorang yang lihai. Dia disegani dan ditakuti baik oleh kawan maupun lawan.

Ilmu pedangnya yang hebat, Giam-lo Kiam-sut, sangat luar biasa. Ditunjang oleh kematangannya dan kemahirannya bermain pedang memang jago tua ini merupakan lawan sangat berbahaya.

Apalagi setelah Hu Beng Kui atau Hu-taihiap (pendekar besar Hu) itu mendapat tambahan ilmu-ilmu dari Cermin Naga, Jing-sian-eng dan Khi-bal-sin-kang itu.

Dan karena sebelumnya jago pedang ini sudah merupakan tokoh yang disegani dan ilmu pedangnya Giam-lo Kiam-sut itu sangat hebat dan berbahaya maka tambahan ilmu-ilmu dari warisan Cermin Naga menjadikan pendekar ini semakin dahsyat dan lihai, Kim-mou-eng sendiri nyaris bukan tandingannya seandainya saja Pendekar Rambut Emas itu tidak mewarisi Lu-ciang-hoat dan Cui-sian Gin-kang, dua ilmu luar biasa yang didapatnya dari Bu-beng Sian-su, kakek dewa maha sakti itu.

Dan karena Hu Beng Kui akhirnya tunduk dan kalah setingkat oleh menantunya ini maka Kim-mou-eng atau Pendekar Rambut Emas itu akhirnya berhasil memperoleh putrinya yang kini menjadi istrinya itu, Swat Lian atau Hu Swat Lian yang menjadi ibu dari Soat Eng.

Adakah jago pedang itu puas oleh kekalahannya dari menantunya itu? Sebenarnya tidak.

Jago tua ini dikenal sebagai orang yang keras hati dan keras kemauan. Diam-diam dia penasaran oleh kekalahannya dari Pendekar Rambut Emas itu.

Tapi karena anak perempuannya sudah menjadi istri Pendekar Rambut Emas itu dan tidak mungkin dia harus bermusuhan dengan menantunya sendiri maka penasaran atau ketidakpuasan jago pedang ini dipendam.

Memang aneh. Hu Beng Kui dikenal sebagai jago tua yang tidak kenal menyerah. Lihat saja nasibnya sewaktu dia mendarat di Sam-liong-to. Bukankah dia sudah tahu bahwa di sana dia akan menghadapi lawan-lawan berbahaya? Bukankah dia sudah tahu bahwa dalam keadaan luka dan tidak sehat begitu dia tidak akan selamat? Tapi jago tua ini tetap menerjang juga.

Memang dia seorang tokoh yang keras hati namun gagah. Kegagahannya tidak perlu disangsikan lagi dan orang memang mau tidak mau menjadi kagum. Jago tua ini hebat, kepandaiannya tinggi dan ilmu silatnya pun luar biasa. Ketegaran hatinya tidak perlu disangsikan lagi.

Tapi karena kekerasan hatinya terlampau luar biasa dan watak ini memberi kesan kaku maka nasib malang akhirnya tidak dapat dicegah lagi menimpa jago tua itu.

Dan sekarang, kembali pada cerita muridnya itu adakah yang masih hidup? Adakah di antara mereka yang kelihatan? Sebenarnya ada.

Dalam kisah yang lalu, pada "Sepasang Cermin Naga", kita tahu bahwa dua murid Hu Beng Kui masih hidup. Mereka itu adalah Gwan Beng dan Hauw Kam, dua orang suheng atau kakak seperguruan dari nyonya Pendekar Rambut Emas, Hu Swat Lian itu.

Namun karena mereka diculik dan belasan tahun ini tidak pernah ditemukan maka dua orang itu nyaris hilang.

Dalam "Sepasang Cermin Naga" telah diceritakan betapa dua orang murid si jago pedang itu diculik oleh nenek iblis Naga Bumi dan temannya, si setan cebol Hek-bong Siauw-jin, yakni ketika perebutan Cermin Naga di puncak bukit di mana waktu itu hampir semua orang kangouw datang berduyun-duyun.

