Chapter 12
Thai Liong bangkit berdiri dan mengamati guha lebih jauh, ternyata ada tangga berbatu yang terus naik ke atas, samar-samar dan suram. Ia merasa cukup karena tugasnya hanya menyelidiki apakah guha bawah laut benar-benar ada di situ, selebihnya akan dikerjakannya bersama adiknya.
Karena ruangan itu gelap, Thai Liong kembali lagi dan muncul di tempat di mana adiknya menunggu, basah semua, dengan muka yang berseri-seri. "Ada!" serunya menggirangkan adiknya. "Guha itu ada di sana, Eng-moi. Tapi kita siapkan kayu bakar dan api!" Soat Eng terbelalak. "Apa saja yang kau lihat?" "Ah, seekor gurita, Eng-moi, juga hiu. Tapi mereka sudah kuusir pergi dan aman!"
Pemuda ini meloncat naik, menceritakan pada adiknya, dan Soat Eng berseri-seri. Apa yang diceritakan kakaknya tidak membuatnya takut. Maka begitu kakaknya selesai bercerita dan keinginannya tak dapat ditunda, tiba-tiba gadis ini ingin terjun dan menyelam ke bawah laut. "Tunggu, nanti dulu, Eng-moi. Kita harus menyiapkan kayu bakar untuk obor!" "Eh, tempat itu gelap?" "Benar, dan dingin!" "Ah, gampang, Liong-ko. Ini ada obor untuk itu? Tapi bagaimana supaya tidak basah?" "Serahkan padaku...." Dan Thai Liong yang membuka mulutnya menyembunyikan ujung bambu tiba-tiba tertawa dan mengajak adiknya terjun, kini meloncat dan Soat Eng pun terkekeh.
Obor sudah ada di tangan dan tinggal menghidupkannya saja, nanti kalau di dalam guha. Dan begitu kakaknya terjun dan menyelam, segera gadis ini mengikuti, tak tahu bahwa sebuah kapal sudah merapat dan Sam-liong-to kedatangan tamu, menyelam dan berenang mengikuti kakaknya itu.
Dan begitu kakak beradik ini menghilang dan lenyap di bawah laut, maka Thai Liong sudah menuntun adiknya ke guha terowongan, bebas dari segala pengganggu karena pemuda itu telah mengusir penghalang di depan. Tiga ekor hiu dan seekor gurita telah dibuatnya ketakutan.
Dan ketika sekejap kemudian pemuda ini telah memasuki terowongan itu dan terus menyusur untuk akhirnya sampai di tempat menanjak di mana guha sudah tak dibasahi air laut lagi, maka pemuda itu tertawa menarik obor yang dihisap di mulut. "Nah, kita sampai. Inilah guha atau terowongan menuju istana itu!" Soat Eng tertegun. Tempat itu gelap, dia agak kedinginan namun cepat mengerahkan sinkang, menghangatkan diri sendiri, dan kakaknya sudah di tangga batu itu.
Soat Eng melihat betapa sebuah undak-undakan akan membawa mereka ke dalam, suram dan samar-samar, namun mata mereka yang tajam dapat menembus semua kegelapan itu, maklumlah, mereka adalah orang-orang yang berkepandaian tinggi.
Dan ketika kakaknya menyalakan obor dan tempat itu jelas, tiba-tiba Soat Eng berteriak karena di atas kepala kakaknya terdapat sebuah tengkorak yang mati menggantung. "Heii.....!" Thai Liong menoleh. Pandangan adiknya yang ngeri dan kaget membuat dia juga ikut kaget. Tangan bergetar dan siap menampar, mengira ular atau benda berbahaya yang akan menyerangnya.
Tapi begitu tertegun melihat tengkorak ini, maka dia pun ganti terkejut melihat di atas kepala adiknya juga terdapat sebuah tengkorak lain. "Itu juga!" Soat Eng meloncat. Gadis ini terkesiap dan berseru tertahan, membalik dan melihat tengkorak itu. Tapi ketika kakaknya tertawa dan menuding sana-sini, ternyata di mana-mana hampir terdapat tengkorak manusia.
"Lh!" Gadis itu merasa seram. "Tempat ini seakan tempat hantu, Liong-ko. Menyeramkan sekali!" "Jangan takut. Kita memang memasuki Istana Hantu, Eng-moi. Bukankah wajar dan masuk akal juga? Sudahlah, kau tak takut, bukan?" "Tidak, aku tidak takut. Hanya merasa seram!" "Hm, aku juga. Tempat ini dingin menyeramkan, tapi kita tak usah gentar. Ayo naik!" Dan Thai Liong yang mengajak adiknya masuk dan menaiki tangga batu mulai berjalan dan hati-hati mengamati sekeliling, perlahan tetapi pasti mulai berjalan dengan obor di tangan.
Meskipun mereka memiliki mata yang tajam, namun sebaiknya ada penerangan juga di situ. Mata hanya dapat dipergunakan secara terbatas, jarak jangkauannya tak akan lebih panjang dibanding dengan api penerangan.
Dan ketika setapak mereka mulai maju dan tangga berbatu mulai diinjak, maka suara berkerasak terdengar di bawah kaki, di mana tangga tiba-tiba seakan bergetar, ruangan itu memantulkan balik suara mereka sendiri, bunyi mencicit tiba-tiba terdengar di sana-sini, dan Soat Eng pucat.
Dan ketika satu saat kaki kirinya serasa diterjang seekor tikus besar, di mana tikus itu juga menggigitnya, maka gadis ini berteriak, dan kakaknya terkejut. "Ada apa?" "Tikus! Kakiku digigit tikus, Liong-ko. Jahanam keparat!" "Ah," Kakaknya tertawa. "Jangan marah-marah di tempat seperti ini, Eng-moi. Kendalikan rasa ngerimu dan jangan bikin aku kaget." "Hm, mana bisa binatang menjijikkan itu tak membuatku ngeri? Kakinya merayap dingin, Liong-ko. Dan tubuhnya basah serta licin!" "Sudahlah, kau berpegangan tanganku," Dan Thai Liong yang tersenyum menyabarkan adiknya, lalu mengajak adiknya menyusuri lorong itu, mulai memasuki lagi sebuah ruangan, dan di sana-sini tampak bayangan gelap dari dinding atau ruangan yang setengah terbuka, dapat menimbulkan pikiran macam-macam karena bayangan itu seolah hantu atau siluman yang siap mencekik mereka dari belakang, mengerikan sekali.
Dan ketika perlahan tetapi pasti Thai Liong mulai memasuki istana itu, maka beberapa benda berkilau mulai kelihatan dan memantul dari dinding batu. "Apa itu?" "Tampaknya, manik-manik atau mutiara yang menghiasi dinding." "Bukan mata siluman, Liong-ko?" "Ah, bukan, Eng-moi. Coba kita dekati dan mari lihat." "Aku merinding!" "Sudahlah, berpegangan tanganku dan kita dekati," Thai Liong tertawa, mengagumkan adiknya karena pemuda itu tampaknya tak takut sedikit pun, membesarkan hati gadis ini, dan Soat Eng malu sendiri.
Ih, kenapa dia begini penakut? Masa sebagai puteri Kim-mou-eng (Pendekar Rambut Emas) dia harus jerih dan takut menghadapi semuanya itu? Ah, jawab hati nuraninya. Aku tidak takut, hanya seram. Bukankah sebagai wanita adalah wajar jika gampang berdiri bulu romanya memasuki Istana Hantu? Dan istana itu tadi telah menyambut mereka dengan belasan tengkorak yang bergelantungan. Kalau bukan dia, mungkin sudah roboh pingsan!
Maka mengeraskan hati, menggigit bibir, Soat Eng lalu mengusir jauh-jauh perasaannya yang seram, terpengaruh atau terbawa oleh ketenangan sikap kakaknya yang gagah.
Thai Liong telah mendekati benda-benda berkilauan itu, dan ternyata memang benar, sejenis manik-manik atau mutiara sintetis, gemerlapan di sana-sini, namun terpasang dalam jarak yang berjauhan. Berkilau atau mengeluarkan sinar karena pantulan cahaya obor mereka, itulah sebabnya tiba-tiba manik-manik itu menjadi hidup dan seakan mata siluman, atau harimau yang kadang berkelap-kelip seakan hantu mengedip.
Ah, semuanya ini memang menyeramkan. Dan ketika Thai Liong tertawa dan merenggut sebuah manik-manik, maka pemuda itu menunjukkannya kepada adiknya. "Nah, lihat. Bukan mata hantu, Eng-moi. Melainkan manik-manik atau sejenis mutiara sintetis. Kau tak perlu takut atau ngeri. Di mana keberanianmu yang biasa kau perlihatkan sehari-hari?" "Ah, aku bukannya takut, Liong-ko. Melainkan semata merasa seram."
"He, mata apa itu?" Soat Eng tiba-tiba menuding, melihat dua bola berkejap dan kemudian menghilang. Seruannya itu mengejutkan Thai Liong, dan cepat pemuda itu menengok, melihat sekilas "mata hantu" yang dituding itu, lenyap, dan entah apa.
Dan ketika mereka mulai mendengar angin berkesiur dan tempat itu terasa lebih dingin, tiba-tiba terdengar suara berkelotak, disusul semacam bunyi piring pecah. "Apa itu?" "Entahlah. Kita lihat, Eng-moi. Mari!" Dan Thai Liong yang mengangkat obornya tinggi-tinggi mendadak berkelebat, sambil menarik tangan adiknya, menuju ke asal suara, namun tiba-tiba dari segala penjuru terdengar bunyi-bunyian aneh.
Mula-mula seperti suara berkelinting, dan Soat Eng lagi-lagi terkejut, disusul suara-suara lain seperti orang berjalan-jalan, tapi tak ada orangnya. Dan ketika di tempat itu terdengar kekeh-kekeh lembut, namun tak tampak bayangannya, maka Thai Liong tertegun, dan berdiri bulu romanya, mencari, namun tak ada siapa pun.
Tawa dan derak sepatu itu masih jelas terdengar, kadang di kiri dan kadang di kanan. Thai Liong membentak, namun suaranya tiba-tiba menggetarkan ruangan. Bunyi kelepak mengejutkan pemuda ini, dan tiba-tiba ratusan kelelawar turun, berkelebatan, dan mereka mencicit, seakan orang kaget.
Bentakan Thai Liong tadi merontokkan binatang-binatang malam itu yang menempel di langit-langit istana, tentu saja juga mengejutkan Soat Eng.
Dan ketika empat kelelawar terbang di mukanya, dan kelepak sayap mereka hampir mengenai muka gadis ini, maka Soat Eng menjerit, sementara obor di tangan kakaknya juga padam. "Blub!" Thai Liong tersentak. Obornya seakan ditiup setan, dinyalakan, tapi padam lagi.
Dan ketika bunyi mencicit disusul lagi oleh bunyi-bunyian aneh, seakan detak sepatu atau tawa yang menyeramkan, tiba-tiba Soat Eng menginjak sesuatu, dan bunyi menjepret menyambar gadis ini. "Aihhh....!" Soat Eng berjungkir balik, kaget, dan terkesiap, dan tentu saja meloncat tinggi. Dia berputar di udara tiga kali untuk menyelamatkan diri.
Dan ketika dia melayang turun, dan melihat bahwa yang menjepret itu adalah sesosok tengkorak yang digerakkan dengan per dari bawah, maka gadis ini mengutuk, dan mencaci maki. "Keparat! Jahanam...!" Gadis itu melotot. Kiranya tanpa sengaja ia tadi menginjak alat rahasia di lantai itu, yang kontan menggerakkan sesosok tengkorak yang masih utuh, berkelotak, dan rontok setelah hampir mengenai tubuhnya tadi.
Dan ketika kakaknya terkejut karena ruangan menjadi gelap-gulita, maka Soat Eng menyambar lengan kakaknya, mengandalkan pendengaran, menggigil. "Tempat ini sarang siluman. Bagaimana sekarang, Liong-ko? Kenapa obormu selalu padam?" "Entahlah," Pemuda itu berkeringat. "Aku rasa ruangan ini menyeramkan, Eng-moi."