Chapter 120
Setelah gagal dua atau tiga kali, pada percobaan keempat, Hauw Kam berhasil naik ke punggung lumba-lumba yang segera meluncur cepat ke laut bebas.
"Slup-slup!" Hauw Kam terbelalak.
Akhirnya ia mengerti dan mengeluh kegirangan. Pemuda itu menelungkup di atas tubuh lumba-lumba tersebut. Ketika Hauw Kam sadar bahwa ia tidak sendiri dan berteriak memanggil suhengnya, tiba-tiba saja suhengnya sudah berada di sampingnya di atas punggung lumba-lumba lain, menelungkup persis seperti dirinya.
"Suheng...!" "Sute...!" Kedua pemuda itu terkejut.
Ternyata Gwan Beng, suhengnya, juga dibawa dan "digendong" oleh lumba-lumba lain. Saat mereka berteriak dan saling melambaikan tangan, tiga lumba-lumba pengiring berenang di belakang mereka seperti pengawal.
"Ha-ha!" Hauw Kam tiba-tiba tertawa terbahak-bahak. "Kita menjadi raja di lautan bebas, Suheng. Kita selamat!"
"Benar, dan kita tak perlu bertemu dua guru kita lagi, Sute. Mereka mau membunuh kita!"
"Aku ngeri. Ih, palung itu dalam sekali, Suheng. Kalau tidak terjatuh ke air, tentu kita tewas. Kejam, Suhu dan Subo kejam!"
Hauw Kam mengangguk kegirangan, merasa lolos dari maut, dan kini mereka meluncur di atas punggung lumba-lumba. Lima ekor ikan besar itu menyelamatkan mereka; dua di antaranya menjadi "perahu" yang menggendong mereka mengarungi laut bebas. Ketika ikan-ikan itu berenang makin cepat, Hauw Kam yang diliputi kegembiraan tak tertahankan bangkit duduk dan mencengkeram punggung ikan sambil tertawa.
"Suheng, kita mempunyai tunggangan istimewa! Mereka ini lumba-lumba luar biasa yang menjadi perahu!"
"Benar, tapi hati-hati, Sute. Awas jatuh!"
"Tidak, eh... byurr!"
Hauw Kam tergelincir dan jatuh ke dalam air karena tidak mengikuti nasihat suhengnya. Ia terlempar, namun lumba-lumba tunggangannya mendadak berhenti. Tiga lumba-lumba lainnya juga berhenti, dan seekor di antaranya menyelam lalu muncul dengan membawa Hauw Kam di punggungnya. Seolah menggantikan temannya, lumba-lumba itu kembali meluncur.
"Ha-ha, ajaib, Suheng. Aku ditolong lagi!"
"Hm!" Suhengnya terkejut. "Kau jangan ceroboh lagi, Sute. Atau kau bakal terlempar dan tidak tertolong lagi!"
"Ah, tentu. Aku sekarang akan berhati-hati!"
Hauw Kam tertawa di punggung ikan, lalu menelungkup dan membelai serta berbisik di atas kepala ikan itu untuk menyatakan terima kasihnya. Kini, kelima lumba-lumba itu berenang lagi di laut bebas. Mereka meluncur dengan suara "slap-slup-slap-slup". Gwan Beng yang pendiam berkali-kali harus mencengkeram leher tunggangannya agar tidak jatuh karena tubuh ikan itu sangat licin.
Setelah dua hari dua malam dibawa entah ke mana, saat mereka kelelahan dan masih menahan sakit akibat benturan di dasar palung, mereka tiba di sebuah pulau dalam keadaan tertidur. Hauw Kam dan suhengnya benar-benar letih setelah menempuh perjalanan ribuan li. Pagi harinya, saat terbangun, mereka sudah berada di sebuah pulau.
"Hei, mana mereka, Suheng? Di mana kita kini?"
Gwan Beng tertegun. Murid pertama Hu Beng Kui yang paling pendiam itu terkejut melihat laut bebas di depannya, tetapi lima ekor lumba-lumba itu sudah tiada. Mereka berada di pesisir pantai dengan pasir yang lunak, jauh dari makhluk hidup, hanya deburan ombak yang terhampar. Pulau itu kecil, hanya ditumbuhi tanaman perdu dan satu-dua pohon besar. Suasananya hening dan sepi.
Saat kedua pemuda itu tertegun, Hauw Kam mencoba berkelebat, namun ia malah terguling roboh.
"Heii...!" Hauw Kam terpekik. "Aku lemah, Suheng. Aku kehilangan banyak tenaga!"
"Hm!" Gwan Beng akhirnya sadar; tubuhnya sendiri tiba-tiba terhuyung dan roboh. "Kita kelaparan, Sute. Dua hari ini kita tidak makan, hanya minum air laut!"
"Benar. Ah, aku tak tahu ke mana lumba-lumba penolong kita itu. Aku menyesal tak sempat melihat mereka kembali!"
Hauw Kam bangkit tertatih menghampiri suhengnya. Mereka menyesali mengapa harus tertidur lelap sampai tidak mengetahui saat lumba-lumba itu meletakkan tubuh mereka di daratan. Namun, ketika suhengnya berkata bahwa mereka tidak perlu menyesal karena lumba-lumba itu adalah penolong tanpa pamrih, Hauw Kam mengangguk.
"Betul, kita sudah diselamatkan. Mereka bekerja tanpa pamrih. Jauh benar bedanya mereka dengan dua guru kita, Suheng. Rupanya kita harus tinggal di sini!"
"Hm, kita harus mencari makan. Perutku lapar, kita kehabisan tenaga. Apa yang kira-kira bisa kita dapatkan di sini? Kau masih bisa berjalan?"
"Aku bisa, tapi kakiku berat sekali. Asal perlahan-lahan, aku bisa menyertaimu, Suheng. Kita memang harus mencari makan kalau tak mau mati di sini!"
"Tak usah bicara tentang kematian. Dewa Maut rupanya belum menyukai jiwa kita. Mari, kita berpegangan, Sute. Hati-hati."
Gwan Beng memegang sutenya, berjalan terhuyung mengitari pulau. Mereka berusaha mencari kelinci, binatang kecil, atau ular, namun tidak menemukannya. Di pulau itu hanya ada dedaunan, pohon besar, dan tanaman perdu. Hauw Kam mengeluh dan jatuh terduduk.
"Celaka, kita rupanya harus mati, Suheng. Tak ada makanan apa pun di sini!"
"Hm, tidak," suhengnya menggeleng sambil menatap sejenis tanaman berdaun hijau segar. "Tak ada daging, kita bisa makan sayur. Jangan putus asa, ini pun makanan!"
Gwan Beng meraup dedaunan itu, mengamatinya, lalu mengunyahnya. Tak lama kemudian, ia tampak melahapnya dengan nikmat. Hauw Kam terbelalak melihat suhengnya makan dengan lahap.
"Sute, dedaunan ini makanan. Ayolah, ambil segenggam dan nikmati rasanya. Manis dan segar!"
Hauw Kam mulai meneteskan air liur. Karena rasa lapar yang menyerang hebat, ia akhirnya mengikuti suhengnya. Aneh, dedaunan itu ternyata memiliki aroma khas, tidak pahit, justru manis dan segar. Dengan cepat, mereka berdua berebutan melahap dedaunan itu seperti hewan ternak yang kelaparan.
"Ha-ha, betul katamu, Suheng. Dedaunan ini manis dan segar sekali. Luar biasa, tenagaku pulih dengan cepat!"
Memang benar, Gwan Beng merasakan hal yang sama. Namun, saat sedang asyik makan, Hauw Kam tiba-tiba berteriak karena kepalanya pusing.
"Hei, aku tak dapat berdiri tegak lagi, Suheng. Bumi rasanya berputar!"
"Aku juga," Gwan Beng terkejut. "Aku melihat langit terbalik-balik, Sute. Jangan-jangan daun ini beracun... bluk!"
Gwan Beng dan sutenya jatuh berbarengan. Perut mereka melilit-lilit seperti diremas. Hauw Kam berteriak kesakitan disertai rasa mual yang hebat. Tiba-tiba, Hauw Kam tidak bisa menahan diri dan membuang kentut dengan bunyi nyaring seperti knalpot mobil.
"Prootttt....!"
Gwan Beng mengalami hal yang sama. Kentutnya begitu keras hingga pohon di sekitar mereka berderak. Hauw Kam yang tidak tahan lagi segera berlari menuju laut.
"Suheng, aku ingin membuang hajat... prot-proottt!"
Ia melepas celananya dan mencebur ke laut. Gwan Beng pun menyusul, terhuyung-huyung mencebur ke laut untuk melakukan hal yang sama. Saat sedang membuang hajat, Hauw Kam terbahak-bahak melihat suhengnya berkerut menahan rasa sakit. Tak lama kemudian, rasa sakit itu hilang.
"Suheng, aku lega. Isi perutku terkuras!"
"Hm, aku juga. Namun aneh, tubuhku sekarang terasa ringan, Sute. Rasanya seringan kapas dan ingin terbang!"
"Aku juga merasa ringan!"
Hauw Kam terkejut. Saat melangkah keluar dari air, ia merasa tubuhnya seakan melayang. Begitu pula dengan Gwan Beng, namun saat ia mencoba menjauhi pantai, ia malah terhuyung dan jatuh tersungkur.