Dua murid Hu Beng Kui ini, Gwan Beng dan Hauw Kam, juga datang dan ikut menyaksikan jalannya perebutan. Bersama Swat Lian atau sumoi (adik seperguruan perempuan) yang waktu itu masih gadis dua orang pemuda ini ikut dan menyaksikan jalannya perebutan.

Tapi karena di tengah jalan mereka menemui kesialan, bertemu dua di antara enam Iblis Dunia maka Hauw Kam akhirnya diculik nenek Naga Bumi sementara Gwan Beng, suhengnya, disambar dan dibawa si iblis cebol Hek-bong Siauw-jin.

Dua orang itu mengalami penderitaan besar di tangan dua kakek dan nenek iblis ini. Mereka disiksa dan dipermainkan, terakhir menelan obat pelupa ingatan dan jadilah dua orang pemuda itu sebagai manusia-manusia yang lupa akan dirinya sendiri.

Dan ketika dua kakek dan nenek iblis itu memaksa mereka menjadi murid, Hauw Kam di bawah kekuasaan Dewi Api sementara suhengnya dikendalikan Hek-bong Siauw-jin maka dua orang murid Hu Beng Kui ini menjadi tawanan dua nenek dan kakek iblis itu.

Mereka dibawa ke mana saja tapi akhirnya dijebloskan ke palung maut, jauh di dasar bumi di mana mereka tidak berdaya apa-apa.

Nenek Naga Bumi sedang dibuat marah oleh kegagalannya merebut Cermin Naga, begitu pula Siauw-jin. Dan karena persoalan demi persoalan mengganggu mereka dan dua nenek dan kakek iblis itu akhirnya tidak mau direpotkan dua pemuda ini maka mereka dilempar dan dijebloskan ke palung maut, sebuah sumur dalam yang tidak mungkin dipanjat naik kalau tidak dibantu seorang pandai.

Dan nasib sial menghabiskan harapan murid-murid Hu Beng Kui ini.

Tapi apakah benar begitu? Teoritis memang benar, tapi sesuatu yang tidak diduga terjadi di dalam palung maut itu.

Karena Hauw Kam dan suhengnya, yang sudah terlempar dan terkubur hidup-hidup ternyata tiba-tiba menemukan jalan keluar yang tidak dinyana dan sungguh tidak diduga nenek dan kakek iblis itu.

Hauw Kam dan suhengnya ketika terlempar ke bawah ternyata malah terbanting di air. Tempat ini demikian tinggi hingga riak atau kecipak air tidak terdengar. Mereka itu pingsan tapi akhirnya sadar, ketika tubuh disundul-sundul sesuatu dan mereka merintih.

Dan ketika Hauw Kam dan suhengnya tertegun karena lima ekor lumba-lumba mempermainkan moncong mereka di tubuh, menyundul dan mengeluarkan suara-suara aneh maka suheng dan sute ini terbelalak karena mereka ternyata berada di laut, atau lebih tepat lagi, berada di sebuah terowongan laut di mana palung di atas itu merupakan sumur bumi yang bawahnya berhubungan dengan samudera, sebuah palung aneh yang membuat mereka masih hidup!

Dan ketika dua pemuda itu tertegun dan sadar, rupanya sudah terhanyut dan berada di sekelompok ikan lumba-lumba yang menolong dan menyadarkan mereka tiba-tiba saja seekor di antaranya menyelam dan mengangkat tubuh Hauw Kam untuk digendong di atas punggungnya.

"Slup!" Hauw Kam tergelincir. Pemuda ini terkejut tapi tidak mengerti apa yang diinginkan sang ikan, berteriak tapi lumba-lumba itu sudah menyelam dan muncul lagi, memasang punggung untuk menerima atau "menggendong" tubuh pemuda itu.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment